Fangyi, seorang gadis modern yang cantik nan pintar gadis itu memiliki mata yang tajam serta memiliki kepribadian yang sulit di tebak. Fangyi tidak pernah banyak bicara, ia hanya diam dan berkata hanya seperlunya.
Pada suatu hari fangyi tengah menjalankan sebuah misi gelap yang merupakan pekerjaan nya sehari - hari, ia mengambil pekerjaan berbahaya itu karena terpaksa untuk membiayai kakak laki - laki nya sekolah. Jika tidak bekerja dan tidak memberikan uang kepada ibunya, dirinya akan di jual ke pria tua hidung belang dan Fangyi tidak Sudi melakukan nya.
Fangyi tertembak saat menjalankan sebuah misinya itu, bukan nya mati jiwa nya masuk ke dalam tubuh wanita asing yang di abaikan dan di benci oleh keluarga nya sendiri.
Kepoin aja langsung cerita nya kalau mau tahu !!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uyuuun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bagian 9
Pagi yang cerah matahari menyingsing dengan begitu terik, Su Feiyang bangun dengan badan yang lebih bugar. Bocah itu merasa tidur dengan waktu yang cukup lama begitu juga dengan Chi. Chi telah menyiapkan air mandi untuk Feiyang, siang hari Feiyang akan berlatih ilmu pedang sesuai yang di perintahkan oleh jendral Su.
Fangyi hanya duduk menatap bunga - bunga yang sudah mulai tumbuh dan siap mekar beberapa hari lagi. Kediaman fangyi berubah menjadi kediaman sederhana namun membuat siapa saja yang berada di sana merasa nyaman.
Utusan kaisar Gu datang meminta jenderal su untuk datang menemui kaisar. Kabarnya telah terjadi suatu hal di perbatasan antara kekaisar Gu dan kekaisaran Ming. Dua kerajaan yang saling bermusuhan hanya karna mereka berpikir kekuatan mereka adalah yang paling hebat.
Para masyarakat di kekaisaran gu sangat ahli dalam ilmu beladiri dan para kultivator nya sangat hebat namun di kekaisaran gu sendiri tidak banyak yang ahli dalam bidang alkemis. Berbanding balik dengan kekaisaran Ming yang penuh dengan ahli alkemis dan tumbuhan obat yang sangat memadai.
"Aku akan pergi ke pasar " ucap fangyi lalu ia berjalan dengan langkah kaki nya yang anggun.
Fangyi berpapasan dengan Su Yanxiu kakak perempuan ny, namun fangyi hanya menatap sekilas dan meninggalkan Su Yanxiu dengan pandangan yang sulit di artikan.
Sesampainya di rumah lelang ia mendatangi pangeran Gu jinghe, ia memberikan sebuah tanaman obat yang di butuhkan oleh pangeran Gu Jinghe.
"Apakah kau bisa menyembuhkan ibuku, saat ini tabib Yin sedang tidak ada di ibu kota, ia sedang melakukan meditasi di salah satu gua untuk menambah ilmu nya " ucap pangeran Gu jinghe.
"Bisa tapi aku ingin melakukan nya dengan sangat rahasia, malam ini aku akan datang ke pintu gerbang belakang kerajaan, pastikan tidak ada pengawal disana dan pastikan seseorang untuk menjemput ku. " ucap fangyi lalu hendak pergi.
"Berapa pun bayaran nya akan aku berikan asal kau bisa menyembuhkan ibuku ". fangyi hanya menoleh sebentar lalu pergi begitu saja.
"Apa dia bisa di percaya ? " tanya song Qiang.
"Kita lihat saja malam ini jika di berani bermain - main dengan anggota keluarga kekaisaran gu aku akan pastikan nyawa nya akan tiada " jawab raja Ling Zhixuan.
Sesampainya di kediaman Su, fangyi mendengar rintihan Feiyang.
"Kakak, sudah hentikan aku sangat lelah " ucap Feiyang dengan suara parau nya.
"kau begitu lemah ! sungguh jenderal su bernasib sial karena telah melahirkan anak lemah seperti mu ! " ucap salah satu prajurit milik jenderal su yang paling di banggakan dan sangat di agung - agungkan karena kehebatan nya dalam berpedang.
Su Huainan hanya diam melihat Feiyang yang terduduk dengan lemas, sebagai seorang kakak tidak ada pembelaan untuk sang adik yang tengah di intimidasi dan di permalukan.
Prajurit Sao mengangkat pedangnya dan bersiap menyerang Feiyang, fangyi melempar sebuah belati tepat menancap di lengan prajurit Sao. Semua orang terkejut dan menatap ke arah fangyi yang berdiri dengan aura yang sangat mencekam.
Mata fangyi berubah menjadi merah, ia berjalan dengan anggun namun tidak di pungkiri aura nya membuat mereka yang ada di sana merasa sesak. Fangyi mengulurkan tangan Feiyang lalu menghadap ke arah prajurit Sao.
