Keseharian Lana menjadi pendamping Tuan Buta untuk menjadi pengganti istrinya yang sering keluar dengan pria lain itu berbuah kebingungan. Itu terjadi ketika Tuan buta itu sembuh dari kebutaannya. Dia mengira selama ini istrinyalah yang mendampinginya. Keberadaan Lana lenyap seketika tanpa berbekas.
Apa yang akan terjadi ketika semua kebiasaan yang ia pikir adalah milik istrinya itu tidak nampak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 10 Kontrak dengan sebuah nama
“Karena kemarin kita belum bicara banyak. Kamu belum mendapat surat kontrak dan tugas secara resmi dariku. Oh, ya aku belum tahu dengan benar tentang diri kamu. Apa keahlianmu selain bersih-bersih? Tentu tidak di ragukan lagi soal itu karena aku tahu kamu menjadi petugas kebersihan di rumah sakit." Rupanya Sonia berusaha membangun suasana obrolan dengan santai.
"Saya bisa memasak dan berkebun."
"Lumayan banyak keahlianmu," puji Sonia jujur.
"Terima kasih." Meskipun itu pujian sebagai formalitas, Lana senang juga.
"Baiklah. Sekarang kamu wajib tahu apa saja yang ada dalam surat perjanjian.” Sonia meminta Rena menyerahkan surat kontrak pada Lana di atas meja. Ternyata perempuan ini sudah menyiapkan sejak tadi.
Rena berjalan mendekat dan meletakkan kontrak perjanjian di depan Lana.
"Terima kasih," lirih Lana.
Dia merasa tidak perlu membaca banyak isi surat perjanjian itu, karena dia hanya ingin menjauh dari rumah itu dan pamannya. Jadi semuanya sudah sesuai dengan keinginannya.
Namun demi menjaga profesionalitas seorang pekerja, ia pun membacanya. Cukup baca poin penting saja. Seperti ... harus menjaga kerahasiaan seluruh isi rumah dan apapun yang terjadi di dalam rumah ini. Juga dia yang akan sering berada di sekitar Tuan Kinos baik siang maupun malam, jika pria itu membutuhkannya.
"Bolehkan saya bertanya?" tanya Lana. Rena menatap Lana dengan pandangan ingin tahu. Seperti menerka, pertanyaan apa yang akan dilontarkan oleh gadis ini.
"Soal isi dari kontrak itu?" tanya Sonia menunjuk surat kontrak yang di Lana dengan ujung matanya.
"Benar. Di sini, saya di sebut sebagai pengganti Anda. Jadi ... apakah itu artinya saya akan di anggap sebagai Anda ketika menjadi pembantu suami Anda?" Saat bertanya soal ini, Lana juga masih tidak mengerti. Ia ingin mengatakan hal lain, tapi lidahnya tidak cukup mampu mengatakan sejujurnya. Rena saja mengernyitkan dahinya sedikit kebingungan dengan pertanyaan Lana.
Bibir Sonia tersenyum tipis. "Ya. Kinos akan berpikir orang yang bersamanya adalah istrinya. Aku perjelas. Saat bersama Kinos, kamu adalah istrinya. Itu yang ingin kamu tanyakan?" tanya Sonia merangkum dengan jelas apa yang ingin di katakan Lana.
"Ya," sahut Lana. Itulah pertanyaannya.
"Apa kamu juga ingin tahu alasannya?" Ini bukanlah kesempatan bagi Lana untuk bertanya lagi. Sonia hanya ingin menantang Lana. Karena kalimat itu penuh tekanan ketika di ucapkan.
"Tidak. Saya tidak punya hak untuk itu." Lana tahu batasannya.
Dia sudah meminta sendiri pekerjaan ini. Jadi pantang baginya membuat semuanya runyam dengan pertanyaan yang lebih detail lagi.
"Namun ... Apakah semua orang tahu peran saya nanti sebagai Anda?" tanya Lana tegas dan juga hati-hati. Karena menurutnya pertanyaannya sungguh sensitif. Namun dia harus tahu.
Menjadi pengganti orang lain sungguhlah pekerjaan yang aneh. Bahkan tanpa berpikir panjang pun, semua orang pasti akan berpikir ke arah negatif. Dia tidak mau orang lain berpikir ini adalah niat jahatnya. Karena itu berarti, dia sedang menipu pria buta.
Pertanyaan ini sederhana, tapi Sonia tahu artinya tidak sesederhana itu. Ini adalah hal penting. Karena jika dia menggunakan gadis ini sebagai penggantinya, itu artinya, gadis ini akan di anggap sebagai dirinya oleh Kinos.
