Michelle sudah lama mencintai Edward, namun ternyata lelaki itu justru jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan Kimberly, teman baik Michelle sendiri.
Rasa benci Michelle terhadap Kim semakin membara. Sehingga salah seorang sahabatnya yang lain mengajaknya ke desa sepupunya.
Michelle membawa pulang barang antik berupa cermin tua yang sangat menyeramkan setelah pulang dari hutan. Cermin itu bisa mendatangkan petaka.
Hingga kabar tentang kematian Kim setelah beberapa hari menikah dengan Edward pun tersebar di kalangan masyarakat.
Ada misteri apa di balik kematian Kimberly?
Ayo temukan jawabannya dengan membaca novel ini sampai selesai, selamat membaca 🥳
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richest, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Sisca telah pulang ke rumah Michelle setelah ia merasakan sakit kepala yang cukup berat. Dia melewati sebuah ruangan yang selalu terkunci di rumah itu.
Dia penasaran akan isi dari ruangan itu. Namun ia tak bisa masuk ke dalam sana dikarenakan ruangan itu selalu dikunci.
Dia mencoba untuk mengintip dari sela-sela pintu. Dia mencium aroma busuk yang sangat menyengat dari dalam ruangan itu. Hal itu semakin membuat rasa penasarannya menggebu-gebu.
Saat malam harinya, dia menguntit Michelle dimana gadis itu meletakkan kunci-kunci di rumahnya.
"Chelle, kenapa ruangan yang di sana itu selalu terkunci? Tadi aku mencium aroma busuk dari dalamnya."
"Oh gitu? Hmm, besok akan kubersihkan. Sekarang ayo kita tidur. Aku sudah sangat lelah bekerja seharian."
Gadis itu tampak sudah terlelap dalam tidurnya. Beberapa menit setelah gadis itu tidur, Sisca mengambil ancang-ancang untuk mencuri kunci yang disimpan oleh Michelle di brankas.
Dia sudah mengetahui password brankas itu. Dikarenakan tadi dia mengintip saat Michelle memasukkan password nya.
Setelah mendapatkan kunci-kunci rumah itu, dia segera keluar dari dalam kamarnya. Kemudian menuju ruangan yang sedari tadi dari dalamnya tercium aroma tak sedap.
Dia mencoba membuka pintu itu dengan beberapa kunci. Hingga akhirnya ia bisa membuka pintunya di percobaan kunci kelima.
Sisca memasuki ruangan itu. Dia menghidupkan lampu ruangan tersebut. Dia melihat ada sebuah peti yang di atasnya terdapat foto Kim.
"Kenapa disini ada peti mati? Dan di atasnya ada foto Kim lagi." gumamnya mulai merasa tidak enak.
Dia membuka peti yang cukup besar itu. Setelah peti itu terbuka dia melihat isi peti tersebut. Betapa terkejutnya ia menyaksikan isi peti itu.
"Enggak, enggak mungkin. Ini mayat Kim?" gumamnya tak percaya. Mulutnya menganga tak percaya dengan hal itu.
Dia ingin segera meninggalkan ruangan itu. Rasanya ia sudah tidak betah lagi untuk tinggal di rumah Michelle sampai berminggu-minggu.
Saat dia berbalik badan, ternyata sahabatnya itu sudah berada di belakangnya. Dia menatap mata Sisca dengan tatapan licik.
"Kamu sudah tau semuanya?"
"Aku benar-benar tidak menyangka ternyata kamu seseorang yang jahat seperti ini, Chelle. Apa maksud dari semua ini? Apa maksudmu menyembunyikan mayat Kimberly disini?"
"Jawab dengan jujur. Apa kamu yang sudah membunuh Kim? Jawab, Chelle!"
"Iya, kamu benar. Aku yang sudah membunuhnya. Bukan hanya dia. Tapi begitu juga dengan bundanya."
"Kamu benar-benar psikopat. Sekarang kamu pasti sudah sangat puas karena sudah berhasil membunuh Kim. Dan sekarang kamu malah mengoleksi mayatnya disini."
"Kamu benar-benar sudah gila ya Chelle. Mulai malam ini aku akan segera pergi dari sini. Aku tidak betah tinggal satu atap dengan seorang psikopat dan mayat peliharaannya."
Gadis itu berjalan meninggalkan Michelle sendirian di sana. Namun, Michelle tentu tidak akan membiarkan Sisca pergi begitu saja dari sana.
Jika dia berhasil pergi dari rumahnya, maka kemungkinan besar rahasianya nanti juga akan bocor dan tersebar. Yang pada akhirnya dia akan menjadi buronan polisi.
Michelle mengambil sebuah pisau dari dapur. Dia bersiap ingin menghadang Sisca yang nantinya akan keluar melewati pintu utama rumah itu.
Gadis itu sudah siap ingin pergi dengan kopernya. Dia belum melihat jika Michelle memegang pisau di tangan kanannya. Karena gadis itu menyembunyikannya di belakang tubuhnya.
