Kianara Shernon Abraham
Seorang gadis berfrofesi aktrist berkarakter periang yang begitu tergila-gila pada novel berjudul “Save The Male Lead” tiba-tiba bertansmigrasi menjadi salah satu karakter novel yang sangat dibenci para pembaca yaitu Kianara Genevivie Anwealda.
Ya, karakter antagonis yang menjadi salah satu sumber penderitaan pemeran utama pria. Pun dengan suami yang sangat tidak peduli dengan istri bahkan anak nya. Bagaimana perjalanan kisah selanjutnya, ikuti jalan penuh lika-liku novel ini yang akan membawa kejutan ditiap plotnya.
Update 2-3 kali dalam seminggu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyn_11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10
Aula yang dipenuhi cahaya itu perlahan memudar dari ingatan.
Digantikan oleh bayangan masa lalu—
Flashback on
Taman istana yang jauh lebih sederhana, dengan rumput hijau yang masih basah oleh embun pagi.
Dulu… jauh sebelum nama Kianara Genevivie Awealda dikenal sebagai sosok arogan, dingin yang ditakuti— ia adalah anak yang sangat berbeda. Tertawa lepas, berlari tanpa beban, dan berbicara tanpa menyaring kata.
Hari itu, seorang anak laki-laki duduk sendirian di bawah pohon besar. Pakaian yang ia kenakan sederhana—tidak mencerminkan status aslinya sebagai Pangeran Kedua, Vaelric Drevian Genwel.
Pada masa itu, ia dan kakaknya memang tidak diperbolehkan menunjukkan identitas mereka. Mereka hidup seperti anak bangsawan biasa… untuk belajar memahami dunia tanpa perlindungan gelar.
Namun— Vaelric tidak pernah benar-benar “hidup” di antara anak-anak lain.
Ia terlalu diam. Terlalu tertutup. Terlalu… berbeda.
“Dia aneh.”
“Kenapa selalu sendirian?”
“Pasti sombong.”
Bisikan-bisikan itu terus muncul.
Dan seperti biasa, Vaelric hanya diam. Ia tidak membalas. Tidak menolak. Tidak juga mendekat.
Hingga—
“Kalau kalian tidak punya hal pintar untuk dikatakan, lebih baik diam.” Suara itu tajam seorang gadis kecil berdiri di sana, tangan di pinggang, menatap kelompok anak-anak itu dengan kesal. Kianara. Versi dirinya yang belum tersentuh dunia.
“Dia tidak mengganggu kalian,” lanjutnya. “Jadi kenapa kalian yang sibuk mengganggu dia?”
Anak-anak itu terdiam. Tidak ada yang berani membalas.
Kianara mendengus kecil sebelum berbalik. Ia berjalan mendekati Vaelric—yang masih duduk diam, sedikit terkejut.
Tanpa ragu, Kianara duduk di sampingnya. “Kamu aneh juga sih,” katanya jujur.
Vaelric sedikit menunduk.
“tapi aku nggak benci orang aneh.” Ia tersenyum lebar. Senyum yang begitu terang… sampai terasa asing bagi Vaelric. Untuk pertama kalinya— ada seseorang yang mendekat… tanpa alasan.
“Aku Kianara. Kamu?”
Vaelric terdiam cukup lama.
“…Vael.”
Bukan nama lengkapnya. Tapi itu cukup.
“Yaudah, Vael,” ucap Kianara santai. “Mulai sekarang kamu temanku.”
Tidak ada persetujuan, Tidak ada penolakan. Hanya keputusan sepihak— yang entah kenapa… Vaelric tidak ingin tolak.
Sejak hari itu— Kianara menjadi satu-satunya orang yang selalu duduk di sampingnya. Berbicara tanpa henti. Tertawa tanpa alasan. Dan tanpa sadar—perlahan mengisi ruang kosong dalam dirinya.
Perasaan itu tumbuh. Diam-diam. Tanpa pernah diucapkan. Bagi Vaelric kecil— Kianara adalah satu-satunya warna di dunianya. Dan ia… tidak ingin kehilangan warna itu.
Flash Back off
Kembali ke masa kini.
Aula kembali dipenuhi cahaya.
Namun di balik ketenangan wajah Vaelric Drevian Genwel, ada sesuatu yang jauh lebih dalam. Matanya kembali tertuju pada Kianara.
Selalu. Tidak pernah berubah.
Namun kali ini— ada sesuatu yang berbeda.
