NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Panglima TNI.

Terjebak Cinta Panglima TNI.

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara / Cintapertama
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nakorang

Aruna mencoba segala cara agar pertunangannya dengan seorang Panglima TNI bernama Axel dibatalkan. Tapi semua cara yang ia lakukan itu justru tidak membuahkan hasil sama sekali. Axel justru semakin menyukai dirinya, dan memberikan apapun yang dia mau. Bagaimana kelanjutan kisahnya? ikuti terus hanya disini..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 : Berburu aib.

Suasana yang tegang akhirnya mencair. Axel, yang tadi begitu galak dan marah, kini dengan rendah hati meminta maaf kepada pelayan yang sempat ia tuduh tadi. Wajahnya tampak sungguh-sungguh menyesal karena sudah emosi dan menyalahkan orang lain.

Namun, Aruna adalah Aruna. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Dengan wajah sok berwibawa, ia berdiri di samping Axel dan mulai bertingkah seperti bos besar.

"Kalau minta maaf itu harus tulus dong. Ya sekalian aja, sujud di depan Mbak ini biar lega!" perintah Aruna dengan semangat, menunjuk lantai tepat di hadapan pelayan itu.

"Waduh, tidak pantas Non, tidak pantas. Jangan deh ya." si pelayan langsung gelagapan dan menolak keras, wajahnya pucat takut. Ia bahkan sampai membungkuk dalam, merasa tidak mungkin Tuan Jenderal itu sampai harus bersujud padanya.

Tapi Aruna malah makin mendesak.

"Harus! Biar kapok karna tadi, dia udah galak-galak. Songong amat kan dia, Belagu pula.. Bener kan Mbak?"

Si pelayan hanya mengeleng tak berani berbicara lagi.

Axel menghela napas, tapi ia tak kehabisan akal. Melihat Aruna yang mulai terlalu berkuasa dan memerintahnya seenak jidat, dengan gerakan kilat Axel langsung menyambar tubuh gadis itu. Dalam sekejap mata, Aruna sudah melayang di gendongan kekar pria itu.

"AXEL!! LEPASIN AKU!!" teriak Aruna berontak hebat, kakinya menendang-nendang udara. "AKU BELUM SELESAI NIH! BELUM PUAS NGOMEL TAHU!!"

Tapi Axel sama sekali tak bergeming. Wajahnya datar tapi matanya menyiratkan senyum jahil. Ia membawa langkah lebarnya menaiki tangga, menuju kamar pribadinya, mengabaikan teriakan dan protes Aruna yang terdengar lucu di telinganya.

Sesampainya di dalam kamar yang luas dan berpenampilan maskulin itu, Axel pun mendudukkan Aruna di atas meja kerjanya yang besar dan megah. Posisi itu membuat wajah mereka sejajar, dan kini Axel bisa menatap manik mata gadis itu lekat-lekat tanpa ada yang menghalangi.

"Aruna..." panggil Axel pelan, suaranya berubah menjadi sangat serius dan dalam.

"Kamu tahu... aku sudah jatuh cinta saat pertama kali melihat foto kamu. Saat itu juga, aku langsung ingin menikahimu dan memilikimu seutuhnya," ucapnya tulus, matanya menatap tajam seolah ingin menembus masuk ke dalam hati Aruna.

Namun, respon Aruna jauh dari ekspektasi. Gadis itu justru terlihat malas-malasan, bahunya mengangkat santai, dan wajahnya terlihat biasa saja seolah baru saja mendengar ramalan cuaca hari ini.

"Hm... orang kaku kayak kamu bisa berucap semanis itu ya... gak nyangka deh aku," jawab Aruna sinis, jelas sekali ia menganggap ucapan Axel barusan hanyalah gombalan murahan.

Axel mendengus kesal sekaligus gemas. "Kamu tuh ya... gak pernah anggap aku serius ya? Apa perlu aku cium kamu dulu sampai kamu minta ampun, terus baru kamu percaya sama omongan aku gitu?" ancamnya manja, wajahnya makin mendekat.

"Ah tau deh! Gak usah diomongin lagi deh. Malas aku." Aruna memotong cepat, memalingkan wajahnya. "Aku capek nih... pengen berendam air anget terus makan, abis itu tidur. Capek lho main kejar-kejaran sama orang gila."

"Yaudah kamu nginep aja di sini malam ini ya..." pinta Axel lembut, jari-jarinya dengan lembut membelai pipi mulus Aruna, mengusapnya dengan sayang.

"Gak mau!" tolak Aruna cepat, mendorong tangan pria itu menjauh. "Aku takut dimakan sama kamu. Kamu kan buas banget tadi, kayak singa lapar!"

Axel terkekeh pelan. "Aman Sayang, aku bakalan tidur di kamar tamu. Jadi kamu aman-aman aja di sini."

"Eh... kan aku yang tamunya, masa aku yang tidur di kamar utama?" Aruna mendelik bingung.

