NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Ratu Iblis Alexia

Reinkarnasi Ratu Iblis Alexia

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Akademi Sihir / Dunia Masa Depan / Fantasi Wanita / Fantasi Isekai
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Watashi Monarch

Genre : Action, Adventure, Fantasi, Reinkarnasi
Status : Season 1 — Ongoing

Kekacauan besar melanda seluruh benua selatan hingga menyebabkan peperangan. Semua ras yang ada di dunia bersatu teguh demi melawan iblis yang ingin menguasai dunia ini. Oleh karena itu, terjadilah perang yang panjang.

Pertarungan antara Ratu Iblis dan Pahlawan pun terjadi dan tidak dapat dihindari. Pertarungan mereka bertahan selama tujuh jam hingga Pahlawan berhasil dikalahkan.

Meski berhasil dikalahkan, namun tetap pahlawan yang menggenggam kemenangan. Itu karena Ratu Iblis telah mengalami hal yang sangat buruk, yaitu pengkhianatan.

Ratu Iblis mati dibunuh oleh bawahannya sendiri, apalagi dia adalah salah satu dari 4 Order yang dia percayai. Dia mati dan meninggalkan penyesalan yang dalam. Namun, kematian itu ternyata bukanlah akhir dari perjalanannya.

Dia bereinkarnasi ke masa depan dan menjadi manusia!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Watashi Monarch, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 - Aksi Penangkapan

Situasinya berbeda dengan apa yang mereka bayangkan.

Rencananya, mereka hendak memberikan stimulan pada racun Mana Blocking di tubuh Alexia agar menjadi lebih aktif. Namun, tidak disangka rencana mereka akan gagal.

Bukan hanya gagal, tapi rencana mereka sepertinya juga sudah ketahuan. Terlebih, mereka telah masuk ke dalam jebakan seperti lalat yang tertarik pada tanaman bangkai.

Sambil merintih kesakitan, pendeta Grast pun berpikir.

'Sudah kuduga, firasat burukku tadi tidak mungkin salah.'

Untuk orang yang menderita karena racun, Alexia tampak begitu tenang. Meski wajah dan kulitnya terlihat sangat pucat, tapi ia dapat bicara dengan lancar tanpa kesulitan.

Dan tanpa diduga, kecurigaannya menjadi kenyataan.

"Jawab saja pertanyaanku, dan aku tidak akan membuat masalah ini menjadi rumit." kata Alexia dan mengerutkan alis. "Katakan, siapa yang menyuruhmu melakukan ini?!"

Pendeta Grast menutup mulutnya dan tidak menjawab.

"Jadi kau ingin membuat semua ini menjadi lebih rumit?"

Jleb!

Alexia pun langsung menusukkan pedang ke bahunya.

Rasa sakit yang menyengat seperti terbakar muncul.

"AHHHH!" pendeta Grast langsung berteriak kesakitan.

"Padahal aku tidak ingin melakukan hal ini, tapi kau yang telah memaksaku melakukannya. Jadi, jangan salahkan aku." ujar Alexia tanpa rasa bersalah sudah menusuknya.

'I-ini buruk ...!' pikir pendeta Grast sembari menunduk.

'Jika dia terus menusukku seperti ini, aku akan mati! Tapi jika aku mengatakan namanya, aku pasti juga akan mati!'

Hanya nasib buruk yang akan menunggunya diakhir.

Pendeta Harley bahkan tidak bisa diharapkan karena dia pingsan sebelum menyelesaikan masalah ini. Karena itu, pendeta Grast harus memikirkan jalan keluarnya sendiri.

'Karena situasinya sudah seperti ini,' batin pendeta Grast dan menoleh ke arah pintu. 'Lebih baik aku cari orang lain untuk disalahkan. Benar juga, aku bisa menyalahkannya!'

Pendeta Grast mengambil nafas dan berteriak,

"Tolong, putri Alexia sudah kehilangan akal sehatnya!"

Teriakannya penuh dengan tenaga dan emosi, tentu saja orang yang ada di luar bisa mendengarnya dengan jelas.

Dan apa yang diharapkan oleh pendeta Grast terjadi.