Bukan hanya perasaan lama. Tapi juga… keinginan.
Keinginan untuk mempertahankan. Untuk memiliki.
Untuk memastikan— Kianara tidak pergi Selamanya.
“…Kalau dia tetap di sisiku,” gumam Vaelric sangat pelan, hampir tak terdengar, “tidak akan ada yang bisa menyentuhnya.” Sebuah pikiran yang terdengar seperti perlindungan— namun terasa seperti… belenggu.
Dan seseorang mendengarnya. “Kalimat yang berbahaya.” Suara dingin itu muncul dari samping.
Vaelric menoleh.
Duke Kaevryn Altheris berdiri di sana, tatapannya tajam menembus. Ia sudah mendengar cukup.
“Keinginan untuk melindungi bisa berubah menjadi keinginan untuk memiliki,” lanjut Kaevryn pelan, hanya cukup untuk mereka berdua. “Dan itu bukan sesuatu yang akan kutoleransi.”
Vaelric menatapnya tanpa ekspresi. “Dia tidak aman,” balasnya dingin. “Banyak yang mengincarnya.”
“Kalau begitu,” ucap Kaevryn dingin, “jangan jadi alasan dia ingin pergi.” Ia tidak langsung berbalik. Tatapannya masih menahan Vaelric di tempat—tajam, menekan, seolah memastikan setiap kata berikutnya tidak akan diabaikan.
“Dan satu hal lagi, Yang Mulia.” Nada suaranya turun… lebih rendah, lebih berat. “Kianara sudah berkeluarga.”
Hening.
Kata-kata itu jatuh seperti beban yang tak terlihat.
“Di hatinya,” lanjut Kaevryn tanpa ragu, “tidak ada satu pun ruang untuk Anda.”
Tatapan Vaelric tidak berubah. Namun sesuatu di dalamnya… retak, nyaris tak terlihat.
Kaevryn melanjutkan, tanpa memberi celah untuk ilusi. “Lihatlah dengan mata Anda sendiri.”
Ia menggeser pandangan ke arah aula.
Di sana— Kianara Genevivie Anwealda berdiri dengan tenang di samping Grand Duke Agerald Anwealda. Sosok keduanya berdampingan tanpa celah, seolah dunia di sekitar mereka tidak memiliki arti.
Dan di antara mereka— seorang anak kecil. Arcelio Arkan Awealda. Bocah itu kini tidak lagi bersembunyi sepenuhnya. Ia berdiri di dekat Kianara, sesekali menarik ujung gaunnya, lalu menatap sekeliling dengan rasa ingin tahu.
Kianara menunduk sedikit, membenarkan posisi rambut Arcelio dengan gerakan yang nyaris tak terlihat lembut— namun cukup. Cukup untuk menunjukkan segalanya.
“Dia sudah memilih,” ucap Kaevryn pelan, hampir seperti vonis.
“Dan sekarang… mereka memiliki seorang putra.”
Arcelio tertawa kecil saat mengatakan sesuatu yang tidak terdengar, membuat Kianara menoleh sekilas.
Ekspresinya tetap tenang. Namun ada sesuatu yang berbeda— sesuatu yang hanya muncul… saat ia bersama anak itu.
Vaelric melihat semuanya. Tanpa berkedip. Tanpa bergerak.
“…jadi jangan jadikan pikiran Anda menjadi nyata,” lanjut Kaevryn, suaranya kembali dingin dan tegas.
“Karena itu tidak mungkin.” Setiap kata menusuk tepat sasaran. Bukan sebagai hinaan— tapi sebagai kenyataan yang tak bisa dihindari.
Hening kembali turun. Kali ini lebih dalam. Lebih berat.
Vaelric akhirnya mengalihkan pandangannya. Namun bukan karena kalah— melainkan karena… ia mengerti. Mengerti bahwa apa yang ia inginkan—
tidak akan pernah bisa ia miliki.
Untuk pertama kalinya malam itu— tatapannya tidak lagi tertuju pada Kianara.
Melainkan… pada jarak yang memisahkan mereka.
Dan jarak itu— terlalu jauh untuk dijangkau.
Entah kenapa kenyataan ini masih belum bisa diterimanya. Seseorang yang peduli, melindungi, dan miliknya- direbut begitu saja. Seolah jantungnya ditarik secara paksa.
Kilat aneh kembali hadir di kedua mata cokelat keemasan itu, seolah apa yang di peringatkan Kaevryn tidak pernah didengarnya.
