NovelToon NovelToon
Mahar 5000

Mahar 5000

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Romantis / Pengantin Pengganti / Duda
Popularitas:131.3k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

"Maharnya cuma lima ribu? Ya ampun, buat beli gorengan aja kurang!"

Karena penghianatan dari Rava, calon suaminya, Citra memaksa Rama, ayah Rava untuk menikahinya. Tak perduli dengan mahar 5000, asalkan dia bisa membalas perbuatan Rava.

"Aku sudah naik pangkat jadi ibumu! jangan macam-macam denganku!"

baca, tekan suka, tinggalin komentar ya.😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 10

“Pilih yang kamu suka, Citra,” suara Rama terdengar tenang namun berwibawa, diiringi bunyi lembut lonceng pintu butik eksklusif yang mereka masuki. Aroma parfum mahal memenuhi ruangan, cahaya lampu keemasan memantulkan kilau dari deretan perhiasan yang berjajar rapi di balik kaca.

Citra berdiri terpaku. Dunia yang kini ia injak terasa asing baginya—lantai marmer berkilau, para pramuniaga berwajah ramah, dan bayangan dirinya di cermin besar dengan gaun sederhana yang mendadak terasa begitu murah.

“Yang… ini boleh, Pak?” tanyanya ragu, menunjuk sepasang anting mutiara yang tersemat di etalase.

“Jangan tanya lagi,” jawab Rama dengan senyum tipis. “Kamu istri saya, Citra. Anggap saja ini pengganti mahar lima ribu itu.”

Nada suaranya lembut, tapi menyisakan sesuatu yang berat. Ia tahu, gadis di sampingnya dulu menangis karena malu—bukan hanya karena pernikahan mendadak, tapi juga karena dunia sempat menertawakan mahar lima ribu yang ia terima.

Citra menunduk, menahan senyum malu. “Baiklah, Pak. Makasih.”

“Saya ingin kamu merasa berharga.”

Rama melangkah mendekat, jemarinya menyentuh kepala Citra pelan, seolah membelai anak kecil. “Sudah cukup orang lain merendahkan kamu. Mulai sekarang, biar mereka tahu siapa kamu.”

Ia kemudian memanggil pelayan. “Bungkuskan anting ini, juga kalung yang di sampingnya. Oh, dan tas itu, baju di manekin sebelah kanan, sepatu hitam ukuran tiga delapan…”

Citra terbelalak. “Pak! Itu kebanyakan…”

Rama hanya tertawa kecil. “Kamu kan istri pengusaha. Jangan kebanyakan protes.”

Tiga jam kemudian, mobil hitam mewah mereka penuh dengan belanjaan. Citra menatap tas-tas belanja di pangkuannya sambil tersenyum bahagia, tapi di sela-sela senyum itu, nama Rava perlahan menelusup ke kepalanya—nama yang berusaha ia lupakan.

Rava, lelaki yang seharusnya menjadi suaminya. Lelaki yang membuatnya menunggu di pelaminan hanya untuk mendengar kabar kalau ia tidak akan datang.

Namun di hadapan Rama, semua luka itu untuk sesaat mereda.

“Terima kasih, Pak,” ucap Citra pelan saat mereka berhenti di lampu merah.

Rama menatapnya sebentar. “Jangan ‘Pak’, panggil Mas Rama saja.”

“Tapi… saya belum terbiasa, Pak.”

“Kalau begitu, mulai biasakan yang baru.”

Senyumnya hangat, tapi di balik sorot matanya, ada rasa iba yang tak terucap. Ia tahu Citra terlalu polos untuk menyadari betapa rumitnya keadaan sebenarnya.

"Ya sudah, enggak usah dipaksakan. Panggil Pak juga enggak apa-apa. Panggil Mas lalau udah siap aja."

Citra memaksakan senyum. Punya suami yang lebih tua memang lebih pengertian.

*****

Di tempat lain, jauh dari kebahagiaan singkat itu, Rava duduk di kamar yang remang. Rokok di tangannya sudah habis separuh, tapi pikirannya tetap sesak. Di meja, ada foto Citra dalam bingkai kayu kecil—senyum gadis itu masih sama seperti saat terakhir kali ia melihatnya.

