Menceritakan kisah Maya yang menikah dengan Albiru karena perjodohan, selama ini Maya sudah berjuang untuk cintanya, kala cinta itu sudah bersemi kerikil kerikil kecil kerap kali menghampiri, berbeda dengan Maya yang selalu mencoba menjadi dewasa dalam setiap menyikapi masalah tapi berbeda dengan Albiru yang memilih untuk menikah lagi demi mendapatkan selingan di luar rumah. Akankah Maya menyerah diakhir cerita karena mendapati suaminya telah membagi cinta yang seharusnya utuh hanya untuk dirinya?
Aku mencintaimu dengan penuh kesabaran, tapi kamu membalas cintaku dengan luka, Mas! [Maya]
Maafkan aku karena telah mencintai kamu dan dia, sekarang kalian sudah berada di hatiku. Aku hanya meminta kalian untuk mengerti! [Albiru]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mala Cyphierily BHae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepergok!
"Seharusnya bisa aja kan gue bilang cerai lewat hape," gumam Biru yang sedang duduk dengan jari yang mengapit rokok.
"Hahaha, udah kaya artis aja, cerai lewat pesan!" kata Biru seraya menertawakan itu.
"Aku harus bicara baik-baik, walau bagaimanapun kami sudah memulainya dan harus mengakhiri dengan cara yang baik agar tidak ada yang sakit hati," ucap Biru dalam hati, lelaki itu kembali menghisap rokoknya, tanpa sadar Biru sudah menghabiskan banyak rokok dan sedikit minuman selama dirinya berada di kamar.
Tidak lama kemudian, ponsel Biru bergetar, Biru mendapatkan pesan dari Hafizah yang mengatakan dapat izin pulang cepat dengan alasan ayahnya kembali sakit.
Setelah itu, Biru menyambar jasnya yang berada di sofa dan keluar dari kamar hotel untuk menjemput Hafizah di rumahnya.
Sementara itu Hafizah sedang merencanakan sesuatu agar dirinya bisa masuk lebih dalam lagi di kehidupan Biru.
Ya, sekarang Hafizah sedang mengemasi barang miliknya yang akan dibawa ke hotel, Hafizah membuat seolah Biru menjemputnya untuk ikut bersamanya.
"Ayah, nanti Afi akan sesering mungkin jenguk ayah, ayah jaga kesehatan!" pesan Hafizah seraya menutup tas gendongnya, Hafizah tidak membawa banyak barang miliknya karena Hafizah akan berbelanja membeli baju yang menurutnya sesuai dan cocok untuk dipakainya di hadapan Biru.
Hafizah juga memberikan sebagian uang pemberian Biru untuk Bambang.
"Dari mana kamu mendapatkan ini, nak?"
"Itu pemberian dari menantu ayah dan sekarang Mas Albiru sedang dalam perjalanan ke sini," jawab Hafizah, gadis itu tersenyum, seolah bahagia, padahal hatinya penuh rencana agar tidak lepas dari Biru karena Hafizah sudah mulai merasakan ada rasa tertarik pada dewa penyelamatnya itu.
Hafizah dan Bambang menunggu di ruang tamu dan karena Biru tidak kunjung datang membuat Hafizah sedikit cemas.
"Duh, kok lama ya, aku takut Mas Biru enggak jadi datang," kata Hafizah dalam hati.
Tidak lama kemudian ponsel Hafizah bergetar, Hafizah segera membaca pesan yang ternyata dari Biru.
"Aku menunggu di depan gang!" kata Biru.
"Bisa kah kamu datang ke rumah?" balas Hafizah.
"Tidak!" balas singkat dari Biru membuat Hafizah bingung harus mengatakan apa pada Bambang.
Lalu Hafizah mencari alasan, apapun itu alasannya.
"Ayah, ban mobil Mas Biru pecah dan dia mengirim lokasi bengkel, Mas Biru minta Afi yang untuk datang, Mas Biru bilang maaf tidak bisa menjemput," kata Hafizah dibuat memelas dan sebisa mungkin agar ayahnya itu tidak kecewa.
