NovelToon NovelToon
Married By Arrangement, Love By Fate

Married By Arrangement, Love By Fate

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Ratnasari Husein

Tidak update harian!!

Zalina Asyara, seorang gadis muda yang harus menelan pahit kehidupan setelah ayahnya jatuh bangkrut dan terlihat hutang pada seorang rentenir. Ibunya memilih lari, meninggalkan ayahnya yang sudah jatuh bangkrut itu juga dirinya.

Zalina terpaksa bekerja sebagai pelayan restoran, untuk membantu ayahnya membayar hutang.

Namun, suatu hari, sepasang suami-istri kaya membawa sebuah lamaran pernikahan untuk Zalina.

mereka adalah kenalan lama ayahnya. Dulu, ayahnya pernah membantunya di saat mereka sedang kesulitan. Kini, saatnya mereka datang untuk membalas Budi.

Apakah Zalina akan menyetujui lamaran mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesepakatan bisnis dan pernikahan.

"Kesepakatan."

Kata itu membuat Zalina menatap pria di hadapannya itu tanpa berkedip. Untuk pertama kalinya ia benar-benar tidak bisa membaca pria di hadapannya itu. Ia kembali duduk di kursinya dengan dahi yang berkerut dalam.

Ia pikir, semua pembicaraan ini akan selesai setelah ia mengatakan bahwa dirinya tidak setuju pada perjodohan mereka. Namun, ternyata pria ini jauh lebih sulit untuk dimengerti karena ia yang selalu melontarkan kata-kata yang membuat otak Zalina harus berpikir dua kali lebih keras dari biasanya.

"Kesepakatan apa yang kau maksud? Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang kau katakan." suaranya terdengar ketus, menahan kesal.

Alih-alih menjawab, Kaiden malah tersenyum tipis ke arahnya. Dan hal tersebut membuat kesabaran Zalina hampir berada diambang batas. Rasanya ia ingin sekali memukul wajahnya yang terlihat menyebalkan itu.

"Apa kau tidak bisa langsung mengatakannya secara jelas? Aku benar-benar pusing bicara denganmu." lanjutnya dingin.

Namun, Kaiden tetap diam. Tatapannya justru semakin dalam, seolah menikmati bagaimana emosi Zalina perlahan meledak.

"Astaga... kau benar-benar..." geramnya dengan nada yang tertahan.

"Kalau kau tidak mengerti," ucapnya akhirnya, suaranya tetap rendah dan tenang, berbanding terbalik dengan emosi Zalina yang sudah mencapai puncaknya. "Aku akan menjelaskan."

"Akhirnya..." sahut Zalina dengan menghela napas lega.

Dengan tatapan mata yang masih lurus menatap Zalina, Kaiden mulai menjelaskannya.

"Kesepakatan yang tentunya akan menguntungkan kita berdua."

Zalina kini memilih diam dan mendengarkan.

"Kebetulan aku membutuhkan seorang istri yang tidak banyak menuntut dan tidak mengusik ketenanganku. Dan kau tentu cocok dengan kriteria itu karena kau tidak memiliki perasaan apa pun padaku." jelasnya dengan tenang, seolah semua itu sudah ia pikirkan dengan matang.

"Sebagai gantinya, kau bisa kembali hidup nyaman. Pabrik ayahmu akan kubeli dan ku bangun kembali. Namun perlu kau ingat, semua keputusan tetap berada di tanganku. Ayahmu hanya perlu duduk dengan tenang dan mendapatkan haknya setiap bulan."

Zalina menatap pria itu lekat-lekat. Sorot matanya tidak lagi sekedar bingung, melainkan mulai dipenuhi sesuatu yang lebih dalam, keraguan dan sedikit rasa tersinggung.

"Jadi...," ia akhirnya bicara dengan nada pelan, namun tegas. "Kau ingin menjadikanku istri hanya sebagai bagian dari kesepakatan bisnis?"

Pria itu tidak langsung menjawab. Ia menyandarkan punggungnya dengan santai. Ia sudah menduga bahwa gadis di hadapannya itu tidak akan menerima tawarannya begitu saja.

"Anggap saja itu... solusi yang saling menguntungkan." ucapnya ringan.

Zalina mengulas senyum tipis, tapi jelas bukan senyum bahagia. "Kau bahkan tidak berusaha menyembunyikannya, ya?"

"Tidak perlu." balas nya singkat.

Hening seketika menyelimuti ruangan itu. Zalina menunduk, jemarinya saling bertaut di pangkuannya. Kehidupan yang kembali nyaman, pabrik ayahnya yang kembali, dan semua masalah selesai, tentu saja hal-hal tersebut pernah terlintas di pikirannya.

Apalagi ketika melihat ayahnya baru saja lolos dari kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya. Hal itu kini selalu membuat hatinya merasa cemas.

