Follow sosmed author
IG:Mia novita23
Tiktok:Miss Mia Novita
"Lo emang istri gue, Tapi jangan pernah lupa kalo gue nikahin Lo hanya untuk Maura!" Dilan menatap pada Ana yang juga menatap malas ke arahnya.
"It's okee, Gue tidak akan pernah lupa. dan loe juga harus ingat kalo gue juga mau nikah sama lo juga karna terpaksa!" balas Ana tak kalah pedas.
Berawal dari pernikahan kontrak yang saling menguntungkan, Dilan dan Ana membangun rumah tangga tanpa dasar cinta. Dilan yang ingin memberikan sosok ibu untuk Maura, begitu juga dengan Ana terpaksa menerima tawaran Dilan karna butuh uang untuk biaya pengobatan ibunya. kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya? temani author melanjutkan kisah ini yuk
Update rutin setiap hari Rabu dan jumat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Mia Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan dilan
Dilan menggenggam tangan di bawah meja. Rasa pahit yang meluap di tenggorokannya bukan hanya karena cemburu, tapi juga karena harga dirinya sebagai suami dan ayah hancur berkeping-keping. Pemandangan Maura yang berlari kencang menuju Arka di luar, seolah Arka adalah sosok ayah yang ia banggakan, menusuknya hingga ke ulu hati.
Ia bangkit, membanting kursi ke belakang dengan suara keras yang memecah keheningan rumah.
"Brengsek!" desisnya. Ia berjalan cepat menuju jendela dapur, tepat pada waktunya untuk melihat mobil sedan hitam Arka perlahan meninggalkan halaman. Maura duduk di kursi belakang, posisi tangan ceria ke arah rumah. Di kursi depan, Hana menoleh sedikit ke arah kaca, tapi dia tidak melihat Dilan. Hana tidak melambai, tidak memberikan jaminan, hanya melihat lurus ke depan, seolah Dilan sudah tidak ada di dunia mereka.
Dilan merasa darahnya mendidih. Ini adalah titik baliknya. Ia tidak bisa lagi membiarkan situasi ini berlarut-larut. Ia tidak peduli apakah perasaannya terhadap Hana adalah cinta atau hanya rasa memiliki yang posesif; Yang jelas, ia tidak bisa menerima jika kenyamanan dan statusnya di rumah ini direbut oleh pria lain.
"Ini rumah gue. Dia istri gue. Dan itu anak gue," ucapnya tegas, seperti mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Dilan segera meraih kunci mobil dan jaketnya. Nasi goreng di piringnya dibiarkan dingin tak terasa. Rencananya pagi ini adalah pergi ke kantor, tetapi sekarang, prioritasnya telah berubah.
"Aku harus bertemu Monica," pikirnya cepat.
Bukan untuk mencari pelipur lara, tetapi untuk mengakhiri 'drama' yang selama ini ia jalani. Ia menyadari, selama Monica masih dalam hidupnya, ia tidak akan pernah bisa meminta kembali Hana dan Maura.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dilan tiba di kantor dan langsung memanggil sekretarisnya untuk mengatur pertemuan mendadak dengan Monica, yang ternyata sudah tiba lebih dulu di ruang kerja. Monica sedang duduk santai, memegang sebuah majalah fashion .
"Pagi, Sayang! Kamu tumben cepat sekali. Ada apa? Wajahmu tegang sekali," sapa Monica manja, bangkit untuk memeluk Dilan.
Dilan menghindarinya dengan gerakan halus. Ia menarik napas dalam-dalam, mengatur emosinya.
“Monica, kita perlu bicara serius,” kata Dilan, suaranya berat dan dingin.
Monica mengerutkan kening, senyumnya luntur. "Bicara apa? Jadi pesta semalam? Kamu terlihat buruk sekali saat di sana, Dilan. Apalagi saat si Hana itu..."
"Justru itu. Ini tentang semua ini, Monica," potong Dilan cepat. "Tentang kita. Tentang hubungan ini."
Monica menatap Dilan dengan cemas. "Hubungan apa, Beb ? Kita sudah bersama selama bertahun- tahun. Kita saling mencintai."
“Tidak,” ujar Dilan, tekad kepala. "Aku tidak mencintaimu, Monica. Aku sudah mencoba meyakinkan diriku bahwa aku mencintaimu, tapi... itu tidak benar."
Monica tertawa hampa, mencoba berspekulasi sebagai lelucon. "Dilan, jangan bercanda. Jangan konyol! Kamu tidak mungkin tiba-tiba mengatakan ini."
"Aku serius. Aku lelah membayangkan, Aku ingin mengakhirinya," kata Dilan, menegaskannya dengan tegas. Ia melihat kekecewaan dan kemarahan mulai tergambar jelas di wajah Monica. "Hubungan ini harus berakhir, sekarang."
"Kenapa? Karena Hana? Karena dia mulai menunjukkan perlawanan dan sekarang kamu merasa tertantang, Dilan?" seru Monica, nadanya berubah tajam. "Kamu pikir aku tidak tahu? Kamu tidak tahan melihat dia dekat dengan Arka, kan? Kamu cemburu!"
Dilan diam, tidak membenarkan, tetapi juga tidak menyangkal.
