NovelToon NovelToon
SEPERTI QA'IS DAN LAILA

SEPERTI QA'IS DAN LAILA

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Patahhati / Perjodohan / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:94k
Nilai: 5
Nama Author: sita Azzaky

Mereka sudah pernah memulai meskipun tanpa cinta, bahkan hubungan itu sudah berakhir dengan meninggalkan cinta yang baru datang karena sesal. Setelah yang terkasih pergi. Lalu apa jadinya, jika yang kita pikir telah pergi, dia kembali?

Cerita masa lalu itu tersuguh kembali di depannya. Seolah di sadarkan apa yang dia lakukan dua puluh lima tahun lalu adalah suatu dosa.

Bukan lagi tentang kisahnya. Namun, kisah ini seolah mengulik konflik pelik yang belum pernah menjadi titik. Mejabar memoar rasa yang hampir memudar. Menguji diri yang berdiri di balik jeruji janji. Resah dalam kungkungan dosa berbalut rasa.

Masih cerita tentang cinta yang penuh kemelut, karena tak tersambut. Rasa yang tersesat, karena terlambat memahami sebuah hakekat dalam diri yang terjerat. Berharap ada setitik asa dalam kisah yang bisa dirasa.

Meneruskan kisah Alvina. Kisah ini tentang anak-anak dari para tokoh di Alvina.

Tidak update tiap hari. Semoga layak di nikmati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sita Azzaky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

•> BAB 9 <•

Namanya Syeila Maria. Nama itu Bu Indah yang memberikan. Bu Indah membawa pulang ke Panti, karena iba melihat kondisi gadis bisu itu yang hampir dilecehkan oleh para preman jalanan. Awalnya Bu Indah berpikir untuk mengantarkan gadis yang pada saat itu masih berusia lima belas tahun ke kantor polisi, tapi mengingat saat berbuat kebaikan, luruskan jangan dihempaskan sebelum dituntaskan. Bu Indah mengurungkan niatnya.

Memiliki paras cantik dan senyum menarik serta bulu mata yang lentik membuat Syeila selalu menjadi sorotan pria hidung belang di jalanan. Namun, suntikan keberanian yang diberikan Bu Indah, membuatnya kuat menghadapi dunia yang pernah kejam padanya. Dengan senyum ketulusan.

Mendengar semua cerita itu dari mulut Vita, Kemal semakin penasaran ingin mengenal pemilik panah sang Cupid yang terjepit dan terhimpit dalam hati.

"Dia pulang jam berapa Bunda?" tanya Kemal sambil melirik jam tangannya.

"Bentar lagi dia pulang kok. Habis antar sekolah anak-anak, dia ambil jatah kue di rumah Mbak Mika. Pulang bentar, terus jemput anak-anak."

Kemal terdiam. Dia membayangkan bagaimana reaksi Syeila saat melihatnya lagi. Pasti bakalan marah dan tidak mau menemuinya.

'Tok tok'

Terdengar suara pintu diketuk dua kali.

"Itu dia sudah datang!" seru Vita. Seolah ketukan pintu itu menjadi kode kedatangan Syeila. Spontan Kemal langsung beranjak dari duduknya.

Syeila datang dengan menenteng dua kantong plastik besar berisi roti dan biskuit.

"Sini biar aku bantu!" Dengan sigap Kemal berniat membantunya. Namun, wajah ayu yang tertutup sebagian rambut ikal mayang yang dibiarkan terurai itu malah melotot dan menggeleng ketakutan. Sambil menggenggam erat kantong plastik besar itu.

"Maafkan aku soal kejadian tadi malam. Becanda ku kelewatan." ucap Kemal penuh sesal. Kemal meyakinkan Syeila dengan melipat kedua tangannya dan menunduk dalam.

Syeila menggenggam kedua telapak tangan Kemal, menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Lalu dia bicara dengan isyarat tangannya yang tak Kemal mengerti.

"Dia bilang, dia sudah memaafkanmu, tapi sikap kamu sedikit membuatnya takut." Vita mengartikan isyarat gerakan tangan Syeila.

"Bunda paham dengan yang berusaha dia katakan?" tanya Kemal. Dia berbicara untuk Vita, tapi sorot matanya tetap ke gadis dengan wajah mirip Michelle Ziudith.

