Regan Saputra mati dalam kebangkrutan dan pengkhianatan.
Di detik terakhir, bibirnya hanya menyebut satu nama. Nara Wulandari. Wanita yang gagal ia lindungi.
Namun, kematian justru membawanya kembali ke 14 Maret 1993.
Regan terbangun di kamar kontrakan kumuh. Dia kembali menjadi pemuda miskin 19 tahun dengan isi dompet 12 ribu rupiah.
Tidak ada kepanikan, hanya senyum tipis seorang predator yang siap memburu.
Regan bersumpah tidak mengulang kesalahan yang sama.
Berbekal ingatan sejarah, ia mengakuisisi aset rawa yang kelak menjadi pusat kota dan menyiapkan jaring pengaman sebelum krisis moneter menghantam Indonesia.
Target utamanya jelas. Menghancurkan Dion Hartawan sampai tidak bersisa, dan memberikan dunia kepada Nara.
Dulu ia kalah telak. Kini ia bertindak sebagai penguasa bayangan yang mengendalikan perputaran ekonomi.
Kematian mengubahnya dari seorang pecundang menjadi monster bisnis.
Siap melihat bagaimana 12 ribu rupiah berubah menjadi kerajaan triliunan rupiah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UaOnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Tanah Pertama Dibeli
Sertifikat itu masih berbau tinta basah dari notaris.
Regan menatap lembaran kertas tebal berwarna hijau pudar itu di bawah lampu neon kantor notaris yang berkedip-kedip. Di atas meja kayu jati yang penuh noda kopi, stempel basah berwarna merah menyala masih terasa lengket. Dokumen itu menyatakan secara sah kepemilikan lahan seluas dua hektar di jantung Sudirman atas nama sebuah perusahaan cangkang: PT Samudera Inti.
Nama perusahaan yang asing. Sama asingnya dengan nama pemilik tunggalnya yang baru berusia sembilan belas tahun.
Handoko, sang notaris tua yang kacamata tebalnya selalu melorot ke ujung hidung, menyandarkan punggungnya ke kursi rotan yang berderit. Dia menghisap rokok kreteknya dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya ke langit-langit yang menguning.
"Gue udah puluhan tahun urus tanah di Jakarta, Re," ucap Handoko sambil mengetuk-ngetuk jemarinya di atas meja. "Tapi baru kali ini gue lihat anak kuliahan nekat ambil rawa di Sudirman pakai cara begini. Lo tahu nggak, orang-orang kaya sekarang lagi rebutan tanah di perumahan Bintaro. Sudirman itu... ya gitu deh. Masih banyak alang-alangnya."
Regan melipat sertifikat itu dengan gerakan perlahan. Sangat hati-hati, seolah dia sedang melipat peta harta karun.
"Bantaran Sudirman emang masih banyak alang-alangnya sekarang, Pak." Regan memasukkan dokumen itu ke dalam map cokelat. "Tapi alang-alangnya bakal berubah jadi beton paling mahal di Indonesia sebentar lagi."
Handoko tertawa kecil, suara tawanya kering seperti kertas tua. "Anak muda emang suka mimpi. Tapi lo beruntung bisa dapet harga segitu dari si Haryanto. Dia emang lagi kejepit banget."
"Bukan keberuntungan, Pak. Cuma waktu yang tepat."
Regan bangkit berdiri. Dia menjabat tangan Handoko. Genggamannya mantap, tidak ada ragu sedikit pun. Handoko merasakan sesuatu yang aneh dari anak muda ini. Matanya tidak memancarkan gairah khas remaja, melainkan ketenangan predator yang sudah kenyang makan asam garam dunia.
"Gue harap insting lo bener, Re. Kalau nggak, uang sepuluh juta lo bakal terkubur di lumpur Sudirman."
"Tenang aja, Pak. Uang itu bakal beranak pinak di sana."
Regan melangkah keluar dari kantor notaris yang pengap di kawasan Blok M tersebut. Udara siang Jakarta langsung menyergap lehernya. Panas, lembap, dan berbau bensin timbal. Di pinggir jalan, deretan bus tingkat dan metromini berlomba mengeluarkan asap hitam yang pekat.
