Langit Maharaja dan Nezha Calista dua teman yang tidak pernah terpisahkan,
Pertemanan mereka sudah lama sejak SD hingga kini mereka duduk di kelas 12 SMA.
Mereka Siswa/i yang terpopuler di sekolah nya.
Langit yang terkenal nakal dan jahil selalu membuat Nezha darting. Namun Langit teman yang paling baik di antara teman-teman lainnya, dan Nezha tidak pernah terganggu sama sekali dengan kelakuan teman baiknya itu.
Akankah seiring berjalan nya waktu mereka tumbuh perasaan cinta atau memang selama itu mereka memiliki perasaan satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadziwa Syifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KTBK 10
******
"Nezha! Kenapa bibir loh bengkak cuy? Dan ini.... Omaighaaaatt!!" pekik Dewi mengitrogasi tubuh Nezha dan salfok saat melihat di lehernya banyak bercak kemerahan.
Nezha yang baru saja datang ke kelasnya, ikutan panik hal yang bodoh kenapa ia lupa menutupinya. Ia merutuki dirinya dan akan memarahi Langit nanti kalau sudah ada di bangkunya.
Untung saja hari masih pagi hanya beberapa siswa siswi di kelasnya.
Nezha membekap mulut Dewi suaranya yang tidak memakai filter sama sekali.
"Jangan kenceng-kenceng, Dewi bicara loh, Yah. Nanti gwe jelasin." balas Nezha setengah berbisik wajahnya yang sudah bersemu kemerahan.
Dewi menyipitkan matanya curiga.
Nezha tak menghirau kan ia duduk dan pura-pura mengeluarkan buku pelajarannya, seraya membenarkan rambut panjangnya kedepan.
"Sejak kapan, Loh punya cowok, Nezh. Apa jangan-jangan...." cerca Dewi meledek Nezha yang berusaha menutupi wajahnya bak kepiting rebus.
"Dewi, udah deh. Gwe di gigit serangga besar tau gak jadi kemaren gwe garuk-garuk sampe kemerahan kyak gini." balas Nezha tak masuk akal.
Dewi berfikir sejenak, tidak percaya sama sekali dengan ucapan ambigu Nezha.
"Loh fikir gwe nggak tau, Nezh. Masa ulah serangga sampe di gigit, kyaknya hewannya bringas banget yah sampe ada bekas banyak gigi." sindir Dewi tentu ia tau akan hal itu.
"Langiiitt!! Awas loh yah gwe pukul sepulang sekolah nanti, mainnya kelewatan banget sih!" batin Nezha dengan kesal tak di sadari buku pelajarannya ia genggam kuat-kuat.
"Nezha? Nggak terbuka banget sih loh temen gwe. Loh sekarang pacaran sama siapa, anj*rt." tanya Dewi penasaran teman sebangkunya ini pasalnya ia tidak pernah melihat Nezha dekat dengan siapapun terkecuali Langit.
"Dew, loh semalem udah intruksi belum sama si Langit buat masak nanti abis istirahat." Nezha mengalihkan pembicaraan.
"Si Langit ngeselin, kemaren dia bales chat gwe dia males nggak bisa masak sama sekali, ide juga nggak punya, kyaknya tuh orang nggak punya otak, deh." balas Dewi kesal kemaren ia efort sendirian teman kelompoknya sangat menyebalkan.
Langit dan Diki muncul secara bersamaan, jangan di tanya seragam yang di kenakan Langit sangat urak-urakan. Nezha menatap Langit dengan sebal nggak pernah rapih gitu sehari.
Langit menatap Nezha sekilas dengan senyuman nakal dan mengigit bibir menggoda, Dewi yang menyaksikan temannya bersitatap mengedikan bahunya bertanya-tanya kenapa tatapan Langit sangat membahayakan.
"Jangan-jangan ulahnya si Langit lagi, ahk masa iyah, temen sendiri sampe melewati batas." batin Dewi bengong.
"Dik, gimana?" tanya Nezha.
Diki menoleh dan menatap Nezha malu-malu.
