Follow Instagram Author @tulisan_bee 😘
Musim satu dan dua sudah tamat ❤️
~ Perjalanan seorang gadis bernama Diandra Lee, dipertemukan dengan dua lelaki luar biasa, Bram Trahwijaya dan Gionard Butcher.
Ketika keduanya sama-sama menawarkan tempat bersandar, sisi mana yang akan Diandra pilih? ~
Terima kasih sudah mampir dan membaca cerita ini, semuanya. Semoga suka 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NadiraBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Pemberian Kejutan
"Kini aku tahu menunggu adalah hal paling menjengkelkan di dunia." ~Diandra Lee.
.
.
.
Bram tidak kembali malam itu. Diandra terbangun saat jam menunjukkan pukul 06.10 pagi, yang berarti dia hanya tidur beberapa jam saja setelah lamunannya karena ditinggal pergi Bram di pagi buta.
Diandra melangkah turun dari kamar mereka yang terletak di lantai dua, menuju ruang makan. Diandra menuang teh manisnya ke dalam cangkir dan memakan sepiring nasi goreng buatan Teh Fitri yang sungguh enak sekali. Teh Fitri memang juara untuk urusan masak-memasak.
"Teh, Bram belum datang?" tanyanya pada Teh Fitri yang masih sibuk menyajikan makanan di meja. Wanita paruh baya itu menggeleng.
"Belum ada, Nyonya. Bukannya masih di kamar, Nyonya?" balas Teh Fitri.
Diandra menyipitkan matanya menatap Teh Fitri.
"Teteh jangan panggil Nyonya atuh please, panggil nama aja," rengeknya seperti anak kecil. Teh Fitri terkikik.
"Hehe.. enggak enak atuh Nyonya," balasnya lagi. Diandra hanya melanjutkan makannya.
Berarti Bram memang tidak pulang malam tadi. Hingga pagi ini pun belum ada tanda-tanda kedatangan Bram. Diandra menepis segala fikiran yang muncul dalam benaknya. Bukankah mereka memang tidak perlu mencampuri urusan pribadi masing-masing? Namun Diandra tidak dapat semudah itu menghilangkan kekhawatirannya .
Dimana Bram tidur? Apakah di tempat Zea? Apakah mereka mengobrol? Atau melakukan hal lain?
Begitu banyak hal yang masuk dalam benak Diandra, memikirkan tentang Bram yang menghabiskan malamnya di luar rumah. Ini baru yang pertama kali bagi Diandra, setelah menikah. Bram tidak pernah seperti ini sebelumnya.
Gadis itu mengambil tasnya dan pamit kepada Teh Fitri, mengambil kunci mobil dan menuju parkiran. Dia hanya akan bekerja saja hari ini, menyibukkan dirinya dalam segala macam pekerjaan. Setidaknya agar dia tidak punya waktu untuk memikirkan pria itu.
***
Bram sampai di kantor dan langsung menuju ruangannya. Setelah mandi dan meninggalkan Zea yang masih terlelap, Bram baru menyadari bahwa dia tidak pulang ke rumah malam itu. Bagaimana dia akan menjelaskan kepada Diandra tentang hal ini? Atau apa sesungguhnya Diandra tidak memerlukan penjelasannya?
Pria itu mengganti bajunya di kantor. Bram memang punya beberapa pasang baju cadangan di kantor, berjaga-jaga untuk keadaan darurat, mana tahu dia menghadapi situasi tak terduga seperti sekarang ini.
Jam menunjukkan pukul 07.48 ketika sosok Diandra muncul dan masuk ke ruangan Bram. Ya, memang kantor mereka sama sekarang, di perusahaan Lee. Bram masih terus membimbing Diandra untuk belajar mengelola perusahaan, sehingga dia juga harus ngantor di perusahaan yang sama dengan Diandra beberapa bulan ke depan.
"Hai Bram," sapa Diandra sambil memasuki ruangan kantornya.
Bram terdiam sesaat. Gugup menghadapi situasi seperti sekarang. Jika Diandra bertanya apa yang akan dia jawab?
"Oh..hai, kamu sudah datang," balas Bram, terbata. Diandra meletakkan tasnya dan duduk di kursinya.
"Iya, aku ada meeting jam sembilan dan laporanku belum selesai. Bisa bantu aku, Bram?" tanya wanita itu sambil menyalakan laptop yang ada di mejanya.
"Tentu!" jawab Bram cepat, menghampiri Diandra, menarik sebuah kursi mendekat dan menunggu laporan Diandra tampil di layar. Bram mencuri pandang sekilas pada wajah cantik Diandra, dan sepertinya Diandra tidak menyadari pandangan Bram padanya.
Diandra tidak bertanya apapun. Diandra tidak marah. Diandra bersikap seperti biasa saja. Bahkan dia tidak bertanya darimana aku mendapatkan pakaian ini.
Ada rasa lega dalam hati lelaki itu bahwa dia tidak perlu menceritakan hal yang terjadi malam tadi kepada Diandra. Dia tidak yakin apakah Diandra akan terluka atau tidak. Kini dia juga tidak yakin apakah Diandra peduli atau tidak.
"Nanti makan siang bareng aku ya," bisik Bram kemudian. Diandra menoleh. Dan tersenyum.
"Baiklah. Aku request ayam kremes, oke?" balasnya. Bram gantian tersenyum.
"Siaap tuan putri!" jawabnya terkekeh.
***
Diandra melahap ayam kremesnya dengan semangat. Mereka berada di salah satu warung pinggir jalan di seputaran kantor. Bahkan mungkin orang-orang tidak akan menyangka bahwa wanita cantik yang sederhana ini adalah seorang pemimpin penting di perusahaan.
"Enaknyaaa!!" seru Diandra melahap dada ayamnya, tidak lupa dicolek ke sambel yang pedas.
Bram duduk di hadapan Diandra yang tengah asyik dengan makanannya, lelaki itu menoleh sekilas, kemudian tersenyum kecil.
Bram selalu suka melihat cara Diandra makan. Mungkin dia akan lolos jika ada casting untuk adegan makan-memakan. Gadis ini memang punya nafsu makan yang baik.
"Aku ada sesuatu untuk kamu," ucap Bram tiba-tiba. Diandra tertegun, menunggu dengan tatapan mata penasaran.
Bram mengeluarkan sebuah amplop dari jasnya, kemudian menyerahkannya kepada Diandra. Diandra menerima amplop itu.
"Bukalah!" suruh Bram.
Diandra membuka amplop itu perlahan. Terlihat sebuah kertas berada di dalam amplop, yang pelan-pelan dibaca Diandra. Diandra mulai tersenyum, merekah.
Diandra menatap Bram dengan tatapan tidak percaya, sekaligus kaget. Senyumnya melebar.
"Are you kidding me? (apa kau bercanda?)" katanya tidak percaya.
Bram menggeleng cepat, ikut tersenyum.
"Of course no (tentu saja tidak)," jawabnya kemudian.
"Thank you (terima kasih)!" Diandra bangkit dari kursinya, menghampiri tempat duduk Bram kemudian memeluk pria itu. Dia sangat gembira sekarang. Bram tertegun. Diandra memeluknya. Jantungnya berdegup kencang. Untuk sesaat Bram menjadi patung.
Mereka akan pergi ke Thailand esok sore.
.
.
.
🌾Bersambung🌾
~Terus dukung dengan like, komen dan votenya ya Readers.. Makasih banyak 💕
AQ mmpir again kesekian kalinya bee😍