Putu Saraswati, seorang gadis yang tidak pernah percaya dengan mistis, harus dihadapkan pada sebuah kenyataan menyakitkan, dimana sepupunya Kadek Dwi, harus mengalami sakit keras setelah acara Metatah dan pernikahan yang dilaksanakan secara bersamaan.
Segala upaya di lakukan, dari dokter dan juga dukun, tetapi tidak ada yang sanggup mengobatinya...
Bagaiamana kondisi Kadek Dwi, dan perjuangan Putu Saraswati dalam mengungkap teror yang menimpa keluarga dan juga warga desanya...
ikuti kisah selanjutnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suara Di Balik Kuningan
Hari masih gelap. Angin laut bertiup dengan semilir, dan menghadirkan rasa dingin.
Saraswati menguap. Ia tersentak bangun karena mendengar suara berisik dari dalam laci nakasnya.
Saraswati menguap. Dengan rasa kantuk yang masih menggelayut di kelopak matanya, ia membuka laci dengan gerakan malas.
Terlihat trisula itu bergetar dengan sangat berisik.
Saraswati mengambilnya, dan meletakkannya di atas telapak tangannya.
Mendadak benda itu kembali bercahaya biru, dan membuatnya membeliakkan kedua matanya.
Belum sempat ia menyadari semuanya, tiba-tiba saja ia sudah berada di atas bale bambu belakang rumah dan tepatnya di bawah pohon nyuh gading (kelapa gading).
Saraswati merasakan degupan jantungnya memburu, dan rambut panjangnya berkibar tertiup air laut.
Trisula itu kembali bergetar. Cahayanya kembali berpendar, dan kali lebih terang. Saras semakin merasakan benda kuningan itu menghangat.
Semakin lama, rasa hangatnya semakin menjalar, dan menyelimuti tubuhnya.
Tubuh sang gadis bergetar, dan wajahnya tampak pucat.
Mendadak ia merasakan ada seseorang yang berbicara padanya. Bahkan seperti ada nafas orang lain di dalam tubuhnya.
"S-siapa? Siapa kamu? Kalau kamu memang ada... Tunjukkan diri kamu! Jangan jadi pengecut!" ucap Saras dengan wajah pucat.
Ia mengetuk kepalanya, berharap sesuatu di sana segera keluar, dan tak mengganggu dirinya.
Semakin ia mengetuk, desah nafas itu semakin jelas.
"Gadis ceroboh!" terdengar suara yang begitu jelas, tepat di otaknya. Suara yang seperti mengejeknya, tetapi terdengar menyejukkan, meski kalimatnya menjengkelkan.
"Hah!" Saras beranjak dari atas bale. Dan tanpa sadar, ia memanjat pohon nyuh gading, lalu menggunakan trisula tersebut, dan memetik buahnya yang masih muda, dan...
"Aaaaa..." ia tergelincir, dan terjatuh sari pohon kelapa yang hanya setinggi tiga meter itu.
Akan tetapi, seseorang menangkapnya, saat sebelum ia jatuh menyentuh tanah.
Tap!
Saras kembali terkejut. Ia melihat sosok pria tampan. Rambut ikalnya panjang sepunggung. Di bagian keningnya terdapat sebuah ikat kepala yang terbuat dari emas, dengan sebuah symbol yang tidak dapat di mengerti oleh Saras.
Kulitnya putih bersih. Bola matanya tampak begitu teduh, dengan manik yang tampak jernih.
Tubuhnya kekar, dengan busur yang tersampir di pundaknya, dan beberapa anak panah yang berada di punggungnya.
Saras mengerjapkan kedua matanya. Ia merasakan jika ini bukan sekedar mimpi. Sebab seumur hidupnya ia belum pernah di bopong oleh seorang pemuda sekalipun, dan ia dikenal jomblo sejati, karena belum memiliki kekasih hingga usianya yang ke dua puluh enam tahun.
Braaak!
"Aaaargh!" baru saja ia mengkhayal, kini sosok itu justru menjatuhkannya, dan buah kelapa yang di pegangnya terjatuh bergelinding.
"Kasar sekali kau terhadap seorang gadis!" umpat Saras, sembari menggosok bokongnya.
Sosok itu tak memperdulikannya, lalu melesat menuju bale, dan duduk santai diatasnya.
"Jangan terlalu manja. Kau harus menjadi sosok yang kuat, bukan cengeng!" sahutnya.
Saras menggeram kesal. Lalu memungut kelapa gading tersebut, dan membelahnya dengan cepat menggunakan trisula, lalu meneguk airnya hingga habis.
Brak!
Ia melemparkan buah kelapa tanpa air itu ke arah sang pemuda. Berharap dapat membalas dendamnya saat tadi.
Akan tetapi, dengan gerakan cepat, pemuda itu menangkapnya, lalu melemparkan sampah tersebut ke tong sampah.
Saras yang sedang emosi memilih untuk pergi, akan tetapi, sang pemuda mengibaskan selendang yang ada di pinggangnya, dan tiba-tiba saja memanjang dengan cepat, lalu menangkap sang gadis, dan membawanya ke bale.
