NovelToon NovelToon
Meraih Bintang

Meraih Bintang

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Bunga Lestari bukan siapa-siapa.

Yatim piatu dari desa kecil di Jawa Timur, dia datang ke Jakarta dengan satu tujuan: membalas dendam kepada orang yang menghancurkan keluarganya. Tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa pendidikan — yang dia punya hanya tinju dan tekad.

Tapi malam itu, di sebuah gala dinner yang dia coba susup, seorang pria asing menabraknya. Dan tiba-tiba, suara pria itu ada di dalam kepalanya.

Rangga Wicaksana — pewaris keluarga konglomerat, jenius hukum, tampan dingin — jiwanya terjebak di tubuh Bunga. Dia bisa merasakan apa yang Bunga rasakan. Mendengar apa yang Bunga pikirkan. Dan yang paling parah: dia tidak bisa keluar.

"Bantu aku menjatuhkan musuhku," kata Rangga.
"Bantu aku naik ke puncak," kata Bunga.

Perjanjian dimulai. Tapi bagaimana caranya menjaga rahasia, ketika dia bisa merasakan detak jantungmu setiap kali kamu berbohong?

🔥 Ikatan jiwa. Dendam. Cinta yang tak seharusnya. Dan satu gadis kampung yang bertekad meraih bintang — dengan caranya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 009

Mendekati Baskara

Untuk pertama kalinya sejak masuk dunia baru itu, Bunga tidak merasa berdiri sendirian.

Perasaan itu bertahan sampai keesokan paginya, ketika ia duduk di lantai kamar kos dengan empat gantungan baju pinjaman Melati berjajar di depannya. Blazer putih tulang, dress biru gelap, kebaya modern sederhana, dan blouse hitam. Di atas kasur, ponsel pinjaman bergetar tanpa henti, menampilkan pesan Melati tentang charity auction Keluarga Prawira malam itu.

`Kak Bas pasti datang. Kamu datang juga, ya. Pakai dress biru, cocok buat kamu.`

Bunga menatap pesan itu lama.

"Kamu ragu?" tanya Tuan Misterius.

"Aku mikir."

"Tentang?"

"Kalau mendekati Baskara berarti mendekati Hartono, aku harus siap pura-pura suka sama orang."

"Kamu tidak perlu pura-pura suka. Kamu perlu membuatnya tertarik."

"Itu beda tipis."

"Tidak. Pura-pura suka membuatmu kehilangan kendali. Membuat orang tertarik justru mengembalikan kendali padamu."

Bunga memandang dress biru gelap itu. Kainnya lembut, tidak semahal gaun rental pertama, tetapi ada rasa aman di sana karena Melati yang memberikannya. Ia menyentuh bagian pinggang, lalu menarik napas.

"Kamu tahu kelemahan Baskara?"

"Semua orang punya kebutuhan yang tidak mereka akui," jawab Tuan Misterius. "Baskara Prawira dibesarkan sebagai pewaris. Orang memujinya, mendekatinya, takut padanya, menginginkan akses darinya. Sangat sedikit yang melihatnya sebagai manusia biasa."

"Jadi dia kesepian."

"Kemungkinan besar."

"Orang kaya juga kesepian?"

"Kaya tidak otomatis membuat seseorang disentuh dengan tulus."

Bunga terdiam sebentar. Kata-kata itu terdengar terlalu dekat dengan pemilik suara di kepalanya.

Malam itu, charity auction berlangsung di aula kaca yang menghadap kolam. Bunga datang bersama Melati, memakai dress biru dan scarf yang kini dililit sebagai hiasan rambut. Ia sudah belajar tidak menoleh setiap kali merasa diperhatikan. Tuan Misterius mengajarinya berjalan lebih pelan, tetapi Bunga tetap merasa sepatu hak adalah hukuman bagi tulang manusia.

"Kak Bas di sana," bisik Melati.

Baskara berdiri dekat meja katalog lelang, berbicara dengan dua pria setengah baya. Wajahnya tetap dingin. Ia mendengarkan lebih banyak daripada bicara, tetapi setiap kali ia menjawab, dua pria itu langsung mengangguk seperti murid baik.

"Jangan langsung mendekat," kata Tuan Misterius. "Biarkan Melati menjadi jembatan."

Melati ternyata melakukan itu tanpa perlu diminta. Ia menarik Bunga ke meja katalog, lalu menyapa kakaknya.

"Kak, Bunga datang."

Baskara menoleh.

Mata pria itu berhenti sesaat pada dress biru, lalu pada wajah Bunga. "Bunga Lestari."

"Mas Baskara."

"Kamu tidak membawa piring malam ini?"

Melati tertawa lebih dulu. Bunga mengangkat alis. "Saya sedang menunggu waktu strategis."

Untuk pertama kalinya, senyum Baskara terlihat sedikit lebih jelas. "Strategis?"

"Kalau makan terlalu awal, orang ingat saya karena rakus. Kalau terlalu akhir, makanan habis. Hidup perlu perhitungan."

Tuan Misterius menghela napas di dalam kepala. "Kamu tidak pernah mengikuti skrip."

"Skripmu membosankan."

Baskara menatap Bunga seperti sedang mencoba memutuskan apakah ia bercanda atau benar-benar serius. "Perhitungan yang masuk akal."