"Ya Tuhan , Dilan! Setelah semua yang kita lalui? Kamu mau mencampakkanku demi istri yang kamu campakkan duluan? Kamu pikir setelah kamu mengabaikannya selama dua tahun, dia akan kembali begitu saja sama kamu?" Monica tertawa sinis. "Kamu salah besar! Dia sudah menemukan orang yang jauh lebih baik dan lebih menghargainya!"
Kata-kata Monica menyakitkan, karena itu adalah kebenaran yang ia coba hindari. Namun, keputusannya sudah bulat.
"Itu urusanku. Yang jelas, mulai hari ini, kita selesai," putus Dilan.
Monica berdiri, matanya berkaca-kaca, tapi sorotnya penuh dendam. "Baik, Dilan. Kamu mau mengakhirinya? Aku akan mengakhirinya. Tapi ingat ini baik-baik. Aku tidak akan membiarkanmu bahagia setelah kamu mencampakkanku seperti ini. Dan aku pastikan, kamu akan menyesal telah melepaskan aku demi wanita dingin itu!"
Monica meraih tas mahalnya, berjalan cepat menuju pintu. Sebelum keluar, ia berhenti dan berhenti.
"Aku akan melihat sejauh mana Hana akan bertahan di sampingmu, setelah semua yang kamu lakukan," ancamnya, lalu membanting pintu ruangan Dilan dengan keras.
Dilan terduduk di kursinya. Ruangan itu terasa sepi dan dingin. Keputusan besar telah diambil. Ia tahu, langkah selanjutnya adalah yang terberat, menghadap Hana, meminta maaf, dan mencoba memperbaiki kehancuran yang ia ciptakan.
Sore harinya, Dilan pulang dengan hati yang nyaman. Ia telah memutus persetujuan dengan Monica, dan sekarang, ia harus menghadapi konsekuensi dari semua tindakannya.
Saat memasuki rumah, suasana terasa hening. Maura sudah tidur. Ia menemukan Hana di ruang tengah, duduk di sofa sambil membaca buku. Tidak ada TV yang menyala, tidak ada musik, hanya lampu baca yang redup.
Hana bahkan tidak mendongak saat Dilan masuk. Ia benar-benar mengabaikan kehadirannya.
Dilan berjalan pelan dan duduk di sofa tunggal di seberang Hana. Ia mencoba mencari kata-kata yang tepat.
"Hana..." panggilnya pelan.
Hana meletakkan buku yang ia baca di pangkuannya, akhirnya mengangkat kepala, menatap Dilan dengan dokumen kosong dan tanpa emosi.
"Ada apa?" tanyanya, suaranya tenang, yang justru membuat Dilan semakin gentar.
"Aku... aku minta maaf soal pagi tadi. Soal aku marah-marah," Dilan memulai, sedikit canggung. Ini adalah pertama kalinya dia benar-benar berusaha meminta maaf kepada Hana, bukan hanya untuk menenangkan suasana, tetapi untuk memulai sesuatu yang baru.
Hana hanya tersenyum tipis, senyumnya tidak mencapai matanya. "Sudah kubilang, itu bukan urusanku. Kamu tidak perlu minta maaf padaku."
“Ini urusan kita, Hana,” Dilan kenyamanan. "Dengarkan aku. Aku sudah mengakhiri hubunganku dengan Monica."
Mata Hana sedikit melebar, tetapi ekspresi dengan cepat kembali datar. "Oh, benarkah? Selamat. Tapi maaf, aku tidak mengerti apa ringkasan keputusanmu itu dengan ku"
Dilan terkejut. Ia memperkirakan berita ini akan membuat Hana setidaknya menunjukkan sedikit kelegaan atau kegembiraan.
"Hubungannya adalah... aku ingin kembali. Aku ingin memperbaiki pernikahan kita. Aku ingin menjadi suami yang baik untukmu, dan ayah yang sepenuhnya ada untuk Maura," ucap Dilan tulus, berusaha menyampaikan semua yang ia rasakan.
Hana menutup bukunya dan menaruhnya di meja. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menatap Dilan dengan intens.
“Dua tahun,” kata Hana, suaranya seperti bisikan. "Dua tahun aku menunggumu mengatakan itu, Dilan. Aku memaafkan pengabaianmu, aku memaafkan perselingkuhanmu, aku memaafkan semua kata-kata dinginmu. Aku hanya menunggu satu kata 'maaf' darimu, dan janji untuk berubah."
Air mata Dilan mulai menumpuk di mata Hana, tetapi ia menahannya.
"Dan sekarang, setelah kamu melihatku mulai bahagia, setelah kamu melihat ada pria lain yang mulai mengisi kekosongan yang kamu tinggalkan, baru kamu kembali?"
“Dilan, kamu tidak ingin aku kembali. Kamu hanya tidak ingin melihatku pergi. ”
Bagaimana reaksi Dilan saat mendengar penolakan telak dari Hana, dan apa langkah yang akan diambil Hana setelah melihat Dilan memutuskan hubungan dengan Monica?
Tapi Hana tidak merasakan itu, hatinya kerap terluka karena cintanya yang tanpa sadar tumbuh untuk Dilan, sang suami kontrak yang hanya menganggapnya hanya orang asing.
Apakan Hana akan mempertahankan cintanya atau memilih pergi...