Dia berjalan kaki menuju halte. Di tangannya, map cokelat itu terasa lebih berat dari tumpukan emas. Ini adalah benteng pertamanya. Fondasi dari kerajaan yang akan dia bangun kembali, kali ini dengan dinding yang jauh lebih kokoh.
Satu jam kemudian, Regan sudah duduk di warung kopi depan kampus. Dia memesan segelas teh botol dingin. Matanya menatap ke arah Pager yang tergeletak di meja. Sebuah pesan masuk dari Herman sepuluh menit lalu:
*TRUK SUDAH SAMPAI DI SINAR JAYA. WIRAWAN TERIMA SEMUA BARANG. AMAN.*
Regan menghembuskan napas panjang. Satu beban lepas. Dia bisa membayangkan wajah bingung sekaligus lega Pak Wirawan saat melihat stok elektronik baru turun dari truk tanpa harus membayar sepeser pun. Dia juga bisa membayangkan Nara yang pasti sedang mondar-mandir menanyai sopir truk itu, mencoba mencari tahu siapa pengirimnya.
Biarlah mereka menebak. Untuk sekarang, bayang-bayang adalah tempat paling aman bagi Regan.
"Woi, Re! Bengong aja lo!"
Sebuah tepukan keras mendarat di bahu Regan.
Dion Hartawan muncul dengan gaya flamboyan yang dipaksakan. Dia memakai kemeja garis-garis yang kancing atasnya dibuka, memamerkan kaos dalam putih di baliknya. Di tangannya, dia memegang map plastik berisi proposal seminar yang tadi pagi Regan biayai.
"Udah lo urus gedung buat seminar kita?" tanya Regan sambil menyesap teh botolnya.
Dion menarik kursi di depan Regan, lalu duduk dengan gaya sok bos. Dia memberi kode pada pelayan warung untuk memesan kopi.
"Beres, Re! Gue udah kasih uang muka buat aula pertemuan di Hotel Kartika. Panitianya udah gue gerakin semua." Dion menyeringai lebar, memamerkan deretan giginya yang rapi. "Tapi gue masih nggak habis pikir sama lo. Duit lima juta lo lempar gitu aja buat seminar. Dan tadi gue denger dari anak-anak himpunan, lo baru aja balik dari notaris? Lo beneran beli tanah?"
Regan mengangguk tipis. Dia menaruh map cokelatnya di meja, tapi tidak membukanya.
Dion menatap map itu dengan pandangan lapar sekaligus meremehkan. Dia meraih map tersebut, mencoba mengintip isinya sebelum Regan menariknya kembali.
"Coba gue lihat. Tanah di mana sih yang bikin lo sok rahasia begini?"
"Sudirman," jawab Regan pendek.
Dion terdiam sedetik, lalu tawa kerasnya meledak. Dia memukul meja warung berkali-kali hingga gelas-gelas di sekitarnya bergetar. Beberapa mahasiswa lain menoleh dengan tatapan terganggu.
"Sudirman?! Lo beli rawa di sana?!" Dion menyeka air mata di sudut matanya karena terlalu banyak tertawa. "Aduh, Re. Lo kalau mau main properti itu nanya gue dulu napa sih? Bokap gue sering bilang, masa depan Jakarta itu di arah Selatan, Lebak Bulus, atau Timur. Sudirman itu tempat orang kantoran tua doang. Tanah di sana nggak bakal naik harganya. Lo beli berapa? Dua hektar? Lo pasti kena tipu calo!"
"Mungkin," balas Regan kalem. Dia sama sekali tidak terlihat tersinggung. "Tapi gue suka bau alang-alangnya."
"Wah beneran gila nih anak. Lima juta buat seminar, puluhan juta buat rawa." Dion menggeleng-gelengkan kepala. "Lo dapet duit dari mana sih? Bokap lo bukannya cuma buruh pabrik ya? Lo nggak main yang aneh-aneh kan di Glodok?"
Regan menatap Dion dengan pandangan yang dalam. Pandangan yang membuat Dion merasa seolah dia sedang ditelanjangi sampai ke tulang-tulangnya.
"Lo fokus aja urus seminar itu, Yon." Suara Regan rendah, tapi tajam. "Pastiin tiketnya ludes. Jangan sampai modal gue hangus gara-gara lo kurang lincah cari sponsor."