"Ya terserah kamu juga sih mau tidur dimana. Tapi kalau mau lebih nyaman dan luas, ya mending di sini aja," jawab Axel santai sambil mengangkat bahunya.

Aruna terdiam sejenak, lalu matanya berbinar penuh ide jahil.

"Hah iya deh. Aku nginep. Sekalian aku mau berburu harta karun. Siapa tau nemu aib-aib kamu, atau barang bukti memalukan di dalam laci." serunya antusias, matanya sudah melirik ke arah lemari dan laci meja kerja Axel.

Mendengar itu, Axel langsung tertawa terbahak-bahak sampai perutnya terasa sakit. Selalu saja ia tak menduga kosa kata aneh apa yang akan keluar dari mulut gadis ini. Berburu harta karun? Aib? Dasar wanita unik.

"Ya silahkan saja. Jika itu membuat kamu happy..." ucap Axel kemudian, suaranya terdengar lembut dan penuh kerelaan.

Sebelum benar-benar pergi, pria itu mendekatkan wajahnya kembali, lalu mencium kening Aruna cukup lama. Ciuman itu penuh rasa sayang yang begitu memuncak, seolah Axel ingin menyalurkan seluruh perasaannya lewat sentuhan itu. Ia benar-benar tak ingin kehilangan gadis itu begitu saja, Aruna sudah menjadi segalanya baginya.

Dan meski di dalam hati jantung Aruna sudah mulai melakukan senam aerobik, berdegup kencang tak karuan, ia tetap berusaha keras untuk tidak terlihat bucin atau terlalu senang.

"Udah dong... jangan kelamaan nyiumnya. Bau keringet tahu!" ceplosnya sambil mendorong dada bidang pria itu menjauh, berusaha terlihat ketus padahal pipinya sudah mulai memanas.

Axel kembali tertawa renyah melihat tingkah gadis itu yang selalu saja membalas kemesraan dengan kelakuan nyeleneh.

"Yaudah, aku panggil Mbak Nia dulu ya buat siapin air hangatnya. Sekalian suruh siapin makanan buat kamu. Kamu bisa keliling kamar aku sekalian mulai cari harta karun atau aib-aib aku," ucap Axel pamit sambil mengacak-acak pelan rambut Aruna.

Ia pun berjalan keluar kamar, meninggalkan Aruna yang kini bebas melakukan apa saja di dalam kamar pribadinya yang luas dan megah itu.

Begitu pintu tertutup dan suara langkah kaki Axel menghilang, Aruna langsung beraksi. Matanya berbinar-binar penuh rasa ingin tahu. Ia berjalan pelan menelusuri setiap sudut kamar yang sangat rapi, bersih, dan berbau maskulin yang khas.

"Yah, katanya aku mau cari aib... Tapi, masa kamar dia sebersih ini sih," gumamnya kesal tapi tetap tak menyia-nyiakan kesempatan.

Ia mulai membuka lemari, memeriksa sudut-sudut meja, hingga mencoba mengintip tumpukan kertas dan buku yang ada di sana. Ia berharap menemukan sesuatu yang bisa ia gunakan untuk 'menjajah' atau menggoda Axel nanti.

Tapi hasilnya nihil. Hampir semua barang tertata rapi, dan tak ada satu pun hal aneh atau memalukan yang ia temukan. Hingga akhirnya, tangannya terhenti pada sebuah kertas catatan yang tergeletak begitu saja di atas meja kecil di samping tempat tidur.

Dengan rasa penasaran, Aruna mengambil dan membacanya pelan.

Isi catatan itu ternyata adalah curahan hati Axel saat pertama kali melihat fotonya.

Aruna bukanlah gadis pertama yang dijodohkan dengannya. Sudah puluhan kali Papahnya mengenalkan wanita-wanita cantik, pintar, dan berasal dari keluarga terpandang. Namun Axel selalu menolak dengan keras. Alasannya sederhana namun membuat orang tuanya cemas: ia merasa tak membutuhkan wanita dalam hidupnya dan sudah merasa sempurna dengan kehidupannya saat ini.

Bahkan, pernah suatu kali Axel dengan santainya berkata, "Mungkin saja aku gay, Pah. Soalnya aku sama sekali nggak merasa tertarik sama wanita manapun." Ucapan itu tentu saja membuat kedua orang tuanya panik dan stres luar biasa.

Tapi semua itu berubah saat nama Aruna muncul sebagai kandidat perjodohan.

Saat Axel melihat foto Aruna untuk pertama kalinya, entah kenapa tubuhnya bereaksi sendiri. Jantungnya berdegup kencang tak wajar, darahnya berdesir hebat menyebar ke seluruh tubuh, dan sebuah keinginan kuat yang muncul tiba-tiba: IA INGIN MEMILIKI GADIS ITU.

Mata Aruna terbelalak membaca setiap baris kalimat itu. Wajahnya perlahan memerah, dan di sudut hatinya, muncul perasaan hangat yang luar biasa. Ternyata... ia seistimewa itu bagi si Panglima es itu.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!