Zuri Keilana Wesley adalah putri sulung dari keluarga Wesley.
Gadis naif yang selalu berharap ada yang mencintainya dan menerimanya.
Tepat beberapa hari setelah kekasihnya yang telah ia taksir selama 20 tahun melamarnya, pria itu justru melakukan perbuatan tercela yang tak bisa Zuri maafkan meski ia berlutut memohon ampun.
Ethan Aviel Leon, tunangan Zuri kedapatan telah berselingkuh dengan adik kandung Zuri yaitu Leona Agatha Wesley.
Marah dan sakit hati membawa Zuri pada situasi yang pelik serta rumit.
Dan disaat itulah ia memikirkan balas dendam pada kedua pengkhianat itu dengan membuat perjanjian nikah bersama pria yang paling ia benci yaitu Davian Maverick Junior yang juga sedang diincar oleh Leona adiknya.
Davian dan Zuri sama-sama memiliki kepentingan dalam pernikahan ini.
Akankah pernikahan kontrak itu berubah jadi pernikahan manis atau sebaliknya?
yuk simak...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan masa lalu
Zuri baru saja keluar dari sebuah mini market yang lokasinya tak jauh dari penthouse mereka.
Tangannya penuh dengan berbagai plastik makanan yang secara khilaf ia ambil dirak makanan.
Bibirnya mengerucut saat tak ada satupun taksi atau ojek pangkalan yang biasa ada disana.
Terik matahari sungguh membakar kulit wajahnya.
Ia tidak memiliki kendaraan disini, bukan karena tidak bisa menyetir tapi karena ia memang tidak memintanya pada Davian ataupun keluarganya.
Dengan langkah gontai, Zuri menyusuri trotoar jalanan untuk sampai ke penthouse.
Klakson mobil berhasil membuat dirinya terkejut bukan main.
Ia memicingkan mata pada sebuah mobil SVP hitam yang terparkir disamping trotoar.
Seorang pria bersetelan jas rapi keluar dari dalam mobil.
Zuri memundurkan langkahnya. Jari-jarinya menggenggam erat tali kresek plastik.
Ethan melangkah pelan mendekati dirinya.
"Zuri... Akhirnya aku menemukanmu" kata pria itu sumringah.
Ethan semakin mendekat pada Zuri.
Sumpah demi apapun, saat ini Zuri hanya ingin Davian datang membantu dirinya lagi.
Rasa takut akan kejadian malam itu kembali menghantui Zuri.
Tangan Ethan baru saja akan menjangkau tubuh gadis rapuh itu, tapi sebuah rangkulan dari tangan kekar sudah melingkupi dirinya.
Zuri yang linglung kembali tersadar akan aroma khas dari tubuh kekar ini.
Perlahan, ia mendongak guna melihat siapa pria itu.
"Davian...." lirih Zuri penuh haru.
Davian hanya diam, rahangnya mengeras dan matanya memancarkan kilatan amarah pada Ethan yang berdiri mematung tak jauh dari posisi keduanya.
"Sesuai perjanjian tertulis, kau tidak bisa seenaknya mendekati Zuri jika tidak ingin kembali merasakan dinginnya penjara. Ini peringatan terakhir dariku! Berhenti mengganggu istriku!!" kata Davian penuh penekanan pada setiap kalimatnya.
Ethan tersenyum miring dan seolah meremehkan peringatan dari Davian.
Pria itu mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kepala. Tanpa banyak bicara, Ethan segera pergi dari sana.
Zuri menghirup banyak udara guna mengisi kekosongan paru-parunya akibat rasa takutnya.
Davian mendecak kesal pada gadis itu.
Ia melepaskan rangkulan tangan dibahu Zuri.
"Lain kali, kau jangan berjalan seorang diri...! kenapa susah sekali membuatmu patuh hah...!" ucap Davian.
"Aku hanya ingin membeli cemilan, mana aku tahu jika akan bertemu dia disini.." kata Zuri pelan dengan kepala tertunduk.
"Wajahku ada disini bukan dilantai..."
Mata Davian menangkap dua kantong kresek yang dipegang oleh Zuri. Tanpa banyak bicara, ia segera meraihnya dan membawanya ke mobil yang terparkir tak jauh dari mereka berdiri.
Zuri yang terkejut hanya pasrah ketika kantong cemilannya dibawa oleh sang suami. Kini Zuri telah duduk di samping Davian yang sedang berkonsentrasi mengemudi.
"Kau tidak bekerja?" tanya Zuri mulai membuka pembicaraan.
Davian yang masih kesal hanya diam saja.
Melihat reaksi Davian yang demikian, membuat Zuri tak lagi bertanya dan mengalihkan pandangannya ke trotoar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mobil Davian terparkir di basement dan tanpa banyak bicara kembali Davian membawa barang belanjaan milik Zuri.
Keduanya sedang berada di dalam lift yang akan membawa mereka ke unit lantai 15 dimana mereka tinggal.
Hening....
Didalam lift hanya ada mereka berdua.
Zuri tak berani mengajak Davian untuk berbicara walaupun hanya sekedar meminta barang-barang yang dipegang oleh Davian.
Davian melangkah lebih dulu keluar dari lift dan langsung menuju unit mereka.
Zuri mengekori pria itu yang kini masuk kedalam kamar bersama dengan barang belanjaan milik Zuri. Sikapnya itu seperti seorang anak yang sedang dihukum oleh ayahnya.
Bu Sri yang melihat hal aneh yang ditunjukkan keduanya lebih memilih diam dan tak berani ikut campur.
Zuri masih mengekori Davian masuk kedalam kamar mereka. Ia berdiri di belakang pria itu.