"O-oke-oke ajah nanti gwe tunggu sampe chat loh yah, Nezh. Gwe sekarang ada tugas dari ketua Osis, gwe keruangan Osis dulu yah," ujar Diki sedikit gugup jantungnya tiba-tiba berdetak dengan kencang jika berdekatan dengan orang yang dia sukai.
"Ingat yah, Loh Dik. Si Nezha pulang sama gwe." teriak Langit di bangku paling pojok sambil merokok. Diki mengangguk pasrah lalu ia pergi meninggalkan kelasnya.
"Langiit!! Terus gwe gimana?" sahut Dewi kesal teman kelompoknya tidak mengajak dirinya dan cuek-cuek saja dari kemaren, membuat dirinya geram.
Langit menatap acuh tak acuh.
"Loh juga bawa mobil, pulang ajah sendiri." balas Langit tanpa berperasaan, Dewi menghentakkan kakinya dengan kesal.
"Gwe mau bareng sama si Diki, ogah pulang sama loh!" balas Nezha tanpa menatap Langit bisa-bisa se enaknya dia di dalam mobil nanti,ia juga masih kesal dengan kejadian kemaren malam hampir saja melakukan yang tidak di inginkan dan Langit memaksanya kembali melakukan yang dia mau, berakhir lehernya banyak tanda kemerahan.
Langit tak bergeming, namun bibir tipisnya menukik senyum tipis, setipis tisu.
********
Jam istirahat tiba siswa siswi berhamburan keluar sekolah yang sudah menantikan kantin dan tugas mereka masing-masing.
Nezha dan Dewi berjalan beriringan menuruni tangga gedung sekola NusaBakti.
Rencananya mereka akan pulang mengerjakan tugas yang di berikan bu Erica lalu.
Diki melambaikan tangannya di lapangan sekola menunggu di sana.
Nezha tersenyum dan menghampirinya berjalan dengan pelan, namun Langit mencekal tangannya dengan kasar membawanya kemobil temannya itu.
Nezha terkejut dan berusaha melepaskan tangannya dari cengkramanan Langit.
"Ishh! Langit lepasin gak!! Si Diki udah nungguin gwe dari tadi." berontak Nezha, Langit berhenti sejenak.
"Loh lupa tadi saranin si Diki, Loh pulang sama gwe." balas Langit menatap tajam, entah ia tidak suka Nezha dekat-dekat dengan cowok lain selain dirinya. Lalu ia menyeret Nezha dengan paksa masuk kedalam mobilnya.
Nezha yang kesal memasang wajah cemberut ia marah, kenapa temannya ini tidak mengerti perasaanya. Dia tidak menyadari teman baiknya ada yang berubah dengan perlakuannya.
Setelah berhasil Nezha masuk kedalam mobilnya, Langit menatap Diki yang sudah ia tebak sangat kecewa dan menatap tajam kepadanya namun tidak berani untuk menghadang membuat dirinya berhasil tersenyum penuh kemenangan.
"Besok ajah Dik! Gwe pinjem dulu crush loh!" teriak Langit.
Diki mengepalkan kedua tangannya, Langit seperti bukan temanan dengan Nezha.
"Ck! Kata si Bintang emang bener, Langit bukan sekedar temanan melainkan dia yang ingin memiliki nya juga. Gwe harus bisa dapetin hatinya Nezha dan gwe menyukai nya, Loh nggak ada hak Langit! Buat ngatur-ngatur gwe." gumam Diki menatap marah sudah saatnya dirinya jangan mudah di tindas apa lagi tunduk.
Dari gaya penampilan dirinya dia menutupi wajah aslinya dan sikap sisinya, tidak akan mengetahui siapa asli dirinya.
Diki membenarkan kecamatanya, dari penghalang kecamata bulatnya ada mata tajam dan gelap.
Diki menaiki motor besarnya dan melajukan motornya dengan kecepatan kencang.
authornya seneng bgt bikin naira kesusahan kayanya, ntar di bar naira diketemukan sm ibunya, nebak aja sih
minta maaf tu yg tulus tante, anak sm emaknya sama saja