"Sakit, Mas! Apa yang kamu lakukan ke aku itu sangat menyakiti hatiku! Gimana bisa kamu ngelakuin ini ke aku, dan itu adalah adikku sendiri. Lalu kamu, kenapa kamu tega sama kakak mu ini haah!!"
Suara Swastamita bergetar hebat ketika berkata demikia kepada suaminya, Erdio Rasmaluyo.
Betapa tidak bergetar, rasa sakit di hatinya sangat nyata. Suami yang memintanya untuk melepaskan karinya demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya ternyata malah berselingkuh dengan adik tirinya.
Yang lebih mengejutkan adalah, perselingkuhan yang dilakukan Erdio dan Medini itu diketahui oleh sang ibu.
Sakit hati Swastamita ketika mengetahui bahwa di rumah itu hanya dirinya yang tak tahu apa-apa.
Adik tiri yang sangat ia sayangi melebihi dirinya sendiri tega menjadi duri dalam daging pada rumah tangganya. Dan suami yang ia jadikan imam, malah menorehkan luka yang begitu dalam.
Bagaimana Swastamita menghadapi rasa sakit yang dirasakannya tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Tok tok tok
"Mit, kamu di dalam nduk??"
"Mita, buka pintunya Nduk. Kami mau lihat kamu."
Ceklek
Greb
Jumilah langsung memeluk menantunya itu ketika pintu dibuka. Melihat waktu dan Mita yang membukakan pintu dengan cepat, ia bisa memperkirakan bahwa Mita belum tidur sama sekali.
"Bapak Ibu kok di sini? Ada apa?"
Mita berusaha tenang. Padahal saat ini matanya sangat sembab. Dia hanya tak ingin memperlihatkan rasa sakit yang menyelimuti hatinya.
Mita juga tahu bahwa kedua orang tua Erdio adalah orang yang baik. Selama ini mereka memperlakukannya bak anak sendiri. Maka dari itu Mita tak ingin menampakkan rasa sakitnya di depan kedua mertuanya itu.
Jumilah masih belum melepaskan pelukannya terhadap Mita. Lalu Bakri, dia mengusap lembut kepala sang menantu, air matanya luruh begitu saja.
Bakri adalah pria yang jarang sekali menangis, tapi melihat wajah Mita yang kuyu, rambut kusut dan mata sembab, sungguh membuat hatinya teriris.
"Maafkan kami, Nduk. Maaf," ucapnya sambil terus mengusap rambut menantu yang mungkin tak lama lagi akan jadi mantan.
Mita masih berusaha tegar, dia tak ingin menangis saat ini. Pelukan itu dilerai, lalu ia membawa masuk ibu mertua dan ayah mertuanya. Mereka bertiga duduk di ruang tamu.
Masih dengan sambil tersenyum, Mita bertanya, "Mau minum apa Pak, Bu?"
Sruuuk
Jumilah dan Bakri memerosotkan tubuhnya ke lantai. Keduanya bersimpun di depan sang menantu.
Tentu saja Mita kalap. Dia langsung duduk di lantai juga mesejajarkan tubuhgnya dengan dua orang paruh baya itu.
"Maaf Nduk,"ucap Jumilah dengan suara tercekat.
"Bu, sudah ya. Aku ndak apa-apa sekarang. Ini bukan salah Ibu dan bapak, selama ini Ibu dan Bapak sudah baiiiik banget sama aku. Aku seneng pernah jadi menantu kalian berdua. Jangan minta maaf lagi karena memang ini bukan salah kalian. Aku mohon bangun lah,"ucap Mita. Air matanya tak lagi bisa ditahan sehingga pipinya yang tadi sudah mengering kini menjadi sangat basah.
Huaaa
Tangis Mita pecah, Jumilah langsung meraih tubuh sang menantu. Dia tak bicara apapun karena membiarkan Mita meluapkan semua rasa sakit hatinya. Pun dengan Bakri yang melakukan hal serupa. Pria paruh baya itu dalam diam mengusap kepala dan punggung sang menantu.
Sejam lamanya Mita menangis dengan suara yang begitu keras. Kini ia sudah jaug lebih tenang. Segelas air yang diberikan oleh Bakri langsung di minumnya hingga tandas.
"Terimakasih Pak, Buk, udah meduliin Mita,"ucap Mita sambil tersenyum meski matanya seolah tak bisa terbuka akibat banyaknya air mata yang ia tumpahkan.
"Ndak perlu berterimakasih Nduk. Ini sudah jadi salah satu kewajiban kami. Dan, Bapak sama Ibu ke sini karena ada yang mau kami sampaikan juga. Jika kamu mau pisah sama Erdio, silakan. Kami ndak bakalan nglangi. Hanya saja, tetap berhubungan baik lah dengan kami ya. Misal, kamu punya pasangan lagi nant, hubungi kami. Kami akan membantumu sebaik mungkin. Nduk, kamu udah anggep kamu anak kami sendiri, jadi jangan hilangkan hubungan baik ini ya cah ayu."
Jumilah berbicara dengan sangat tulus dari dalam hatinya. Sejak dulu dia memang bertekad, jika memiliki menantu ia akan menyayanginya dengan sepenuh hati. Dia akan menganggap menantu itu layaknya anak sendiri.
