NovelToon NovelToon
Suami Miskin Yang Ternyata Seorang Miliader

Suami Miskin Yang Ternyata Seorang Miliader

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: M Goeston

Menyamar sebagai pria miskin demi mencari cinta yang tulus, Andra menemukan seorang istri luar biasa yang tetap setia menemaninya dalam kesusahan. Di balik hidupnya yang pas-pasan, tak ada yang tahu bahwa ia sebenarnya adalah seorang miliarder dan CEO raksasa. Ketika rahasia besar itu mulai terkuak, bagaimana kelanjutan kisah cinta mereka saat dunia tahu siapa suami miskin ini sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Goeston, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai Korporasi

Suasana di depan warung kecil itu mendadak membeku dalam hitungan detik.

Warga sekitar yang mengintip dari balik jendela rumah mereka menahan napas rapat-rapat.

Mereka tidak percaya dengan apa yang baru saja disaksikan oleh mata kepala mereka sendiri.

Seorang pria tua berjas mewah dan berkelas tinggi tampak berlutut di hadapan Andra.

Pria berjaket usang yang selama ini mereka anggap sebagai pengangguran melarat.

Di dalam warung, Kirana yang sedang memegang nampan piring mendadak terpaku di tempatnya.

Jantungnya berdegup kencang karena diliputi rasa terkejut yang luar biasa.

Tangannya gemetar hebat hingga nampan di pegangannya hampir terjatuh ke lantai semen.

Pikiran Kirana langsung dipenuhi oleh ribuan pertanyaan yang tidak terjawab.

Siapa sebenarnya pria yang baru saja resmi ia nikahi di kelurahan kemarin pagi?

Apakah Andra bukan seorang gelandangan seperti yang dituduhkan oleh para tetangga selama ini?

Di hadapan mereka, Andra perlahan menarik napas panjang.

Ekspresi wajahnya tetap dingin tanpa ada secercah rasa kaget sedikit pun.

Pria miliarder itu menatap tajam ke arah sekretaris setianya yang masih berlutut di tanah.

"Berdiri," ucap Andra dengan suara baritonnya yang berat dan berwibawa.

Perintah itu keluar dengan nada datar yang langsung membuat sang sekretaris tua menurut seketika.

Abdi setia itu bangkit perlahan sambil merapikan jas formalnya dengan tangan sedikit gemetar.

"Maafkan lancangnya saya datang ke sini, Tuan Besar," bisik sekretaris tua itu dengan nada penuh kehati-hatian.

"Situasi di kantor pusat sudah berada di ambang kehancuran total."

"Faksi pengkhianat di dewan direksi sengaja memanfaatkan masa penyamaran Anda untuk merusak aset perusahaan."

Andra menyipitkan matanya.

Tatapan tajamnya memancarkan aura membunuh yang sangat dingin.

"Siapa yang memimpin pergerakan itu?" tanya Andra singkat.

"Wakil Direktur Utama bersama kelompok investasi asing gelap, Tuan," jawab sang sekretaris cepat.

"Mereka berencana mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa besok pagi."

"Tujuannya untuk menggulingkan kekuasaan mutlak Anda dari kursi kepemimpinan tertinggi PT Adhikari Corp."

Mendengar percakapan itu dari balik pintu, Kirana semakin tertegun.

Nama PT Adhikari Corp bukanlah nama yang asing di telinga masyarakat luas.

Itu adalah perusahaan multinasional raksasa penguasa sektor bisnis terbesar di negeri ini.

Perusahaan yang memiliki aset bernilai ratusan triliun rupiah dan mempekerjakan puluhan ribu karyawan.

Bagaimana mungkin suami sederhananya dihubungkan dengan perusahaan sebesar itu?

Sebelum Kirana sempat keluar untuk mencari kejelasan, sebuah suara bising mendadak memecah ketegangan pagi.

Bum! Vroooom...!

Beberapa sepeda motor berukuran besar menderu liar memasuki lorong perkampungan kumuh.

