Kehidupan Milly yang tenang di sebuah kota kecil, Glenmore, perlahan mulai berubah menjadi mencekam. Perburuan demi perburuan mengejarnya. Ia harus lari, sejauh mungkin dari rumah, menjauhkan dari nenek Dorothy. Nenek yang mengadopsinya dari panti asuhan.
Pelarian demi pelarian membawanya ke sebuah misteri hidup yang selama ini ia pertanyakan. Siapa dirinya? Darimana asalnya? Kenapa ia memiliki kemampuan yang tidak dimiliki orang sekitarnya? Mengapa mereka mengejarnya?
Akankah takdir akan membawa Milly menemukan jawaban?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Sopir Keluarga yang Bermasalah
Pulang sekolah, Milly sudah menolak dijemput. Ia berniat jalan kaki ke rumah sakit. Namun, entah kenapa Pak Herman masih saja menjemputnya. Mungkin terjadi miskomunikasi antara Nenek Dorothy dan Pak Herman--pikir Milly tanpa berprasangka buruk.
Ketika ia hendak membuka pintu mobil belakang. Wayne datang menahan pintunya. "Jangan naik," ujarnya seolah memberi peringatan.
"Kita berangkat sendiri-sendiri dan langsung ketemu di rumah sakit saja," timpal Milly menyingkirkan tangan Wayne dari pintu mobil.
"Jangan naik kataku!" tegas Wayne dingin. Tangan Wayne mencengkram pergelangan tangan Milly. Berusaha menahan Milly tidak masuk ke dalam mobil.
"Please, ini bukan waktu dan tempat yang tepat buat ribut," ujar Milly memohon.
Wayne perlahan melepaskan cengkeramannya. "Baiklah, kita ketemu di rumah sakit," timpal Wayne mengalah.
Milly bersyukur Wayne tidak sekekeh biasanya. Ia tersenyum tipis sebelum masuk mobil. Batinnya--tidak mungkin Pak Herman mau mencelakainya. Pikirnya--andai Pak Herman memang mau mencelakainya--kenapa ia harus menunggu 15 tahun baru melakukannya--selama ini Pak Herman cukup loyal--bahkan Nenek Dorothy sudah memperlakukannya seperti keluarga sendiri.
Mobil pun melaju. Anehnya di tikungan jalan yang seharusnya belok kanan, justru Pak Herman mengambil lajur kiri.
"Pak, kita mau kemana? Ini bukan jalan ke rumah sakit," ujar Milly masih berusaha tenang.
Dari kaca spion, Milly melihat Pak Herman menyeringai.
"Pak, kita harus putar arah," desak Milly mulai kehilangan kesabaran.
Pak Herman masih tidak bereaksi, malah melajukan mobilnya makin kencang. Milly sampai harus berpegangan pada hand stand yang ada di dekat jendela.
"Pak Herman, berhenti!! Kita sudah di luar jalur!!" teriak Milly panik.
Mobil terus melaju menjauhi pusat kota. Jalan yang berkelok-kelok dilalui tanpa mengurangi kecepatan. Euforianya seperti sedang naik roller coaster.
Milly menyesal tidak mendengarkan Wayne. Ia tadinya berpikir Wayne sedang mencari gara-gara dengannya. Siapa sangka peringatan Wayne serius. Mungkin Wayne sudah melihat sesuatu yang tidak dilihatnya.
"Bapak mau membawa saya kemana?" tanya Milly menurunkan tensi nada suaranya.
Pak Herman tetap tidak menjawab.
Mobil makin mendekati kawasan pinggiran rumahnya. Lajunya yang kencang jelas melebihi batas kecepatan wajar. Tiba-tiba dari arah berlawanan arah, muncul mobil lain yang menantang dengan kecepatan penuh.
BRAAaaaKkkkkkkk!!!!
Suara benturan keras memekakkan telinga. Kedua mobil saling adu kekuatan. Mobil Milly ringsek. Kalah karena sudah termakan usia. Beruntung tidak sampai terpelanting. Pak Herman tewas di tempat. Sementara Milly kepalanya terbentur dan berdarah.
Samar-samar Milly mendengar suara sirene polisi. Dengan pandangan yang nanar, ia melihat Wayne turun dari mobil yang menabrak mereka.