Jumilah pernah merasakan bagaimana tidak disukai oleh ibu mertua. Dia bahkah saat muda sering berseteru dengan ibu dari suaminya.
Akan tetapi Jumilah bukannya ingin balas dendam atau meluapkan rasa sakitnya itu kepada menantunya. Ketika anak yang dilahirkan adalah seorang laki-laki, Jumilah bertekad bahwa dia akan memperlakukan istri dari anaknya dengan baik. Jika dia sebagai menantu tak pernah mendapat kasih sayang dari mertua, maka tidak dengan menantunya. Ia ingin menyayangi menantunya dengan sepenuh hati layaknya anak sendiri.
"Iya Buk, aku pasti ndak akan ngelupain Ibu dan Bapak. Aku sangat berterimakasih karena Ibu dan Bapak udah baik banget sama aku selama ini,"jawab Mita.
Dia tidak tahu bagaimana kedepannya tentang hubungannya dengan kedua mertuanya ini. Tapi setidaknya sekarang Mita merasa harus menjawab seperti itu dulu.
Saat ini Mita bisa merasakan kekhawatiran pada diri Jumilah dan Bakri. Sehingga dia menjawab pernyataan Jumilah dengan jawaban yang ia anggap bisa menenangkan mereka berdua.
"Kapan kamu akan ngajuin pegatan (perceraian)?" tanya Bakri dengan wajah serus.
"Masih belum tahu, Pak,"jawab Mita. Dia saat ini tentu sedang merasa terombang ambing, jadi dirinya belum memutuskan kapan untuk mengajukan gugatannya terhadap Erdio.
"Secepetnya aja Nduk? Bapak bakal bantu dan nemenin kamu ngelakuin itu."
Eh?
Mita terkejut dengan ucapan Bakri. Dia bahkan sampai melihat ke arah sang mertua tanpa berkedip.
Tatapan Mita memiliki makna, kenapa ayah dari Erdio ini malah terlihat bersemangat dirinya bercerai dengan anaknya. Sedikit tidak masuk akal memang. Jika biasanya para mertua membela anak mereka sendiri, tapi di sini tidak demikian. Bakri dan Jumilah terlihat sangat tulus mendukungnya di banding Erdio.
Setidaknya seperti itu lah yang ia jumpai dan dengar dari teman yang sudah sama-sama menikah. Tak jarang mereka bercerita tentang bagaiamana diperlakukan buruk oleh mertua. Tapi karena selama menikah dengan Erdio, Mita tidak pernah merasa demikian.
"Pak kenapa Bapak semagat buat aku cerai sama Erdio?" tanya Mita, dia tak ingin merasa penasaran.
"Karena anak itu emang ndak pantes buat kamu. Bisa-bisanya dia mengecewakan kamu dengan cara berselingkuh sama adik tiri mu itu. Kan kebangeten. Lebih baik kamu pisah sama dia, dan kembali lah melakukan apa yang kamu sukai. Lagian, Bapak sam Ibu mu ini, ndak akan ngakuin anak itu sebagai cucu kami. Cih, pancen edan mereka itu. Sekarang aja Bapak nggak ngebiarin mereka masuk rumah. Ndak bakalan bapak bairin mereka masuk ke rumah itu. Menantu Bapaksama Ibu ya cuma kamu, dan wanita yang boleh memasuki rumah itu juga cuma kamu."
Degh!
Mita sama sekali tidak menyangka bahwa dia akan disayangi sedalam ini oleh Jumilah dan Bakri. Dia juga tidak menduga ada kejadian seperti itu, yakni mereka tak diperbolehkan masuk ke rumah Jumilah dan Bakri.
Lantas, dimana mereka tidur saat ini?
Pertanyaan yang muncul di kepalanya langsung diusir begitu saja oleh Mita.
"Buat apa aku mikirin orang yang udah dengan tega nyakitin aku? Buat apa aku memeras otak ku buat ngelakuin itu. Sungguh nggak guna," ucapnya dalam hati.
"Jadi, kalau kamu mau cepet pisah sama Erdio, bapak bisa nemenin kamu ke pengadilan. Kamu nggak usah khawatir,"ucap Bakri lagi.
"Baik Pak, terimakasih. Tapi Bapak ndak perlu repot, insyaAllah aku bisa ngelakuinnya sendiri. Bapak dan Ibu jauh-jauh datang ke mari di tengah malam begini saja aku udah seneng banget. Makasih ya Pak, Buk, karena udah sayang sama aku," jawab Mita sembari melemparkan senyum tulisnya.
"Kami akan selalu sayang sama kamu, Nduk. Dan sekali lagi maaf atas perilaku buruk Erdio kepada kamu. Ibu ndak minta kamu buat maafin Erdio. Kamu berhak dan bebas buat benci sama dia. Lakukanlah yang terbaik untuk dirimu sendiri, dan dapatkan pria baik untuk hidup mu kedepannya. Ibu dan Bapak akan selalu mendukung mu."
Greb
Kali ini bukan Jumilah yang memeluk lebih dulu, melainkan Mita. Dia memeluk Jumilah dengan begiti erat. Sambil mengucapkan terimakasih, air mata Mita kembali mengalir.
Malam itu Bakri dan Jumilah memutuskan menginap di rumah Mita. Mereka benar-benar tak memedulikan tentang bagaiman Erdio tidur sekarang.
TBC