"Ingin aku berhenti? Justru aku semakin tidak terima dengan kekalahan. Kianara-my princess...semakin banyak yang menentang, semakin yakin untuk ku bisa membuatmu berada disisiku selamanya." smirk yang tipis tampil di wajah tampan itu. Tekad nya untuk membawa sang Pujaan hati semakin lama semakin besar. Tak ada yang tahu bagaimana waktu bisa berjalan. Ia dengan segala rencananya atau kah takdir yang telah ditulis untuk setiap perjalanan kehidupan.
...******...
Di sudut aula yang lebih tenang, jauh dari pusat perhatian para bangsawan— sepasang mata kecil mengintip dengan ragu.
Arcelio Arkan Awealda. Tangannya masih menggenggam sedikit ujung pakaian Kianara sebelumnya, seolah belum sepenuhnya siap dilepas ke dunia yang terlalu ramai. Namun kali ini—perhatiannya teralihkan. Seorang anak laki-laki berlari kecil ke arahnya, hampir tergelincir karena terlalu bersemangat.
“Ah! Kamu! Kamu yang tadi sembunyi di balik gaun itu kan?!” Suaranya keras. Terlalu keras. Dan terlalu cepat. Anak itu berhenti tepat di depan Arcelio, menatapnya dengan mata berbinar penuh rasa penasaran.
Cyril Varenne Delcair. Putra dari Marquess Levard Delcair. Rambutnya sedikit berantakan, napasnya masih terengah, dan ekspresinya… terlalu hidup untuk ukuran pesta formal seperti ini.
Di kejauhan, kedua orang tuanya terlihat kewalahan.
“Cyril! Jangan berlari di aula—”
“Cyril, kembali ke sini!”
Namun anak itu sudah terlanjur menemukan “target” barunya.
Arcelio mundur sedikit. “a-aku… ti-tidak… se-sembunyi…” ucapnya pelan, dengan nada cadel yang masih kental.
Cyril justru semakin mendekat. “Eh? Tapi tadi aku lihat kok! Kamu lucu sekali!”
Arcelio langsung memerah. “lu-lucu…?” gumamnya bingung.
“Iya! seperti anak kucing!” lanjut Cyril tanpa filter.
Arcelio makin salah tingkah. Tangannya mengepal kecil. “a-aku bu-bukan… ku-kucing…”
Cyril tertawa kecil. “Iya sih, kamu manusia… tapi tetap lucu!” Tanpa sadar, ia meraih tangan Arcelio.
“Namaku Cylil! Kamu siapa? Kamu bisa lali cepat nggak? Kita main yuk! Eh tapi ini pesta ya… hmm… yasudah kita bicala aja!” Kata-katanya tidak berhenti. Satu topik ke topik lain tanpa jeda.
Arcelio hanya bisa berdiri kaku. Namun— untuk pertama kalinya, ia tidak mundur. “…a-aku… Al… Alcelio…” ucapnya pelan.
Cyril langsung tersenyum lebar. “Alcelio! Nama kamu kelen!” Ia menarik tangan Arcelio sedikit.
“Ayo kita ke sana! Di situ tidak telalu lame!”
Arcelio sempat ragu. Namun perlahan…ia mengangguk kecil.
Dari kejauhan, beberapa bangsawan memperhatikan dengan ekspresi beragam—heran, bingung, bahkan ada yang tersenyum kecil melihat interaksi polos itu.
Namun— tidak dengan Kianara. Matanya yang semula tenang… perlahan membulat. “…Delcair?” gumamnya sangat pelan.
Nama itu— terasa familiar. Terlalu familiar. Dan dalam sekejap— potongan ingatan dari cerita asli Save the Male Lead muncul di benaknya.
Cyril Varenne Delcair. Sahabat sejati sang male lead.
Seseorang yang selalu berada di sisi Arcelio—
namun juga…seseorang yang terhubung langsung dengan original female lead, melalui keluarganya.
Seseorang yang—dalam alur asli— menjadi salah satu sumber rasa sakit terbesar bagi Arcelio.
Tatapan Kianara langsung berubah. Tidak terlihat dari luar. Namun di dalam— gelombang kecemasan mulai muncul.
“Tidak…” bisiknya pelan. Matanya tertuju pada Arcelio yang kini sedang diajak berbicara tanpa henti oleh Cyril. Arcelio yang masih canggung. Masih polos. Masih… belum tahu apa-apa.
“Jangan bilang…” Jantungnya berdetak lebih cepat.