Dion berdehem, sedikit ciut melihat tatapan Regan yang mendadak dingin. "Ya... ya pasti bereslah! Lo tahu sendiri kan koneksi gue di kampus gimana? Gue udah deketin anak-anak organisasi buat borong tiket."
"Bagus. Karena kalau seminar ini sukses, gue bakal kasih lo porsi yang lebih gede di proyek gue berikutnya."
Mata Dion berbinar. "Proyek apa nih? Proyek rawa lo itu?"
Regan tidak menjawab. Dia bangkit berdiri, membawa map cokelatnya. "Lo lihat aja nanti."
Dion ikut berdiri. Dia menepuk bahu Regan dengan gaya akrab yang menjijikkan bagi Regan.
"Saran gue sebagai partner ya, Re. Mending lo jual lagi tuh tanah mungkin masih ada orang bego yang mau bayar. Jangan sampai uang lo nyangkut di sana sepuluh tahun."
Regan tersenyum tipis. Sangat tipis.
"Lima tahun, Yon. Lima tahun lagi, baru kita ngomong lagi soal tanah ini."
Regan melangkah pergi meninggalkan warung itu. Dia membiarkan Dion tetap berdiri di sana dengan wajah yang penuh keraguan sekaligus rasa iri yang terselubung.
Dalam benak Regan, angka-angka masa depan mulai berputar. Tahun 1993, harga tanah di lokasi itu mungkin hanya puluhan ribu per meter. Tahun 1998, saat krisis menghantam, nilainya akan berguncang, tapi setelah itu... nilainya akan meroket menjadi puluhan juta, lalu ratusan juta. Dan yang lebih penting, siapa pun yang memegang tanah itu, dia memegang lisensi untuk membangun menara yang akan mendikte cakrawala Jakarta.
Regan menyeberang jalan menuju gedung Fakultas Hukum. Dia punya janji lain hari ini. Bukan soal bisnis, tapi soal Nara.
Dia berjalan menyusuri koridor yang dipenuhi papan pengumuman hasil ujian semester. Kerumunan mahasiswa tampak berdesakan di depan papan kayu besar di ujung lorong. Suasana terasa tegang. Beberapa mahasiswi tampak menangis, sementara yang lain bersorak kegirangan.
Regan melambatkan langkahnya saat melihat Nara berdiri di kerumunan itu.
Punggung Nara tampak kaku. Gadis itu tidak bergerak, matanya terpaku pada selembar kertas yang ditempel di balik kaca papan pengumuman. Tangannya yang memegang buku catatan tampak gemetar kecil.
Regan berhenti di jarak lima meter. Dia tidak perlu mendekat untuk tahu apa yang terjadi.
Di kehidupan masa lalunya, Nara kehilangan beasiswa prestasinya karena sebuah kecurangan administrasi yang dilakukan oleh keluarga Santoso. Ayah Vera Santoso menggunakan pengaruhnya untuk menggeser posisi Nara demi menaikkan citra anaknya yang sebenarnya hanya punya nilai rata-rata.
Itu adalah awal dari kejatuhan mental Nara. Tanpa beasiswa, dia harus bekerja lebih keras untuk membayar biaya kuliahnya sendiri, yang akhirnya membuatnya kelelahan saat ayahnya jatuh sakit.
Regan melihat Nara berbalik perlahan. Wajahnya pucat pasi. Tidak ada air mata, tapi matanya memancarkan luka yang sangat dalam. Luka karena dikhianati oleh sistem yang selama ini dia percayai.
Nara berjalan melewati Regan tanpa menyadari kehadirannya. Pandangannya kosong, menembus lantai semen koridor yang kusam.
Regan mengepalkan tangannya di balik map cokelat.
"Vera Santoso..." bisiknya pelan.
Dia tahu apa yang harus dilakukan. Kekuatan uang dan tanah di Sudirman mungkin belum cukup untuk mengguncang keluarga Santoso hari ini, tapi informasi adalah senjata yang berbeda.
Regan berbalik, berjalan menuju arah yang berlawanan dengan Nara. Dia butuh menelepon Herman lagi. Ada satu lagi 'investasi' informasi yang harus dia cairkan. Sebuah aib keluarga Santoso yang sudah dia simpan di kepalanya selama tiga puluh tahun.