"Setelah Bu Indah meninggal, Bunda yang menjaga panti ini, Le. Awalnya juga nggak paham, lama-lama Bunda mulai paham meski sedikit."

Senyum selalu Syeila sunggingkan. Sungguh manis wajah gadis bisu itu. Kemal tak bisa memalingkan tatapannya. Jika selama ini dia sesumbar tak ada kaum hawa yang bisa memikatnya, tapi tidak dengan gadis bisu ini. Kemal tidak hanya terpikat, tapi juga bertekuk lutut.

Kemal mengikuti langkah gadis bisu itu meletakkan dua kantong plastik besar ke belakang.

"Bisa kita ngobrol sebentar?" tanya Kemal. Hanya anggukan Syeila yang Kemal mengerti. Selanjutnya, gerakan tangan Syeila tak bisa Kemal baca. Kemal malah gemas melihat mimik wajah Syeila yang seolah ikut bicara. Rasanya Kemal ingin hujani dengan ciuman bertubi-tubi wajah ayu itu.

'Astaga, maafkan piktor ku ....' batin Kemal.

Tubuh Kemal semakin bergetar ketika tanpa dia sangka Syeila menarik pergelangan tangannya ke arah parkiran. Syeila berikan kunci mini bus ke tangan Kemal, lalu berbicara dengan gerakan tangannya.

"Kamu mau ajak aku kemana?" tanya Kemal. Dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang diisyaratkan gadis bisu itu dengan gerakan tangannya.

Sekali lagi Syeila menggerakkan tangan dan mimik wajahnya.

"Jemput anak-anak?" tebak Kemal. Wajah Syeila berbinar, petikan jarinya mengisyaratkan Kemal berhasil menebak apa yang dia sampaikan.

Betapa gembiranya Kemal bisa menghabiskan waktu dengan gadis yang semalam membuatnya tak bisa terlelap. Syeila menuliskan sesuatu di notebook yang dia ambil dari dashboard. Lalu menunjukkannya pada Kemal.

"Sesuai perintah anda Nyonya Kemal Abdullah ...." seru Kemal sambil melirik sekilas melihat perubahan mimik wajah Syeila.

Syeila hanya menautkan kedua alisnya, tak ada penolakan malah senyuman yang dia lemparkan. Mungkin karena keterbatasannya yang tidak bisa bicara, Syeila hanya tersenyum menanggapi seruan Kemal.

*****

'Drrrrrtttt ... drrrttt'

Getar di ponsel Alvina. Dia sudahi tilawahnya sebagai penyempurna ibadah di sepertiga malam. Bergegas dia ke arah nakas, siapa yang menelponnya jam segini?

"Assalamualaikum ...."

"Halo Mami! Mami tolong Kemal Mi .... BiQi tiba-tiba mengalami komplikasi. Dari kemarin siang, nggak sadarkan diri." Suara Kemal terbata-bata. Kecemasan terdengar dari suara Kemal.

Alvina masih terdiam. BiQi? Dia sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan pria yang sampai saat ini menjadikannya candu.

"Kata Malik, jika satu jam lagi BiQi nggak sadar, ucapkan selamat tinggal sama BiQi. Mami, Kemal belum mau kehilangan BiQi, Mami belum mau menerima Kemal. Kalo BiQi pergi, Kemal sama siapa Mi ...." isak Kemal.

"Sayang, kamu menangis?" Alvina mulai ikut cemas. Mendengar tangis putranya, hati Alvina teriris.

"Bi ... Bi, BiQi kenapa? Mi, nanti Kemal telpon lagi!" Sambungan terputus.

Alvina terdiam. Apa benar ini akhir dari pria yang pernah dia cintai? Apa benar cinta itu sudah tidak ada? Nyatanya, rasa itu masih ada meskipun tak lagi sama seperti dulu.

Bergegas Alvina melepas mukenahnya dan melemparnya ke atas kasur. Dia raih kunci mobilnya lalu bergegas ke Rumah Sakit. Dia injak gas dengan kecepatan tinggi, Surabaya jam dua dini hari. Sepi, semua orang masih terbuai mimpi. Sedang Alvina, mulai terbangun dari buaian mimpi delapan belas tahunnya.