“Semua ini… tetap berjalan?” Untuk pertama kalinya— rasa takut muncul. Bukan untuk dirinya. Tapi untuk Arcelio.
Ia melangkah satu langkah— ingin mendekat.
Ingin menghentikan. Ingin mengubah. Namun tiba-tiba— dengung tajam memenuhi telinganya.
ngiiing—
Langkahnya terhenti. Dunia di sekitarnya seakan membeku sesaat. Dan sebuah suara asing. Dingin. Tak berwujud— berbisik tepat di telinganya.
“Jika kau terlalu ikut campur urusan takdir yang tertulis…”
Napas Kianara tertahan. Matanya sedikit melebar.
Suara itu berlanjut—lebih dalam. Lebih mengancam.
“…maka tatanan dunia ini akan hancur.”
Sunyi.
Namun terasa berat. Seolah sesuatu… sedang mengawasinya. Kianara mengepalkan tangannya.
Tatapannya kembali ke arah Arcelio lalu ke arah Cyril. Dua anak kecil— yang sedang berbicara tanpa beban. Tanpa tahu— betapa rumitnya masa depan yang menunggu mereka.
“…takdir?” bisik Kianara pelan.
Untuk pertama kalinya— ia dihadapkan pada pilihan.
Melindungi— atau membiarkan.
Dan di antara dua pilihan itu—ada konsekuensi…
yang bahkan belum ia pahami sepenuhnya.
...*******...
“Ibu, hali ini Alcel senang sekali…”
Suara kecil itu terdengar lembut di tengah keheningan malam.
Arcelio Arkan Awealda memeluk selimutnya, tubuh mungilnya bersandar di sisi ibunya. Aktivitas seperti ini—ditemani tidur oleh Kianara—menjadi sesuatu yang belakangan sering ia nantikan.
Kianara tersenyum tipis, tangannya terus mengelus lembut rambut putranya. “Senang karena apa, kalau ibu boleh tahu?”
Arcelio mengangkat kepalanya sedikit, menatap wajah ibunya dengan mata berbinar polos. “Selain bisa belsama kelualga… Alcel dapat teman balu!” ucapnya semangat.
Kianara terdiam sesaat.
Namun Arcelio belum selesai. “Walaupun Cylil telalu banyak bicala dan tidak bisa diam…” ia mengerucutkan bibir kecilnya, “tapi dia baik.”
Elusan tangan Kianara berhenti. Hanya sesaat. Namun cukup. “…begitu ya,” jawabnya pelan.
Arcelio mengangguk cepat. “Iya! Dia ajak Alcel ngomong telus, tapi Alcel senang… tidak sepi.”
Hening sejenak.
Kianara kembali mengelus rambut Arcelio, lebiH pelan kali ini. “Kalau begitu… ibu juga senang.”
“Ibu juga harus kenal Cylil!” tambah Arcelio antusias. “Nanti Alcel kenalin ya!”
“…iya,” jawab Kianara singkat. Namun pikirannya—
jauh dari tenang. Nama itu kembali terngiang.
Cyril Varenne Delcair.
Potongan cerita lama… takdir yang seharusnya terjadi… dan rasa sakit yang akan menimpa Arcelio.
Tidak…
Tangannya tanpa sadar mengepal sedikit di atas selimut. Apakah semua ini tetap berjalan seperti itu…?
Arcelio yang mulai mengantuk kembali bersandar.
“Ibu…”
“Hmm?”
“Kalau Alcel punya teman… ibu nggak akan jauh kan?”
Pertanyaan itu sederhana.
Namun menusuk.
Kianara menatap wajah kecil itu. “…tidak,” jawabnya lembut. “Ibu tidak akan pergi.”
“Janji?”
“Janji.” Arcelio tersenyum kecil, lalu memejamkan mata.Tak lama— napasnya menjadi teratur. Tertidur.
Kianara tetap di sana. Duduk diam menatap putranya. “…bagaimana caranya agar kau selalu bahagia…” bisiknya sangat pelan. Pertanyaan itu—tidak memiliki jawaban.
Dan perlahan…kelelahan menariknya masuk ke dalam tidur.
Gelap.
Sunyi.
Lalu ada sebuah cahaya.
Kianara berdiri di sebuah ruangan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Indah. Terlalu indah. Langit-langitnya tinggi dengan ukiran emas, dindingnya memancarkan cahaya lembut seperti senja, dan lantainya berkilau seperti kaca.
