NovelToon NovelToon
Tetangga : Cinta Orang Kantoran Part 2

Tetangga : Cinta Orang Kantoran Part 2

Status: tamat
Genre:CEO / Single Mom / Percintaan Konglomerat / Tamat
Popularitas:479.2k
Nilai: 5
Nama Author: Septira Wihartanti

Asmara dan Andra jarang mengobrol walau pun sudah 10 tahun bertetangga, dan rumah mereka berseberangan. Namun suatu kejadian tragis malah mendekatkan mereka. Herannya, masalah datang bertubi-tubi, sampai Asmara mendapati kalau Andra adalah Boss baru di kantornya.

Sejak itu mereka saling mengamati. Lagipula... Tetangga itu memang adalah CCTV terbaik, bukan?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pernyataan Revan

Siang itu Asmara membenahi barang-barangnya di ruang tamu Andra, sekaligus menata beberapa bajunya untuk mengungsi ke hotel malam ini. Kitty minta izin untuk ke sekolah walau pun hari sudah siang, paling tidak ia bisa ikut ekstrakulikuler Tari Tradisionalnya. Kitty bilang mereka akan melantik beberapa pengurus baru, karena Kitty sudah hampir lulus dari SMP. Namun prestasi di ekstrakulikuler tampaknya diperhitungkan juga di SMA nanti, jadi Kitty berusaha ridak menambah absensinya.

Dari luar terdengar motor Revan datang, lalu di parkir di halaman. Anak itu memang belum mendapatkan SIM C, tapi sudah nekat mengendarainya. Dia hanya berani menaiki motor sportnya itu kalau Andra ke kantor. Sehari-hari dia ke sekolah naik sepeda membonceng Kitty di belakangnya atau pesan Gojek 2 motor.

“Revan?” Asmara menoleh ke arah Revan yang memasuki pintu. “Bukannya kamu belum punya SIM?”

Revan menyeringai lalu menempelkan telunjuknya ke bibir.

Asmara menghela nafas sambil mencibir. “Kalau ketangkap polisi bagaimana? Sekolah kan lewat jalan besar loh,”

“Ya jalannya hati-hati dong, Tante. Jangan sampai tertangkap, hehe…” Revan, pemuda berusia 15 tahun dengan tinggi 175cm itu, lumayan tinggi besar untuk remaja sepantarannya yang rata-rata baru memasuki tahap hormonal.

Revan duduk di sofa yang berdekatan dengan Asmara lalu mengamati kegiatan wanita itu.

“Ibu kamu… orang yang seperti apa?” tanya Asmara. Wanita itu bertanya dengan suara rendah, antara ragu-ragu namun penasaran.

“Ibu kandungku?” tanya Revan.

“Ya Tentu.”

“Dia tidak banyak bicara, dan selalu tersenyum. Kalau ibu menyentuh pipiku atau kepalaku, rasanya semua emosiku berhenti, yang tadinya sedih, marah, jadi tenang. Kalau melihat wajah ibuku, orang juga tidak akan percaya kalau dia pemulung. Bapak selalu menutupi wajah ibu dengan semacam selendang, agar wajahnya tersamar. Tapi walau matanya saja yang terlihat, orang juga tahu kalau dia sangat cantik.”

“Ibumu kan bisa…” Asmara menghentikan kalimatnya. “Ehm… tidak jadi.”

“Bisa bersama orang lain selain Bapakku? Gitu kan yang tante mau bicarakan?” tebak Revan.

“Hm… iya. Tapi tak usah dijawab, takdir Illahi siapa yang tahu.”

“Ibuku pernah bilang, dulu Bapakku itu seorang yang lumayan terpandang di wilayahnya. Dan berulang kali membantu keluarga ibu, sampai pemakaman kakek dan nenek saja Bapak yang membiayai. Namun katanya Bapak kena fitnah dari beberapa orang yang tidak suka. Masalah politik sepertinya. Kata ibu, sejak itu usaha sembako Bapak tiba-tiba sepi. Lalu tiba-tiba ada penggusuran, katanya mau dibangun jalan. Tapi Ternyata tetangga yang lain dibayar sesuai penawaran, hanya bapak yang tidak. Sampai sekarang jalanan itu tak kunjung dibangun, dan uang bapak mereka tahan. Sejak Itu, seingatku hari demi hari terasa mencekam. Kami pindah-pindah Tante. Yang aku ingat itu saja, ingatan masa kecil tidak terlalu membekas di otakku, aku tahu cerita ini seiring berjalannya waktu, Ayah yang suka cerita padaku.” jelas Revan panjang lebar.