Rasa itu datang lagi. Debaran jantungnya mulai takut kehilangan sosok yang pernah sangat dia cintai. Tak sebanyak dulu, tapi rasa itu hadir lagi. Dan Alvina tak ingin menyesal lagi dengan rasa ditinggal pergi.

Setelah memarkirkan mobilnya, setengah berlari Alvina memasuki rumah sakit.

"Maaf Nyonya, ini bukan jam besuk." Seorang perawat menghadang dan melarangnya masuk. Perawat itu menatap Alvina aneh.

"Tuan Baehaqqi Abdullah!" seru Alvina tegas. "Di kamar mana Tuan Baehaqqi Abdullah di rawat?" Alvina menekankan nama Bae pada perawat itu.

Siapa yang tak kenal Baehaqqi Abdullah? Pengusaha ternama di Indonesia. Apalagi setelah putranya mendapatkan gelar pembalap termuda. Semakin melejit nama keduanya. Banyak dari kalangan remaja dan janda muda yang menggandrungi dua pria berwajah tampan itu.

"Mami nya Kemal ...." Seseorang memanggilnya dari arah koridor. Alvina berlari ke arah suara yang memanggilnya.

"Malik, Bae dirawat di sini."

Malik, adik dari Mala, putra kedua dari Kakak ipar Alvina. Dokter Arifin, dokter yang merawat Kak Dhina selama dua tahun. Dari Dokter Arifin lah Alvina mengenal Mas Rizal.

"Iya Mam, Malik yang menanganinya." Malik melepas jas putihnya dan memakaikannya ke Alvina. Alvina terkesiap. Dia baru sadar, saking terburu-burunya dia sampai lupa mengganti daster yang dia pakai. Sandalnya pun masih sandal rumah.

"Astaghfirullah, aku ...."

"Nggak papa Mam, temui Om Bae dan Kemal dulu. Malik carikan baju ganti buat Mam."

"Apa keadaannya parah banget ya, Le?" tanya Alvina cemas. Dia tidak hanya mencemaskan Bae, tapi kondisinya sekarang juga tak ingin dilihat orang lain.

Raflesia kamar no 3. Malik membukakan pintu untuk mempersilahkan Alvina masuk. "Masuklah Mam, temui Om Bae dan Kemal di dalam. Malik cuma bilang, persiapkan hati Mami buat menghadapi semuanya."

"Mami ... Mami nggak papa kan?" Kemal kaget dengan penampilan Alvina. Alvina cuma menggelengkan kepalanya.

"Gimana keadaannya?" tanya Alvina lalu duduk di samping brankar di mana Bae tergeletak lemas.

"Kata Malik, hanya menunggu waktu."

Alvina menundukkan kepalanya. Bahunya terguncang, dia menangis.

"Mami nangis? Mami ...."

"Kamu nangis Dear?" Tubuh yang tadi tergolek lemas mendadak bangun. Alvina tercekat lalu mengangkat kepalanya. Dia lihat Bae terduduk di depannya.

"Yaelah Bi, cuma segitu doang aktingnya?" seru Kemal.

"Apa? Kalian semua sekongkol mempermainkanku?" Alvina bangun dari duduknya. Wajahnya memerah karena perasaannya yang bercampur aduk.

"BiQi Mi, Kemal cuma nurut perintah BiQi." seru Kemal.

"Kabuuuuurrrr" Kemal berlari keluar pintu.

"Kamu ...." Alvina tak sanggup berkata-kata.

"Maafkan aku Dear ... Kalo nggak gini, kamu nggak bakalan mau lagi menemuiku." Bae menarik lengan atas Alvina, menahannya yang hendak pergi.

"Lepaskan tanganku! Guyonanmu nggak lucu! Ucapan adalah doa!"

"Aku beneran sakit, Dear." Bae melipat kakinya lalu menaikkan tubuh Alvina duduk di hadapannya.

"Jaga sikapmu Bae!" Hanya itu yang keluar dari mulut Alvina, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Bae menggenggam erat pergelangan tangannya.