Klak!

Seseorang tiba-tiba membuka pintu kamar dan masuk.

Dia pun tersenyum lebar dan menoleh ke arah Alexia.

"Ahahaha! Ini tidak akan berjalan sesuai keinginanmu!"

Pendeta Grast tertawa sangat puas, tapi pada akhirnya dia tiba-tiba terdiam saat melihat Alexia sangat tenang.

"Kenapa... kenapa kau tersenyum?" tanya pendeta Grast dengan raut wajah bingung. Dan saat bau darah masuk ke dalam hidungnya, dia langsung menoleh ke belakang.

Ekspresi bahagianya pun langsung terdistorsi.

Di sana, berdiri seorang gadis memakai pakaian pelayan dan memegang belati yang berlumuran darah. Matanya yang hitam pekat menatapnya dengan penuh kebencian.

Api dendam bahkan juga terlihat jelas dalam tatapannya.

"Apa anda membutuhkan sesuatu, pendeta Grast?"

"K-kau ...!?" kata pendeta Grast dengan lirih sambil melirik ke belakang gadis itu. Di sana, para pelayan tergeletak di lantai dengan darah yang menggenang seperti air kolam.

Melihat begitu banyak darah berceceran, bisa dipastikan jika mereka semua sudah mati. Selain itu, mereka adalah mata-mata baru yang sangat terlatih dan berpengalaman dalam menyamar, tapi mereka mati dalam sekejap mata.

Pendeta Grast langsung memahami situasi yang terjadi.

Dengan gertakan gigi, dia pun berteriak dengan lantang.

"Jadi, kau benar-benar mengkhianati kami... SIRIA!"

Pelayan itu, Siria, berdiri di sana tanpa meresponnya.

Tatapan dinginnya membuat pendeta Grast makin kesal.

"Apa kau sudah tak peduli pada adikmu?!" tanya pendeta Grast dengan nada mengancam dan menunjuk ke arah Alexia. "Jika kau masih peduli padanya, cepat bunuh dia sekarang juga! Aku akan menganggap pengkhianatanmu ini tidak pernah terjadi, jadi cepat lakukan, dasar sialan!"

Mendengar ancaman darinya membuat Siria kehilangan kesabarannya. Dia mengepalkan tangannya dan berkata,

"Nona Alexia, bolehkah saya menangani orang ini?"

Alexia menatap sesaat dan menyarungkan pedangnya.

Dia pun menghela nafas lelah dan berkata, "Baiklah, tapi biarkan yang lain hidup. Aku perlu menanyakan sesuatu."

"Terima kasih banyak, nona Alexia." ucap Siria.

Pendeta Grast yang mendengar hal itu pun tertegun dan panik. Jika dia tidak segera menyerah atau menemukan jalan keluarnya, kemungkinan besar dia akan mati di sini.

'A-aku tidak mau itu terjadi! Aku tidak ingin mati di sini!'

Pikirnya dengan penuh tekad untuk bertahan hidup.

Saat memikirkan hal itu, Siria sudah mulai mendekat.

Karena sudah terpojok, dia pun tidak punya pilihan lain.

"T-tunggu sebentar," pendeta Grast menggunakan tenaga yang tersisa untuk bicara dengan jelas. "Aku akan bicara, jadi jangan bunuh aku. Jika kau membunuh pendeta dari gereja cahaya, apa kau pikir kau bisa bebas begitu saja?!"

Dengan ancaman itu, Siria tertegun dan berhenti.

'Benar juga,' pikir Siria dan menoleh ke arah Alexia. 'Kalau dia mati dan tidak kembali untuk melapor, mereka pasti akan semakin curiga. Situasi ini buruk untukku dan nona Alexia. Apalagi, mereka masih memegang kelemahanku.'

Adiknya masih ada di tangan mereka, dan kalau pendeta Grast dan Harley tidak kunjung kembali, entah apa yang akan mereka lakukan. Dia tidak ingin membayangkannya.

Siria pun menjadi ragu-ragu untuk mengambil tindakan.

Dan Alexia yang melihat ekspresi Siria, tersenyum tipis.

