Ketika seorang gadis yang hidupnya hanya untuk membalaskan dendam kematian keluarganya, tapi hati gadis itu ditakdirkan untuk mencintai pembunuh keluarganya. Akankah gadis itu memilih memaafkan pembunuh keluarganya atau terus pada tujuan utamanya yaitu balas dendam? Ikuti keseruannya yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
"Nih, gue tunjukin cara nyayat yang benar." ucapnya lagi lalu memegang tangan Raka dan mulai mengukir sebuah tulisan disana. Tes.. tes.. tes.. sedikit demi sedikit darah menetes berjatuhan dari luka yang Zylva buat.
'KILLER'
Sebuah kata yang dia lukiskan di lengan Raka. Anehnya cowok itu sama sekali tidak terlihat kesakitan. Meringis saja tidak.
"Nice work.." ucap Zylva sambil melihat hasil karyanya yang terpampang jelas di lengan Raka.
Di sebuah ruangan Raka sedang diobati oleh Daffi di ruang pribadi Thunder Boys. Mengapa bukan Lucy? Gadis itu entah dimana keberadaannya. Sejak turun dari rooftop Raka belum melihat kekasihnya tersebut.
"Gimana kalau bokap sama nyokap Lo tahu hal ini?" tanya Gilang.
"Harusnya Lo bisa jaga diri, cewek itu bukan cewek sembarangan." ucap Daffi sambil fokus mengobati luka Raka.
Sedangkan Raka sama sekali tidak menggubris ocehan Daffi dan Gilang. Cowok itu terus melihat bekas ukiran yang dibuat Zylva beberapa saat lalu. Killer. Apa maksudnya? Mengapa gadis itu menuliskan itu di lengannya? Pertanyaan tersebut terus berputar-putar di kepala Raka.
"Gue pernah ketemu cewek itu?" tanya Raka.
"Siapa? Zylva? Kayaknya nggak, tapi nggak tahu." jawab Gilang kurang meyakinkan.
"Kenapa emangnya?" tanya Daffi sambil melilitkan perban ke lengan sahabatnya yang terluka.
"Gue merasa familiar dengan wajahnya." tutur Raka.
Cowok itu benar-benar penasaran dengan sosok gadis bernama Zylva. Gadis berparas cantik, struktur wajah yang tegas, senyum yang manis tapi mengerikan, serta dengan tatapan setajam silet dan kalimatnya yang beracun. Bahkan Raka sama sekali tidak mencari dimana keberadaan kekasihnya karena pikirannya sudah dipenuhi rasa penasaran kepada Zylva.
*
Saat pulang sekolah, Zylva dikejutkan dengan ban motornya yang sudah ditusuk-tusuk menggunakan paku. Tangannya terkepal erat, dia tahu pasti siapa yang melakukan ini.
"Gimana? Cantik kan?" tanya Lucy dari belakang Zylva. "Makanya jangan macam-macam sama gue. Atau Lo bakal tahu akibatnya!" imbuhnya lagi.
Mendengar suara Lucy, Zylva tidak berbalik. Gadis itu mengeluarkan senyum miringnya kemudian berkata "Hm, kurang cantik. Lebih cantik kalau paku-paku itu nusuk wajah Lo." ucapnya sambil berbalik dan menyorot mata Lucy dengan tajam.
Mendapatkan tatapan yang sangat tajam dari Zylva seketika membuat nyali Lucy menciut. Gadis itu memundurkan dirinya beberapa langkah menjauhi Zylva. Keringat dingin mulai membasahi dahinya ketika melihat Zylva mengeluarkan sebuah pisau lipat dari sakunya. Perban di wajahnya saja belum dibuka, kini akan bertambah lagi?
"Kenapa mundur? Apa akibatnya macam-macam? Kemana nyali Lo tadi?" tanya Zylva sambil maju mendekati Lucy.
Setelah jarak mereka habis, Zylva mencengkeram tangan Lucy. Sepertinya yang menjadi korban kedua pisau lipat Zylva kali ini adalah Lucy. Tidak, sebelum Zylva menggoreskan pisau tersebut ke telapak tangan Lucy suara seorang cowok menghentikannya.
"Lo nyentuh dia berarti Lo siap mati!" ucap cowok itu. Kemudian memasang badan di depan Lucy menjadi tameng untuk gadis itu.
Zylva mengangkat sebelah alisnya. Kemudian melirik lengan kanan Raka yang diperban. "Cih, banci." ucapnya dengan sinis.
"Apa Lo bilang?!"
"Budek Lo? Sini gue korek kuping Lo pakai Katana." cetus Zylva.
Raka dan Lucy benar-benar dibuat mati kata oleh Zylva. Disaat-saat seperti ini, tiba-tiba handphone Zylva berdering. Ya, jelas itu dari kakaknya. Karena nada dering untuk masing-masing saudaranya dibuat berbeda.
"Hm?"
"Pulang baby girl." ucap cowok diseberang sana dengan nada bariton.
"Tapi--"
"Pulang, bilang ke mereka gue bisa beliin selusin motor yang lebih bagus dari itu buat Lo." kata Matthew.
Zylva diam sejenak. Dia bukannya sedih motornya hancur. Melainkan dia marah karena motor itu adalah hadiah ulangtahun nya dari kakaknya tahun lalu. Gadis itu sangat menghargai pemberian saudaranya. Sekalipun tidak suka pasti diterima jika itu dari saudaranya.
