"Akhirnya kita bertemu lagi setelah menempuh persimpangan jalan yang berbeda."
~Bintang.
"Kita mungkin akan terus bersama jika kau tidak keluar jalur. Namun, jangan pernah mengharapkan rasa ini akan utuh seperti semula sebab cintaku hanya utuh untuknya. Untuk orang yang engkau anggap sebagai Muhallil."~Mentari
Mentari seorang gadis kampung terpaksa menerima pinangan Tuan Winata untuk putranya, Bintang Andreas Winata akibat hutang keluarga yang menjerat dirinya.
Siapa yang tidak bahagia mendapatkan seorang suami yang tampan dan mapan. Bonusnya lagi Bintang adalah pria yang romantis dan penyayang. Namun, sayangnya di balik semua itu Bintang menyimpan sebuah rahasia yang tidak diketahui keluarga. Dia ternyata telah menikah dengan seorang wanita semalam sebelum menikahi mentari.
Tahu hanyalah istri kedua, Mentari menjadi bimbang. Namun, karena perjanjian dengan Tuan Winata dia tidak boleh mundur dalam pernikahan itu, sementara kasih sayang Bintang mulai berkurang untuknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imamah Nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HSC BAB 10. Kau Bukan Yang Pertama
"Hentikan!" Bintang berteriak sambil menutup telinga.
"Jelaskan pada dia Mas bahwa aku bukan pembantu di sini tetapi aku adalah istrimu," pinta Mentari.
"Aku yang istrimu kan Bintang?"
"Iya kalian berdua memang istriku."
Bagai tersambar petir hati Mentari Mendengar kenyataan ini. "Kau selingkuh Mas? Kau menikah lagi padahal kita baru beberapa bulan menikah."
"Oh jadi dia yang namanya Mentari? Hei pelakor! Bintang itu suamiku. Kau tega merebutnya dariku."
"Kau yang pelakor," teriak Mentari.
"Pelakor teriak pelakor. Kau yang telah merebutnya dariku," balas Katrina.
"Kau yang pelakor." Mentari tidak mau kalah.
"Hmm, tidak salah ya kamu mengatakan itu. Katamu kau baru beberapa bulan menikah dengan Bintang dan kau tahu aku sudah satu tahun lebih menikah dengan Bintang." Katrina berbohong dan memandang sinis ke arah Mentari.
Mentari menggeleng. "Itu tidak mungkin. Katakan bahwa itu semua tidak benar Mas. Wanita ini mengada-ada agar bisa merebut dirimu dariku, kan?"
"Maaf Mentari, sayangnya semua itu benar dan kamu memang bukan istri pertamaku."
Bagai teriris sembilu hati Mentari mendengar perkataan Bintang. Ia menganga dan langsung menutup mulutnya. Ia terlihat syok mengetahui kenyataan ini. Dia tidak menyangka kehadirannya dalam kehidupan Bintang sudah menjadi orang ketiga diantara Bintang dan Katrina.
"Bagaimana puas? Silahkan tinggalkan Bintang. Bintang tidak butuh dirimu wahai pelakor." Katrina mendorong kepala Mentari ke belakang.
Mentari tidak melawan hatinya melemah saat tahu posisi dirinya dalam kehidupan rumah tangga Bintang. Dia langsung berlari ke kamar dan mengunci pintu dari dalam. Sampai di dalam ia menangis sejadi-jadinya. Perasaan kecewa dan sakit hati mendominasi. Ini bukan hanya sakit karena dirinya telah dipoligami tetapi yang lebih menyakitkan bahwa dirinya ternyata hanyalah istri kedua.
Bagaimanapun baiknya istri kedua akan tetap buruk di mata masyarakat. Dia harus siap-siap dicap sebagai pelakor.
"Aku memang istri kedua ya Tuhan, tetapi aku bukan pelakor, hiks hiks hiks. Kalau kutahu dia beristri mana mungkin aku menerima pinangan papa Winata." Di dalam kamar yang sunyi itu Mentari meratapi nasibnya.
"Ternyata Mas Bintang bukanlah pria baik-baik. Aku harus minta cerai sebelum aku hamil." Ketika mengambil keputusan itu tiba-tiba senyum Pandu terlintas di benaknya.
"Tapi kalau aku minta cerai pasti Pandu tidak bisa bersekolah lagi."
Mentari ingat beberapa hari yang lalu saat video call-an sama Pandu anak itu terlihat ceria. Dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya ia bercerita bahwa hari-harinya menyenangkan saat mempunyai banyak teman.
Mentari merasa tidak tega jika harus membuat kebahagiaan itu lenyap seketika dari keluarganya. Dengan semua fasilitas yang diberikan oleh Tuan Winata kini hidup ibu dan adiknya di kampung terjamin. Tidak kekurangan makan lagi seperti dulu dan yang pasti, ibunya kini sudah punya rumah yang kokoh dan toko sembako. Jadi tidak harus bekerja sebagai kuli lagi dan meninggalkan Pandu sendirian di rumah. Tuan Winata pun telah membelikan Pandu kursi roda untuk adiknya pakai ke sekolah.
"Haruskah ini berakhir?" Mentari mulai ragu antara ingin menuntut cerai ataukah harus mempertahankan rumah tangganya meski dijugde sebagai pelakor.
Saat sedang dalam kegalauan justru Mentari mendengar suara Bintang dan Katrina yang memadu kasih dari kamar sebelah.
"****! Katanya tidak enak badan tetapi malah berbuat begituan."
Mentari menutup telinganya rapat-rapat. Dia benci dengan suara-suara itu. Suara Bintang yang biasanya terdengar seksi di telinganya kini berubah menjijikkan. Keinginan untuk berpisah terbersit kembali. Namun, dia langsung mengingat berkas yang ia tanda tangani di depan Tuan Winata sehari sebelum pernikahan mereka
diselenggarakan.
"Sepertinya aku harus mengumpulkan uang yang banyak dulu sebelum meminta cerai pada Mas Bintang," tekad Mentari.
Bersambung....
semangat otor sukses sll 😘