Warning......
Segala hujatan dan cibiran yang di sengaja maupun yang tidak di sengaja bebas untuk di lontarkan. Itu akan kami terima sebagai saran untuk karya saya ini.
Jika kalian pernah mendengar kata IBLIS, itu pasti ada kaitannya dengan pembunuhan dan memakan manusia dengan banyak cara. Namun bagaimana jika ada seseorang yang menolong iblis? Dan bersahabat dengannya? Apa itu mungkin? Ini adalah karya saya yang berjudul "Tetangga Iblis" By : Novianingsih Juliani
Veby adalah seorang gadis SMA yang harus berpisah dengan keluarga nya. Karena ia harus bersekolah di sekolah baru dikarenakan adanya sebuah pertukaran pelajar antar kota.
Ia juga harus tinggal di sebuah apartemen dekat sekolah nya yang baru dan hanya bisa pulang saat libur sekolah atau hari raya karena jarak antara kedua kota tersebut sangat jauh
Hal aneh mulai terjadi saat ia baru saja pindah ke apartemen tersebut, yaitu di sebelah apartemen miliknya, yang ditinggali oleh seorang pria tampan yang kira-kira Satu tahun lebih tua darinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novianingsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 10
''Penemu benua Amerika.....Duhhh siapa ya?" Kata Veby saat sedang bergelut dengan alat tulisnya di meja belajar.
"Ni juga!! Ringkasan ini..... Eh ia tadi jung-dae kan ngasi gue ringkasan punyanya dia." Sambil membuka tasnya.
"Penemu benua Asia.... Afrika...... Aaa.. Amerika adalah.... Christophorus Colombus." " Hmm membantu." Kata Veby kemudian mencatat pada buku tugasnya.
"Pulpen sialan!!! Jelek banget tulisan gue yak. Beli lagi ahh lagian juga, baru jam sembilan." Sambil beranjak dari tempat duduknya. (Tulisan emang jelek, nyalahin pulpen segala)
Veby pun keluar dari kamarnya, tiba-tiba ia menginjak sesuatu. Veby pun merunduk untuk mwlihat atau mengambil barang yang mungkin ia perlukan.
"Pulpen? Baru banget yak?" Kata Veby pada benda yang ia temukan.
Veby terpancing kembali pada apartemen nomor 7, ia mendekati kamar tersebut.
''Waaa Jinjaaaa. Ini garis polisinya mana?" Kata Veby. Garis polisi yang berwarna kuning, yang mencirikan bahwa daerah tersebut berbahaya atau masih dalam penyelidikan lenyap dari pintu kamar nomor 7 tersebut.
"Baru jam sembilan kan? Kok udah gak ada orang aja." Kata Veby sambil melihat sekelilingnya lalu melihat arah jarum jam.
09.58
"Ehh jam sepuluh, tapi kan tetep aja......" Tiba-tiba kejadian yang di hindari Veby terjadi. Pintu ruangan tersebut terbuka kembali dengan sendirinya.
Veby menutup mulutnya dengan keras, ia menjatuhkan dirinya dan memojokkan tubuhnya ke tembok depan pintu ruangan tersebut.
Mata merah, kepala di atas meja, darah, bahkan tangan ada di mana-mana. Kepala yang berbeda dari kepala sebelumnya. Kepala itu memiliki rambut yang panjang, dengan mulut yang terbuka lebar, dan mata yang menatap langit-langit.
Plaaaaakkkkkkkkk
Veby menampar pipinya agar segera sadar dari ilusinya. Dan benar saja, ketika ia membuka matanya, ruangan tersebut sudah tertutup rapat. Tetapi garis polisinya tetap saja tidak ada.
Veby melempar pulpen yang ia temukan tadi ke arah pintu apartemen itu hinga pecah berkeping-keping, dikarenakan mengenai tembok yang keras. Lalu ia bergegas berlari menuju tangga bawah. Sebuah mata dengan pandangan merah memperhatikan langkah Veby.
"Kak..... Kak Brot....." Kata Veby yang pergi ke lantai paling bawah untuk menemui Bright, karena ia tau kalau Bright jaga malam sampai subuh.
"Apa ?? Ada apa? Dik? Kamu knapa?" Tanya Bright dengan panik.
"Kak aku takutt......T•T " Sambil menangis.
"Duduk dulu! Kamu kenapa?" Kata Bright mencoba menenangkan adiknya tersebut. (Adik angkat jadi-jadian lah wkwk)
"Itu.... Kamar apartemen nomor 7 yang ada di sebelah kamarku kak."
"Bukannya itu masih kosong? Dan kan itu masih dalam investigasi."
"Ada yang aneh dari kamr itu kak...... Kayaknya ada orang yang sudah meninggal dehh di kamar itu." Kata Veby.
"Hah?? Mana mungkin!! Kamar itu skarang sudah terlarang. Staf bersih-bersih aja gak boleh masuk."
"Tapi aku.....Aku...Aku nyium bau amis kak, aku sampek gak bisa makan." Alasan Veby dengan susah payah otak menyuruh mulutnya untuk mengatakan itu.
"Kamu yakin?" Tanya Bright yang mulai serius.
"I...ia, dan garis polisinya juga lenyap seperti tidak pernah ada polisi yang menempelkan benda itu.'' Kata Veby dengan apa yang ia lihat.
"Kakak akan coba menelpon polisi skarang." Kata Bright dan meraih telpon genggam yang ada di atas meja.
Namun sebelum itu, suara riuh terdengar dari lantai atas. Seperti orang yang berlari dari tangga. Sontak Bright dan Veby bingung dengan hal tersebut.
sejauh ini aku masih suka alurnya