"Michelle, maaf aku harus pergi dari sini sekarang juga. Mungkin lebih baik aku tinggal sendirian tanpa kamu daripada aku harus tinggal seatap dengan orang yang sudah mati."
"Aku memperbolehkan mu untuk keluar dari sini. Tapi, dengan satu syarat."
Sisca mengernyitkan keningnya. Bahkan sahabatnya itu menginginkan syarat juga darinya.
"Syarat apa lagi, Chelle?"
"Kamu diperbolehkan keluar dari rumah ini dengan syarat sudah tak bernyawa. Kalau kamu sudah mati, barulah kamu boleh pergi dari sini."
Dia menodongkan pisaunya di hadapan Sisca. Gadis itu tampak sedikit mundur dari posisinya sekarang.
"Kamu mau ngapain, Chelle? Jangan lakukan yang tidak-tidak. Ini enggak baik, Chelle. Tidak mungkin kamu ingin membunuhku juga seperti kamu membunuh Kimberly."
Dia melayangkan pisau itu ke tangan kiri Sisca.
"Arghhh!!!!"
Tangan gadis itu sudah putus sebelah. Darah bercucuran dari sana. Sekarang dia sudah tak memiliki tangan kiri lagi. Dia memegangi lengannya yang mana tangannya sudah terpotong itu.
"Hahaha, bukankah itu sangat sakit? Kau masih mencoba untuk kabur dari sini? Itu baru tangan. Sebentar lagi nyawamu yang akan melayang."
Dengan kesadaran penuh Sisca merebut pisau yang dipegang oleh Michelle. Dia menodongkan balik pisau itu ke arah Michelle.
Dia melayangkan pisau itu hingga tepat menusuk telapak tangan kanan gadis itu hingga sedikit sobek dan bolong. Kemudian dia mencoba untuk berlari dan kabur dari rumah kematian itu.
Michelle yang sudah terluka itu tampak mengejar-ngejar Sisca dari belakang. Gadis itu segera memasuki mobilnya. Namun sialnya di saat dalam posisi genting seperti ini mobilnya sangatlah tidak bersahabat.
"Akh!! Kenapa malah enggak mau hidup nih mobil!" dia membanting setir mobilnya.
Sisca keluar dari mobil itu kemudian berlari lagi dan berhasil keluar dari gerbang rumah itu. Dia berharap bisa bertemu dengan warga lainnya yang akan membantunya.
Nahas sekali. Rumah Michelle ini jauh dari permukiman warga yang lainnya. Jalanan itu sangat sepi dan gelap.
Sementara Michelle masih mengejarnya dengan membawa sebuah pisau. Dia sudah sangat kelelahan. Sepertinya dia sudah tidak sanggup lagi untuk berlari. Bahkan tubuhnya mulai terasa melemah begitu saja.
Dia melihat ada hutan yang luas di sana. Dia mencoba untuk masuk ke dalam hutan dan bersembunyi di sana agar tidak ditemukan oleh Michelle.
Sisca bersembunyi di balik pohon besar. Dia mendengar derap langkah kaki yang terdengar samar seperti ingin menghampirinya.
Nafasnya masih dalam keadaan belum stabil. Dia mencoba untuk tetap tenang agar keberadaannya tidak diketahui oleh Michelle.
"Ternyata kamu sembunyi disini, teman." ucap Michelle sambil tersenyum menyeringai. Aura psikopat nya semakin terpancar.
Sisca segera berdiri. Dia menelan ludahnya kasar saat tahu ternyata gadis itu tiba-tiba sudah berada di depannya.
"Michelle, cukup hentikan semuanya! Cukup sudah kamu mengejarku seperti ini! Aku tidak akan menyebarkan apapun tentang kamu yang terkait dengan kematian Kim. Tolong jangan bunuh aku. Aku mohon, Michelle." ucapnya sambil menangis dan memohon.
"Begitu?" dia bertepuk tangan.
Prok prok prok
"Kamu pikir aku percaya dengan tipu daya seorang manusia yang ingin menyelamatkan dirinya dari terkaman iblis? Tentu saja aku tidak segampang itu untuk kau bodohi."
Saat Michelle kembali ingin melayangkan pisaunya, Sisca langsung mengambil ancang-ancang untuk berlari dari sana sehingga pisau itu tak mengenai tubuhnya.
Namun hanya bajunya saja yang tersobek sedikit karena pisau yang dilayangkan oleh Michelle.
Sisca sepertinya sudah berlari cukup jauh dari Michelle. Dia tampak sangat kelelahan dan kehabisan energi.
Tubuhnya berjalan dengan sempoyongan. Hingga ia tidak sadar bahwa di bawah sana adalah jurang dan terdapat sungai.
Dirinya pingsan dan kemudian tubuhnya jatuh ke jurang serta hanyut terbawa oleh arus sungai yang cukup deras.