“Jadi…ibumu merasa sangat berhutang budi kepada Bapakmu, sampai-sampai berkembang menjadi cinta?” simpul Asmara.

“Bisa jadi, aku nggak terlalu ngerti masalah itu sebenarnya, hehe.”

“Lalu… kamu punya berapa adik?”

“Aku nggak ingat, tante. Kami tinggalnya pisah-pisah, Katanya adikku diadopsi banyak orang.”

“Banyak orang?Jadi adik kamu banyak?”

Revan mengangguk, “Kayaknya iya. Aku dulu hanya ingat punya satu adik. Setelah itu kami berpisah, aku diadopsi Ayah. Nggak tahu kalau adikku.”

“Nah… yang adik bayi ini siapa?”

“Tante, ibuku cantik, dan dia seorang pemulung. Tante pasti bisa memprediksi apa saja yang terjadi dalam kehidupannya.” Revan menatap Asmara dengan muram.

Akibat pandangan Revan yang tajam itu, Asmara langsung membayangkan kemungkinan terburuk yang terjadi pada ibu Revan. Sudah pasti bukan hal baik sampai-sampai Revan saja tidak menceritakannya secara gamblang.

“Ya Tuhan…” gumam Asmara setelah menyadari apa yang terjadi. “Maafkan Tante, Revan…”

“Hm…” Revan tersenyum tipis, “Namun Bapak saya tetap mencintai ibu saya dengan sepenuh hati.”

“Revan, Tante mengerti. Itu kebahagiaan sejati para wanita. Ada yang mencintai dia sepenuh hati. Tante yakin, Ibu kamu tidak menyesal menikahi Bapak kamu.”

“Benarkah begitu? Hidup Ibu dan Bapak saya lumayan sulit, loh Tante.”

Asmara menghela nafas panjang, “Revan, kebahagiaan seorang istri adalah mengetahui kalau suaminya mencintainya sepenuh hati. Apa pun yang terjadi. Tidak mengkhianati dan tidak menodai pernikahan. Mungkin… yah Tante juga tidak mengenal ibu kamu, tapi bagi Tante, yang paling tante sesali bisa jadi adalah perasaan bersalah karena tidak bisa menjaga diri. Namun jelas saja, seringkali ada hal-hal yang diluar kemampuan manusia…”

“Apakah… itu yang tante rasakan sewaktu kejadian perselingkuhan itu?”

“Sampai sekarang Tante selalu merasa kalau Tante kurang bisa memberikan kebahagiaan bagi suami Tante… walau pun semua orang bilang kalau hal itu salah, memang dasar Aditnya saja yang fu-cek.”

“Aku setuju dengan ‘semua orang’ itu.”

“Kita sedang membicarakan ibu kamu, bukan Tante.”

“Aku malah lebih tertarik dengan hidup Tante.” dengan nada suara rendah, Revan tersenyum tipis sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Asmara.

Namun Asmara balas tersenyum sambil ikut mencondongkan tubuh ke arahnya.

“Hidup Tante bukan urusan kamu, Sayang…” bisik Asmara sambil menoel hidung mancung Revan dengan jemarinya yang lentik..

Deg !

Begitu bunyi jantung Revan.

Pemuda itu merasakan suatu getaran yang langsung menyerang hatinya.

Sosok Asmara saat mendekat, luar biasa cantiknya. Di usianya yang melebihi 30 tahunan, kulit Asmara sangat sehat dan lembut, juga ada wangi mahal yang asing yang  belum pernah Revan cium dari wanita mana pun. Dulu ibu angkatnya, Mutia, memiliki banyak koleksi parfum mahal-mahal, namun menurut Revan wanginya cenderung aneh-aneh dan tidak cocok dikenakan Ibunya.