Ia sudah mengganti nomor, memblokir semua kontak, menghapus jejak Citra dari hidupnya. Tapi rasa bersalah itu tetap menghantuinya setiap malam.

“Citra…” bisiknya lirih. “Maaf… Aku sama sekali tak ingin menghianatimu...” Rava mengusap wajahnya. "Dengan siapa kamu menikah, Citra?"

Namun kini, penyesalan tak lagi berguna. Cantika—sepupu Citra—sedang mengandung anaknya. Ia harus bertanggung jawab.

"Aku harus tau siapa yang Citra nikahi. Cantika bilang, lelaki tua dan hanya dimaharin 5000. Semoga aku masih ada kesempatan. Setelah anak Cantika lahir, aku akan menceraikannya dan kembali pada Citra. Aku yakin dia masih mencintaiku nanti..." bisiknya pada diri sendiri.

Pintu kamarnya diketuk keras. “Rava!” suara perempuan menggema dari luar. “Kamu masih di situ? Mama mau bicara!”

Rava mematikan rokok dan membuka pintu. Di ambang, ibunya berdiri dengan gaun mahal, wajah anggun tapi keras.

“Resepsi pernikahanmu dengan Cantika akan kita buat bulan depan.”

“Tiga bulan lagi, Ma,” sahut Rava cepat.

“Tidak bisa! Perut Cantika sudah mulai terlihat. Kamu mau mempermalukan keluarga?”

Rava menatap ibunya dalam diam. Hatinya menolak, tapi ia tahu perdebatan hanya akan memperburuk keadaan.

"Aku akan bicara dengan Cantika nanti."

"Terserah, tapi mereka ingin resepsinya secepatnya."

"Aku mengerti, Ma."

Wanita itu pergi, meninggalkan Rava sendiri dalam sesalnya.

****

Sementara itu, di rumah Cantika, suasana siang terasa lengket oleh panas dan gosip. Seorang penjual rujak lewat dengan teriakan khasnya.

“Rujaaak! Rujak manis, rujak pedes!”

Cantika yang sedang bosan di teras langsung berdiri. “Bang, sini, satu ya, pedesnya banyak.”

Ibu-ibu kompleks yang sedang menjemur pakaian melirik. Salah satu di antaranya berbisik, “Cantika doyan banget rujak, kayak orang ngidam aja.”

Cantika tercekat sejenak, lalu menoleh dengan senyum kaku. “Lagi pengin aja, Bu. Nggak harus hamil dulu baru boleh makan rujak, kan?”

Tawa kecil terdengar, tapi pandangan mereka tetap tajam. Yani, ibunya, muncul dari dalam rumah dengan wajah muram.

“Mulut orang itu memang nggak bisa dijaga,” gumamnya pelan tapi tajam. “Biar aja, nanti juga mereka tahu kalau kamu bakal nikah sama laki-laki kaya. Biar mereka semua bungkam.”

Baru saja Yani selesai bicara, ponsel Cantika berdering. Nama “Sayang ❤️” muncul di layar.

“Hallo?”

“Cantika…” suara di seberang berat, penuh tekanan. “Kita harus bicara.”

“Apa, Sayang?”

“Jangan panggil aku itu dulu. Aku cuma mau bilang, aku minta waktu tiga bulan buat urus semuanya.”

"Apa?"

"aku sudah bilang padamu sebelumnya, 3 bulan lagi, kan? Bukankah kita sudah sepakat?"

Yani melirik Cantika."Siapa? calon suamimu?"

Cantika mengangguk.

"Apa katanya?" tanya ibunya tak sabar. "Ah, dia setuju dengan mahar 25 juta kan?"

"Iya, ma."

"bagus." dengan penuh percaya diri dan jumawa, Yani menoleh pada ibu-ibu yang sedang memperhatikan. "Kalian dengar? 25 juta! Itu baru maharnya. Jelas kan? Calon suaminya Cantika jauh lebih kaya. Berlipat-lipat dari mantunya si Maya itu. Hahahah."

Maya yang baru saja keluar menyiram bunga di halaman rumah melengos.

"Sudah tua. Kere, lagi. Hahaha." Yani semakin menjadi, mengolok iparnya.

Ibu-ibu lain saling pandang, beberapa tersenyum sinis.

"Hih, sombong banget itu si Yani," bisik salah satu tetangga.

