Kalila gadis yang terlahir cantik dan lugu. Ia memutuskan untuk mengubah dan tidak memikirkan penampilan lagi sejak ia mengalami patah hati pada saat SMP. Kisah cinta pertama yang membawa dampak keterpurukan dalam hidupnya.
Suatu hari Kalila bertemu dengan seorang pria yang merupakan guru baru di sekolahnya. Ia tidak menyangka luka lama yang dipendamnya kembali bangkit hingga menyisakan rasa sakit.
Mungkinkah Kalila mampu kembali melewati hari-harinya seperti dulu? Ataukah rasa sakit itu akan terus membelenggu hidupnya?
Follow IG Author yuk
@Septriani_wulan15
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septriani wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Mengambil Hati
Bab 10 Mengambil Hati
“Bagaimana kamu sekarang masih sakit pinggangnya?” tanya Sarah saat keduanya masih dalam perjalanan.
“Sedikit lagi, nanti juga sembuh kalau diurut,” jawab Akbar yang pikirannya masih memikirkan hubungan Kalila dan Danes sebenarnya.
Selama perjalanan Kalila terus saja memainkan ponselnya. Dia hanya akan mengangguk saat Danes mengajaknya berbicara. Untuk Danes ini hal biasa, dia sering kali tidak di anggap keberadaannya oleh Kalila, tapi itu tidak mwmbuat Danes menyerah. Dia tetap mendekati Kalila terlebih keluarganya.
Sampai di rumah, Danes memasukkan mobilnya ke dalam pekarangan rumah Kalila. Gadis cantik itu langsung turun dari mobil, tanpa mengucapkan kalimat sedikitpun dan langsung masuk ke dalam rumah mengikuti langkah Kalila. Danes memang sering mengantarkan Kalila sampai dirinya sangat dekat dengan kekuarga Kalila termasuk kedua orangtuanya.
“Hai, Mi!” sapa Kalila pada sang ibu dan langsung masuk ke dalam rumah.
Kama yang melihat adik perempuannya datang langsung keluar rumah, karena dia tahu kalau Danes pasti akan mampir terlebih daluhu. Benar saja apa yang dipikirkan oleh Kama, Danes sudah berdiri di depan pintu sambil melemparkan senyuman padanya.
“Hai Bro! Ayo masuk!” sapa Kama dan keduanya pun masuk ke dalam.
“Mami, apa kabar?” sapa Danes saat memasuki ruang keluarga. Ana yang melihat Danes terlihat sangat senang dan menyuruhnya duduk bergabung dengannya. Tidak lupa Ana menyuruh asisten rumahnya untuk mempersiapkan minum dan cemilan untuk Danes.
“Kamu kemana saja? Sudah hampir dua bulan tidak pernah main ke sini? Bagaimana kuliah kamu, Nak?" pertanyaan Ana yang membuat Danes binggung menjawab mana yang terlebih dahulu.
“Kabar aku baik, Tante. Iya Tan, aku sibuk dengan ujian sampai-sampai aku ambil cuti di sekolah. Baru hari ini aku lowong makanya bisa jemput Kalila.”
Mereka pun lanjut mengobrol, terlebih Kama yang banyak menanyakan hal-hal apa saja yang dipersiapkan untuk masuk ke dalam jurusan kedokteran. Ya ... Kama sudah lama ingin sekali masuk ke fakultas kedokteran, keinginan sang anak pun sangat di dukung oleh Alaric juga Ana.
Tidak terasa hari semakin sore, mereka terus saja berbincang-bincang, tanpa ada Kalila di sana. Dan hal ini bukan hanya terjadi hari ini saja, tapi sejak awal Danes main ke rumahnya. Karena hari sudah hampir larut, akhirnya Danes pamit untuk pulang.
“Maafkan Kalila ya, Nak! Dia kalau pulang sekolah pasti akan langsung masuk ke kamar dan tidak akan kwliar setelah makan malam tiba.
“Tidak masalah, Tan! Aku sudah sangat biasa dengannya.” Mendengar itu semua orang tertawa. Danes pun pamit pada Ana sambil menciumi punggung tangan Ana.
Dalam hati Ana sangat menyayangkan dengan sikap anaknya terhadap Danes. Menurut Ana, Danes adalah lelaki yang tepat untuk Kalila. Selama ini, tidak ada satupun teman lelaki Kalila, kecuali Danes yang berani datang ke rumah. Karena memang Kalila tidak pernah menjalin hubungan sampai dia berusia 18 tahun. Untuk mengambil hati keluarga, Danes terbilang sangat berhasil.
Seperti biasa sebelum pulang ke rumah Akbar akan mengantarkan Sarah sampai di rumahnya.
“Akbar, kamu enggak mampir dulu?” tanya Sarah yang mulai memanggilnya nama, karena sudah berada di luar lingkungan sekolah.
“Sepertinya tidak. Aku habis ini mau diurut, seluruh badanku nampak sangat sakit.” Sarah hanya mengangguk dan melambaikam tangan saat Akbar mulai menyalakan kembali motornya.
Sampai di rumah, Akbar memakirkan motornya dan turun perlahan atas motor. Sambil memeganggi pinggangnya, perlahan Akbar masuk ke dalam rumah. Sang ibu yang melihat Akbar berpakaiam aneh langsung menghampirinya.
“Nak, ada apa”?” tanya sang ibu. Akbar pun menceritakan semua yang dia alami di sekolah. Mendengar itu dengan cepat sang ibu memanggil orang yang biasa membenarkan urat saraf.
Selesai badannya diurut, Akbar merasa sakit di bagian pinggang mengurang. Selagi sang anak menggunakan pakaiannya, Desi menyiapkan makan malam untuk kedua anaknya. Setelah semuanya beres, Akbar menghampiri adik dan sang ibu yang sudah menunggu dia di meja makan. Keluarga kecil itu pun menikmati makanan yang tersedia.
“Mas, kapan kamu akan mengenalkan ibu dengan calonmu? Ingat umurmu sudah tidak muda lagi dan lagi Ibu semakin tua. Ibu ingin sekali melihat kamu menikah. Sekarang jangan banyak memilih wanita sesuai yang kita mau, asal dia baik dan tidak banyak menuntut sudah lebih dari cukup.” Akbar tahu siapa yang dimaksud oleh ibunya, karena sejak dahulu ibunya sangat ingin dia menikahi Sarah.
“Iya Bu, Ibu tenang saja. Kalau sudah jodoh pasti akan bersama. Akbar sekarang masih fokus menata karir buat masa depan Aisyah dan juga tabungan untuk rumah tangga Mas. Jadi, Ibu jangan khawatir ya! Pasti Mas akan mengenalkan calon Mas sama Ibu suatu saat nanti.” Desi mengganguk tersenyum.
~Bersambung~
Tidak terasa sudah hari Senin lagi nih...
buat kalian yang dapat tiket VOTE, jangan lupa Vote novel ini ya!
TERIMAKASIH ALL 🥰🥰
AKU PADAMU 😘😘😘