Seorang anak perempuan yang harus menjadi tulang punggung keluarganya. Putus sekolah, mencari pekerjaan sedangkan kakak laki-lakinya malah menjadi pengangguran dan mengandalkan adik perempuannya. Apakah amanda dapat terlepas dari keluarga yang memanfaatkan dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinnyaple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN 9
Semenjak kakakku pergi dari rumah malam itu, ibu murung. Sudah hampir dua minggu kakakku tak pulang ke rumah. Setiap aku mencoba untuk menanyakan kabarnya kepada teman-temannya, tak ada satupun dari mereka yang menjawab sesuai dengan keinginanku. Sepertinya teman-teman kakakku sudah berkompromi dengan kakak untuk tidak memberi kabar apapun.
Khawatir tentu saja. Bahkan ibu juga mendatangi kosan yang berada di pinggir jalan itu, tapi nihil dia tidak ada disana.
Setelah kejadian waktu itu, pak kades benar-benar membersihkan kontrakan itu. Sekarang hanya pekerja pabrik yang berada di sana.
Dan puncaknya hari ini, ibu sampai tak sadarkan diri setelah tiga hari dia sakit.
Aku terpaksa meminta izin pada mba Nia untuk libur dulu. Untungnya, bosnya itu baik hati. Dia mengijinkanku untuk libur sampai ibu benar-benar pulih. Walaupun sebenarnya aku juga tidak enak pada mba Nia, pasti dia keteteran karena berjaga sendirian.
"Ibu mau minum?" Tanyaku setelah melihat ibu yang hendak bangun dari tempat tidur.
Ibu menggeleng. "Ibu tidak bisa tidur, manda."
Aku menghampiri ibu, duduk di bangsal ibu dengan ibu. "Ga usah terlalu dipikirin bu. Nanti manda coba tanya lagi ya kabar kak Toni."
Walaupun ibu terlihat tidak yakin, ibu tetap merebahkan kembali badannya. Menerima gelas yang aku berikan dan meminumnya.
Aku tersenyum. Walaupun memaksa ibu tidaklah mudah tapi aku akan berusaha agar ibu bisa sembuh dengan cepat. Mendapatkan kabar kak Toni juga semoga lebih cepat.
"Bos mu pasti keteteran di warung sendirian, manda."
Aku tersenyum. "Biarkan bu. Dia sudah terbiasa dengan itu."
Seorang perawat datang ke ruangan yang dipakai ibu. Membawa troli berisi makanan. Makan siang datang. Aku tidak sekaya itu bisa masuk di ruangan yang isinya satu orang saja. Mungkin karena itu juga ibu jadi tidak bisa tidur karena terganggu pasien lain.
"Ibu ini makan siangnya ya. Dihabiskan ya bu." Perawat itu tersenyum pada kami. Lalu pergi mengantarkan makanan pada pasien yang lainnya.
"Ibu makan ya." Aku membantu ibu untuk duduk. Ibu menurut saja. Aku meletakkan makanan diatas pangkuan ibu. Ibu tak mau aku suapi katanya masih sanggup sendiri. Aku mengangguk membiarkan ibu melakukannya sendiri.
"Ibu aku beli makan dulu ya diluar. Ga papa kan ibu sendiri disini?"
Ibu mengangguk, masih memakan makanannya dengan pelan.
Aku keluar rumah sakit. Banyak yang berjualan disana. Aku menghampiri salah satu warung nasi. Tapi di seberang jalan aku melihat seseorang. Seseorang yang sangat aku kenal berada di sana.
"Bu aku tinggal sebentar ya kesana." Aku pergi menghampiri orang itu.
"Kak?" Takut salah orang aku memelankan suaraku. Orang itu mendongakkan wajahnya, hingga aku bisa melihat dengan jelas wajahnya yang kusam karena terkena debu jalanan. Topi yang ia pakai tak bisa menutupi panas yang menyengat siang ini.
"Kakak ngapain?" Aku masih tercengang. Apa ia dia kakakku, karena dia hanya diam saja. Mungkin sama sepertiku, terkejut.
"Kamu lihatnya?"
Setelah mendengar suara itu aku menjadi sangat yakin jika itu benar-benar kakakku.
"Kakak jadi tukang sapu jalan? Kenapa?" Aku masih bingung. Kenapa kakaknya mau kerja begini padahal dulu ditawari pekerjaan yang lebih enak tidak mau.