Dengan kekuatannya, Wayne memaksa membuka pintu belakang. Pintu itu terjatuh di aspal jalanan. Ia mengeluarkan Milly. Ia menggendong Milly dan mendudukkan di mobilnya sendiri. Bumper mobilnya juga rusak parah. Untung aerodinamika mobilnya bagus dan bisa menahan tubrukan dahsyat barusan.
"Kau gila," desis Milly sebelum kehilangan kesadaran.
***
Milly merasa tak berdaya. Tubuhnya lemas. Langit-langit di atasnya bukan seperti kamar rumah sakit. Perlahan Milly mulai memutar bola matanya melihat sekeliling.
Ruangan itu cukup luas, ada jendela lebar seukuran dinding di samping ranjangnya. Di sudut kamar ada pot tanaman bambu dan ada pintu walking closet. Kasurnya juga cukup luas dan empuk. Ini kamar siapa--batin Milly, ia mencium aroma maskulin.
Ia melihat ada tiang di dekatnya. Ia mendongak ke atas dan melihat cairan infus yang menggantung. Tangannya diinfus. Ia menggerakkan sedikit jemarinya.
Ia menyentuh kepalanya yang sudah diperban. Juga luka baret kena pecahan kaca di lengan dan bahunya sudah dibersihkan. Bahkan bajunya sudah diganti baju piyama yang lebih longgar.
Milly bergidik melihat pengaturan yang begitu rapi dan detail ini. Ia hanya teringat orang terakhir yang dilihatnya adalah Wayne.
Pintu terbuka dan dengan kepala yang masih sakit, Milly melihat Wayne masuk dan mendekati ranjangnya.
"Sudah bangun?" katanya mencairkan suasana.
Milly mengangguk pelan. Tapi gerakan pelan pun sudah membuat kepalanya pusing dan sedikit berputar.
"Jangan banyak bergerak," ujar Wayne melihat ekspresi wajah Milly yang kesakitan.
"Dimana ini?"
"Di rumahku."
"Kenapa kau bawa aku ke rumahmu?" protes Milly lemah.
"Lebih aman," beritahu Wayne singkat.
"Lebih aman dari siapa atau apa?" tuntut Milly meminta penjelasan.
"Dari siapapun yang menargetkanmu," jawab Wayne terus terang.
"Siapa?" desak Milly.
Wayne hanya mengangkat bahu.
Dari belakang Wayne, muncul seorang dokter perempuan. Dokter itu kemudian memeriksa keadaan Milly lagi. Dari Wayne, ia tahu dokter itu juga yang membantunya mengganti baju.
"Bisakah kita bicara di luar?" pinta dokter Hani pada Wayne, usai memeriksa Milly.
Dokter Hani adalah salah satu dokter pribadi keluarga besar Wayne. Ia teman seangkatan kuliah Mama Wayne, tapi beda jurusan.
"Benturan di kepalanya cukup keras. Mungkin tabirnya menjadi terbuka. Butuh obat untuk menekannya," beritahu dokter Hani. Hampir separo lebih rambutnya sudah tertutup uban. Badannya sedikit berisi dan wajahnya bulat.
"Tidak perlu obat lagi," putus Wayne.
"Tapi itu bakal menyakitkan baginya," kata dokter Hani memberitahu konsekuensinya.
"Cepat atau lambat, dia harus menghadapinya." Wayne bersikukuh tidak akan memberikan Milly obat minum. Kecuali obat untuk luka luar.
Dokter Hani hanya menghela nafas dengan berat. Meskipun begitu, ia tetap menuliskan resep obat minum untuk mengurangi sakit kepala Milly.
"Apa kata dokter?" tanya Milly ketika Wayne masuk lagi. Ia sudah tidak melihat dokter perempuan itu bersama Wayne. Sepertinya sudah pulang.
"Efek benturan di kepalamu mungkin bakal sangat menyakitkan." Jeda. "Tapi kamu tidak perlu kawatir, dokter Hani sudah meninggalkan resep obat minum untuk mengurangi sakitnya," lanjut Wayne. Ia hanya memberitahu sebagian yang dikatakan dokter Hani padanya.
Milly bergumam oooo pendek.
Hening.
Wayne melihat tatapan Milly seperti sedang berada di dunia yang berbeda. Ia menjentikkan jarinya di depan wajah Milly sembari berkata, "Apa yang kau pikirkan?"
Tatapan Milly beralih padanya.
"Aku tak mengerti kenapa Pak Herman tega melakukannya padaku," pancing Milly. Ia yakin Wayne tahu sesuatu.
