Sejatinya anak adalah Mutiara di dalam sebuah pernikahan. namun tidak demikian dengan Tiara yang justru dianggap pembawa sial oleh wanita yang sudah melahirkannya.
Ia disalahkan sebagai penyebab hancurnya impian sang ibu, yang jelas jelas bukan salahnya.
Bu Nani belum bisa berdamai dengan keadaan dan melampiaskan kekecewaannya kepada Tiara.
Yuk baca kisah Tiara selengkapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dara Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9
Tiara terbangun mendapati dirinya berada di sebuah ruangan yang tak lain adalah kamarnya sendiri.
Ia memandang ke sekelilingnya tidak ada siapa siapa.
Kepalanya terasa sakit, ia memegang kepalanya yang bengkak.
"Agh" Tiara meringis kesakitan
Tiara melangkah ke luar,
Di lihatnya pak yasir sedang menonton acara televisi di ruang depan bersama chaca & chika.
Mereka tidak menyadari kehadiran tiara.
Bu nani berkutik di dapur menggantikan pekerjaannya nampak tidak ikhlas.
Ia juga tidak menyadarinya.
Tiara kembali ke kamarnya melanjutkan istirahatnya.
"Kak" Panggil chika seraya melangkah ke dalam kamar tiara
"Iya"
"Kakak kenapa tadi bisa pingsan? "
Tiara menceritakan apa yang baru saja ia alami.
"Makanya kak hati-hati"
"Iya, ini salah kakak terburu-buru sehingga tidak memperhatikan jalannya licin"
"Untung tadi ada bu yuni yang nolongin kakak kalo gak, gak tau deh gimana nasibnya kakak"
"Oh, kakak harus mengucapkan terima kasih besok. Btw bu yuni ngapain ada di sumur ya? "
"Kurang tau sih" Chika menaikkan bahunya.
"Mungkin dia sedang memetik daun singkong" Tambahnya menerka-nerka.
"Bisa jadi sih, kan di dekat sumur banyak tanaman singkong"
Bu Yuni adalah tetangga mereka yang rumahnya bersebelahan.
"Chika.... " Teriak bu nani dari dapur
Chika segera melangkah ke dapur menghampiri ibunya yang ternyata minta tolong membelikannya garam.
Tiba saatnya makan malam...
Keluarga pak yasir berkumpul menikmati hidangan seadanya.
Bening katuk, tahu balado & ikan asin goreng.
"Enak ya makan tinggal makan
Udah di siapin semua, gak perlu repot karena ada pembantu yang mengerjakan semua"
Bu nani menyindir tiara membuat tiara merasa tidak enak hati.
"Udah bu jangan mulai"
Pak yasir memperingatkan
Bu nani mendengus kesal mendengar ucapan suaminya yang tak berpihak padanya.
Pukul 06:00 WIB tiara berangkat ke sekolah, ia berjalan menuju jalan raya yang berjarak kurang lebih 100 meter dari rumahnya meninggalkan ibunya yang tengah mengoceh seperti biasa.
Bu Nani selalu emosi terhadap Tiara
Entah apa yang merasukinya. Setiap hari ia selalu memarahi Tiara apapun yang di lakukannya selalu salah di matanya.
Bu Yuni melihat Tiara belum jauh dari pekarangan rumahnya.
"Nak Tiara, bagaimana keadaanya?"
"Tiara baik baik saja bu" Tiara menghentikan langkahnya melihat ke arah bu yuni lalu tersenyum.
"Terima kasih bu sudah nolongin tiara kemarin"Tambahnya
"Iya, Kamu sebaiknya di urut takutnya nanti ada yang cedera"
"Iya bu"
Di saat yang bersamaan bu Nani muncul dengan wajah masamnya untuk menjemur pakaian.
"Tiara berangkat dulu bu, takutnya ketinggalan angkudes"
"Iya hati-hati"
"Bu Nani, Tiara sebaiknya di bawa ke tukang urut, takutnya nanti ada yang cedera"
Bu Nani tidak menanggapi ucapan bu Yuni, ia sibuk menjemur pakaiannya.
"Saya tau tukang urut terbaik di kampung ini, banyak orang yang udah sembuh di urut sama nek sumi termasuk saya sendiri waktu kaki saya terkilir.
nanti saya panggilkan kalau mau" Tambahnya.
"Gak usah, Tiara gak apa apa . Dia anak yang kuat"
"Ya allah bu... Tiara itu habis terjatuh kemarin.
Masa ibu gak kasihan"
"Itu salah dia sendiri kenapa gak hati-hati" Ketus bu nani
"Tapi...
" Saya tau apa yang harus saya lakukan untuk anak saya! "
Bu Nani berlalu masuk ke dalam rumah.
Bu Yuni hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap bu nani.
"Astagfirullah.... Kok ada ya ibu yang gak peduli sama anaknya" Batin bu Yuni.
✨💎💎✨💎💎✨
💎💎💎💎💎💎💎
💎💎💎💎💎💎💎
✨💎💎💎💎💎✨
✨✨💎💎💎✨✨
✨✨✨💎✨✨✨