Follow ig author @tulisan_bee 😚
Menggantikan posisi anak majikannya untuk menikah dengan seorang lelaki bangsawan, sungguh tidak pernah terlintas dalam benak Luana Casavia.
Karena lelaki itu menatapnya dengan sorot mata dingin, bahkan ketika ia memasangkan cincin ke jari manis Luana.
My Fake Bride: Jika aku ini palsu, akankah kau bisa mencintaiku meski sedikit saja?
Terima kasih sudah mampir dan selamat jatuh cinta~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NadiraBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10 - Di dalam Kamar (II)
“Bagaimana kau bisa berkata demikian? Sebab tidak pernah baik bagi pria dan wanita berada di satu ruangan yang sama.” ~Luana Casavia.
.
.
.
Matahari sore di kota Heidelberg masih terlihat samar-samar, dengan langit biru yang semakin tampak indah. Dari posisinya berdiri, Rey dapat melihat bagaimana kota itu tertata dengan begitu baik, dan masyarakat di luar sana tampak berinteraksi dengan damai.
Dia menyukai kota ini. Heidelberg.
Luana masih berdiri, menggerakkan kakinya yang mulai pegal. Dalam hati bertanya-tanya kapan Rey akan pergi dari kamarnya, hingga ia bisa setidaknya berbaring untuk beberapa saat sebelum Mare akan datang lagi pukul lima seperti yang dikatakan pelayan itu tadi.
Rey berbalik. Kembali bersitatap dengan Luana yang semakin lama semakin canggung, lelaki itu mendengus pelan.
“Duduklah,” katanya. Memasukkan satu tangan ke dalam saku celana, Rey berdiri tepat di depan jendela berwarna transparan.
Luana menarik napas pelan-pelan. Kakinya benar-benar pegal, dan dia bergerak untuk mencapai ranjangnya kini. Menggantikan tempat Rey duduk tadi, Luana memegangi tepi ranjang itu dengan perasaan campur aduk.
Rasanya ini tidak benar. Dan dia tidak suka berada di satu ruangan seperti ini dengan sang bangsawan.
“Uhm, itu...” Luana mulai berbicara lagi, berusaha yang terbaik agar Rey bisa secepatnya pergi dari sana.
“Katakan,” balas Rey datar.
“Mare berkata dia akan datang pukul lima untuk membantuku bersiap untuk makan malam,” ujar Luana pelan-pelan. Rey tampak menaruh perhatian, dan lelaki itu berusaha mendengarkan.
“Lalu?”
Luana meremas jemarinya kini.
“Aku baru saja berencana untuk beristirahat sejenak sebelum Mario datang tadi,” kata Luana lagi. “Tetapi tertunda karena kami tidak sadar mengobrol, dan...”
“Dan bergandengan tangan?” potong Rey cepat.
Luana melebarkan manik, tidak menyangka Rey akan secepat itu memotong kalimatnya. Sedangkan sang bangsawan tampak tersenyum sinis, entah apa maksudnya.
“Bukan begitu!” sanggah Luana cepat. “Aku bahkan tidak sadar dan begitu saja...”
“Aku tidak peduli tentang itu,” potong Rey lagi. “Itu urusanmu kau ingin bersentuhan dengan siapa. Tetapi jika aku boleh memberi saran, setidaknya berurusanlah dengan lelaki yang kastanya sama denganmu. Mengapa kau memilih lelaki rendahan seperti dia?”
Debaran jantung Luana begitu saja meningkat tajam, tanpa sadar meremas jemarinya dengan erat sekarang.
Sorot mata Rey tampak begitu jelas sedang memandang tidak acuh padanya, dengan senyum sinis yang masih tercetak jelas di wajah lelaki itu.
Sialan. Benar-benar bangsawan sombong!
Luana ingin mengumpat, tetapi dia tahu dia mungkin akan mati saat itu terjadi. Rey tidak boleh tahu mengenai siapa dirinya sebenarnya, dan sebaiknya dia menyimpan rasa kesalnya diam-diam.
Di sisi lain entah mengapa Rey semakin merasa senang, saat mendapati mimik wajah Luana kini berubah kesal. Manik perempuan itu membulat sempurna, dengan rona amarah yang terpancar dari bola matanya.
Sialnya lagi, Rey mulai menyukai tatapan seperti itu.