Entah sadar atau tidak atau Davian sedang melampiaskan amarahnya pada Zuri.
Davian langsung menyerang gadis itu dengan ciuman yang membuat Zuri membelalak.
Tubuh Zuri sampai membentur pintu.
Ciuman rakus yang Davian berikan membuat Zuri kesulitan bernafas.
Tak hanya sekedar menempelkan bibir, Davian menciumi bibir Zuri atas bawah.
Ia juga mengulum, melumat bahkan menggigit agar lidahnya bisa masuk kedalam rongga mulut gadis yang kini dilanda kebingungan tapi juga kewalahan meladeni ciuman pria yang kini memeluk secara agresif tubuh mungilnya.
Zuri tanpa sadar memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Davian hingga membuat kedua kakinya lemas tak bertulang dan beruntung, Davina memeganginya agar tidak jatuh.
Serasa kehabisan oksigen, Davian mengakhiri ciuman itu. Ia menatap bibir yang sedikit bengkak itu. Jempolnya mengusap pelan dan menghapus sisa-sisa saliva mereka.
Matanya menatap Zuri yang juga sedang menatapnya.
Tanpa bicara atau menjelaskan apapun, Davian pergi meninggalkan Zuri yang kebingungan akan sikap pria itu.
Davian memilih ruang kerjanya sebagai tempat menenangkan diri.
Ia menjambak rambutnya. Apa yang ia lakukan pada gadis itu?
Ada amarah yang tidak ia pahami ketika melihat Zuri bersama mantannya saat ia hendak pulang.
"Sial...!!!" Davian memukul-mukul meja kerjanya sebagai pelampiasan emosi akan tindakannya barusan.
Sementara Zuri masih dilanda kebingungan. Ia meraba bibir dan dadanya yang bergemuruh.
Menelan ludahnya yang terasa serat.
Ini tidak ada dalam perjanjian mereka.
"Dia keterlaluan...!"
Zuri menatap pintu penghubung kamar dan ruang kerja Davian.
Hati Zuri sedang memaki pria yang kini ada diruangan itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Semalaman Davian mengurung diri diruang kerjanya. Berusaha berkonsenterasi pada pekerjaannya. Tapi mau sekuat apapun ia mengalihkan pikirannya tetap otaknya masih terpikirkan akan tindakannya tadi sore.
Davian melempar pena yang sedang ia pegang.
Pria itu melepaskan dua kancing kemejanya. Seolah sedang melonggarkan benda yang menghimpit dadanya yang terasa sesak agar bisa bernafas lega.
"Ingat Davian...! Ini hanya permainan dan kau jangan terjebak akan permainan yang kau ciptakan sendiri" otak Davian mencoba mensugesti dirinya.
Davian membuka laci kerja bagian bawah.
Laci yang siapapun tidak boleh membukanya selain dia seorang.
Diambilnya sebuah pigura putih dari dalam laci.
Cukup lama ia memandangi gambar yang ada didalam pigura tersebut.
Bayang-bayang senyum cerah seseorang kembali terkenang didalam benaknya.
"Kau dimana? Jika kau tenggelam, kenapa kami tidak pernah bisa menemukan jasadmu?"
Davian memejamkan mata.
Pikirannya kembali pada peristiwa lima tahun lalu.
Flashback on....
"Davian... apa kau akan pergi nanti malam...? Kau akan jadi pasangan dansaku kan?" tanya seorang gadis yang selalu memakai semua pernak-pernik berwarna pink.
"Nia... Berhentilah merengek memintaku untuk pergi kemalam pesta dansa yang tidak penting itu! Kau tahu, aku sedang menyelesaikan tugas-tugasku agar bisa pergi liburan denganmu..." kata pria muda yang adalah Davian.
Gadis bernama Nia itu terlihat cemberut.
Ia pergi begitu saja dengan menghentak-hentakkan kaki indahnya sebagai bentuk protesnya pada pria yang sudah ia pacari selama dua tahun terakhir.
Huft....
Davian menghembuskan nafas kasar.
Pacarnya kalau sudah merajuk akan sangat sulit membujuknya.
"Baiklah... aku akan menemanimu, tapi hanya satu jam dan setelahnya kita pulang tanpa ada bantahan...!"
Nia bersorak riang.
"Terima kasih Davian... Kau memang yang terbaik..."
Cup...
Sebuah kecupan mendarat dibibir Davian dan pria itu tidak akan pernah melepaskan bibir kekasihnya begitu saja tanpa mengulum dan melumatnya.
"Sudah... Nanti kalau kakek Edgar lihat, dia bisa ngamuk..." kata Nia mengakhiri ciuman itu.
Gadis itu segera pergi dari rumah Davian sebelum kedatangan kakek Edgar yang memang tidak pernah menyukainya.
Malam yang diminta oleh Nia tiba juga.
Davian dan Nia adalah pasangan serasi yang selalu membuat iri siapapun.
Zuri juga hadir disana karena ia dan Nia adalah dua sahabat, setidaknya itu yang Zuri rasakan.
Dan Leona?
Gadis itu akan berada dimana ada pesta maka dia akan ada disana.
Sebuah pesta muda mudi yang diadakan ditepian danau.
Lampu kelap-kelip serta musik berdentum memekakkan telinga.
Zuri berjalan seorang diri menyusuri tepian danau yang indah karena di terangi cahaya bulan.
Zuri menangkap sebuah pemandangan yang membuat tak bisa ia lupakan seumur hidup.
Zuri tanpa sengaja menangkap Nia sedang melakukan sebuah hubungan tak pantas bersama seorang pria yang tidak ia kenal, padahal semua orang tahu jika Nia adalah kekasih dari seorang Davian Maverick Junior.
bersambung...