NovelToon NovelToon
Janji Cerai Di Malam Pertama

Janji Cerai Di Malam Pertama

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Single Mom / Tamat
Popularitas:18.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

"Satu tahun lagi kita cerai. Hati aku cuma buat Rosa"
Di malam pertama, Fitri dibuang demi wanita lain. Ia pergi membawa luka... dan rahasia besar di rahimnya. Tiga tahun kemudian, pernikahan Adam hancur oleh pilihan hatinya sendiri. Saat penyesalan datang, ia justru bertemu kembali dengan Fitri yang kini menjadi 'Dokter Cantik' sukses bersama seorang anak yang sangat mirip dengannya.
"Fitri... anak siapa yang kamu pangku itu?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31. kesadaran

Golongan darah O Rhesus Negatif adalah jenis darah yang sangat langka di Indonesia. Menunggu pasokan dari luar selama berjam-jam sama saja dengan membiarkan nyawa Aiden melayang di balik krisis organ.

Pintu ruang tindakan terdorong pelan dari luar. Adam melangkah masuk dengan tubuh gemetar dan wajah kusam yang dipenuhi keringat dingin. Pria itu mendengar seluruh pembicaraan medis tersebut dari balik celah pintu.

"Ambil darahku..." bisik Adam dengan suara serak yang bergetar hebat.

Fitri dan Dokter Danu seketika memutar badan menatap Adam.

"Pak Adam, kondisi fisik Anda baru saja membaik dari serangan jantung," peringat Dokter Danu tegas, melangkah mendekati Adam. "Mengambil kantong darah dalam kondisi fungsi jantung dan tekanan darah Anda yang belum stabil sangat berisiko memicu serangan susulan!"

"Aku tidak peduli!" bentak Adam nekat, air mata penyesalan dan ketakutan meledak membasahi pipinya yang tirus. "Golongan darahku O Rhesus Negatif! Aiden mewarisi Rhesus langka ini dariku! Biar seluruh darah di tubuhku diambil asal anakku selamat!"

Adam melangkah mendekati ranjang tempat Aiden terbaring lemah, menatap wajah polos sang putra dengan pendar kasih sayang yang teramat dalam dan tulus. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Adam merasakan panggilan jiwa seorang ayah yang sesungguhnya, sebuah kesiapan untuk menyerahkan nyawa demi keselamatan sang anak.

Fitri menatap Adam dengan pendar rasa haru yang tak terlukiskan. Segala luka masa lalu seolah melebur melihat ketulusan dan pengorbanan mantan suaminya yang rela mempertaruhkan nyawa demi Aiden.

"Pak Adam... ini sangat berbahaya untuk keselamatan Anda sendiri," ujar Fitri dengan suara bergetar menahan tangis.

Adam menyunggingkan senyuman tipis yang sangat lega, menatap Fitri dengan pendar mata yang telah benar-benar ikhlas. "Dulu aku membuang kalian saat kalian paling membutuhkanku, Fitri. Biarkan darah ini menjadi satu-satunya peninggalan berharga yang bisa aku berikan untuk menebus dosaku padamu dan Aiden."

Dokter Danu menatap Adam dengan rasa hormat yang teramat tinggi. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Danu segera memerintahkan petugas laboratorium untuk menyiapkan jarum transfusi langsung line-to-line.

Adam berbaring di atas ranjang donor yang diletakkan tepat di samping ranjang medis Aiden. Saat jarum medis yang tebal menusuk pembuluh darah di lengannya, Adam tidak meringis sedikit pun. Ia menatap selang transparan yang mulai terisi oleh cairan merah pekat miliknya, mengalir perlahan memasuki pembuluh darah mungil di tangan Aiden.

Di tengah denyut jantungnya yang mulai terasa agak melemah dan kepala yang terasa makin berat, Adam tersenyum tenang. Pria itu menyadari bahwa di balik darah yang mengalir ini, ikatan penyesalannya telah tuntas, membayar seluruh utang jiwa yang pernah ia tinggalkan di masa lalu.

Adam tersenyum tulus, senyuman pertama tanpa beban yang terpancar dari wajahnya setelah bertahun-tahun tenggelam dalam kehancuran dan rasa bersalah. "Terima kasih, Fitri. Dan Dokter Danu... tolong jaga Fitri dan Aiden baik-baik. Kebahagiaan mereka sekarang ada di tangan Dokter."

