NovelToon NovelToon
The Path To Godhood

The Path To Godhood

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Dikelilingi wanita cantik / Fantasi
Popularitas:398
Nilai: 5
Nama Author: Made Budiarsa

Xuan Han terbangun di dalam gua sembari mengingat kalimat tentang cinta. Ia hanya tahu namanya, tidak ada yang lain, kecuali kalimat itu.
Berbekal rasa penasaran tentang identitasnya ia mulai menelusuri hutan, bertemu para kultivator, hewan-hewan buas dan berbagi hal unik di dunia itu.
Perlahan-lahan ingatannya kembali pulih dan pada saat ia tahu jika kebenarannya menyakitkan, akankah ia mau menerimanya?

Ikuti perjalanannya yang memegangkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menghilang menggunakan jimat

Ketika itu Wang Hao mengayunkan pedangnya. Begitu juga dengan Li Yin. Ledakan kembali terjadi. Xiao Meimei berteriak, Nona Xie hanya tersenyum, dan Xuan Han di semak-semak memegang erat apa pun yang dapat dipegangnya.

Celah kembali muncul dan lebih besar. Di sana Li Yin memuntahkan darah lagi dan luka sayatan memenuhi tubuhnya. Pakaian kuningnya compang-camping.

Wang Hao hanya menatapnya dingin. Xuan Han bertanya-tanya apa harus menolongnya. Xiao Meimei berusaha melepaskan diri, tetapi tidak bisa. Nona Xie menghela napas. “Berhentilah melawan, kau juga akan bertemu dengannya nanti di neraka.”

Ia kemudian tidak memedulikan umpatan gadis.

Wang Hao lalu mengangkat pedangnya lagi. Perlahan-lahan cahaya kuning melesat kembali. “Nona Li, ini sudah berakhir. Lihatlah baik-baik.”

Energi kuning yang melesat semakin kuat dan lebih kuat. Xuan Han menarik busurnya, membidik Wang Hao. Akan tetapi, Wang Hao berkata, “Sampah di sana. Jangan melakukan hal bodoh. Pergilah dari sini.”

Ia sedikit melirik. Xuan Han menurunkan busurnya. Wang Hao ternyata menyadari keberadaannya. Ia hanya diam dan tidak tahu harus melakukan apa.

Sementara itu, Li Yin muntah darah lagi. Menatap darah di tangannya lalu mendongak menatap Wang Hao beberapa saat.

Xiao Meimei meraung marah dan berusaha melepaskan diri. Ia bahkan membuat pedang-pedang yang menancap bergetar. Nona Xie melambaikan tangannya dan beberapa selendang muncul lalu mengikatnya, bahkan menutupi mulutnya agar tidak banyak bicara lagi.

Wang Hao perlahan-lahan menurunkan pedangnya. Cahaya kuning pun perlahan-lahan turun.

...----------------...

Li Yin memejamkan matanya. Tubuhnya terasa perih dan pakaiannya robek-robek. Darah merah keluar dari tubuhnya. Ia tidak menyangka ini sudah berakhir dan seperti ini. Ia ingat tentang sektenya. Ketika ia dengan pakaian putih diam di depan gerbang sekte. Membungkuk beberapa kali lalu mencoba memasuki ujian masuk. Lalu akhirnya setelah beberapa hari keluar dengan wajah menunduk, kedua tangan terlihat lemas. Menoleh sebentar ke arah gerbang, menggeleng, lalu akhirnya berjalan menjauh.

Tidak lama, sebuah pedang mendesing melesat dan seorang wanita anggun bergaun kuning berdiri di atasnya. Li Yin kecil ternganga, menatapnya penuh kekaguman. Ia membungkuk memberi hormat. Lalu kembali menunduk dan berjalan menjauh. Wanita itu menghentikannya. Li Yin berhenti, berbalik.

“Kamu diterima.”

Ada angin yang berembus, dan memang sejak awal angin selalu berembus. Li Yin mematung. Tidak ada ekspresi di wajahnya.

“Kembalilah. Ajaran akan segera dimulai.”

Ada embusan angin yang menerbangkan aroma wangi wanita itu, dan dalam sekejap pedangnya mendesing dan ia telah pergi. Li Yin membungkuk memberi hormat.

Ia akhirnya kembali dan mulai melatih tubuh fisiknya menuruni puncak setiap hari dan tubuhnya selalu dipenuhi keringat. Ketika pagi-pagi sekali, ada ekspresi tegas saat menatap ratusan anak tangga yang melesat ke puncak. Dengan wajah tegasnya, ia menaiki anak tangga, mengertakkan giginya dan terus melangkah. Gravitasi di sana sangat kuat seiring ia melangkah. Lalu tidak lama, banyak murid luar yang ikut bersamanya.

Beberapa hari kemudian, ia melihat seorang gadis rambut pendek yang memperhatikan anak tangga dengan ekspresi penasaran. Ia tidak kunjung melangkah. Li Yin berpapasan dengannya dan melangkah ke atas sembari mengertakkan giginya.

Pada siang hari, ia beristirahat di atas puncak. Itu adalah pertama kalinya ia bisa melihat hamparan hutan dan rumah-rumah penduduk. Karena tubuhnya dipenuhi keringat, angin yang lewat terasa menyegarkan. Lalu setelahnya turun dan berpapasan dengan gadis itu lagi yang terlihat kelelahan dengan kaki bergetar.

Li Yin tidak memedulikannya, terus turun lalu pergi beristirahat.

Beberapa bulan itu berlangsung dan akhirnya tubuhnya terasa jauh lebih kuat. Tekanan gravitasi terasa tidak terlalu membebani. Li Yin merasa jauh lebih lega. Ia beberapa kali melihat gadis itu melangkah. Kadang-kadang terjatuh, sering bergumam menyemangati dirinya, kadang-kadang hanya duduk. Li Yin terus fokus melangkah.

