Saat pindah ke SMA Arkana, sekolah tua yang terkenal karena rumor siswa hilang dan lorong terkutuk, seorang gadis dingin bernama Naresha justru tertarik membongkar rahasia itu. Di tengah penyelidikannya, ia terjebak hubungan rumit dengan Arven — ketua OSIS yang tenang, tampan, namun menyimpan sesuatu yang menyeramkan.
Semakin dekat mereka, semakin banyak kejadian aneh terjadi. Bisikan di kamar mandi kosong, bayangan tanpa wajah, hingga siswa yang menghilang satu per satu.
Dan ternyata… sekolah itu memang menyimpan sesuatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 — Setelah Semua Berakhir
Hujan turun pelan saat mereka keluar dari gedung sekolah.
Udara malam terasa lembap dan dingin.
Langit gelap tanpa bintang.
Namun suasananya berbeda dari malam-malam sebelumnya.
Tidak ada lagi bisikan aneh.
Tidak ada hawa menyeramkan yang menusuk dada.
Sekolah itu terasa… kosong.
Benar-benar kosong.
Naresha berjalan pelan di samping Arven sambil memeluk lengannya sendiri.
Kakinya masih sedikit lemas setelah semua yang terjadi.
Kepalanya juga masih terasa berat.
Terlalu banyak hal mengerikan dalam satu malam.
Pak Damar berjalan beberapa langkah di belakang mereka.
Diam.
Pria itu tidak mengatakan apa-apa sejak Penjaga menghilang.
Wajahnya pucat.
Tatapannya kosong.
Dan untuk pertama kalinya sejak mengenalnya…
Ia terlihat seperti orang tua yang sangat lelah.
Mereka akhirnya berhenti di depan gerbang belakang sekolah.
Hujan rintik-rintik membasahi aspal jalan.
Naresha menatap gedung sekolah itu lama.
Lorong lantai tiga yang dulu terasa hidup oleh ketakutan kini gelap dan sunyi.
Entah kenapa…
Rasanya aneh.
“Aneh ya,” bisik Naresha pelan.
Arven menoleh.
“Apa?”
“Sekolah ini sekarang ga serem lagi.”
Cowok itu ikut melihat gedung sekolah beberapa detik.
Lalu menghela napas kecil.
“Iya.”
Sunyi sebentar.
Naresha menunduk pelan.
Bayangan Evelyn terus muncul di kepalanya.
Senyum terakhir perempuan itu.
Suara tawanya.
Tatapan sedihnya.
Dadanya kembali terasa sesak.
Arven tampaknya menyadari perubahan ekspresinya.
Cowok itu pelan menyenggol bahu Naresha.
“Jangan nangis lagi.”
“Aku ga nangis.”
“Suara lo udah kayak orang mau pidato perpisahan.”
Naresha langsung melotot kecil.
“Situasinya sedih tau.”
Arven terkekeh pelan.
Dan suara tawa kecil itu entah kenapa membuat hati Naresha sedikit lebih ringan.
Namun suasana kembali berubah saat Pak Damar tiba-tiba bicara.
“Aku bakal menyerahkan diri.”
Naresha dan Arven langsung menoleh bersamaan.
Pria itu masih berdiri di bawah hujan dengan wajah tenang.
“Apa?” tanya Arven dingin.
Pak Damar menatap sekolah itu lama.
“Aku udah terlalu lama nutup mata.”
Tatapannya turun pelan.
“Dan terlalu banyak anak yang jadi korban.”
Naresha diam mendengarkan.
Ia masih marah pada pria itu.
Sangat marah.
Namun melihat wajah Pak Damar sekarang…
Ada rasa hancur yang sulit dijelaskan.
“Aku pikir semua yang kulakukan demi menyelamatkan sekolah,” lanjutnya lirih. “Tapi ternyata aku cuma terus memperpanjang kutukan.”
Hujan turun semakin deras.
Pak Damar akhirnya menatap Arven.
“Maaf.”
Arven tidak langsung menjawab.
Tatapannya dingin.
Namun tidak penuh kebencian lagi seperti tadi.
Hanya lelah.
“Simpan aja maafnya,” katanya pelan.
Pak Damar mengangguk kecil.
Lalu perlahan berjalan meninggalkan mereka di tengah hujan.
Langkahnya berat.
Seolah seluruh hidupnya runtuh malam itu.
Naresha memperhatikan pria itu sampai menghilang di ujung jalan.
Lalu menghela napas panjang.
“Jadi sekarang gimana?”
Arven memasukkan tangan ke saku hoodie-nya.
“Pulang.”
“Maksudku setelah ini.”
Cowok itu berpikir beberapa detik.
“Ya hidup normal aja.”
Naresha langsung menatapnya datar.
“Kita baru lawan monster tanpa wajah dan hantu sekolah terus lo bilang hidup normal?”
“Kan udah selesai.”
“Tetep aja aneh.”
Arven tertawa kecil lagi.
Dan Naresha sadar…
Ini pertama kalinya ia melihat Arven terlihat setenang ini.
Tidak tegang.
Tidak seperti selalu memikul sesuatu sendirian.
Mereka mulai berjalan pulang menyusuri jalanan yang basah karena hujan.
Langkah mereka pelan.
Sunyi.
Namun bukan sunyi yang menakutkan.
Melainkan sunyi yang nyaman.
Beberapa menit kemudian…
Arven tiba-tiba berhenti berjalan.
Naresha ikut berhenti lalu menoleh bingung.
“Kenapa?”
Cowok itu terlihat ragu beberapa detik.
Lalu akhirnya berkata pelan,
“Sha.”
“Hm?”
“Makasih.”
Deg.
Naresha langsung salah tingkah sendiri.
“B-buat apa?”
“Karena udah tetap tinggal.”
Tatapan Arven lurus ke arahnya sekarang.
Serius.
“Kalau lo ga datang ke hidup gue…”
Cowok itu tersenyum kecil.
“Mungkin gue masih sendirian sampai sekarang.”
Jantung Naresha langsung berdetak lebih cepat.
Pipinya terasa hangat.
Dan di tengah jalan sepi penuh hujan itu…
Ia mendadak tidak tahu harus menjawab apa.