Kendaraan-kendaraan itu berhenti mendadak tepat di depan pelataran warung kecil.

Sosok Doni turun dari motor dengan gaya arogan yang dibuat-buat.

Di belakangnya berdiri Badrun bersama puluhan preman terminal bertubuh kekar membawa balok besi.

Wajah Doni tampak menyeringai lebar penuh rasa percaya diri yang meluap-luap.

Ia merasa di atas angin karena membawa pasukan preman dalam jumlah yang jauh lebih banyak dari sebelumnya.

"Mana gelandangan keparat yang kemarin berlagak hebat itu?!" teriak Doni lantang sambil menunjuk ke arah Andra.

"Keluar kamu sekarang!"

"Hari ini saya pastikan warung ini rata dengan tanah dan tanganmu patah!"

Badrun, sang pemimpin preman, melangkah maju dengan tatapan mata buas.

Ia membawa sebilah pipa besi panjang yang diseret di atas aspal hingga memercikkan bunga api.

Namun, sebelum Badrun sempat melontarkan ancaman kasarnya.

Pandangan mata preman beringas itu tiba-tiba membeku.

Ia melihat barisan mobil sedan mewah hitam berjajar rapi di ujung gang.

Ia juga melihat puluhan pengawal berjas hitam berbadan tegap berdiri mengelilingi area warung.

Wajah Badrun mendadak pucat pasi dalam sekejap.

Naluri preman berpengalamannya langsung menjerit memperingatkan bahwa mereka sedang berhadapan dengan orang yang salah.

"Bos... sepertinya kita salah tempat," bisik salah satu anak buah Badrun dengan suara gemetar.

"Diam kamu!" bentak Doni tanpa menyadari situasi berbahaya di sekitarnya.

"Mereka cuma pengawal bayaran sewaan murahan!"

"Hantam semuanya sekarang juga!"

Andra menghela napas pendek.

Ia menoleh ke arah sekretaris pribadinya dengan tatapan dingin.

"Selesaikan sampah-sampah jalanan ini dalam waktu kurang dari satu menit," perintah Andra pelan.

"Setelah itu, kita kembali ke lantai 50 untuk membersihkan sisa pengkhianat di perusahaan."

Angin berembus pelan membawa debu halus yang perlahan jatuh ke atas permukaan aspal.

Suasana di depan warung kecil itu terasa sangat hening dan mencekam.

Puluhan pengawal berjas hitam berdiri tegak lurus membentuk barisan yang rapi di sekeliling area.

Di hadapan mereka, Doni dan gerombolan preman pimpinan Badrun sudah terkapar tidak berdaya di atas tanah.

Sebagian besar dari mereka mengerang kesakitan sambil memegangi bagian tubuh yang lebam.

Doni sendiri masih terduduk lemas di atas tanah dengan kaki gemetar hebat.

Ia tidak berani mengangkat wajahnya sedikit pun untuk menatap sosok pria yang berdiri di depannya.

Andra menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan melalui hidungnya.

Pria berjaket usang itu menatap rendah ke arah mantan suami Kirana dengan pandangan dingin tanpa ampun.

"Bawa mereka semua dari hadapanku," perintah Andra dengan suara bariton yang tegas.

"Masukkan mereka ke dalam tahanan bawah tanah sampai urusanku di pusat kota selesai."

"Baik, Tuan Besar!" seru para pengawal serempak dengan suara menggelegar.

Dalam hitungan detik, tubuh Doni dan para preman bayaran itu diseret paksa masuk ke dalam deretan van hitam.

Tidak ada perlawanan sedikit pun yang berani mereka tunjukkan.

Halaman depan warung kini kembali bersih dari segala bentuk kekacauan.

Warga sekitar yang mengintip dari balik jendela kaca rumah masing-masing langsung menutup tirai rapat-rapat karena ketakutan.

Mereka menyadari bahwa pria sederhana yang selama ini mereka remehkan adalah penguasa mutlak yang memegang kendali penuh.