"Psychosensory hysteria teliosis syndrome, penyakit yang bisa menyebabkan kematian jika tidak diobati secepatnya."

"Iyakah?" Alvina mulai melunak. Bae mengangguk.

"Apa kamu masih mau membantuku untuk sembuh?" tanya Bae. Alvina terdiam. Lama dan akhirnya mengangguk. "Beneran Dear? Serius kamu mau?"

Sekali lagi Alvina mengangguk dengan wajah cemasnya.

"Maafin aku Bae ...."

"Nggak perlu minta maaf! Hanya perlu ke penghulu biar kamu bisa membantuku sembuh dari penyakit itu."

"Penghulu? Nggak perlu!"

"Bagaimana kamu bisa membantuku, jika tubuhmu masih tak patut buat kusentuh? Bagaimana tubuhmu bisa mengobati candu yang menggebu dan mengadu dalam diriku? Aku yakin rasa itu masih ada buatku, mari kita rangkai jadikan satu." Bisik Bae di telinga Alvina.

"Otakmu mulai nggak waras! Fokus dengan sakitmu dulu, kamu mau aku jadi janda untuk kedua kalinya?" Bae tergelak. Alvina heran.

"Psychosensory hysteria teliosis syndrome adalah nama ilmiah rindu." kelakar Bae. Dia tertawa lepas.

'Ceples'

Alvina memukul keras bahu Bae. Lalu turun dari brankar. Merasa dipermainkan Bae, Alvina pergi dari tempat itu. Namun, langkahnya terhenti tepat di depan pintu.

"Menikahlah denganku!"

1
𝕸𝖆'𝕶' 𝖈𝖚𝖙𝖊
😘
Qiana
Waaaahhh maaf tak berkunjung 🙏
Rini Antika
kirain mau bilang nama Rini Antika pemenangnya..🤭, Salken ya kak, aku mampir nanti bacanya nyicil, smg berkenan mampir jg ke karya saya yg msh pemula..🙏
Mega
Aku mampir di ending, kikikikik.

Miss U Mbak.
Mega: Siap Akak
total 2 replies
Author yang kece dong
aku mampir kaka
🇰  ͨ🅰︎ͦ🇮 ᷛ🇸ͣ 🅰︎ᷡ🇷💕
next 😎
🅕🅘
Berkah juga untuk, Kakak💚
Akhir yang manis 😍
🇰  ͨ🅰︎ͦ🇮 ᷛ🇸ͣ 🅰︎ᷡ🇷💕
upp 🤭🤭 up ka
🇰  ͨ🅰︎ͦ🇮 ᷛ🇸ͣ 🅰︎ᷡ🇷💕
up up ka
🇰  ͨ🅰︎ͦ🇮 ᷛ🇸ͣ 🅰︎ᷡ🇷💕
up🤭
🇰  ͨ🅰︎ͦ🇮 ᷛ🇸ͣ 🅰︎ᷡ🇷💕
up😎
🇰  ͨ🅰︎ͦ🇮 ᷛ🇸ͣ 🅰︎ᷡ🇷💕
uppppppp
🇰  ͨ🅰︎ͦ🇮 ᷛ🇸ͣ 🅰︎ᷡ🇷💕
upppppp
🇰  ͨ🅰︎ͦ🇮 ᷛ🇸ͣ 🅰︎ᷡ🇷💕
uppppp
🇰  ͨ🅰︎ͦ🇮 ᷛ🇸ͣ 🅰︎ᷡ🇷💕
uppp
🇰  ͨ🅰︎ͦ🇮 ᷛ🇸ͣ 🅰︎ᷡ🇷💕
upp
🇰  ͨ🅰︎ͦ🇮 ᷛ🇸ͣ 🅰︎ᷡ🇷💕
up
🇰  ͨ🅰︎ͦ🇮 ᷛ🇸ͣ 🅰︎ᷡ🇷💕
upppp Thor 👍🏻😎🤸‍♂️🤭
🇰  ͨ🅰︎ͦ🇮 ᷛ🇸ͣ 🅰︎ᷡ🇷💕
up
🇰  ͨ🅰︎ͦ🇮 ᷛ🇸ͣ 🅰︎ᷡ🇷💕
nexttttttttttt 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!