"Pasti, Pak Adam," jawab Danu mantap, menggenggam erat jemari Fitri. "Aiden sudah saya anggap seperti anak saya sendiri, dan Fitri adalah wanita yang akan saya lindungi seumur hidup saya."

Adam mengangguk pasrah. Tak ada lagi rasa perih atau sesak di dadanya. Saat Fitri, Danu, dan Aiden melangkah keluar dari ruang VIP, Adam menatap punggung mereka dengan tatapan ikhlas. Pintu kayu tertutup pelan, menandai babak akhir dari kisah penyesalannya.

Tiga bulan berlalu...

Suara deru angin laut yang sepoi-sepoi membelai keheningan sebuah bengkel kayu kecil di pinggiran Pangandaran. Adam berdiri mengenakan kaus oblong kusam yang ternoda cat, mengampelas permukaan meja kayu buatan tangannya. Tubuhnya kini jauh lebih berisi dan sehat, walau bekas luka operasi jantung di dadanya tetap menjadi pengingat abadi atas kesempatan kedua yang diberikan Tuhan.

Setelah keluar dari rumah sakit, Adam memutuskan meninggalkan Bandung. Ia menjual sisa barang-barangnya dan memulai hidup baru dari nol sebagai pengrajin furnitur kayu sederhana di pesisir. Tidak ada lagi impian semu tentang harta kekayaan atau kemewahan. Hanya ada kedamaian sederhana dan kerja keras yang halal.

Setiap malam sebelum tidur, Adam selalu membuka lemari kecilnya, menatap sebuah foto mungil Aiden yang sempat diambilnya diam-diam saat di rumah sakit dulu. Foto itu menjadi azimat pelipur lara, pemacu semangatnya untuk terus melangkah tanpa tapi.

Tiba-tiba, suara langkah kaki di atas pasir pantai mendekati pintu bengkel kayunya.

"Permisi..." sapa sebuah suara bariton yang sangat dikenalinya.

Adam menghentikan amplasnya, menoleh terkejut. Di ambang pintu bengkelnya, berdiri Yudi bersama seorang pria berjas rapi yang membawa sebuah map cokelat tebal.

"Yudi?" seru Adam tak percaya. "Lu... tahu dari mana gue di sini?"

Yudi tersenyum lebar, melangkah masuk dan menepuk bahu Adam erat. "Paman lu di kampung halaman yang kasih tahu, Dam. Lu main menghilang gitu aja tanpa pamit."

Pria berjas rapi di samping Yudi membungkuk hormat. "Selamat siang, Pak Adam. Saya pengacara keluarga besar almarhum kakek Anda."

Dahi Adam mengerut bingung. "Pengacara? Kakek?"

Pengacara itu membuka map cokelatnya, menyodorkan selembar dokumen resmi yang dipenuhi stempel hukum. "Betul, Pak. Setelah pihak kepolisian menuntaskan kasus penipuan dan penggelapan dana yang dilakukan oleh Sdri. Rosa, aset-aset warisan keluarga Anda yang sempat dipindahtangankan secara ilegal berhasil disita dan dipulihkan sepenuhnya oleh negara."

Adam terpaku. Napasnya tertahan.

"Rumah lama Anda, dua hektar lahan perkebunan di Sumedang, dan sisa tabungan utama Anda di bank telah resmi dikembalikan atas nama Anda," lanjut sang pengacara tegas. "Anda kini sah memegang kembali hak atas seluruh harta tersebut."

Rasa dingin mendadak menjalar ke ujung-ujung jari Adam. Takdir seolah memutar roda kehidupan dengan begitu drastis. Harta, rumah, dan status sosial yang dulu pernah ia dewakan hingga membuatnya tega mencampakkan Fitri dan Aiden kini kembali jatuh tepat di pangkuannya saat ia sudah tak lagi mengharapkannya.

Yudi menatap Adam dengan mata berkaca-kaca. "Dam... lu gak miskin lagi. Lu bisa kembali jadi pengusaha kayak dulu!"

Namun, tak ada lompatan kegirangan dari Adam. Tatapannya menatap kosong dokumen di tangannya. Senyum tipis yang getir mengulas di bibirnya.

"Gue... gak butuh harta ini lagi, Yud," bisik Adam serak.

Yudi tersentak. "Maksud lu apa, Dam?!"