Karena Zylva tidak menjawab Matthew berbicara lagi. "Urusan gue belum selesai, Varrel yang jemput Lo." ucap Matthew kemudian menutup teleponnya.
Zylva menatap dua orang didepannya dengan kesal. Kemudian tersenyum miring. "Noh, bakar aja. Motor gue puluhan di rumah." ucap Zylva kemudian melenggang pergi meninggalkan mereka.
Raka terus menatap punggung Zylva yang mulai menjauh. Masih terbesit rasa penasaran dibenaknya. Tapi pandangannya dibuyarkan oleh Lucy.
"Makasih ya sayang, tangan kamu kenapa? Kenapa bisa luka begini? Dia yang ngelakuin ya!?!" tanya Lucy sok perhatian.
Daffi langsung memutar bola matanya dengan malas melihat hal itu. Sekarang saja perhatian, tadi dimana saat Raka terluka? Dia malah menghilang gak tahu kemana.
"Gapapa." jawab Raka singkat sambil mengacak pelan rambut Lucy.
Jujur saja kedua sahabatnya sudah muak dengan sikap bucin mereka berdua. Tetapi Daffi dan Gilang tidak bisa speak up karena suatu alasan.
*
Zylva menunggu Varrel di halte bus. Mulut gadis itu tidak berhenti mengomel karena kesal kepada kakaknya. Padahal tadi dia hampir saja berhasil melukai bunga bangkainya Raka. Tidak lama kemudian Varrel datang.
"Lama banget!" protes Zylva kemudian naik ke motor Varrel.
"Sorry baby." ucap Varrel kemudian segera menjalankan motornya.
*
Disisi lain tanpa disadari Lucy dan Raka melihat hal tersebut. "Cih, murahan. Kemarin yang itu sekarang ganti lagi." batin Lucy melihat Zylva dijemput cowok yang berbeda dengan yang datang ke ruang BK kemarin. Ya, memang goblok sih. Padahal kemarin jelas-jelas Zylva sudah menyebutkan jika Matthew kakaknya. Tapi kalau yang namanya goblok sudah mendarah daging yang tetap gak ngerti bahasa manusia.
"Gak usah dilihatin, lihat aku aja." kata Raka kepada Lucy.
Gadis itu langsung tersenyum menatap Raka. "Iyaa.."
"Yaudah ayo aku antar pulang."
Setelah beberapa saat berkendara. Varrel dan Zylva sampai di mansion. Disana juga ada Gibran dan Reygan. Ya, memang mereka tinggal satu atap. Katanya biar Zylva dan Matthew tidak kesepian tinggal di mansion sebesar itu hanya berdua.
"Anjg! Matthew! Kata Lo urusan Lo belum selesai?! Kenapa udah dirumah?!"
"Shitt! Kemana sopan santunmu baby girl? Pengen ketemu Lion hm?" tanya Matthew dengan tatapan kesal kepada adiknya.
"Hehe, sorry kak."
"Duduk kalian." perintah Matthew kepada adiknya dan Varrel.
Keduanya hanya menurut.
"Kenapa tadi ngehentiin gue?" tanya Zylva. Gak biasanya kakaknya itu menghentikan dirinya beraksi.
"Ada penguntit." jawab Matthew.
"Lain kali perhatikan sekitar Lo. Zyl.." ucap Reygan mengingatkan.
"Emang siapa yang nguntit?" tanya Gibran.
"Suruhan Dirga." jawab Varrel sambil memainkan pisau ditangannya.
"Dirga menyuruh orang mengawasi Lucy sejak Lo nyayat muka dia kemarin." kata Matthew memperjelas jawaban Varrel.
"Maaf, gue teledor." ucap Zylva meminta maaf.
"Lagian Lo ada-ada aja. Baru pertama masuk sekolah udah nyayat anak orang." celetuk Gibran dengan tatapan fokus ke handphone.
Zylva menatap kesal sepupunya tersebut. Kemudian terlintas sesuatu di otaknya. "Eh, bran. Lo tahu gak?"
"Apah?" sahut cowok itu dengan cepat. Emang sih sepupunya yang satu ini paling cocok kalau dijadiin partner ghibah. Udah jamet julid lagi. Komplit dah.
"Kalau Lo jadi gue, Lo mungkin udah nyayat muka dia sampai nggak berbentuk." ucap Zylva.
"Kok gitu?"
"Iyalah, asal Lo tahu ya. Muka dia tuh lebih nyebelin dari muka Abang Lo kalau marah."
"Wah! Kalau gitu wajib disayat!"
Reygan menatap tajam kearah Zylva dan adiknya yang menghibahkan dirinya didepannya langsung. "Zylvaa.." geram cowok itu dan langsung disambut tawa dari Zylva dan adiknya. Sedangkan Matthew dan Varrel hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah absurd saudara-saudaranya.
...***...
...Bersambung......
...Zylvanca Jjoxaviel Keyvara...
...Matthew Key Jjoxaviel...
...Varrel Atharaksa...
...Reygan Everard Bagaskara...
...Gibran Zico Bagaskara...
...Raka Alkairo Kavindra...
...Daffi Alfarizi...
...Gilang Aditama...
...Lucyana Erlangga...