Amydia telah bertunangan dengan Heru, lelaki pujaan hatinya. mereka telah menjalin kasih sejak masih di bangku SMA, hingga keperguruan tinggi.
Tinggal sebulan lagi, mereka akan mengadakan resepsi pernikahan. Tapi, disuatu malam yang naas, Amydia menjadi korban perkosaan, seorang laki-laki karena pengaruh obat perangsang.
Heru sangat kecewa, tetapi tetap menikahi, Amydia tunangannya. Karena takut disebut lelaki pengecut.
Akankah kehidupan rumah tangga Amydia dan Heru akan berjalan indah, paska Amydia di per**sa. Akankah cinta Heru luntur? Apakah Amydia tau siapa lelaki yang telah melecehkannya?
"Sebuah harga diri" akan mencoba mengupas pergolakan batin seorang Amydia, dalam memperjuangkan harga dirinya dan masa depannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 10. Dilema.
Heru mengusap wajahnya dengan kasar saat mendengar pertanyaan, Amy istrinya. Jelas, hatinya sangat kalut saat ini. Bingung hendak berbuat apa, semua itu gara-gara sikapnya yang tidak jelas.
Disatu sisi dia sangat mencintai istrinya, karena itulah kenapa dia memutuskan menikahinya. Tetapi di satu sisi hatinya juga menolak, atas apa yang telah terjadi dengan istrinya. Dia selalu merasa telah mendapatkan, barang bekas. Sementara dia selama ini telah berusaha menjaga dan menahan diri, tapi seenaknya saja orang lain yang telah menikmati usahanya itu.
Egois memang, sebuah cara pandang yang sangat salah dalam menelisik sebuah masalah. Sekarang, Heru merasakan beban itu semakin berat saja. Kedua sisi dalam dirinya seolah saling tarik menarik karena terbentur dengan realita yang harus dia jalani.
"Jawab, bang. Sebenarnya apa yang kau inginkan. Jika abang ingin semua ini berakhir, sekaranglah saatnya. Kita berterus terang saja pada kedua orang tua kita. Daripada kita harus seperti orang asing dirumah sendiri." isak Amy tersendat.
"Maafkan abang dek," ucap Heru berusaha memeluk Amy.
"Abang egois!" tolak Amy, menjauhkan dirinya dari jangkauan Heru. Heru menarik napas panjangnya. Lagi-lagi dia merasa trenyuh setiap kali melihat Amy menangis. Tetapi itu tidak bisa mengubah fakta kalau hatinya masih mendua.
"Aku rela berpisah dari pada kita harus saling menyiksa diri. Berapa lama lagi waktu yang kamu butuhkan untuk bisa menerima keadaan diriku. Sebanyak apapun waktu yang kuberikan, itu tidak akan mengubah apa-apa, jika dalam hati kecilmu tidak pernah tulus, bang. Aku justru semakin terperosok lebih dalam, karena masa laluku itu akan terus menerorku dengan sikapmu."
"Dek, aku mohon, bersabarlah dulu."
"Masalahnya, sampai kapan, bang? Untuk apa menyia-nyiakan waktu kita."
"Aku, aku hanya mau meminta sesuatu. Aku mohon izinkan aku menikah lagi, dengan begitu kita impas," ucap Heru gamblang. Bagaikan mendengar petir di siang bolong, Amy terlonjak mendengar permintaan suaminya.
"Apa bang? Kamu minta izin padaku untuk menikah lagi, hanya karena kamu merasa aku tak pantas untukmu? Kamu gila, jahat! Kamu tidak lebih baik dari lelaki yang telah merenggut kegadisanku. Kamu beri aku pernikahan itu untuk apa, bang? Aku benci laki-laki picik seperti kamu. Yang menilai harga diri perempuan hanya dengan keperawanannya! Ceraikan saja aku atau aku yang lakukan itu." dengus Amy menghapus air matany
Dia merasa terhina dengan ucapan suaminya. Rasanya kesabaranya sudah ditapal batas. Hening yang mencekam menyungkup di kamar itu.
"Tok, tok tok," suara ketukan pinti terdengar tiga kali. Buru-buru menyeka air matanya. Amy dan Heru saling pandang.
"Heru, Amy," panggilan suara bu Meity memecah keheningan. Amy beranjak membuka pintu.
"Eh, mama?" Amy kaget ternyata mama mertuanya yang mengetuk pintu.
"Hai, Amy sayang. Kenapa, tuh wajahnya?" ucap bu Meity heran.
"Gak papa kok, ma. Efek kepanasan, berkeringat terus," kelit Amy.
"Ya, ampun. Pantasan panas, tuh jendela kok gak di buka." pindai bu Meity ke dalam kamar lewat matanya. "Yuk, turun kita makan dulu. Mama telah siapkan masakan kesukaan anak dan mantu mama," ucap bu Meity dengan senyum lebar.
"Ayo, Heru, cepetan nak."