“Tempat… apa ini…?” Langkahnya bergema pelan. Namun tidak ada siapa pun. Atau—
setidaknya, begitu yang ia kira.
“Kianara…” Suara itu muncul. Lembut. Namun bergema dari segala arah.
Kianara langsung menoleh. “Siapa?”
Hening sejenak. Lalu di kejauhan, cahaya mulai berkumpul. Perlahan membentuk sosok. Siluet seorang wanita. Berpendar putih keemasan. Tidak jelas wajahnya. Namun kehadirannya… terasa.
“Jadi kau akhirnya datang,” ucap suara itu lagi.
Kianara menatap tajam. “Siapa kau?”
Sosok itu tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri diam… lalu melangkah mendekat tanpa suara. “Aku… bukan siapa-siapa,” jawabnya lembut.
“Namun aku adalah sesuatu yang menjaga keseimbangan.”
Kianara mengernyit. “…penjaga takdir?”
“Bisa dibilang begitu.”
Hening.
Kianara mengepalkan tangannya. “Suara itu…” ucapnya pelan, “yang kudengar di ballroom… itu kau?”
“Ya.” Jawaban itu datang tanpa ragu.
“Lalu apa maksudnya?” suara Kianara mulai menegang. “Apa aku tidak bisa mengubah takdir Arcelio?”
Sosok itu menatapnya. Meski tanpa wajah—
Kianara bisa merasakan tatapan itu. Dalam. Menembus.
“Takdir adalah sesuatu yang telah ditulis,” ucapnya perlahan. “Namun… bukan berarti tidak bisa bergeser.”
Kianara terdiam. “Apa maksudmu?”
“Jiwa yang sekarang berada dalam tubuh Kianara…” lanjutnya, “bukan jiwa asli dari dunia ini, bukan?”
Napas Kianara tertahan.
“Karena itulah,” suara itu melembut, “garis takdir mulai bergetar.”
“Bergetar…?”
“Sedikit perubahan sudah terjadi.”
Bayangan Arcelio dan Cyril terlintas di benak Kianara.
“Namun,” suara itu kembali dingin, “jika kau memaksakan perubahan terlalu jauh… maka keseimbangan akan runtuh.”
“Runtuh bagaimana?!” Nada suara Kianara meninggi. Untuk pertama kalinya—
emosinya terlihat jelas. “Apa yang akan terjadi pada Arcelio?!”
Hening.
Sosok itu mendekat satu langkah.
“Jika tatanan dunia hancur,” ucapnya pelan, “maka semua kemungkinan… juga akan hancur.”
Kianara membeku.
“Termasuk…” sedikit jeda. “masa depan yang kau inginkan.”
Sunyi.
“Jadi…” suara Kianara melemah, “aku harus diam saja? Melihat dia terluka seperti di cerita itu?”
“Tidak.” Jawaban itu cepat.
Kianara menatapnya lagi.
“Kau bisa mengubahnya,” lanjut sosok itu. “Namun bukan dengan melawan takdir secara langsung.”
“Lalu bagaimana?!”
“Dengan… menggesernya.”
Hening.
“Maksudnya…?”
Sosok itu sedikit memudar… lalu kembali stabil.
“Takdir bukan garis lurus, Kianara,” ucapnya. “Ia seperti aliran air.”
“Jika kau mencoba menahannya—ia akan meluap.”
“Namun jika kau mengarahkannya perlahan…”
“…ia bisa mengalir ke tempat yang berbeda.”
Kianara terdiam lama mencoba Mencerna. “Jadi… masih ada harapan?”
“Selalu ada.” Jawaban itu lembut. Namun— tidak memberi kepastian penuh.
“Lindungi anak itu,” lanjutnya pelan. “Bukan dengan mengurungnya dari dunia…”
“…tapi dengan membuatnya cukup kuat untuk tidak hancur olehnya.”
Cahaya di sekitar mulai meredup.
“Kita akan bertemu lagi, Kianara.”
“Tunggu—!”
Namun, semuanya menghilang.
Kianara terbangun. Napasnya sedikit berat. Matanya langsung tertuju ke samping. Arcelio masih tertidur pulas, wajahnya tenang tanpa beban. Kianara menatapnya lama. Lalu perlahan mengelus rambutnya lagi.
“…menggeser takdir, ya…” bisiknya pelan.
Kali ini matanya tidak lagi hanya berisi kecemasan.
Tapi juga—tekad.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...To Be Continue...