“Kau bisa keluar sekarang,” ujar Luana dengan napas memburu, berusaha agar nadanya tidak meninggi saat mengucapkan kalimatnya. Dia tidak ingin semakin menambah keletihan di tubuhnya, dan semakin cepat Rey pergi maka akan semakin baik pula.
Tetapi Luana tidak akan semudah itu mendapatkan apa yang ia inginkan, sebab kini Rey malah semakin tertawa dengan penuh ejekan.
“Keluar ke mana?” tanya lelaki itu.
Luana mengerjap tidak sabar. Ternyata Rey Lueic adalah seseorang yang telmi. Telat. Mikir.
“Kembalilah ke kamarmu,” pinta Luana. “Kumohon, aku benar-benar butuh istirahat sebelum Mare datang nanti.”
Rey tidak menggubris, tentu saja. Lelaki itu tidak langsung menjawab, tetapi malah mengayunkan langkah menuju arah lemari tempat di mana Mare menyusun pakaian Luana beberapa saat lalu.
Luana mengikuti pergerakan tubuh Rey, bersorak dalam hati akhirnya lelaki itu akan pergi dari hadapannya.
Tetapi sorakan itu terhenti, sebab Rey juga berhenti tepat di depan pintu lemari. Luana mengernyitkan dahi, memandangi punggung Rey yang kini bergerak untuk menarik pintu lemari tadi.
“Kamarku yang mana?” ujar Rey memecah keheningan. Membuat Luana semakin mengernyitkan dahi, dengan napas yang mulai tersengal.
Lelaki itu membuka pintu lemari lebar-lebar, kembali berbalik badan untuk memberikan senyum ejekan pada Luana.
Luana hampir pingsan saat mendapati pakaian pria berada di dalam lemari itu, dengan pakaiannya di sisi yang lain.
Berada di satu lemari, pakaian Rey dan Luana bersisian dan tampak akur di dalam sana.
Astaga, apa yang terjadi?
Bahu Luana hampir melorot. Siapa yang menaruh pakaian lelaki itu di dalam sana? Dan mengapa pakaian itu ada di lemarinya?
Rey berdecak pelan.
“Kamar yang mana, Luana?” tanyanya mengulangi. “Asal kau tahu saja, ini adalah kamarku. Jauh sebelum kau ikut ke sini, ini sudah menjadi kamarku.”
Luana benar-benar ingin pingsan.
“Ah, dan ranjang itu,” Rey menunjuk ke arah ranjang besar yang masih diduduki Luana dengan manis. “Ranjang yang kau akui sebagai ranjangmu itu, adalah ranjang yang aku tiduri selama ini. Aku memberi informasi ini dengan suka rela, jika saja kau tidak tahu.”
Dunia Luana benar-benar ingin runtuh.
Bibirnya kelu, dengan tangan yang mulai berkeringat dingin.
Dia berada di kamar milik Rey, dan semua pakaiannya juga berada di sana. Jangan bilang kalau mereka akan...
“Kau boleh beristirahat,” ujar Rey lagi. Luana tersentak dari lamunan yang telah melalangbuana, kembali menatap ke dalam mata Rey.
“Aku akan pindah—“
“Aku akan mandi lebih dulu.” Lagi-lagi Rey sudah memotong kalimat Luana yang belum selesai, membuat perempuan itu menggigit bibirnya tanpa sadar.
Mengambil sehelai kaus dan celana dari lemari, Rey melenggang santai menuju arah kamar mandi. Namun baru beberapa langkah, lelaki itu sudah kembali berbalik badan.
Menatap Luana dalam-dalam, yang masih duduk kaku di tepi ranjang besar mereka.
“Dan satu hal lagi,” ujar Rey tegas. “Tidak ada yang akan pindah. Tidak kau, tidak juga aku.”
.
.
.
~Bersambung~
sekarang tanya pada diri kalian jika ada sosok Pedro versi wanita dan menyukai suami kalian, apakah kalian juga akan kagum wanita lain yang itu
pakai ajala biar tidak jadi wanita jablay yang lebih melebih pria lain dari pada suami sendiri
coba dibalik Thor suami mu nyaman duduk dan ngobrol berduaan dengan wanita lain apakah kau anggap itu hal benar juga
pakai akal sehat biar bisa bedakan mana salah mana benar