Nayra Lovarisa, 32 tahun, seorang influencer sukses dengan kehidupan yang sudah sempurna, karier mapan, bisnis berkembang, dan memiliki putra yang menjadi dunianya.
Selama empat tahun, hanya mereka berdua. Tanpa kekurangan, sampai sosok Om Rara muncul menjadi penolong baik hingga tanpa sadar membuat anaknya menyukainya.
Awalnya Nayra tidak terganggu malah terbantu dengan sang tetangga sampai kemudian anaknya punya harapan lebih, ingin menjadikan pria itu sebagai ayah sambungnya.
Bagaimana kisah ini selanjutnya? Nayra yang punya banyak pertimbangan, Rayyan yang tidak menyerah menjodohkan sang Mama dan Om Rara yang menyadari perasaannya apa mampu meluluhkan hati janda satu anak itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Terbongkar
Setelah sahabatnya menghilang dari pintu Lift yang sudah tertutup rapat di sanalah senyum Nayra langsung hilang. Tak menyangka kalau Rayyan membohonginya karna kenyataan Gatra merasa terganggu dengan kehadiran putranya.
Nayra tidak marah hanya tak habis pikir dengan jalan pikiran Rayyan yang harusnya sudah mengerti kalau orang itu tak ramah tamah atau ketus maka jangan mendekatinya lagi.
Tapi anaknya yang keras kepala serta memiliki pemikiran unik masih saja mendekati Gatra yang tidak menyukai anak-anak.
Nayra mengetahui beberapa cerita tentang Gatra dari Haviza, adik dari Hakim sahabatnya tangganya. Pria itu punya mantan pacar toxic yang membenci anak-anak hingga di dalam hubungan itu mereka bicarakan adalah tentang ketidak sukaan si wanita pada anak-anak hingga membuat Gatra terpengaruh. Tapi beruntungnya karna suatu kejadian membuat Gatra sadar kalau pacarnya salah dan memutuskan hubungan mereka.
Namun setelah tak berhubungan lagi, rasa tidak suka Gatra pada anak-anak masih sama, ia masih sinis pada anak-anak yang tidak salah, masih tidak suka di repotkan, tidak bisa bersikap manis dan yang paling penting tidak bisa bersabar menghadapi mereka.
Nayra simpati mengetahui semua yang alami Gatra, tapi tak membenarkan kalau pria itu sampai melukai perasaan putranya yang terlihat seperti bukan tipe anak yang mudah tersinggung, tapi kenyataannya Rayyan adalah anak yang suka menyembunyikan dan menahan masalahnya sendiri lalu bersikap baik-baik saja keesokan harinya.
Anaknya sangat baik, polos, tak suka dengan kesedihan berkepanjangan dan yang paling penting pemaaf, Nayra tidak akan rela di sakiti siapapun.
Maka dari itu dengan langkah cepat, takut putranya kenapa-kenapa karna sudah cukup lama ada di unit sang tetangga, ia langsung menghampiri unit itu. Ia menekan bel berkali-kali dengan tak sabaran sampai pintu itu terbuka.
"Saya minta maaf kalau selama ini Rayyan..." Nayra tak melanjutkan perkataannya karna melihat putranya sedang menonton TV di temani oleh banyak cemilan di sekelilingnya.
"Maaf?" Gatra mengerutkan kening, tapi mengingat cerita dari Rayyan ketika anak itu hendak keluar unitnya, melihat ada Tante Haviza, membuat Gatra menyadari maksud dari perkataan Nayra padanya. "Pasti kamu tahu semuanya tentang saya dari Haviza adiknya Hakim."
"I...ya, sekali lagi maaf kalau tindakan Haviza terdengar lancang, tapi dia ngga salah di sini, Mas. Saya yang salah dan Rayyan yang enggak tahu apa-apa tentang tetangga kami. Saya juga minta maaf kalau selama ini Rayyan udah menganggu ketenangan Mas Gatra."
"Dia memang penggagu kecil tapi dia anak yang pemberani." Ungkap Gatra.
