Mengetahui suaminya berselingkuh, Raina memilih tidak menangis. Baginya, pengkhianatan harus dibalas dengan cara yang sama.
Nyawa bayar nyawa. Selingkuh balas selingkuh.
Target balas dendamnya adalah Hadiraksa Gautama... suami dari Monica, wanita yang merebut rumah tangganya.
Raina mendekati Hadi yang selama ini dianggap pria gagal oleh istrinya sendiri: miskin, tak punya masa depan, dan hidup dari belas kasihan keluarga. Namun siapa sangka, di balik penampilan sederhananya, Hadi menyimpan identitas sebagai pengusaha muda kaya raya yang sengaja menyembunyikan status demi menguji cinta Monica.
Saat permainan balas dendam dimulai, perasaan ikut berubah.
Robby mulai menyesali perselingkuhannya. Monica panik setelah mengetahui pria yang ia buang ternyata jauh lebih berharga dari yang ia kejar.
Mereka ingin kembali pada pasangan masing-masing.
Tapi terlambat...
Karena dua hati yang awalnya dipersatukan oleh luka, perlahan berubah menjadi candu dan saling cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan siang
Restorannya tidak jauh, lima menit jalan kaki dari gedung, di ruko dua lantai dengan jendela besar yang menghadap taman kecil di seberang jalan. Bukan restoran mewah, tapi bukan tempat makan biasa juga. Mejanya berselimut taplak linen, menunya ditulis dengan tangan di papan kayu di dinding, dan pengunjung jam makan siang yang sudah mulai berdatangan.
Hadi memilih meja di pojok dekat jendela... agak terpisah dari meja-meja lain, cukup privat untuk percakapan yang tidak perlu didengar siapapun.
Raina duduk di kursi seberangnya, meletakkan tasnya di lantai, dan membuka menu yang disodorkan pelayan.
"Pesan apa saja," kata Hadi. "Jangan lihat harganya."
"Aku tidak biasa makan mahal." bisik Raina bicara dari balik menu.
"Hari ini harus biasa." sahut Hadi santai. Karena pria itu sudah terlalu biasa makan restoran, bahkan yang mahal sekalipun.
Raina menatap menunya dan mulai memilih."Nasi ayam bakar."
"Itu saja?"
"Dan es teh." lanjut Raina, pelan.
Hadi memanggil pelayan, memesan untuk keduanya... dan pelayan pergi. Hadi meletakkan sikunya di meja dan menatap Raina dengan tidak buru-buru.
"Sudah berapa lama kamu tahu?" tanyanya Hadi penasaran
Raina meletakkan menunya. "Beberapa hari. Kamu?"
"Baru tahu pasti kemarin." Hadi bersandar ke kursinya. "Laras kirim laporan pagi ini. Nama yang transfer ke rekening Monica... itu Robby."
Raina mengangguk pelan. "Aku sudah duga."
"Dan ternyata ini bukan baru." Hadi berkata dengan nada yang datar, tapi ada sesuatu di bawahnya... sesuatu yang harus dikendalikan supaya tetap datar. "Laras lacak sampai hampir satu tahun ke belakang. Mereka sudah..." ia berhenti sebentar, mencari kata yang tepat atau mungkin mempertimbangkan apakah kata itu perlu diucapkan sama sekali. "Sudah sering bertemu. Di hotel yang sama. Kadang di tempat lain."
Satu tahun.
Raina menatap taplak meja di depannya.
Satu tahun yang lalu ia masih bangun setiap pagi membuatkan kopi untuk Robby, masih mengantar bajunya ke laundry kalau terlalu sibuk mencuci sendiri, masih menunggunya sampai malam kalau ia bilang lembur.
Satu tahun.
"Hampir satu tahun," gumamnya... bukan untuk Hadi, lebih untuk dirinya sendiri, menguji apakah mengucapkan angka itu dengan keras membuat sesuatu berubah.
Tidak berubah. Justru terasa lebih berat.
"Rain." panggil Hadi pelan.
Raina mendongak.
"Kamu baik-baik saja?"
Ia membuka mulutnya untuk menjawab iya... kata yang sudah terlalu sering ia produksi dalam beberapa hari terakhir, kata yang sudah sangat hafal bentuknya di lidah.
Tapi yang keluar justru bukan kata apapun.
