Naya terpaksa menggantikan kakak tirinya yang kabur beberapa jam sebelum pernikahan dengan Adrian, seorang CEO dingin yang lumpuh akibat kecelakaan misterius.
Bagi Adrian, Naya hanyalah pengganti yang harus menanggung dosa keluarganya. Di rumah mewah yang terasa seperti penjara, Naya dipaksa menjalani kehidupan penuh penghinaan dan penderitaan.
Namun Adrian tidak mengetahui satu kebenaran besar.
Wanita yang selama ini ia benci adalah orang yang pernah mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan dirinya dari maut tiga tahun lalu.
Saat perlahan rahasia itu mulai terungkap dan hati Adrian mulai luluh, Naya justru memilih pergi.
Kini Adrian harus menghadapi satu pertanyaan yang terus menghantuinya:
Masih adakah kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahannya sebelum wanita yang dicintainya menghilang untuk selamanya? ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 — Nama dari Masa Lalu
Kesya masih berlutut di lantai vila dengan tubuh yang gemetar hebat.
Air matanya terus mengalir tanpa henti.
Wajahnya pucat pasi.
Untuk pertama kalinya sejak semua kebohongannya terbongkar, wanita itu benar-benar terlihat ketakutan.
Bukan kepada Adrian.
Bukan kepada Dimas.
Melainkan kepada seseorang yang bahkan tidak berada di ruangan itu.
Seseorang yang namanya belum berani ia sebutkan.
Suasana vila terasa begitu sunyi.
Hanya suara hujan gerimis yang terdengar dari luar jendela.
Tatapan Adrian menusuk tajam ke arah Kesya.
"Kau mengatakan ada seseorang yang menyuruhmu kabur dari pernikahan."
Kesya mengangguk pelan.
"Ya."
"Dan orang itu memberimu lima miliar rupiah?"
"Iya."
"Untuk menghancurkan pernikahanku?"
Kesya kembali mengangguk.
Jantung Adrian berdegup semakin keras.
Ada sesuatu yang tidak masuk akal.
Mengapa seseorang rela mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk menggagalkan sebuah pernikahan?
Kecuali...
Pernikahan itu memang tidak boleh terjadi.
Dimas membuka tablet yang sejak tadi berada di tangannya.
"Tuan Adrian."
"Apa?"
"Kami sudah menelusuri jalur transfer dana yang diterima Kesya."
Sorot mata Adrian langsung berubah tajam.
"Hasilnya?"
Dimas menarik napas pelan.
"Transfer tersebut melewati beberapa perusahaan cangkang."
"Lalu?"
"Semuanya berakhir pada satu nama."
Ruangan mendadak terasa lebih dingin.
Kesya langsung menundukkan wajahnya.
Seolah dia sudah mengetahui nama yang akan disebutkan.
"Siapa?" tanya Adrian.
Dimas menatap atasannya beberapa detik.
Kemudian menjawab.
"Armand Wijaya."
Dunia seakan berhenti berputar.
Adrian membeku.
Kesya memejamkan mata.
Sementara Dimas memilih diam.
Nama itu terlalu mengejutkan.
Armand Wijaya bukan orang asing.
Pria itu adalah sahabat dekat almarhum ayah Adrian.
Seseorang yang sudah dianggap keluarga selama bertahun-tahun.
Bahkan setelah ayah Adrian meninggal, Armand masih sering datang ke rumah mereka.
Tidak mungkin.
Pikiran itu langsung muncul di benak Adrian.
"Mustahil."
Suara Adrian terdengar pelan.
Namun penuh tekanan.
"Kami berharap demikian, Tuan."
Dimas kembali memperlihatkan data di layar.
"Tapi semua jejak transaksi mengarah ke orang yang sama."
Adrian memandang layar itu tanpa berkedip.
Tangannya perlahan mengepal.
Sesuatu mulai terasa janggal.
Sangat janggal.
Jika Armand benar-benar terlibat, maka semua ini tidak lagi sekadar tentang Kesya.
Tidak lagi sekadar tentang kebohongan tiga tahun lalu.
Ada sesuatu yang jauh lebih besar.
Sesuatu yang mungkin sudah direncanakan sejak lama.
"Kapan pertama kali orang-orang itu menghubungimu?" tanya Adrian kepada Kesya.
"Dua minggu sebelum pernikahan."
"Apa yang mereka katakan?"
Kesya menelan ludah.
"Mereka bilang aku harus membuat pernikahan itu gagal."
"Hanya itu?"
Kesya tampak ragu.
Tatapan Adrian semakin tajam.
"Katakan semuanya."
Wanita itu menggigit bibir bawahnya.
Kemudian perlahan berkata,
"Mereka bilang ada seseorang yang tidak boleh menjadi bagian dari keluarga Wijaya."
Ruangan langsung sunyi.
Tatapan Adrian berubah.
"Dengan kata lain?"
Kesya menunduk.
"Mereka tidak ingin Naya menikah denganmu."
Jantung Adrian seperti dihantam sesuatu.
Naya.
Lagi-lagi nama itu muncul.
Semua jalan selalu berakhir pada Naya.
Kecelakaan tiga tahun lalu.
Kalung daun semanggi.
Kebohongan Kesya.
Dan sekarang...
Pernikahan mereka.
Kenapa selalu Naya?
Apa sebenarnya yang disembunyikan?
Dimas tiba-tiba menerima pesan masuk.
Pria itu membuka ponselnya.
Beberapa detik kemudian wajahnya berubah drastis.
"Tuan Adrian."
"Ada apa?"
"Saya baru menerima laporan tambahan."
Adrian menoleh.
Dimas tampak lebih serius dari sebelumnya.
"Salah satu tim kita berhasil mendapatkan arsip lama perusahaan milik almarhum ayah Anda."
"Lalu?"
"Ada nama Naya di dalam dokumen tersebut."
Tubuh Adrian langsung menegang.
"Naya?"
"Iya."
"Bagaimana mungkin?"
Dimas menggeleng.
"Itu yang sedang kami coba pahami."
Adrian langsung berdiri setengah dari kursi rodanya.
Meskipun kedua kakinya masih lemah, emosinya membuatnya lupa pada keterbatasannya.
"Tunjukkan padaku."
Dimas menyerahkan tablet.
Adrian membaca dokumen itu dengan cepat.
Semakin lama wajahnya semakin pucat.
Matanya membelalak.
Untuk pertama kalinya malam itu, Adrian benar-benar kehilangan ketenangannya.
"Ini tidak mungkin..."
Dimas terdiam.
Kesya terlihat kebingungan.
"Ada apa?" tanya Dimas.
Adrian menatap dokumen itu tanpa berkedip.
Tangannya bergetar.
Di dalam arsip lama tersebut terdapat sebuah nama.
Nama seorang anak perempuan yang pernah diselamatkan oleh ayah Adrian bertahun-tahun lalu.
Dan nama itu adalah...
Naya Rahmawati.
Seketika seluruh kepingan teka-teki mulai bergerak ke tempatnya.
Dan Adrian sadar.
Pertemuannya dengan Naya mungkin bukan kebetulan.
Mungkin sejak awal...
Takdir sudah menghubungkan mereka jauh sebelum kecelakaan itu terjadi.
Bersambung ke Bab 11