Pada siang harinya, ia tiba di puncak dan betapa menyenangkannya menikmati pemandangan di atas sana, diam sebentar. Hingga keringatnya mengering, barulah ia turun dengan perlahan-lahan. Di tengah jalan, ia melihat gadis itu yang berusaha melangkah dan melangkah.

Suatu hari, ia melihat gadis itu diam di sana. Lalu ketika berpapasan dengannya, gadis itu berkata, “Senior, Anda sangat rajin.”

Itu pertama kali ia mendengar suaranya yang kecil dan jernih. Li Yin hanya mengangguk. Besoknya ia melihat lagi dan gadis itu menyapa.

“Apa kamu mau ikut denganku mendaki puncak?”

Gadis itu mengangguk, lalu akhirnya melangkah. Akan tetapi, setiap langkah, gadis itu mengernyitkan dahinya, bahkan kedua kakinya bergetar. Li Yin mengingat saat ia pertama atau beberapa kali mendaki puncak. Mulai saat itu, mereka sering mendaki bersama. Li Yin bahkan melindunginya dari beberapa murid nakal.

Dan ketika ia mengetahui namanya, ia sedikit terkejut. “Xiao Meimei?”

Gadis itu mengangguk. “Ibuku bilang, orang-orang suka memanggilku seperti itu, jadi panggil saja dengan nama itu. Pasti rasanya agak aneh, bukan?”

Li Yin mengangguk.

Beberapa bulan dan musim berlalu. Li Yin ingat tentang akhirnya ia berhasil mencapai ranah spiritual dan bagaimana tubuhnya terasa jauh lebih ringan, kulitnya tampak lebih cerah, dan juga wajahnya semakin cantik. Ia berteman dengan Xiao Meimei dan sering bersama. Mereka makan, berlatih, dan bahkan beberapa kali melakukan perjalanan keluar. Tapi setelah menerobos tahap kedua, akhirnya ia menemukan peta dan menunjukkannya pada Xiao Meimei. Gadis itu dengan bersemangat setuju. Pada akhirnya mereka meminta izin pada gurunya dan karena perjalanannya jauh, ada dua murid tambahan yang ikut bersama mereka.

Namun sayangnya di tengah lautan, mereka bertemu beberapa murid Istana Langit dan bertarung. Wang Hao berkhianat, membunuh satu rekannya. Xiao Meimei dan Li Yin akhirnya berhasil meloloskan diri. Sayang sekali, mereka akhirnya bertemu lagi dan sebelumnya karena Wang Hao telah menyerap kultivasi murid yang satunya lagi, ia jauh lebih kuat. Sekarang melihat ayunan pedang Wang Hao, Li Yin bertanya-tanya apakah ia akan selamat?

...----------------...

Pedang diayunkan dan angin kencang berembus. Itu semakin dekat dan dekat ke arah Li Yin. Xiao Meimei berteriak. Xuan Han tetap diam di dalam semak-semak. Ia berpikir apakah harus meloloskan diri agar hidupnya bisa selamat? Mustahil baginya untuk bertarung dengan Wang Hao dan Nona Xie. Meskipun ia ingin mengetahui tentang Istana Langit, nyawanya jauh lebih penting. Karena itu, ia menyimpan kembali busurnya dan perlahan-lahan berbalik, ingin pergi.

Namun tiba-tiba suara raungan yang besar bergema. Telinga Xuan Han terasa sakit dan tanpa sadar memegangnya. Sementara itu, dari ayunan pedang, cahaya kuning yang melesat berhamburan seperti butiran pasir yang tertiup angin. Itu terjadi dalam sekejap saja.

Li Yin dan Xiao Meimei terkejut. Wang Hao mendongak, bertanya apa yang terjadi. Sementara Nona Xie akhirnya melihat tujuh cahaya warna-warni yang menyatu di langit disertai tekanan energi yang kuat. “Naga...? Apa itu naga?”

Mendengarnya, Xiao Meimei ikut memandangnya.

Cahaya yang indah seperti pelangi itu bergumpal panjang. Perlahan-lahan seekor naga besar panjang berwarna kuning dengan dua kakinya terbentuk. Mulutnya yang besar terbuka, lalu meraung. Ketika itu Xiao Meimei dan Li Yin memuntahkan darah, tidak terkecuali Xuan Han; ia merasa dadanya ditekan dan terpaksa bersujud karena takut dan ditekan, juga.

Wang Hao diam sebentar. Tersenyum. “Nona Li, sepertinya naga ini sangat cocok denganmu...”

Segera, di tangannya muncul busur. Menariknya, muncul tiga anak panah.

Ketika melihatnya, kedua pupil mata Li Yin sedikit terbuka.

Wang Hao tidak memedulikannya. Membidik naga itu lalu melepaskannya. Tiga anak panah melesat.

Di langit, anak panah itu langsung menjadi satu anak panah besar kira-kira 10 meter.

Merasakan ada bahaya, naga itu segera menoleh. Ia melihat anak panah yang datang. Segera itu meledak menjadi bunga api.

Naga itu tidak terluka, tapi matanya merah. Ia segera meraung dan melesat mendekat.

Xiao Meimei mengumpat lagi.

Wang Hao tersenyum. “Sudah selesai. Nona Li, jika kamu selamat, kita akan bertemu lagi.”

Ia mengeluarkan jimat, memecahkannya dan tubuhnya segera menghilang. Nona Xie sedikit tersenyum. Tidak berkata-kata, akhirnya ia juga menghilang menggunakan jimat.

1
Pena Quality
saling support
Budiarsa: Terima kasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!