Zalina bukannya tidak sanggup menjalani kehidupannya yang sekarang. Ia yakin bisa bertahan. Namun, membayangkan ayahnya yang sudah tidak lagi muda, harus berjuang keras untuk memastikan mereka bisa makan layak keesokan harinya, membuat hatinya selalu merasa teriris.

Ditambah lagi, seperti ayahnya sangat menginginkan pernikahan ini benar-benar akan terjadi.

Apa yang harus ku lakukan sekarang?

Ia menatap Kaiden yang tampak santai dan tenang, seolah hal ini tidak berarti apa-apa baginya. Bagaimana pria itu bisa bersikap setenang ini? Apa yang sebenarnya sedang ia rencanakan?

"Apa ini hanya pernikahan kontrak?"

Pertanyaan itu tiba-tiba saja keluar dari mulut Zalina dan membuat Kaiden menatapnya sekilas.

Pria itu tampak menaikkan sebelah alisnya, mungkin sama sekali tidak menduga bahwa pertanyaan seperti itu akan terlontar dari mulut gadis itu.

"Pernikahan kontrak?" Kaiden mengulanginya, seolah hendak memastikan kata itu sekali lagi.

"Ya. Biasanya di dalam drama, selalu muncul kata-kata seperti itu di dalam kesepakatan." jelasnya dengan raut wajah yang terlihat polos.

Kaiden seketika tersenyum tipis ke arahnya. "Sepertinya kau harus mulai mengurangi tontonan yang bisa mempengaruhi cara berpikirmu."

Zalina tampak menggerutu keningnya. "Memangnya salah?"

"Tidak salah." sahut Kaiden santai. "Hanya saja... ini bukan drama. Tidak ada naskah indah atau akhir bahagia yang bisa ditebak."

"Jadi, kau benar-benar ingin menikah denganku dan menghabiskan sisa hidupmu denganku?"

Kaiden menatapnya tanpa berkedip, seolah sedang menilai sesuatu yang tidak kasat mata.

"Jangan salah paham." sahutnya tenang. "Aku tidak pernah bicara tentang 'menghabiskan sisa hidup bersama' dalam arti yang kau pikirkan."

Ia mengambil gelas di atas meja, dan meneguk minumannya sejenak.

"Aku hanya menawarkan sebuah pernikahan dengan tujuan yang jelas. Selama kesepakatan itu berjalan, kita tetap bersama. Selebihnya? Tergantung pada situasi."

Kalimat itu menggantung cukup lama di udara, menyisakan keheningan yang panjang di antara keduanya.

Namun, ketukan yang terdengar di pintu, sedikit mengurangi suasana yang mulai menegang di ruangan tersebut.

Pelayan mengantarkan satu slice chocolate cake ke hadapan Zalina.

"Terima kasih." ucapnya pada pelayan sebelum ia pergi meninggalkan ruangan tersebut.

"Aku... boleh memakannya?"

Wajah gadis itu tampak berbinar terang ketika menanyakan hal tersebut kepada Kaiden.

"Tentu saja. Itu memang milikmu." ucapnya santai, tanpa nada berlebih.

Zalina seketika tersenyum lebar dan memakan potongan kue coklat itu dengan perlahan, seolah tampak menikmati setiap gigitan yang masuk ke dalam mulutnya.

Hal itu, tentu saja tak luput dari perhatian Kaiden. Ia menatap gadis itu dengan sorot mata yang tajam, penuh arti.

Zalina lalu beranjak dari kursi setelah menghabiskan kuenya.

"Aku... permisi ke toilet sebentar." ucapnya, lalu keluar dari ruangan itu.

Sementara Kaiden, tampak membuka ponselnya dan mengetik sesuatu di sana.

Di luar, Zalina masuk ke dalam toilet yang kebetulan sedang kosong. Tak butuh waktu lama baginya untuk berada di sana. Setelah selesai, ia langsung keluar dari toilet.

Namun, ketika ia hendak kembali ke ruangannya, ia tidak sengaja melihat ibunya sedang berjalan masuk dengan teman-temannya. Raut wajahnya tampak berbinar bahagia. Wanita itu sama sekali tidak berubah. Perhiasan mahal, pakaian dan tas dengan brand ternama, melengkapi penampilannya yang elegan siang itu.

Ia tetap hidup dengan standar yang selalu ia jaga selama ini.

"Zalina..." panggil wanita itu ketika bertemu pandang dengan putrinya yang sudah setahun belakangan ini tak pernah ia temui.

Namun, Zalina malah melengos pergi, tanpa memperdulikan panggilan dari ibunya. Ia kembali masuk ke dalam ruangannya.

Entah karena rasa kecewa yang mendalam atau karena merasa sedih, ia memilih untuk tidak menghiraukannya saat ini.

Dia datang bersama siapa? batin Mariana penasaran, namun ia memilih untuk diam.

