Menjalani kehidupan yang cukup sulit akibat terlilit hutang-hutang ayahnya membuat Diva terkadang ingin merasakan bagaimana enaknya menjadi orang kaya. Namun siapa sangka, suatu kejadian yang menimpanya membuat jiwa Diva terjebak dalam raga orang lain, sehingga gadis itu menyadari bahwa tidak semua orang yang terlahir kaya bisa menikmati hidupnya. Semua manusia pasti tercipta dengan sifat dan ujian yang berbeda-beda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9.
Bukan hanya pada saat sarapan pagi tadi, bahkan saat makan malam bersama pun, mommy merasa sikap menantunya tidak seperti biasanya. Calista yang begitu memfavoritkan cumi dalam bentuk olahan menu apapun, malam ini justru nampak mual ketika mommy menyendokkan cumi saus pedas ke dalam piringnya.
Mommy mengeryitkan dahi. Namun sesaat kemudian, mommy justru berpikir ke arah lain.
"Apa jangan-jangan kamu sedang hamil, sayang." Tebak mommy. Hanya ada satu kemungkinan jika Calista tiba-tiba tidak doyan pada makanan kesukaannya, yakni karena mengandung.
"Uhuk...uhuk...uhuk..." Elio sampai tersedak hingga batuk-batuk mendengarnya. Mana mungkin istrinya bisa hamil sedangkan mereka sudah setahun tidak pernah melakukan hubungan suami-istri. Pria itu langsung menyambar gelas air minum miliknya dan meneguknya hingga tersisa setengahnya. Sedangkan Diva sudah nampak pucat karena merasa salah lagi dalam bersikap, tak sesuai dengan kebiasaan Calista.
Diva jadi salah tingkah, bagaimana ia bisa lupa mencari tahu makanan apa saja yang di sukai dan tidak di sukai oleh Calista. Kalau sudah begini, ia sendiri yang pusing untuk mencari alasan. Namun begitu, ada sedikit kekhawatiran di hati Diva, jangan-jangan Calista memang beneran hamil. Ya, bisa jadi sebelumnya wanita itu sengaja menjebak suaminya agar kembali tidur bersama dengannya hingga akhirnya mengandung.
"Maaf sayang.... bukannya mommy ingin menyinggung perasaan kamu! Mommy hanya sekedar menebak saja, soalnya kamu tiba-tiba tidak doyan bahkan mual saat melihat makanan kesukaan kamu."
"Tidak mungkin Calista hamil, mom." Elio akhirnya angkat bicara.
"Bukankah selama ini kita sama-sama tahu bahwa Calista tidak pernah mau mengkonsumsi pil penunda kehamilan, lalu mengapa kamu bisa begitu yakin kalau istrimu tidak hamil, hm?."
Elio terdiam, tidak mungkin mengaku pada ibunya bahwa selama setahun terakhir ia dan Calista tak lagi tidur sekamar. Begitu pula dengan Diva, wanita itu tak tahu harus berkata apa hingga pada akhirnya memilih diam membisu.
"Sebaiknya hubungi Edo sekarang! Mommy ingin dia memeriksa kondisi Calista, barangkali saja dugaan mommy benar. Calista sedang hamil." Kalau sudah mommy yang berkata demikian, siapapun pasti tidak akan berani membantah termasuk sang suami dan juga putranya, Elio.
Elhan justru terlihat menikmati makan malamnya. Bukannya tidak tertarik dengan pembahasan orang dewasa terkhusus tentang kehamilan mommy-nya, namun sebelumnya Elio telah berpesan pada bocah itu untuk diam saja dan tak boleh terlalu banyak menimpali obrolan orang dewasa, makanya Elhan hanya diam saja. Bukan hanya itu saja, Elio bahkan telah berpesan pada putranya itu agar tidak menyampaikan pada Omanya bahwa faktanya selama setahun terakhir kedua orang tuanya tidur di kamar yang berbeda.
*
Edo mendapat panggilan telepon dari Elio.
"Ada apa? Jangan bilang kau memintaku datang ke kediaman Dirgantara malam-malam begini." Edo hanya menebak dengan asal, namun siapa sangka tebakannya justru tidak meleset.
"Datanglah segera!."
"Kamu beneran memintaku datang ke rumahmu malam-malam begini, Elio?."
Bukannya menjawab, Elio malah memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
"Ck.... untungnya dia sahabat baikku, kalau tidak, aku pasti sudah menjitak kepalanya." Gumam Edo saking kesalnya Elio telah mengganggu waktu istirahatnya.
*
Di kediaman Dirgantara, di sinilah Edo berada sekarang ini. Pria itu hanya bisa menghela napas panjang setelah mendengar cerita mommy-nya Elio tentang kejadian di meja makan tadi.