Bukankah semua harus menutup mulut soal itu? Karena jika tidak, rencananya untuk bebas akan sulit.
"Semua akan tahu, peran apa yang akan kamu jalankan di sini. Jadi jangan khawatir soal itu." Sonia mengerti akan itu. Makanya dia juga bersiap dengan para pembantu di rumah ini.
"Pembantu di rumah ini tidak banyak. Hanya ada tiga pembantu yang bekerja khusus di area rumah utama, ini termasuk Erna sebagai senior. Semuanya adalah orang kepercayaan ku."
"Jadi saya tidak perlu khawatir soal peran saya nantinya?" tanya Lana masih cemas.
“Ya. Sudah aku katakan begitu. Tidak ada yang akan menggugat mu. Aku yang menjamin semuanya aman. Mungkin yang perlu di waspadai adalah Rio. Dia sekretaris suamiku. Orang kepercayaan Kinos. Mungkin hanya dia yang tidak tahu peran kamu disini. Jadi berhati-hatilah padanya," pesan Sonia.
Lana mengangguk seraya melirik ke Rena sebentar. Ia tahu dua orang itu sangat dekat. Namun sepertinya Rena juga baru tahu ini. Karena ia melihat kening perempuan itu mengerut sebentar. Pertanda ia juga terkejut.
"Sekarang tanda tangani surat perjanjian itu. Setelah itu, aku akan mengenalkan kamu pada suamiku."
Lana mengangguk. Lalu tangannya bergerak membubuhkan tanda tangan pada surat kontrak di tangannya.
"Ini sudah Nyonya." Lana menyerahkan surat kontrak itu. Rena membantu Lana menyerahkan pada Sonia. Perempuan ini melihat lagi apa sudah benar, Lana menandatangani surat kontraknya.
"Baiklah. Ayo. Aku akan temukan kamu dengan suamiku." Sonia berdiri dan beranjak berjalan ke pintu bersama Rena. Lana mengikuti dari belakang. Ternyata mereka menuju ke sebuah kamar utama.
“Itu kamu, Sonia?” tanya pria yang berbalik itu dengan gerakan kaku. Lana bisa menyimpulkan bahwa pria itu pasti tidak sedang bercanda dengan gerakan tubuhnya yang kaku.
“Ya,” sahut Sonia. “Dia suamiku.” Bibir Sonia bergerak tanpa mengeluarkan suara. Dari gerakan bibirnya Lana tahu itu bahwa pria yang di maksud suami perempuan ini adalah Tuan Kinos.
Lana memandangi pria itu. Wajah itu punya rahang tegas yang memperkuat ketampanannya. Tubuhnya tinggi semampai dengan bahu lebar. Membentuk sosok pria yang begitu sempurna.
Mungkin satu yang menjadi kurang, yaitu penglihatannya. Mata itu terlihat kosong karena tidak bisa melihat. Meski begitu, Lana cukup terpukau dengan sosok pria ini.
"Aku dengar dari Rio, kamu punya pembantu baru," ujar Kinos. Lana tahu yang di maksud adalah dirinya. Dia tidak menyangka obrolan yang meluncur dari bibir pria itu adalah mengenai dirinya.
"Ya. Rupanya Rio sudah memberitahu mu." Sonia berjalan mendekat dan duduk di dekat ranjang.
"Benar, dia adalah orang kepercayaanku." Bibir pria ini tersenyum bangga. Lana mengamati setiap gerik dari pria itu. Meski tersenyum, sepertinya pria itu tampak kesepian. Di dalam kebutaannya, dunia pasti terasa begitu sunyi. Dia tampak begitu menderita.
Dengan tanpa bersuara, Lana mampu hadir di sana tanpa di anggap keberadaannya ada. Itu menjadi keuntungan sendiri baginya. Ya, dia seperti menguping pembicaraan orang. "Jadi rumah ini bertambah satu orang lagi atau kamu sudah memecat orang?"
"Tidak. Mereka semua orang kepercayaanku, aku tidak mungkin memecat mereka selama mereka baik."
"Benar. Lalu, kamu letakkan dimana pembantu yang baru itu?" Ini pembicaraan biasa, tapi entah kenapa Lana mendengarnya merasa sedikit tegang.
"Emm ... Mungkin bagian dapur atau bagian kebun?" Sonia asal menjawab.
"Siapa namanya?"
"Lana."
"Lana?" ulang Kinos merasa memang baru mendengar nama itu. Lan mengerjap ketika namanya di sebut.
...----------------...
bikin penasaran dan dag Dig dug
q ga bs move on ama gara kak please gara zia ya kak mohon bgt dgn sangat🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