Braaaak!.
Saras sudah duduk di atas bale dengan mulut menganga.
"Siapa kau sebenarnya?!"
Saras mulai meraskan hal yang sangat janggal, dan ia yakin jika pemuda di hadapannya bukan manusia, sebab ketampanannya sangat tak wajar.
Sebuah tato yang berada di pergelangan tangannya kembali hidup, dan kali ini menyilaukan matanya.
Sosok itu tersenyum tipis. Namun senyumnya tidak membuat Saras merasa takut, justru ia merasa tenang, sosok yang dapat membuatnya merasa nyaman.
"Kau tidak perlu tau siapa aku, Saras..." suaranya cukup dalam, dan menggema di dalam kepala sang gadis, tanpa ia harus membuka mulutnya.
"Setidaknya aku tau nama kamu, biar aku gak panggil kamu 'Woi'," sungutnya, sembari memasang wajah manyun.
Sosok itu tersenyum dengan cukup manis, sehingga membuat Saras hampir meleleh hatinya.
"Panggil saja aku Kalandra, dan itu cukup—bukan?" jawabnya dengan sangat tenang.
"Heem, nama yang bagus," sahut Saras. Lalu memilih untuk beranjak pergi, sebab ia tidak tahan terlalu lama untuk menatap pemuda di hadapannya, ia terlalu gugup.
"Baiklah, aku mau istirahat, dan sebaiknya kau cepat pergi, sebelum nanti babak melihat kamu berduaan bersama dengan aku di sini, di tempat yang gelap, dan itu akan membuat kamu mengalami masalah!" usir Saras, dan itu membuat Kalandra tersenyum simpul.
"Tenang saja, aku tidak akan menggoda kamu, maka itu aman buat aku,"
Saras memerah wajahnya. Bahkan ia tidak berfikir sampai ke sana.
"Semakin lama aku berbicara padamu, maka semakin cepat aku terkena serangan darah tinggi," Saras beranjak dari tempatnya.
Saat ia akan pergi, pemuda itu kembali menangkap pergelangan tangannya.
"Tunggu! Kau cepat sekali marah, dan itu bisa memperlambat jodohmu," ucap pemuda tersebut.
Wajah Saras kembali memerah. Ia mendengkus dengan kesal. "Eh! Mau aku belum laku, apa urusannya dengan kamu?! Kau tidak perlu menyinggung akan hal itu!" Saras menunjuk wajah sang pemuda dengan telunjuknya.
"Baiklah, aku minta maaf. Aku hanya ingin mengatakan, jika ada seorang anak yang sedang membutuhkan pertolongan dari kamu, ia sedang dalam bahaya,"
Saras mengendurkan amarahnya. "Anak? Membutuhkan pertolonganku? Bagaimana bisa kau tahu?"
"Karena aku terikat pada leluhurmu di trisula ini sejak seratus tahun yang lalu ketika ia melawan Rangda pertama di zamannya," sebut sosok tersebut.
Saras menelan salivanya. Ia meraskan degup jantungnya semakin kencang.
"Jadi... Suara yang selama ini berbicara di dalam kepala aku, itu kamu?" Saras langsung menodongnya.
"Ya... Aku juga yang membimbing tangan kamu untuk menemukan aku," sosok itu menatap Saras dengan cukup dalam.
Mendadak Saras semakin melongo. Ia masih bingung dengan semuanya.
"Trisula yang saat ini berada di tangan kamu, bukan lah senjata biasa. Aku yang membimbing tanganmu untuk menemukannya. Ia hanya akan menyala jika yang memegangnya memiliki hati yang bersih dan niat melindungi, bukan untuk membunuh,"
Saras memegang trisula itu lebih erat. Tangannya tremor. "J-jadi, kau ini jin?" ucapnya dengan terbata, sebab pemuda tampan yang sudah membuatnya terpesona, ternyata bukan manusia.
"Ya... Aku jin... Tapi yang jelas bukan jin Sarimi.. Aku jin yang dapat melindungimu," sahutnya.
Saras menatap sosok tersebut. "Ciiih! Kalau kau jin sarimi, tempatmu bukan di trisula, tetapi di bungkus kemasannya!" sahut gadis itu mulai kesal.
Wuuussh!
Tiba-tiba sosok itu melesat, dan kini berdiri di hadapan sang gadis.
smgt kk 💪💪💪
dasar ya
Karena bagaimanapun Saraswati anaknya.. 🤧
hadeh punya bapak kok bisa ya memlilih kasta dr anak
aq bgg deh
gila ya hany kasta yg di pandang nya gemblung
kyk keturunan ningrat ya kek gtu
tp skrg udah g sih hehehehe
kmaren akun yg dulu khapus. 😌
hadeh smownkapan itu akan berkahir kasiham saras
Kayaknya Wayan Ratri nggak akan berhenti, sebelum mendapatkan apa yang ia mau.. 😌