Adam menarik napas panjang, menatap hamparan laut biru di luar bengkelnya. Matanya memancarkan kedewasaan jiwa yang teramat dalam.

"Harta ini yang dulu bikin gue buta, sombong, dan tega membuang anak-istri gue," kata Adam pelan namun sarat ketegasan. "Kalau harta ini kembali cuma buat gue nikmati sendiri, buat apa? Gue gak akan pernah bisa menyatukan kembali keluarga gue yang udah hancur."

Adam menatap pengacara tersebut dengan tatapan mantap. "Pak Pengacara, tolong proses surat pemindahtanganan aset."

"Dipindahkan atas nama siapa, Pak Adam?" tanya pengacara itu heran.

"Tujuh puluh persen dari seluruh aset dan tabungan itu, balikkan sepenuhnya atas nama Aiden atas bentuk dana wali pendidikan sampai dia dewasa kelak. Dan sisanya..." Adam menghela napas lega, "...hibahkan atas nama yayasan panti asuhan tempat Fitri dulu membesarkan Aiden."

1
sunaryati jarum
Terimakasih Tamat dengan damai
Ambo Nai
kok gereja bukan si Fitri itu muslim
falea sezi
klo danu bego ya cerai aja katanya dokter
falea sezi
jangan sampai balik🤣 najis dpet bekas Rosa cihh
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
sunaryati jarum
zTerbalik ya Thoor bab,tapi tidak masalah
sunaryati jarum
Good job Adam,kamu betul- betul sadar dan memperbaiki diri semoga Aiden ingat dan hormat , serta menyayangi kamu
sunaryati jarum
Adam yang menyelamatkan Aiden
Dokkan Battle
papa kontolmu
Dokkan Battle
GAMPANG AMAT ANYING...
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍
sunaryati jarum
Sungguh mulia hati dr Danu dan Fitria, Fitria yang disakiti begitu dalam masih punya rasa kemanusiaan
sunaryati jarum
Masa langsung koit Adam,kan belum ketemu lagi sama Rosa, wanita yang sangat dicintainya sampai mengabaikan amanah ibunya.
sunaryati jarum
Rasain Adam,kau kan sudah diberi kenikmatan selangkah Rosa jadi nikmati 😂😂
sunaryati jarum
Makin tidak tahu malu, Adam.Lihat dulu kelakuan kamu gimana pada Fitri, Adam,? Sekarang kau mengemis padanya.Segera resmikan kalian dr Danu dan dr Fitri agar dr Danu punya hak dan kewajiban melindungi kamu dan Aiden dengan penuh.Sepertinya Adam mulai tidak waras, kalian harus waspada, jangan sampai Adam berbuat nekat.
sunaryati jarum
Tidak sadar diri Adam,itu hanya akan menggali kuburan kamu sendiri.Kamu lihat dari jauh saja.Apa yang kau rasakan itu dulu juga dirasakan oleh Fitri.Ingat saat kamu selalu memberikan perhatian pada Rosa.Bagaimana kabar Rosa,ya.
Jika Adam berharap pada Fitri ,itu berarti Adam sudah putus urat malunya.
sunaryati jarum
Tidak akan menang, sampai uangmu habis Adam.Selembar tes DNA yang kau gunakan sebagai senjata tidak akan mempan.Anak di bawah umur akan ada di bawah hak asuhnya apalagi riwayat Aiden dari kandungan sampai dua tahun ini tidak ada andil dari kamu, apalagi pekerjaan kami yang tidak akan mungkin bisa merawat Aiden.Sadar diri Adam!!
sunaryati jarum
Silahkan tes DNA toh tidak merubah apapun, seharusnya kamu terima kenyataan itu akibat kesombongan dan pengabaian,serta pengkhianatan kamu pada Fitri dan mendiang ibumu
sunaryati jarum
Adam tingkahmu menunjukkan rasa tidak bersalah, malah merasa jadi korban,lebih dewasa' dari dr Fitri tapi malah labil dan plin-plan
sunaryati jarum
Sekali , Fitri kamu jangan mau diajak balikan / rujuk sama Adam.Dia ingat kamu karena ekspektasinya pada Roda tidak sesuai harapan.Jika dia bahagia sama tidak akan ingat kamu.Kamu wanita berharga bukan barang,jika mau dipakai dicari sudah tidak dipakai dibuang.Emak suka cerita ini,tapi jika kamu rujuk sama Adam,emak berhenti mengikuti kisahmu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!