"Aku ini dokter spesialis jantung, bukan dokter spesialis kandungan. Kalau memang curiga istrimu sedang hamil, mengapa tidak langsung memeriksakannya pada dokter kandungan sih." Lirih Edo pada Elio. Pria itu sedikit sebal pada sahabatnya itu. "Lagipula, bukankah katamu sudah hampir setahun kalian tidak tidur sekamar, lalu bagaimana mungkin istrimu bisa hamil?." Edo mengeryitkan dahi saking bingungnya.
"Ini perintah mommy. Lakukan saja tugasmu, jangan banyak tanya!." Balas Elio.
"Baiklah."
Edo lantas mendekat ke tempat tidur di mana saat ini Diva sedang berbaring telentang, mengarahkan stetoskop ke bagian tubuh wanita itu.
"Apa yang kau lakukan?." Bukan hanya melontarkan kata-kata yang mampu membuat Edo menautkan kedua alisnya, Elio bahkan mencekal lengan kanan Edo yang hendak mengarahkan stetoskop ke permukaan perut istrinya.
"Bukannya tadi anda sendiri yang meminta saya datang untuk memeriksa kondisi istri anda, lalu mengapa masih saja bertanya, tuan Elio Dirgantara." Kalau sudah berbicara dengan bahasa formal seperti ini, bisa dipastikan Edo sudah sangat gemas dan hampir kehabisan kesabaran menghadapi sahabatnya itu.
"Aku memang memintamu memeriksa kondisinya, tapi bukan untuk menyentuhnya."
"What?." Bola mata Edo langsung membulat dengan sempurna."Jika aku tidak melakukannya, lalu bagaimana aku bisa mengetahui kondisi istrimu, Elio." Edo hampir tak kuasa lagi menahan rasa kesal didada. Lagipula, sebelumnya Elio tidak pernah bersikap posesif seperti ini. Dulu, pria itu bahkan meminta Edo memeriksa kondisi istrinya di saat ia sedang tidak ada di rumah sehingga Edo hanya ditemani oleh pelayan. Lagipula, saat ini Edo hanya sekedar ingin menempelkan stetoskop ke permukaan perut Calista, tapi Elio sudah bereaksi seolah-olah sahabatnya itu akan mele-cehkan istrinya.
Diva jadi pusing sendiri dengan tingkah dua pria dewasa dihadapan itu, sehingga merasa perlu untuk angkat bicara.
"Untuk memastikan dugaan mommy, bagaimana kalau aku melakukan test kehamilan melalui pemeriksaan tespek saja, dokter."
"Demi mencegah pertumpahan dar-ah, sepertinya itu adalah keputusan yang paling tepat." Jawab Edo.
"Ck..." Elio berdecak lidah, sadar Edo sedang menyindirnya.
Di saat kebanyakan suami berharap hasilnya akan positif ketika istrinya melakukan test kehamilan, Elio justru berharap hasilnya negatif. Karena, jika sampai hasilnya positif tentunya akan menjadi pertanyaan besar, mengingat selama setahun terakhir ia hanya bersolo karier sambil membayangkan wajah cantik istrinya. Semua itu rela dilakukan oleh Elio agar Calista dapat merubah sikapnya menjadi lebih baik, terutama mengurangi sikap posesifnya.
"Bagaimana hasilnya, sayang?." Melihat Diva keluar dari kamar mandi, mommy langsung menghampiri. Mommy memeluk tubuh menantunya saat melihat hasil tespek yang menunjukkan satu garis merah.
"Jangan sedih, sayang!."
"Iya, mom."
Tanpa sepengetahuan mommy, Diva justru lega karena kenyataannya di dalam rahim Calista tidak sedang bertumbuh benih suaminya.
Malam semakin larut, Edo telah berpamitan dan mommy serta Daddy telah kembali ke kamarnya untuk beristirahat, sehingga kini hanya tinggal Elio dan Diva di kamar mereka.
"Benar kata mommy, Elhan sudah lima tahun dan sudah sepantasnya memiliki seorang adik."
Diva langsung terbelalak mendengar ucapan Elio. Siapa sangka pria itu kepikiran dengan ucapan mommy-nya sebelum berlalu dari kamar mereka tadi.
"Aku sedang datang bulan, mas." Kata Diva ketika menyadari pergerakan Elio mendekat padanya.
Elio mengulum senyum mendengarnya.
"Kenapa wajahmu panik begitu? Aku hanya ingin mengambil bantal dan selimut. Malam ini biar aku yang tidur di sofa."
Diva jadi malu dengan pemikirannya sendiri.
"Apa yang kau pikirkan Diva.... pikiranmu konyol sekali...." Batin Diva merutuki pemikirannya sendiri.
Diva pun naik ke tempat tidur dan mengistirahatkan tubuhnya yang cukup lelah setelah seharian beraktivitas. Bukannya langsung memejamkan mata, wanita itu justru kembali memikirkan rencananya yang ingin kembali ke kampung halamannya diam-diam, tanpa sepengetahuan Elio.
Real ya pelakor banyak gak sadar diri dan gak tau posisi...🤣🤣🤣🤣