"Ya sudah, temuilah, kalau itu perintah suamimu, turuti!" ucap Bambang dan segera Hafizah keluar dari rumah, tidak lupa mencium punggung tangan Bambang.
Hafizah berjalan cepat. Namun, di gang sempit itu, ia bertemu preman kampung yang tergila-gila padanya,
"Afi, mau kemana lo?" tanyanya seraya menghalangi jalan Hafizah.
"Pergi ya Jali sebelum aku teriak!"
"Oooo, sekarang udah berani ya, katanya lo udah nikah? Mana suami lo?"
"Bukan urusan kamu!"
Plak! Jali menampar Hafizah dan mencengkram mulut Hafizah yang selalu menolaknya.
"Cih!" Hafizah meludahi wajah Jali membuat Jali menjadi semakin emosi.
Jali mendorong wajah Hafizah lalu Jali mengepalkan tangannya bersiap untuk meninju Hafizah.
Dan Jali merasakan kalau tangannya tertahan dari belakang.
Ya, Biru yang menahan itu.
"Siapa lo! Lepasin dan jangan ikut campur!"
"Lo udah berani ganggu Hafizah, lo harusnya tau gue udah nungguin dia dari tadi!" ucap Biru seraya memutar lengan Jali membuat pria kerempeng itu kesakitan.
Biru juga meninju perut Jali hingga pria itu terduduk, Kemudian Biru meraih lengan Hafizah, membawanya ikut bersamanya dan Kembali Biru menjadi pahlawan bagi Hafizah membuat gadis itu merasa kalau Tuhan mengirim Biru sebagai dewa penolongnya.
"Terimakasih," ucap Hafizah setelah duduk dan memasang sabuk pengaman, sedangkan Biru merasa heran dengan Hafizah yang membawa tas.
"Kamu mau kemana?"
"Aku minta izin untuk menginap beberapa hari di hotel," pinta Hafizah.
"Hah? Kenapa? Apa ada yang mengganggumu lagi?"
"iya, itu adalah pikiranku yang selalu terus memikirkanmu!"
"Hah! Jangan tergila-gila padaku! Aku takut kamu patah hati!"
"Kenyataannya aku sudah memiliki hati untukmu, Mas!" jawab Hafizah seraya menatap Biru yang sedang menyalakan mesin mobilnya.
"Gue emang tampan," puji Albiru dalam hati.
Sedangkan Biru tidak menjawab pernyataan Hafizah tentang perasaannya.
"Hafizah, aku-" ucap Biru terpotong karena Hafizah sudah dengan beraninya mencium Biru lebih dulu.
Biru terdiam menikmati apa yang Hafizah lakukan dan karena Biru tidak membalas membuat Hafizah segera melepaskan itu.
"Maaf!" lirih Hafizah, gadis itu merasa malu sehingga pipinya bersemu merah.
"Astaga, Baru kali ini nemu perempuan yang mulai duluan, bahkan Maya yang udah lama jadi bini gue aja masih malu-malu!" batin Biru yang merasakan debaran di jantungnya.
Dan keduanya masih terdiam di dalam mobil itu, lalu Biru tersadar dan segera melajukan mobil itu.
Di perjalanan Biru kembali merasakan kebimbangan di hatinya untuk melepaskan Hafizah.
Tidak lama kemudian Biru memarkirkan mobilnya itu di area parkir dan Biru yang bingung itu membawa Hafizah ke kamar, melenceng dari niat awalnya yang ingin menemui Hafizah untuk memberitahu kalau semuanya sudah berakhir, Karena Hafizah berhasil membuat Biru berdebar, Biru mengurungkan niatnya.
Biru mengajak Hafizah masuk ke lift, tanpa Biru sadari Maya dan Ayana melihatnya.
Maya terdiam, berdiri mematung melihat suaminya berada di hotel bersama dengan teman barunya.