"Cuma bantuan kecil aja jadi ngga perlu di lebih-lebihkan gitu, Om." Sahut Rayyan santai sambil menoleh pada dua orang dewasa yang masih berdiri di depan pintu dengan tatapan penasaran serta penuh terima kasih. "Jadi ceritanya Om Rara ketakutan bangat pas buka makanan yang baru di beli lalu lari ke kamar mandi buat muntah. Rayyan sedang di hu... lihat-lihat koleksi komik Om Rara penasaran terus lihat makannya... jijik banget, ada banyak ulatnya terus aku buang ke tong sampah."
"Bocah itu benar," kata Gatra sambil bergidik karna mengingat kejadian beberapa saat yang lalu. Kalau saja Rayyan tak cepat membuangnya saat ia berlari ke kamar mandi, mungkin ia sudah pingsan saat kembali ke tempat yang sama.
Gatra punya trauma yang terjadi ketika menjalani sekolah pelayaran. Saat itu ia menitip makan ke seorang teman yang hendak beli makan di luar. Lalu ketika nasi bungkus itu ada di tangannya tanpa di pastikan lebih dulu karna terlalu lapar, Gatra langsung memakannya hingga tersisa setengah sampai tiba-tiba saja teman itu menghentikannya dan meminta agar ia melihat kondisi nasi bungkusnya.
Di situ Gatra melihat ada beberapa ulat kecil membuatnya di serang mual lalu memuntahkan semuanya. Tak sampai di situ saja, ia diare parah dan demam sampai di bawa kerumah sakit.
Kebetulan juga saat sebelum memakan makanan itu kondisi tubuhnya kurang baik hingga membuatnya cepat terserang penyakit lain.
Sejak saat itu Gatra menghindari makan nasi bungkus. Entah temannya yang salah atau penjualnya, tapi ia tak mau lagi berhemat uang lalu membeli makanan murah. Gatra benar-benar kapok dengan aksi meringankan beban orang tua yang kala itu ekonomi mereka sedang menurun, tapi malah membuat mereka tak tenang karna mengetahui keadaannya.
Sementara itu Nayra tak tahu harus berkata apa hanya tersenyum tipis lalu mengalihkan pandangan pada putranya yang masih santai di sofa sambil menatap mereka bergantian. "Ayo, pulang." Ajaknya.
"Kok buru-buru banget." Kata Gatra lalu terdiam menyadari ada yang salah dengan basa basinya. "Maksud saya Rayyan, dia baru aja mau mulai ngegame, kok buru-buru di ajak pulang."
"Tenang aja, Om. Rayyan juga belum mau pulang." Rayyan melirik Nayra sebentar lalu kembali fokus pada permainannya.
Nayra melotot. "Ini udah malam, Rayyan!"
"Tapi aku ngga mau pulang, mendingan Mama pulang duluan aja, aku bisa pulang sendiri kok." Tolak anak itu lalu mengalihkan pandangan pada layar TV yang belum menyala berhasil membuat Nayra berusaha menahan emosinya. Inilah yang menjadi salah satu pertimbangannya untuk membeli rumah alih-alih membeli unit apartemen yang sudah lengkap, Nayra bukan tidak punya uang labuh hanya saja tak ingin putranya pulang pergi unit sesuka hatinya. Di tambah lagi jika bertemu dengan tetangga seusianya atau paling tidak di sukainya maka anak itu akan betah berlama-lama ada di sana. "Palingan sekarang baru jam tujuh malam jadi ntaran aja Rayyan pulangnya, Ma."
"Jam sembilan malam lebih, Rayyan!"
"Tapi Rayyan tetap ngga mau pulang!" Bala Rayyan keras kepala lalu menatap sang Mama penuh permohonan. "Tante Hapisa pasti masih ada di sana kan? Nanti pasti berisik dan ujung-ujungnya Rayyan juga ngga bisa tidur. Mendingan Rayyan di sini–"
"Tante Haviza juga udah pulang. Ini Mama baru aja anterin dia sampai di lift."
"Ngga nyangka udah jam sembilan aja," kata Gatra menghentikan perdebatan antara ibu dan anak di depan pintu unitnya. "Rayyan, mendingan kamu pulang aja. Kapan-kapan kamu boleh masih ke sini lagi."
"Beneran, Om? Asyik... ayo, kita pulang, Ma."