Salah satu pria setengah baya memanggil Baskara lagi, tetapi Baskara mengangkat tangan kecil, meminta waktu. Gerakan itu sederhana, namun dua orang itu langsung diam. Bunga menyimpan informasi itu: kekuasaan Baskara tidak perlu suara keras.

Melati melihat tamu lain dan pamit sebentar. "Aku ambil minum dulu."

Tiba-tiba Bunga berdiri hanya dengan Baskara di dekat meja katalog.

"Sekarang jangan panik," kata Tuan Misterius.

"Aku tidak panik."

"Detak jantungmu naik."

"Itu karena sepatu."

"Tentu."

Baskara membuka katalog dan menunjuk sebuah lukisan abstrak. "Menurutmu ini bagus?"

Bunga mengingat instruksi Tuan Misterius: `komposisinya berani`.

Ia membuka mulut, lalu menutupnya.

Baskara menunggu.

Bunga akhirnya berkata, "Jujur?"

"Kalau bisa."

"Seperti tumpahan kopi yang diberi bingkai mahal."

Tuan Misterius terdiam.

Baskara juga terdiam.

Satu detik. Dua detik.

Lalu sudut bibir Baskara bergerak. "Kuratornya akan pingsan kalau mendengar itu."

"Berarti jangan bilang saya yang bicara."

"Kamu tidak takut terdengar bodoh?"

"Saya lebih takut pura-pura pintar lalu ketahuan."

Baskara menatapnya lebih lama. Di matanya ada sesuatu yang bergeser, seperti pintu kecil yang tadinya terkunci akhirnya terbuka satu ruas.

"Kebanyakan orang akan memuji apa pun yang ada di katalog ini," katanya.

"Karena mereka mau kamu suka?"

"Atau mereka mau aku membeli."

"Kamu akan membeli?"

Baskara melihat lukisan itu lagi. "Tidak. Aku juga melihatnya seperti tumpahan kopi."

Bunga menahan tawa. "Berarti selera kita sama-sama bahaya."

"Atau sama-sama jujur."

Kata itu menggantung lebih lama dari seharusnya.

Tuan Misterius akhirnya bersuara, lebih rendah. "Dia merespons kejujuranmu. Jangan dorong terlalu jauh."

Bunga mengangguk dalam hati. Ia tidak melangkah maju, tidak memuji, tidak menunduk manis. Ia hanya berdiri di samping Baskara, melihat katalog dengan wajah serius palsu.

"Kalau yang ini?" Baskara menunjuk patung kecil dari kayu.

Bunga memiringkan kepala. "Lebih baik. Setidaknya bentuknya tahu dirinya mau jadi apa."

Baskara tertawa pelan.

Suara itu pendek, hampir tidak terdengar, tetapi membuat dua tamu di dekat mereka menoleh karena mungkin jarang mendengarnya.

Dari sudut ruangan, Ratih melihat.

Melati juga melihat, tetapi ekspresinya berbeda. Ia tampak senang sekaligus heran.

Setelah lelang dimulai, Baskara tidak terus berada di sisi Bunga. Ia kembali menjalankan perannya sebagai pewaris Prawira. Namun ketika satu pelayan lewat membawa tray kecil berisi canape, Baskara mengambil satu piring dan meletakkannya di dekat Bunga.

"Waktu strategismu," katanya.

Bunga menatap piring itu, lalu menatapnya.

"Terima kasih."

"Jangan habiskan terlalu cepat."

"Saya tidak janji."

Baskara kembali ke barisan depan, meninggalkan Bunga dengan piring kecil dan tatapan beberapa orang yang mulai bertanya-tanya.

Saat pembawa acara menyebut daftar sponsor, layar di belakang panggung berganti logo satu per satu. Bunga hampir menggigit canape kedua ketika nama PT Garuda Perkasa muncul di antara sponsor utama. Di bawahnya tertulis dukungan untuk program keselamatan komunitas.

Perut Bunga langsung mengeras.

"Mereka berani sekali," katanya dalam hati.

"Itulah cara kerja reputasi," jawab Tuan Misterius. Suaranya sedingin kaca. "Uang kotor dicuci dengan tepuk tangan."

Bunga menatap punggung Baskara di barisan depan. Ia bertepuk tangan singkat, wajahnya tetap tidak terbaca. Entah ia tahu, entah tidak, keluarganya berdiri terlalu dekat dengan bayangan Hartono.

Piring kecil di tangan Bunga terasa lebih berat.

"Sekarang kamu mengerti kenapa jalur ini penting," kata Tuan Misterius.

Di dalam kepala, Tuan Misterius berkata datar, "Selamat. Target mulai tertarik."

"Kenapa nadamu seperti orang kalah taruhan?"

"Saya hanya mengingatkan bahwa ini strategi, bukan permainan."

Bunga menusuk canape dengan garpu kecil. "Aku tahu."

Namun saat ia melihat Baskara duduk di barisan depan, wajah dinginnya tampak sedikit lebih manusiawi daripada sebelumnya.

Untuk pertama kalinya, Bunga menyadari mendekati seseorang sebagai jalan menuju musuh bisa menjadi lebih rumit daripada memanjat pagar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!