Yang keluar adalah air mata.
Bukan tangis yang bersuara... tidak ada isak, tidak ada sedu. Hanya air yang tiba-tiba ada di sudut matanya dan mengalir pelan, dan bahunya mulai bergetar dan tidak bisa ia hentikan meski tangannya sudah mengepal di atas meja.
"Maaf," bisiknya. "Sebentar."
"Tidak apa-apa." Suara Hadi lebih pelan dari sebelumnya.
"Aku sudah tahu dia selingkuh." Raina menyeka pipinya dengan punggung tangan... gerakan yang tidak terlalu membantu karena air matanya tidak berhenti. "Aku sudah lihat sendiri. Sudah pegang buktinya. Sudah tahu namanya, sudah tahu di mana, sudah tahu kapan." Ia menarik napas yang tidak keluar rata. "Tapi satu tahun itu... satu tahun, Mas Hadi... aku tidak menyangka sepanjang itu."
Hadi tidak berkata apapun. Membiarkan kalimat itu selesai dengan caranya sendiri.
"Selama ini aku melayani dia." Suara Raina turun, bukan karena ingin dramatis tapi karena memang begitu adanya. "Semua yang dia mau, aku turuti. Masakin apa yang dia suka. Tunggu sampai malam kalau dia pulang telat. Tidak pernah nanya terlalu banyak karena tidak mau dianggap cerewet." Ia terdiam sebentar, mengatur berbagai emosi yang bergejolak. "Aku layani dia seperti raja, Mas Hadi. Dan ternyata selama satu tahun dia..."
Kalimatnya tidak selesai.
Tidak perlu selesai.
Hadi memandanginya... perempuan berseragam biru tua yang duduk di restoran ini dengan bahu yang bergetar dan air mata yang tidak mau berhenti, yang bahkan menangis pun tidak mengeluarkan suara, seperti sudah terlalu terbiasa menyimpan sesuatu supaya tidak terdengar siapapun.
Ia berdiri.
Raina mendongak...sedikit bingung, menyeka matanya lagi... dan sebelum ia sempat bertanya, Hadi sudah memindahkan kursinya ke sisi yang sama dengan Raina, duduk di sebelahnya, bukan di seberang.
Dan Raina... yang tidak merencanakan ini, tiba-tiba mendapati dirinya sudah bergerak. Tangannya meraih lengan Hadi, kepalanya jatuh ke bahunya, dan ia menangis pelan, dalam, dengan seluruh berat yang sudah ia bawa sendirian.
Hadi terdiam.
Satu detik yang kaku... tubuhnya tidak bergerak, tangannya belum tahu harus ke mana, sebelum sesuatu dalam dirinya memutuskan.
Tangannya naik, membalut punggung Raina, pelan.
"Sudah," katanya. Satu kata, suara rendah, bukan klise... hanya suara seseorang yang ada di sana dan memilih untuk tetap ada. "Sudah."
Ketika tangis Raina mereda pelan, seperti hujan yang berangsur berhenti... ia melepaskan pelukannya.
Mundur. Tegak. Tangan kembali ke pangkuannya.
"Maaf." Wajahnya sedikit memerah di bawah sisa riasan yang tidak sepenuhnya bertahan dari tadi pagi. "Aku lancang. Tidak seharusnya..."
"Mbak Raina."
"Benar-benar maaf, aku tidak tahu kenapa aku tiba-tiba..." Raina ingin menjelaskan, tapi Hadi memotong.
"Raina."
Ia berhenti.
Hadi menatapnya... tidak canggung. "Tidak ada yang perlu diminta maaf. Kamu tidak melakukan sesuatu yang salah."
"Tetap saja..." Raina merasa bersalah.
"Tetap saja tidak apa-apa." Ia berkata pelan tapi tidak meninggalkan ruang untuk debat. "Kalau kamu butuh teman bicara... bukan cuma hari ini, kapanpun, aku bisa jadi pendengar yang tidak buruk."
Raina menatapnya.
Di matanya yang masih sedikit basah, ada sesuatu yang menyala... bukan dramatis, lebih seperti lampu kecil yang baru dinyalakan di ruangan yang sudah terlalu lama gelap. "Benarkah?"
"Iya." Hadi mengangguk.
"Mas Hadi tidak akan menyesal bilang itu?" tanya Raina ingin memastikan.