Zalina lalu masuk ke dalam ruangan dan kembali duduk di kursinya. Namun, wajahnya tidak lagi bahagia seperti saat ia memakan kue coklat sebelumnya. Kini sorot matanya terlihat sendu, entah kenapa.

"Apa pembicaraan kita sudah selesai? Aku mau pulang?" tanya Zalina.

Padahal, ia belum memberikan kepastian apa pun pada penawaran yang diberikan oleh Kaiden.

"Kalau kau ingin mengakhiri pembicaraan ini tanpa kepastian, bagiku tidak masalah." sahut Kaiden tenang.

"Aku tahu...," ucap Zalina pelan. "Tapi aku tidak bisa memutuskannya sekarang. Aku perlu waktu untuk berpikir."

"Tidak masalah. Kebetulan, aku juga tidak terburu-buru." ucap pria itu.

"Baiklah. Kalau begitu, aku permisi dulu."

"Tidak mau ku antar?" tanya Kaiden, memberinya penawaran.

"Tidak perlu. Aku naik taksi saja." sahut Zalina yakin.

"Terserah kau saja."

Gadis itu lalu keluar dari ruangan dengan langkah yang pasti. Namun, ketika ia hendak memesan taksi, ia baru sadar bahwa ia sama sekali tidak membawa dompet.

Bagaimana ia bisa melupakan benda penting itu begitu saja?

Apa dia begitu gugup ketika melihat mobil jemputan yang akan mengantarkannya tadi tiba sehingga lupa pada segalanya.

Ia bahkan lupa mengisi saldo di aplikasi pembayarannya. "Apa aku pinjam saja, ya?"

Dengan sangat terpaksa, ia kembali ke dalam ruangan dan menemui Kaiden. Gadis itu bahkan menelan rasa malunya sendiri agar bisa pulang ke rumahnya.

"Kenapa kau kembali lagi? Ada yang tertinggal?" tanya Kaiden bingung.

Zalina lalu tersenyum canggung. "Hmm... bisa pinjamkan aku uang tunai. Aku... lupa membawa dompetku."

Pria itu seketika menyunggingkan senyum miring yang tajam.

Ia mengeluarkan dompet dari saku bagian dalam jasnya, lalu mengeluarkan beberapa lembar pecahan seratus ribu dan menyerahkannya kepada Zalina.

Zalina tampak mengernyit. "Tidak perlu sebanyak ini. Selembar saja sudah cukup." ia menarik selembar uang kertas itu dengan penuh kecanggungan.

"Nanti aku akan menggantinya." lanjutnya malu.

"Tidak perlu." sahut Kaiden dingin.

Zalina lalu benar-benar pergi dari ruangan itu. Sementara Kaiden, tampak tersenyum tipis selepas kepergian gadis itu.

🥀🥀🥀

1
Xlyzy
dia terlalu serius jadi ga denger saat di panggil
Xlyzy
Malu nya ketahuan lagi stalking di depan orang nya langsung
Cimol krispy
kalau memang itu satu satunya jalan, dicoba aja dulu Zal
Cimol krispy
dengar penjelasan ayahmu dulu Zalina.
Mingyu gf😘
lailahaillah 1 m😭😭
Mingyu gf😘
Ayahmu berhutang zal, dan bakal jatuh tampo 2 hari lagi😭
ginevra
yahh nggak ada adegan malam pertama donk. padahal nungguin banget nih 🤭🤭
ginevra
yakin? nanti juga lama2 kalian saling jatuh cinta. kalau si kai normal loh ya
Filan
lho... ortumu normal lho... hubungan mereka harmonis. kamu bukan dari keluarga broken. Padahal biasanya anak lihat ortunya.
-Thiea-: dia punya pandangan sendiri sepertinya.😅
total 1 replies
Filan
ga usah mengendalikan diri kalau sama istri 😌
Filan
syukurlah kalau dia normal 😅
Three Flowers
terasa berat karena itu dialami sendiri oleh keluarganya
Three Flowers
berarti Kaiden ada nafsu juga pada wanita, ya?
Miu.Nuha
ibumu backgraundny udh tajir Zal, jadi diajak susah gk mau kan, hiks... kepekaan hatinya kurang itu...
Miu.Nuha
malah makin penasaran ya Diandra
ini ya si pria yang merangkul kaiden kemarin ☺ centil juga orangnya...
Ali
ga sopan nih anak, cabein aja bu itu bibir anaknya
Myz Pena
ini seperti menukar diri dengan sesuatu yang berharga.. kalau di dunia nyata bisa saja beruntung kalau menemukan orang yang tepat dan bisa saling mencintai.. 🤧
Myz Pena
wkwkwkwm pura pura lupa 🤣🤣🤣
Xlyzy
udah biar kan aja kaiden cari cuan
Xlyzy
bilang aja sekarang mau sarapan pagi karna ada istri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!