"Kau sedang memancingku??" sindir Wayne balik bertanya.
Milly menggigit bibirnya. Tapi ia juga tak bisa mundur. Ia berpikir dan menyusun kalimat yang tepat.
"Bukan," kata Milly, sebelum imbuhnya, "Aku hanya bingung." Jeda. "Apa alasannya? Kenapa jika ingin mencelakai diriku, ia baru bergerak sekarang?"
Wayne masih diam. Tatapannya tak lepas dari Milly.
"Padahal aku tak pernah curiga padanya. Keluargaku juga. Kukira dia setia," tambah Milly masih belum menyerah.
Wayne menarik nafas dalam.
"Ia memang setia pada majikannya. Hanya saja majikan yang sebenarnya bukan dirimu atau nenekmu."
DEG
Milly membelalakkan mata. "Ada majikan lain??" ulang Milly nyaris tak percaya.
"Tidak heran, dia mendadak berani mencelakai ku, itu bukan kenekatan yang terbentuk dalam sehari dua hari," katanya lagi.
Milly mencoba bangun dari tempat tidur tapi belum bisa. Kepalanya masih sakit. Badannya benar-benar remuk. Sekujur tubuhnya penuh luka.
"Istirahatlah," ujar Wayne menasehati.
"Aku mau duduk bersandar di dipan," pinta Milly memohon.
Wayne mempertimbangkan. Ia pikir--boleh juga, sekalian makan malam. Matahari sudah terbenam, langit sudah gelap, tapi sejak Wayne membawa Milly pulang, Milly belum makan. Dengan cekatan, Wayne membantu Milly dan menyandarkan tubuh Milly ke dipan.
"Jadi, siapa majikannya?" tanya Milly kembali mengorek.
"Aku sebutkan pun, kau juga tidak tahu yang mana orangnya," jawab Wayne setengah arogan.
Milly menyipitkan mata. Itu seperti pengakuan--Wayne bukan sekedar murid baru di sekolahnya--Wayne punya identitas lebih dari apa yang semua orang tahu di kelasnya.
"Jadi--"
"Jadi kau harus makan malam," sambung Wayne sembari melangkah ke dapur. Ia memanaskan bubur yang tadi sempat ia buat.
"Makan dulu," kata Wayne duduk di depan Milly. Ia memberikan mangkuk bubur itu. Di bawah mangkok itu ada lipatan kain untuk menahan efek panasnya bubur yang menjalar ke seluruh wadah.
Milly menerimanya dan perlahan mulai menyendok sesuap demi sesuap bubur yang ada di dalamnya.
"Aku harus pulang," ujar Milly, tangannya mengembalikan mangkok yang sudah kosong itu ke Wayne.
"Tidak bisa," tegas Wayne. "Malam ini kau harus menginap disini. Lagipula dengan luka sebanyak ini, kau justru akan membuat nenekmu kawatir," jelasnya mengimbuhkan.
"Tapi, kalau aku tidak pulang, nenek juga akan kawatir," bantah Milly tak menyerah.
"Besok pagi, aku akan mengantarmu," katanya berjanji. Tidak menyisakan ruang untuk perbantahan.
"Polisi saat ini pasti sudah mengabari nenekmu, tentang kecelakaan yang menewaskan Pak Herman, sopirmu itu. Sedan tua itu sudah hancur."
"Nenek pasti mencariku," desis Milly galau.
"Hanya semalam. Bersabarlah." Wayne kembali keluar kamar. Ia mencuci mangkok yang digunakan Milly. Ia kemudian memanaskan pizza di microwave dan makan di dapur. Ia meninggalkan Milly sendirian di dalam kamar.
Sementara di dalam kamar, kepala Milly mulai sakit. Ia berusaha menahannya tapi tak sanggup. Erangannya seperti desisan tak jelas. Sekujur tubuhnya penuh keringat dingin.
"Wayne," panggil Milly yang kehilangan sisa-sisa kekuatannya. Saking sakitnya, ia jatuh pingsan lagi dalam kondisi meringkuk di kasur.
Wayne yang mendengar panggilan Milly langsung berlari ke kamar. Ia terkejut melihat kondisi Milly yang kembali tak sadarkan diri. Perlahan ia meluruskan tubuh Milly yang meringkuk. Ia memeriksa infusnya. Sepanjang malam ia menemani dan mengkompres Milly.
***