"Dia bukan lawan anda, sebagai seorang prajurit tersohor apakah kau tidak malu menyerang bocah yang masih berumur tujuh tahun "ucap fangyi menatap prajurit Sao dengan tajam.
"Aku hanya melatihnya ! dia saja yang lemah, apakah dia tidak merasa malu terlahir sebagai sosok yang lemah di keluarga jenderal " ucap prajurit Sao membuat fangyi benar - benar geram.
"Kau hanya seseorang yang di utus untuk melatihnya bukan untuk membunuh nya ataupun melukai nya, jika kau menganggap perbuatan mu sebagai latihan kalau begitu aku akan berikan pelajaran yang serupa untuk mu ".
"Fangyi jangan bertindak bodoh, sadarlah akan kemampuan mu " ucap Su Huainan.
Fangyi seakan tuli, ia mengambil pedang milik salah satu prajurit. Fangyi bergerak dengan kecepatan yang sulit mereka baca gerakan nya. Fangyi terus memberikan perlawanan sehingga prajurit Sao tidak mampu lagi memberikan perlindungan untuk dirinya sendiri atau pun sekedar mengelak.
'Sejak kapan fangyi bisa menggunakan pedang'batin su Huainan.
Jleb.
"Akhhh " pedang tersebut menancap ke perut prajurit Sao, kemudian dengan gerakan cepat fangyi menarik kembali pedang itu membuat rasa sakit itu semakin terasa.
Darah mengucur hebat dari perut prajurit Sao, fangyi tersenyum tipis namun mereka merasa fangyi sangatlah mengerikan.
"Lemah ! aku masih tidak percaya seorang prajurit tersohor seperti mu akan kalah dari seorang wanita lemah sepertiku " nada bicara fangyi sangat pelan namun terdengar sarkas di telinga mereka.
"Kau kakak tidak berguna " ucap fangyi dengan datar.
"Feiyang tidak akan lagi berlatih pedang dengan kalian, aku akan mencari pelatih lain yang lebih hebat dari kalian semua " ucap fangyi lalu mengajak Feiyang untuk pergi.
"Terimakasih kakak " ucap Feiyang dan fangyi hanya mengangguk.
...----------------...
Malam yang di nanti pangeran Gu Jinghe telah tiba, pangeran Gu Jinghe sendiri yang menjemput fangyi dari belakang kerajaan. Tidak ada seseorang yang melihat hal itu, semua telah tertidur karena malam benar - benar sangat larut.
Sesampainya di kamar selir agung Xin Ran, fangyi menatap tubuh dingin itu yang terselimuti dengan rapi. Di dalam kamar itu sudah ada Song Qiang, raja Ling Zhixuan dan adik dari pangeran Gu jinghe pangeran ke empat Gu Qinghe yang seumuran dengan Feiyang.
Fangyi memeriksa denyut nadinya, ia mengeluarkan beberapa jarum akupuntur dan menusuk kan nya ke beberapa titik yang membuat racun tidak terus menyebar.
Jarum tersebut mengeluarkan darah hitam pekat yang sangat banyak dan bau. Fangyi membuat racikan pil yang sudah ia campur dengan mata air surgawi.
"Sejak kapan ? " pertanyaan fangyi membuat pangeran Gu Jinghe bingung.
"Sejak sebulan yang lalu, ibu ku terkena racun alam mimpi jiwa. Ibu ku tidak lagi terbangun sejak acara malam itu " ucap pangeran Gu Qinghe dengan terus menatap sang ibu.
"Kalian tidak menyelidiki nya ? " tanya fangyi lagi.
"Sudah tapi kami tidak menemukan jejak sang pelaku "jawab song Qiang.
Fangyi mencabut jarum - jarum itu, kemudian ia memasukkan pil racikan nya ke dalam mulut selir agung tubuh selir agung menghangat, mendadak selir agung bangkit dan memuntahkan bnyak sekali cairan berwarna hitam dan berbau busuk.
Fangyi memeriksa denyut nadi, semua telah kembali normal. Aliran darah ya tidak lagi terhambat karena sebuah racun. Mata selir agung perlahan terbuka, ia meneteskan air matanya. Jiwanya tidak lagi terbelenggu di sebuah tempat yang gelap dan dingin yang menusuk.
"Aku benar - benar telah kembali " ucap selir agung dengan sedih.
"Ibu, nona Su Fangyi yang telah mengobati ibu " ucap Gu Qinghe.
"Terimakasih banyak nona Su " ucap selir agung dengan tulus.
"Tugas ku telah selesai, saran ku rahasiakan kesembuhan selir agung sampai pelaku dari pemilik racun benar - benar tertangkap " ucap fangyi lalu berpamitan tanpa menunggu jawaban dari mereka semua. Kepergian fangyi begitu cepat membuat mereka tidak dapat menyusul fangyi.
Maaf ya hp author hilang jadi baru bisa up lagi