Di ambang pintu warung, Kirana masih berdiri terpaku mematung.

Kedua tangannya menutupi mulutnya yang sedikit terbuka karena rasa terkejut yang luar biasa.

Air mata haru dan takjub menetes deras membasahi pipinya tanpa bisa dihentikan.

Ia menyaksikan semuanya dengan kepala sendiri.

Pria miskin yang menikahinya kemarin pagi ternyata adalah sesosok raksasa dunia bisnis yang memiliki kekuasaan tanpa batas.

Andra berbalik perlahan meninggalkan area parkir darurat di depan warung.

Langkahnya mantap menyusuri teras semen yang bersih.

Ia berjalan mendekati Kirana dengan tatapan mata yang kini berubah menjadi begitu teduh dan penuh kelembutan.

Pria itu berhenti tepat di hadapan istrinya, lalu mengulurkan tangan kasarnya untuk menyeka air mata di pipi Kirana.

"Kir," panggil Andra dengan suara lembut yang menenangkan jiwa.

Kirana menengadahkan kepalanya perlahan.

Sorot matanya memancarkan rasa cinta bercampur gentar yang teramat sangat.

"Kamu... kamu sebenarnya siapa, Mas?" tanya Kirana dengan suara bergetar pelan.

"Apakah semua ini nyata, atau aku sedang bermimpi?"

Andra tersenyum tipis, menggenggam jemari Kirana yang masih dingin dengan erat.

"Aku adalah suamimu, Kir," jawab Andra mantap tanpa ada keraguan sedikit pun.

"Apapun gelaran atau kekuasaan yang kumiliki di luar sana, di hadapanmu aku tetaplah pria yang memilih untuk melindungi mu."

Kirana merasakan kehangatan yang luar biasa menjalar di dalam dadanya.

Segala rasa takut dan kebingungan yang sempat menghimpit perlahan-lahan menguap hilang.

Ia tahu bahwa suaminya tidak akan pernah meninggalkannya begitu saja.

"Tapi... apa kamu harus pergi sekarang ke pusat kota, Mas?" tanya Kirana lirih, mencengkeram ujung baju Andra dengan erat.

Andra mengangguk perlahan.

"Aku harus pergi menyelesaikan sisa-sisa pengkhianat di perusahaan," jawab Andra tegas.

"Para tikus berdasi itu sedang mencoba merusak apa yang menjadi milik kita."

"Dan aku akan memastikan mereka menerima balasan yang setimpal."

Sekretaris pribadi Andra melangkah mendekat dengan postur tubuh membungkuk hormat.

Pintu mobil sedan mewah berwarna hitam legam dibukakan lebar-lebar khusus untuk sang pemimpin tertinggi.

"Semua armada sudah siap berangkat, Tuan Besar," lapor sekretaris tua itu penuh wibawa.

"Dewan direksi pengkhianat sudah berkumpul di lantai 50 untuk memulai rapat gelap mereka."

Andra menatap Kirana sekali lagi sebelum melangkah pergi.

"Tunggu aku di sini, Kir," pesan Andra lembut.

"Begitu urusanku di pusat kota selesai, aku akan kembali sepenuhnya ke sisimu sebagai suami yang seutuhnya."

Kirana mengangguk pelan sambil tersenyum tulus di tengah genangan air matanya.

"Hati-hati di jalan, Mas... aku akan menunggumu di sini."

Andra membalas senyuman itu, lalu melangkah pasti memasuki mobil mewah yang terparkir di depan warung.

Pintu mobil tertutup rapat dengan bunyi klik yang elegan.

Konvoi kendaraan mewah itu langsung meluncur meninggalkan pelataran warung kecil.

Mebelah jalanan sempit perkampungan kumuh menuju gedung pencakar langit PT Adhikari Corp.

Pertempuran penentuan di lantai 50 kini resmi dimulai.

1
Mga
💪
ciber ara
semangat!!!!!!
ciber ara
next 👍💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!