Ranum Haura. Gadis muda berusia 20 tahun, pergi ke kota untuk menghadiri interview di sebuah perusahaan farmasi. Namun interviewnya gagal, karena ia harus meluangkan waktunya menolong pria yang terlihat sesak nafas.
Ranum yang punya keahlian pijat refleksi, segera menolongnya, ia menekan titik syaraf pria paruh baya yang bernama Pak Barra itu.
Atas bentuk terima kasihnya, Pak Barra menjodohkan Ranum dengan cucunya, CEO kaya raya, tampan, bernama Brams Satria Ravendra.
Tapi. Brams menyodorkan pernikahan Kontrak pada Ranum tanpa sepengetahuan kakeknya.
Dan ketika Ranum diketahui hamil, Ranum pun diam-diam pergi meninggalkan Brams, sebelum kontraknya selesai.
Apakah Brams akan melepaskan Ranum?
Simak kisah selengkapnya. Jangan lupa. Ulasan, like, komentarnya ya. Untuk dukung novel ini. 😊🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 - Rahasia Suami Kontrakku
Langkah Ranum terhenti di depan pintu ruang baca Kakek Barra yang di tunjuk seorang pelayan padanya.
Kakek Barra terlihat sedang duduk di sofa empuk berwarna Cream. Tongkat kayu hitam bersandar di samping kursi.
Matanya tajam… namun hangat saat menatap Ranum.
“Duduklah, Nak,” ucapnya pelan.
Ranum menuruti, meletakkan nampan teh herbal di meja kecil.
Kakek Barra mengangkat cangkirnya, menghirup aromanya. Alisnya terangkat sedikit.
“Ini… racikan keluargamu?” tanyanya.
“Iya, Kek,” jawab Ranum tenang.
“Resep dari leluhur kami.”
Kakek Barra tersenyum puas.
Lalu… senyum itu perlahan menghilang.
“Ranum,” katanya lirih tapi berat,
“kau tahu kenapa Brams keras menolak menikah selama ini?”
Ranum menggeleng.
Kakek Barra menatap jendela, seolah menatap masa lalu.
"Apa karena penyakit yang pernah kakek bicarakan padaku itu?"
Kakek Barra mengangguk pelan.
"Lalu. Apa penyakitnya kek?" Tanya Ranum penasaran.
“Dalam pemeriksaan kesehatannya beberapa tahun lalu…”
Ia menarik napas panjang.
“Dokter menyatakan Brams… mandul.”
Dunia Ranum seakan berhenti sepersekian detik.
“Mandul…?” suaranya nyaris tak terdengar.
Dalam benak Ranum muncul ucapan Brams, 'Kau tidak akan mengandung pewaris Ravendra dalam pernikahan Kontrak ini.' Ahh... Akhirnya Ranum menemukan maksud dari ucapan Brams padanya.
“Itulah sebabnya,” lanjut Kakek Barra,
“ia tak ingin menikah. Tak mau mengecewakan Kakek.”
Ranum menunduk.
Dadanya terasa sesak, bukan karena jijik, tapi karena iba.
“Kakek tidak ingin memaksanya,” ucap Kakek Barra lirih.
“Tapi aku… sangat ingin cicit sebelum mataku menutup.”
Ia menatap Ranum penuh harap.
“Dan saat aku tahu kau punya ilmu pijat refleksi dan herbal… aku percaya ini bukan kebetulan.”
Ranum menelan ludah.
“Apa… Kakek berharap aku menyembuhkan Brams?”
Kakek Barra mengangguk perlahan.
“Jika bisa.”
Ranum mengepalkan jemarinya di pangkuan.
“Aku tidak berani menjanjikan hasil,” ucapnya jujur.
“Tapi aku bisa mencoba. Refleksi saraf… ramuan herbal… terapi bertahap.”
Mata Kakek Barra berbinar.
“Benarkah?”
Ranum mengangguk mantap.
“Aku akan berusaha sekuat kemampuanku, Kek.”
DUK!
Tongkat Kakek Barra diketukkan ke lantai.
“Syukurlah!”
Ia bahkan bertepuk tangan kecil, wajahnya berseri seperti anak kecil.
“Akhirnya! Akhirnya ada harapan!”
Ranum tersenyum tipis.
“Dan satu lagi,” lanjut Kakek Barra,
“hari ini… ajak Brams ziarah ke makam orang tuanya.”
Ranum tertegun.
“Biarkan mereka tahu,” kata Kakek Barra lembut,
“Anak mereka sudah menikah dengan gadis baik hati bernama Ranum.”
Di balik pintu…
Brams berdiri terpaku.
“Ah… sial,” gumamnya pelan.
“Padahal aku berniat menggoda istriku seharian ini.”
Ia melangkah masuk tanpa basa-basi.
“Kek, aku tidak mau ziarah hari ini.”
Suara tongkat menghantam lantai lagi.
“Kau berani membantah?”
“Bukan membantah,” Brams mengangkat tangan defensif.
“Aku sibuk.”
“Bohong! Ini hari libur mu. Sibuk apa kau!” bentak Kakek Barra.
“Kau mabuk semalam! Membuat istrimu kewalahan! Dan sekarang menolak pergi bersama istrimu untuk pergi Ziarah ke makam orang tuamu?”
Brams menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Aku yang kewalahan Kek semalam." Bela Brams, lalu pikirannya refleks mengaduh dalam hati. Mengingat Pijat neraka semalam itu…
“Ranum menyiksaku! Pijat refleksi itu tidak manusiawi!”
Kakek Barra menyipitkan mata.
“Kau disentuh istrimu… dan kau mengeluh?”
PLAK! PLAK!
Tongkat mendarat di betis Brams dan bokongnya Brams.
“AAARGH!” pekik Brams.
“Kurang ajar!” hardik Kakek Barra.
“Dasar tidak tahu terimakasih!”
Brams meringis, meloncat-loncat kecil.
Ranum refleks berdiri.
“Kek—” ucap Ranum.
Belum sempat melerai, Brams sudah menarik tangan Ranum.
“Ayo pergi sebelum aku cacat permanen!” ucap Brams, Kakeknya menggeleng sambil melotot menatap tingkah Brams.
Mereka keluar dari ruang baca.
Begitu pintu tertutup.
Brams meringis sambil mengusap betis dan… bokongnya yang kena sabetan.
“Gila… tongkat itu harus aku buang besok!”
Ranum menutup mulut, tak bisa menahan tawa.
“Kau menertawakan penderitaanku?” Brams mendelik.
“Kau pantas,” jawab Ranum sambil terkekeh. "Karena kau berani mengadu soal pijatanku."
Brams mendengus, ia mendekat pada Ranum.
"Ingat aku akan membalas dendam atas perbuatan mu semalam itu." Ucap Brams, wajahnya miring, bibirnya menyeringai dan semakin mendekat pada Ranum.
Bersambung...
masa iya ga lihat cara devan ke istri nya macam mana 🤦
tuh kucing bukan dapat tuan tapi dapat Ba Bu