"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal itu," kata Alexia.

Pendeta Grast dan Siria langsung menoleh ke arahnya.

"Meskipun dia hidup atau mati, aku masih punya rencana untuk menutupi kejadian ini." lanjutnya dan duduk di tepi kasur. "Jadi kau dapat melakukan apapun, itu tidak akan mempengaruhi rencanaku. Lampiaskan saja amarahmu."

"A-apa anda yakin?" tanya Siria, sedikit meragukannya.

Alexia mengangguk dan berkata, "Ya, aku sangat yakin."

"B-baiklah, kalau begitu ..."

Siria mengangkat belati dan berjalan menghampirinya.

"T-tidak, tunggu! Bukankah kau butuh informasi tentang siapa yang ingin membunuhmu?" dengan suara putus asa, pendeta Grast memohon ampun pada Alexia. "Aku akan mengatakannya, j-jadi hentikan dia sekarang juga!"

"Kenapa kau tak begini saja dari tadi?" kata Alexia sambil mengangkat tangan, memberi isyarat kepada Siria untuk berhenti. "Kalau kau seperti ini dari awal, kau tidak akan menderita. Bukankah dengan ini kita sama-sama enak?"

Pendeta Grast tersenyum dan menghela napas lega.

Masih ada harapan baginya untuk bisa bertahan hidup.

"Tapi lebih baik kau berkata jujur, kalau tidak ..."

Slash!

Alexia mengayunkan pedangnya, dan topi pendeta Grast terpotong dan melayang jatuh seperti daun yang gugur.

"Mungkin bukan hanya topimu saja yang jatuh ke lantai."

Pendeta Grast menelan ludah dan gemetar ketakutan.

'I-ini sangat tidak masuk akal!' batinnya, sangat terkejut.

Dalam laporan pengamatan, pendeta Grast ingat bahwa Alexia punya potensi dan bakat dalam bidang sihir. Oleh karena itu, ada orang yang tidak suka dan ingin dia mati.

Namun, baru kali ini dia tahu bahwa Alexia juga berbakat dalam berpedang. Informasi yang mereka terima selama ini ternyata salah dan telah dimanipulasi dengan sengaja oleh seseorang. Karena alasan itu rencana mereka gagal.

'Setelah aku keluar dari sini, aku harus memperingatkan tuan. Mungkin dengan itu dia akan mengampuniku.' pikir pendeta Grast, memikirkan solusi untuk bertahan hidup.

"Kenapa kau diam saja?" tanya Alexia.

"Apa kau berubah pikiran?" lanjutnya sambil mengangkat pedangnya ke depan, membuat pendeta Grast tersentak.

"T-T-tidak... aku tadi hanya mengingat sesuatu."

Pendeta Grast dengan panik menggelengkan kepalanya.

"A-aku akan bicara, jadi turunkan pedangmu dulu."

Alexia tersenyum tipis dan berkata, "Tapi aku yang sudah berubah pikiran. Seret dia keluar, dan lakukan sesukamu."

"Baik, nona Alexia."

Siria yang berdiri di belakang pendeta Grast pun segera menjambak rambut dan menariknya keluar dengan kuat.

"T-tidak, tunggu! Bukankah aku bilang akan bicara—"

"Itu sepuluh detik yang lalu," Alexia memotong perkataan pendeta Grast dan menekuk sudut bibirnya. "Aku paling benci pada seseorang yang menyembunyikan sesuatu."

Mengetahui jika dia dipermainkan membuatnya geram.

Dengan nada tinggi, pendeta Grast mengutuk Alexia.

"Dasar j*lang rendahan! Tuan tidak akan mengampunimu setelah melakukan ini. Dosamu dan pengkhianat ini akan dapat balasannya. Aku akan menunggu kalian di neraka!"

"Saya permisi dulu, nona Alexia."

Suaranya kian menghilang setelah pintu kamar ditutup.

1
PORREN46R
spirit seperti roh gitu kan kak?
Cheonma: Sebenarnya sama aja sih,
total 1 replies
anggita
ikut ng👍like, iklan saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!