"Heru, mandi dulu ma, gerah," teriak Heru dari dalam kamar.
"Oke, mama tunggu di bawah. Baiknya Amy juga mandi, biar seger" goda bu Meity pada menantunya. Amy, menarik napas lega, begitu mama mertuanya turun.
Amy sangat shock tadi saat melihat mama mertuanya di ambang pintu. Pikirnya mama mertuanya pasti telah mendengar perdebatannya dengan Heru.
"Ayo, makan yang banyak, Amy. Kamu itu udah nampak kurusan mama tengok. Apa Heru, pelit soal uang?" canda bu Meity saat mereka telah kumpul di meja makan.
"Eh, gak lo, ma. Bang Heru, kelewat royal malah. Amy, cuma lagi diet, ma. Iyakan, bang?" ucap Amy, minta peneguhan.
"Dari dulu juga, Amy, udah kek gitu, ma. Udah rakus makanpun tetap kurus," timpal Heru bercanda.
"Tuh, kan. Emang udah bawaan badan Amy lo, ma. Bukan karena kurang makan," kekeh Amy.
"Soalnya, mama gak ingin ada omongan orang. Setelah menikah dengan anak mama, Amy, jadi kurusan. Kayak makan ati aja. Kalau ada apa-apa, Amy jangan segan-segan ngomong sama mama."
Heru terbatuk saat mendengar ucapan mamanya. Yang seolah menyindirnya.
"Aduh, Heru, makannya hati-hati, nak." Amy spontan meraih gelasnya, dan memberi minum suaminya, sambil menepuk-nepuk punggunnya.
"Abang keselek duri, ya?" ucap Amy.
"Sepertinya, iya." sahut Heru.
"Makanya kalau saat makan, pikiran jangan kemana-mana. Fokus aja saat makan. Ini, kayak punya beban berat saja." ucap pak Fandy heran melihat sikap putranya. Seperti ada hal yang dia sembunyikan.
"Heru baik-baik saja kok, pak."
"Ya, udah. Tenang aja makannya, gak ada yang buru kok." timpal bu Meity menegur putranya yang percaya kalau Heru keselek duri.
Heru, berusaha bersikap tenang. Menyembunyikan gemuruh di hatinya oleh tatapan bapaknya yang penuh selidik.
Tiba-tiba seruan seseorang memecah suasana di meja makan. Ternyata Arya, sahabat Heru dan Amy. Arya adalah kakak kelas Amy. Sama seperti Heru. Hanya saja saat kuliah mereka berbeda Universitas.
"Eh, kak Arya," seru Amy riang saat melihat siaapp tamu yang datang.
"Hai, bro," ucap Heru bersalaman.
"Mari makan, nak Arya," tawar bu Meity.
"Wah, rejeki anak sholeh," kekeh Arya menyambut tawaran itu. Mengambil tempat duduk diantara Heru dan Amy.
"Apa khabar om dan tante?" ucap Arya sopan.
"Om dan tante, baik-baik saja, Arya." sahut pak Fandy.
"Kalo pasangan pengantin baru ni, gak usah ditanya lagi. Bikin ngiri," canda Arya memandang Heru dan Amy bergantian.
"Ih, kak Arya dari dulu gak berubah, masih aja suka bercanda."
"Tau dari mana kami pulang?" ucap Heru.
"Pakai telepati. Kalian juga pelit ngasih khabar." sahut Arya masih kental dengan tawanya.
"Sejak kapan balik sini, bukannya selama ini di Kalimantan?"
"Baru juga balik kandang, seminggu lalu. Kemarin jumpa sama tante, di pasar. Tante cerita kalian mau datang, hari ini. Makanya aku langsung mampir pulang dari kantor."
"Kak Arya udah kerja jadi pengacara, ya? Cie-cie mantaplah kak. Selamat ya," ucap Amy.
"Makasih, Amy. Kamu juga udah kerja, ya?"
" Iya, kak."
"Selamat juga untukmu ya."
"Makasih, kak."
"Kamu kenapa sih? Apa ada masalah dengan Amy?" selidik Arya tiba-tiba saat mereka minum kopi di sebuah kafe.
"Memangnya kenapa?" delik Heru heran.
"Alah, gak usah sok misterius samaku. Wajah kamu itu terlalu mudah dibaca."
"Ah, sok tau kamu. Kami baik-baik saja."
"Makin kelihatan bohongmu. Sudahlah, Her, ngaku saja. Aku bukan orang lain bagimu 'kan. Atau memang halnitu sudah berubah," tatap Arya tajam menusuk mata Heru.
"Semprul lu!" maki Heru. Semakin menandaskan kalau dia memang sedang tertekan. Arya paham betul sifat Heru. Karena mereka memang sudah berteman semasa masih bocil. ****
lanjut terus thor
Sungguh mantap sekali 🌹🌹🌹🌹🌹
Terus lah berkarya dan sehat selalu ✌️