"Kenapa menyesal?" Hadi balik bertanya. Karena ia merasa tidak ada yang perlu disesali.
"Karena..." Raina menyeka sisa air matanya untuk terakhir kalinya, dan sesuatu di wajahnya berubah... sedikit lebih ringan, sedikit lebih seperti Raina yang berdiri di depan cermin tadi pagi, bukan Raina yang baru saja menangis di bahu pria lain. "Kalau begitu, Mas Hadi jangan marah kalau mulai sekarang aku jadi sering merepotkan."
Hadi menghembuskan napas... bukan menghela, lebih seperti sesuatu yang keluar bersamaan dengan senyum kecil yang muncul tanpa ia rencanakan. "Tidak akan marah."
Makanan mereka datang.
Pelayan meletakkan piring-piring dengan sopan, tidak bertanya apapun tentang mata yang sedikit sembab atau kursi yang sudah berpindah posisi, dan pergi kembali ke arah dapur.
Mereka mulai makan.
Tidak dengan keheningan canggung... dengan keheningan yang berbeda kualitasnya, keheningan dua orang yang baru saja melewati sesuatu bersama dan tidak merasa perlu mengisi setiap detiknya dengan kata-kata.
Di pertengahan makan, tanpa direncanakan oleh salah satu dari keduanya, tangan Hadi yang berada di samping piringnya bergerak... dan menemukan tangan Raina yang berada di sisi yang sama, dan menggenggamnya. Sebentar saja. Setengah menit mungkin, sebelum keduanya kembali ke makanan masing-masing seolah tidak ada yang terjadi.
Tapi keduanya merasakannya.
Selesai makan, di depan gedung, Hadi mengeluarkan ponselnya. "Nomormu?"
Raina menyebutkannya. Hadi mengetik, mengirim pesan singkat kosong, dan ponsel Raina bergetar di saku seragamnya.
"Simpan," kata Hadi.
"Mas Hadi ini siapa di kontakku? Nama asli atau nama samaran?" Raina bertanya ringan, ada sedikit tawa di ujung kalimatnya.
Hadi menatapnya. "Nama asli."
"Tapi di luar sana kamu ... Hadi yang kerja serabutan," ujar Raina tidak bermaksud untuk menyinggung.
"Di kontakmu tidak perlu begitu."
Raina menyimpan nomornya. Memasukkan ponselnya kembali.
Hadi mengantar Raina sampai ke lobi... tidak masuk lebih jauh, hanya sampai pintu kaca.
"Kalau ada apa-apa," katanya, "kabari."
"Definisi apa-apa... Mas Hadi itu seberapa luas?" goda Raina disertai senyum kecil.
"Cukup luas." Hadi balik tersenyum.
Raina mengangguk. Kemudian berbalik masuk ke lobi... seragam biru tua, tas selempang hitam, langkah yang tidak terburu-buru.
Di pintu kaca, ia berhenti sebentar dan menoleh.
"Terima kasih untuk makan siangnya."
Hadi mengangguk.
Raina masuk kembali untuk bekerja. "tidak sia-sia aku pura-pura menangis!" gumam Raina pelan. Karena tahap awal untuk balik merebut suami si pelakor... sudah dijalankan.
---
Hadi berdiri di trotoar sebentar, menatap punggung yang menghilang di balik pintu kaca, kemudian menoleh ke Laras yang sudah berdiri dua langkah di belakangnya dengan ekspresi yang sangat profesional dan tidak berkomentar apapun.
"Urusan Bu Dewi sudah beres?" tanya Hadi kembali ke mode serius.
"Sudah, Pak. Area kerjanya Mbak Raina sudah dikembalikan ke standar karyawan baru."
"Bagus." Hadi mulai berjalan. "Kita ke meeting berikutnya."
Laras mengikuti.
Dan tidak mengatakan apapun tentang kursi yang berpindah, atau tangan yang menggenggam, atau senyum kecil yang tadi muncul di wajah bosnya... hal-hal yang bukan tugasnya untuk dikomentari, dan yang ia simpan baik-baik di tempat yang sama dengan semua rahasia lain yang ia tahu dan tidak pernah ia ucapkan.
Robby dan Monica mungkin akan kacau, karena Monika tahunya hanya menahan uang