Pikiran Maya seolah flashback ke pertanyaan Hafizah kemarin.
"Maya!" lirih Ayana seraya menggoyangkan lengan Maya.
Maya pun segera mengikuti Biru dan Hafizah sebelum kehilangan jejak, Ayana mengikuti Hafizah dan mencoba menenangkan. Namun Maya tetap diam, Maya ingin memastikan apa yang sedang suaminya lakukan di hotel bersama dengan seorang perempuan.
Maya mencari tetapi kehilangan jejak.
"Nggak bisa aku cek semua kamar satu-satu!" ucap Maya pada dirinya sendiri, wanita cantik itu mulai panik, memikirkan apa yang akan suaminya lakukan di dalam kamar bersama Hafizah.
Maya pergi ke resepsionis, menanyakan apakah ada nama Albiru yang menyewa kamar di hotel ini.
"Maaf, Kak. Tidak bisa, itu privasi," jawab mbak resepsionis.
Lalu Maya memaksa.
"Katakan saja ada di kamar mana! Dia suami ku, ada di sini bersama dengan seorang wanita, saya harus tau itu!"
"Tapi, sebaiknya kakak hubungi saja suami kakak, kami tidak boleh melanggar aturan," jawab wanita tersebut yang tidak mempercayai ucapan Maya.
"Mbak, saya minta tolong, seandainya posisi mbak ada di posisi saya gimana?" tanya Maya, wanita itu sudah menitikkan air matanya.
Akhirnya, mau tidak mau resepsionis itu mencari nama Albiru dan memberitahu berada di kamar nomor 116.
Maya berlari dan Ayana selalu mengikuti Maya. Sekarang Maya yang tersengal itu sudah berdiri di depan kamar 116.
"Aku harus gimana, Ay?" tanya Maya pada Ayana.
"Tenang, Maya, tenang!"
"Aku tidak bisa tenang, kalaupun benar iya itu adalah Biru, aku harus melihat dengan jelas, tepat berada di depan mataku, agar aku tidak menolak kebenarannya lagi!"
Lalu Maya melihat seorang pria berjas hitam berjalan mendekat kearahnya.
"Permisi, ada apa ini?" tanya pria itu dan Maya melihat dari tag name pria itu kalau dia adalah salah satu manajer di hotel tersebut.
"Pak, di dalam. ada suami saya! Saya mau minta tolong sama bapak, tolong bukakan pintu kamar ini," pinta Maya memohon.
"Tapi itu urusan pribadi, kalau ternyata anda salah orang kami akan merasa tidak enak pada tamu, lebih baik nona hubungi suami nona untuk memastikan lebih dulu!"
"Telpon, May!" perintah Ayana dan Maya pun segera mengambil ponselnya di tas tangan miliknya.
Dengan bergetar Maya mencoba untuk menghubungi Biru.
"Kalau aku bilang ada di sini, dia pasti enggak bakalan mau keluar!" batin Maya.
****
Sementara itu di dalam kamar, Biru belum sempat mengatakan apapun pada Hafizah, pria berusia 28 tahun itu ingin menenangkan pikirannya lebih dulu.
Dan belum sempat Biru mengatakan apapun, ia merasakan kalau ponselnya bergetar.
"Halo, May?" tanya Biru seraya menaruh jari telunjuknya di bibir, memberi isyarat untuk Hafizah diam.
Dan Biru dibuat bingung oleh Maya, wanita itu tidak mengatakan apapun hanya isak tangisnya yang terdengar membuat Biru panik.
"Aku ada di rumah sakit, aku kecelakaan!"
Deg! Biru tersentak mendengar itu, Biru takut akan terjadi hal buruk pada istrinya.
Biru segera meraih jasnya dan keluar dari kamar meninggalkan Hafizah yang menatap kepergiannya.
Namun, betapa terkejutnya Biru saat membuka pintu dan sudah ada Maya di depannya.
Bersambung.
Jangan lupa untuk tinggalkan dukungannya di karya ini, terimakasih bagi yang sudah membaca^^