Tapi aroma tubuh Asmara sangat sesuai dengan sifatnya yang lembut, elegan, namun misterius.

Revan mundur, menegakkan duduknya sambil memegangi dadanya yang berdebar kencang. “Eum… kita kan mau jadi mertua-menantu loh tante, terbuka sedikti nggak ada salahnya kan?”

“Heh, pamali kamu! Tante menganggap kamu dan Kitty hanya teman akrab. Restu Tante masih sekitar 10 tahun lagi dari sekarang.”

Lalu keadaan menjadi hening.

Revan berpikir, bisakah ia melancarkan serangan kedua? Secara yang pertama gagal, malah bikin dia K.O begini.

“Tante Asmara… Nggak mau nikah lagi?”

Asmara tidak menjawab dan malah menatap Revan dengan tajam. “Jangan coba-coba kamu jodohin Tante dengan ayah kamu.” begitu tegasnya.

Masih terbayang malunya ia saat auratnya terlihat seluruhnya oleh Andra.

Kini, ia bertekad menjaga jarak dengan Andra.

Namun ada saja masalah yang malah menjadikan mereka semakin dekat.

Revan merasa tidak ada harapan, tapi ia tetap mencoba melakukan pendekatan ke Asmara.

“Hm… oke ganti topik.” desis Revan.

“Iya ganti topik saja lah…” gumam Asmara sambil tetap sibuk menata barang-barangnya.

“Menurut Tante, perempuan itu boleh menyatakan cinta duluan atau sebaiknya laki-laki saja yang duluan?”

“Apa perasaan kamu kalau tiba-tiba Kitty yang melamar kamu kelak? Aneh nggak?!”

“Ya Aneh lah.”

“Ya begitulah jawaban Tante.” balas Asmaea.

“Kalau ada laki-laki yang menyatakan cinta sama Tante bagaimana?”

“Tergantung. Menikah sejatinya untuk tujuan kebaikan, kok. Tapi untuk saat ini Tante belum siap dikhianati lagi.”

“Bagaimana kalau…”

“Kalau…?”

Revan tersenyum, “Bagaimana kalau aku yang menyatakan cinta ke Tante Asmara?”

1
ida wati
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Aprilinda
mantap cerita nya bagus, keren deh
Risma Wati
kereeeeennn👍👍👍
Sha_riesha
Selalu Bagus ❤️❤️❤️
Nining Chili
👍👍
another Aquarian
gak taulahh, kayaknya jiwa sikopet mulai nular.. kok aku ngerasa itu terlalu ringan untuk hukuman mereka ya. duo sikopet itu maksudnya..
another Aquarian
jadi inget kang Galon 🤣🤣🤣
another Aquarian
bisa multitasking, masak sambil akrobat pasang genting, nyuci sambil nyuapin anak, nyapu sambil dandan, dll.. manusia paling sakti di muka bumi.. 🤣🤣🤣
another Aquarian
aku malah kudu nangis.. pengorbananmu le.. cah bagus.. 😭😭😭😭😭😭
another Aquarian
mulaiiiii
another Aquarian
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
another Aquarian
ini... direkam dan dikirim ke Andra kan? yang didengarkan bareng mara di RS?
another Aquarian
kan masa labil eyang uti......
another Aquarian
sukaaaaa dehhh kalau boneka ucan dibawa-bawa.. keren banget caranya melepaskan suaminya dari istri pertama n kedua, tanpa menimbulkan permusuhan, malah semua dirangkul jadi keluarga besar..
aahh, aku ralat.. yang KEREN ADALAH MADAM @Angspoer
yakin madam makannya hanya nasi dkk doank? canggih banget sumpah isi otaknya.... aku padamu madam.. @Angspoer
another Aquarian
manisnya mereka..... 🥰
another Aquarian
apakah virus seven menular???? ataukah revan yang terlalu cerdas menyerap tingkah fakboi seven??? 🤣🤣🤣🤣🤣
another Aquarian
menyala uti Nimas 🔥🔥🔥
another Aquarian
dasar Kitty bocil bawel 🤣🤣🤣
another Aquarian
kan.. jadi ikut baper 😭😭😭😭😭😭😭
another Aquarian
wihhh, camer ini mah.. bude Nimas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!