"Udah, biarin aja. Yang penting enggak makan tanaman."

"astaghfirullah, Buk!" kekehan kecil terdengar dari salah satu emak-emak.

"Heh! Nanti kalau resepsi, kami mau private. Cuma orang dekat kami saja yang diundang. Kami juga mau bikin acara di hotel saja. Yang jelas makannya enak-enak." Yani masih nyerocos saja. "Tapi.... Sorry ya May. Kamu enggak kami undang. Nanti malah kamu bawa pulak mantumu yang kere itu. Duuuhh. Pasti cuma bikin malu..."

wajah Maya sudah merah padam, tapi dia juga tak bisa membalas. Memang mantu dadakannya hanya mampu kasih mahar 5000. Dia bisa apa?

Tepat saat itu, dari ujung jalan terdengar suara keras—“beep! beep!”—sebuah mobil pick-up berhenti di depan rumah Bu Maya, ibu Citra.

Semua kepala serentak menoleh. Di bak belakang, penuh muatan kotak-kotak besar bertuliskan nama merek elektronik rumah tangga dan butik ternama.

"Loh, apa ini?" para ibu-ibu langsung berkerumun, begitu pun dengan Yani. Wajahnya langsung berbinar menyangka barang pemberian dari Rava dan keluarga.

"I-ini... Enggak salah berhenti di sini, Pak? Bukan di rumah sebelah?" Tanyanya pada seorang sopir turun.

Supir itu tersentak. "Ini benar jalan Jambu, perumahan Buah, rumah Nomor 123, kan?"

Maya langsung mendekat, "Iya, itu memang alamat rumah sini."

Wajah Yani berubah masam. "Bukan nomor 122, Pak? Barang kali bapak salah baca atau salah tulis? Tadi anak saya dapat telpon dari calon suaminya soalnya. Mau kirim barang beginian juga," dustanya, padahal dia pun tak dengar apa pembicaraan Rava dan Cantika di telpon.

“Maaf, di sini tertulis Pak Haris Nugroho, ayah dari Citra Kirana Larasati?”

"Apa?"

Semua kaget.

"Haris Nugroho suami saya, Pak."

Sopir itu tersenyum ramah. “Bagini, Bu. Ini kiriman barang belanjaan Bu Citra dari pusat kota. Disuruh langsung diantar ke rumah ini saja.”

"Apa!?"

Yani terbelalak....

1
Rahmawati
penasaran siapa yg ngomong sama Daud tadi itu,
Rahmawati
lani ketakutan gitu, berarti bener rava buka anak biologis rama
Rahmawati
nah nah, apa rava bukan anak Rama ya
Rahmawati
opo meneh to, nenek peyot😂
Rahmawati
setres bu lani ini, gagal move on padahal udah punya suami
Rahmawati
makanya belajar sopan santun km cantika
Rahmawati
ke PD an km lani😂
Rahmawati
enaknya punya mertua kayak bu lilis
Dhita💋🄳🄾🅄🄱🄻🄴'🄰👻ᴸᴷ
anak ku lahir Oktober 2011
meninggal Juni 2012
Dhita💋🄳🄾🅄🄱🄻🄴'🄰👻ᴸᴷ
ya allah cerita ini sama seperti aku yang kehilangan anakku di usia 7 bulan sedih
😭😭
tenny
suaminya lani namanya rubah2 kadang Fahri kadang Fadli entah mana yg bener 😄
tenny: semangat Thor 🤣🤣🤣
total 2 replies
Rahmawati
cantika gk tau diri bgt
Rahmawati
syukurin km rava, siapa suruh tinggal dirumah rama
Ma Em
Innalillahi wainnailaihi rojiun Cinta anak yg blm punya dosa pasti akan masuk sorga , semoga Cantika dan Rava diberikan kesabaran menghadapi cobaan ini manusia hanya berusaha tapi nasib Allah yg menentukan .
Rahmawati
gk boleh dong, nanti rava gangguin citra lagi
Rahmawati
beruntung bgt pak Rama dapet gadis ting ting
Rahmawati
dih si pak Bram cuma numpang beol😂
Ma Em
Semoga Cinta segera sembuh dari penyakitnya dan sehat kembali .
Rahmawati
jeng jreng jreng
Rahmawati
kok nanyain raga terus sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!