Kisah Lyla, seorang make-up artist muda yang menjalin hubungan diam-diam dengan Noah, aktor teater berbakat. Ketika Noah direkrut oleh agensi besar dan menjadi aktor profesional, mereka terpaksa berpisah dengan janji manis untuk bertemu kembali. Namun, penantian Lyla berubah menjadi luka Noah menghilang tanpa kabar. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka lagi. Lyla yang telah meninggalkan mimpinya sebagai make-up artist, justru terseret kembali ke dunia itu dunia tempat Noah berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meongming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 : Hari Spesial
Mereka duduk di bangku taman. Angin sepoi-sepoi menerbangkan helaian rambut Lyla, tapi dia tak peduli. Wajahnya masih menyimpan sisa senyum dari obrolan tadi.
Noah membuka ponselnya, lalu menatap Lyla diam-diam.
Saat Lyla menoleh ke arah lain, matanya menyipit menahan silau, dan dia terkekeh kecil karena seekor anjing lewat sambil menggonggong heboh.
Klik.
Suara jepretan kamera ponsel membuat Lyla spontan menoleh.
"Hah? Kamu ngapain?" tanyanya sambil menatap Noah curiga.
Noah hanya tersenyum, tidak langsung menjawab. Ia menunduk melihat hasil fotonya, lalu tanpa berkata apa-apa, memperlihatkan layarnya pada Lyla.
Itu foto Lyla barusan. Duduk dengan wajah tertawa kecil, rambut terbang halus tertiup angin, dan cahaya matahari menyinari sisi wajahnya.
Lyla langsung menutup wajahnya pakai tangan.
"YA AMPUN! Hapus dong!" serunya panik tapi tertawa.
Noah justru menyandarkan tubuh ke belakang dan tetap memandangi layar.
"Nggak mau. Ini foto favoritku hari ini."
Lyla menunduk, pipinya merah, senyumnya nggak bisa disembunyikan.
"Aku kelihatan jelek..."
"Nggak. Kamu kelihatan kayak… seseorang yang lagi bahagia."
Detik itu, jantung Lyla rasanya melompat ke bulan. Lyla masih memandangi hasil foto di ponsel sambil terkekeh pelan. Noah duduk di sebelahnya, sesekali mencuri pandang.
"Lucu ya ekspresiku di sini," ujar Lyla sambil menunjukkan layar ponsel.
Noah tersenyum kecil, tapi tidak melihat layar. Ia menatap lurus ke depan.
"Lyla," katanya pelan.
"Hmm?" Lyla menoleh.
"Aku masih ingat pesan yang kamu kirim malam itu."
Deg.
Lyla langsung kaku. Senyumnya menghilang digantikan wajah panik. "Pesan... yang mana?" suara Lyla gugup.
Noah menoleh, menatapnya lembut.
"Yang kamu kirim malam itu..."
Lyla langsung menahan napas. Tatapannya menghindar tanpa sadar.
"Aku masih menyimpannya," lanjut Noah pelan, senyum tipis menghiasi wajahnya "dan sejak baca itu… aku nggak bisa berhenti mikirin kamu."
"Ah.. itu haha.... Maaf ya, aku salah kirim," Lyla cengengesan sambil garuk-garuk kepala yang nggak gatal. Matanya lari ke arah bunga-bunga di taman, mencoba terlihat santai padahal jantungnya berdebar nggak karuan.
Noah diam sejenak. Senyumnya memudar tipis, matanya menunduk. "... Jadi salah kirim..." gumamnya pelan "Wah... sepertinya aku salah paham, ya... hehe..."
suasana berubah jadi canggung. Lyla langsung panik. Dalam hati, dia menjerit.
'Bodoh! Kenapa malah bilang salah kirim?!'
"Lyla..." suara Noah pelan.
Lyla masih tertawa canggung karena alasan ‘salah kirim’ tadi, tapi tawanya langsung hilang saat melihat tatapan Noah yang berubah serius.
"Aku tahu mungkin ini aneh… tapi dari pertama kali kita ketemu, entah kenapa, aku selalu merasa kamu... beda."
Lyla menahan napas.
"Aku nggak ngerti kenapa harus kamu. Tapi setiap kali kamu muncul, semuanya jadi... lebih hidup. Dan waktu baca pesan itu..." ia menghela napas pelan. "Rasanya kayak dikasih harapan yang diam-diam udah lama aku tunggu."
Lyla menunduk, pipinya sudah panas.
"Jadi... kalau itu bukan salah kirim," Noah melanjutkan, senyumnya lembut dan agak ragu, "boleh nggak aku berharap... kamu juga ngerasain hal yang sama?"
Mata Lyla membelalak sesaat senyumnya langsung hilang, tergantikan oleh wajah bingung, syok, dan nggak siap sama sekali tangannya refleks mencubit ujung dress-nya, mencari pegangan, sambil menunduk sedikit.
Telinganya merah. Pipi memanas.Jantungnya berdetak seperti habis lari maraton, tapi kakinya malah seperti tertancap di tanah.
Mulutnya terbuka, mau menjawab… tapi cuma udara yang keluar, matanya mencuri pandang ke wajah Noah, lalu buru-buru dialihkan ke rumput, ke langit, ke mana aja asal bukan matanya Noah.
Noah memperhatikan wajah Lyla yang masih menunduk, pipinya masih merah muda seperti bunga yang baru mekar. Ia menarik napas pelan, lalu tersenyum lembut.
“Gak apa-apa kalau kamu belum bisa jawab sekarang,” katanya tenang, tapi ada sedikit gugup di matanya. “Aku akan—”
“Iya.” Suara Lyla pelan, hampir seperti bisikan. Tapi cukup untuk membuat Noah terdiam.
Lyla mendongak perlahan, matanya menatap Noah dengan gugup tapi penuh keberanian. “Aku juga suka… Sejak pertama ketemu.”
Sejenak, tak ada kata hanya suara angin yang meniup ujung rambut mereka dan jantung yang seolah berdetak dalam irama yang sama Lalu, Noah tersenyum lebar senyum yang hanya muncul saat seseorang mendengar jawaban yang paling dia harapkan.
**
Langit sore berubah jingga, matahari perlahan tenggelam di balik gedung-gedung. Lyla dan Noah berjalan berdampingan menuju halte, suasana di antara mereka masih diliputi keheningan yang canggung.
Lyla berjalan seperti robot, berusaha menjaga jarak aman tapi juga tidak ingin terlalu jauh. Sesekali, ujung bahunya hampir bersentuhan dengan Noah. Ia menunduk, seolah memusatkan perhatian pada bayangan kakinya sendiri di jalan.
Noah melirik ke samping. Ada senyum kecil di wajahnya saat melihat Lyla begitu gugup, tiba-tiba, tanpa banyak kata, ia mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Lyla.
Lyla menoleh cepat, matanya membesar. Jantungnya seolah melompat ke tenggorokan. Ada sesuatu yang mengalir cepat lewat ujung jarinya—hangat, mengejutkan, seperti aliran listrik kecil yang membuat dadanya bergemuruh.
Tapi ia tidak menarik tangannya.
Hanya Diam.
Dan di tengah-tengah senyap itu, keduanya tersenyum sendiri-sendiri—dengan jantung yang sama-sama ributnya.