"Katanya suruh kerja. Sekarang udah kerja kamu malah bilang begitu?"
"Bukan. Bukan begitu maksudku. Ibu di rumah sakit kak. Kakak ga mau jenguk ibu?" Aku mencoba mengalihkan perhatianku. Bertanya dengan pelan semoga saja hati kak toni luluh mau bertemu dengan ibu.
Kulihat wajahnya terkejut.
"Nanti saja ketemu ibu, aku masih kerja."
Setelah mengatakan itu kak Toni kembali melanjutkan pekerjaannya. Menyapu trotoar dan pinggir jalan. Kakaknya ini aneh sekali, ditawari kerjaan yang tidak panas-panasan malah tidak mau. Malah lebih memilih bekerja seperti ini, berjalan sepanjang jalan, panas kehujanan sudah pasti.
Aku kembali menyebrangi jalan ke warung nasi yang tadi aku pesan.
"Bu, pesen satu lagi ya sama minumnya juga."
Setelah ibu warung selesai membuatkan pesananku, aku kembali menyebrang jalan. Menghampiri kakakku yang sekarang sedang duduk di bawah pohon sambil minum air.
"Kak udah makan belum?"
Glek..
Suara kak Toni menengguk air terdengar keras.
"Kenapa emangnya?" Kak Toni menutup botol airnya dan mengelap sisa air di mulutnya.
"Nih buat kakak." Aku menyodorkan seplastik nasi yang tadi aku beli. "Dimakan ya kak. Nanti kalau kakak udah selesai kerjanya jangan lupa jenguk ibu ya." Setelah mengatakan itu aku bergegas berdiri. Takut ibu kenapa-napa karena aku tinggal terlalu lama.
"Ibu?" Aku menghampiri ibu yang sekarang sedang duduk di bangsalnya. "Sudah selesai makannya?" Aku melihat bekas makan ibu sudah berkurang setengahnya. "Kenapa ga ibu habiskan?"
Ibu menggeleng. "Hambar manda."
Aku paham. Rasa masakan rumah sakit memang agak hambar. Tapi itu demi kesehatan ibu sendiri. Aku tak berniat memaksa ibu menghabiskan makanannya. Melihat ibu menyuapkan makanan saja sudah membuatku senang. Karena semenjak kakak tidak pulang ibu jarang sekali menyentuh makanan.
"Kalau gitu, manda makan dulu ya bu. Ibu istirahat dulu aja. Nanti manda ambilkan obat setelah manda makan ya?"
Ibu mengangguk. Ibu beringsut merebahkan dirinya pelan. Aku membantu ibu untuk tiduran. Sambil menungguku selesai makan.
Soal aku bertemu kak Toni tadi, aku tidak bercerita kepada ibu. Takut ibu histeris dan meminta untuk bertemu kak Toni. Lebih baik menunggu kak Toni datang sendiri ke sini.
"Kapan ibu boleh pulang ya, manda?" Tanya ibu setelah dia menengguk obat yang aku berikan.
"Ibu baru tadi pagi ke rumah sakit. Sudah tanya kapan pulang saja." Aku meletakkan gelas kembali ke meja. "Makanya ibu makan nya harus banyak. Minum obatnya juga yang rajin biar cepet sembuh."
Ibu mendesah pelan. Aku paham istirahat di rumah sakit tak senyaman istirahat di rumah. Tapi mau gimana lagi, demi kesehatan ibu juga.
"Soal kakakmu. Apa udah ada kabar lagi?"
Aku diam. Apa aku ceritakan saja ya soal tadi. Tapi takut keadaan ibu makin drop mendengar kak Toni bekerja jadi tukang sapu jalanan.
"Nanti aku tanyakan lagi pada teman-teman kak Toni ya bu. Sekarang ibu istirahat lagi aja."
Kuputuskan aku tidak bercerita sebelum kak Toni kesini sendiri. Aku terlalu takut kesehatan ibu menjadi drop lagi. Aku tidak mau kehilangan keluargaku yang lain lagi. Cukup ayahku yang belum lama meninggalkanku membuat trauma besar itu di hidupku.
Apa aku ke depan lagi ya, berbicara pada kak Toni. Batinku di dalam hati.
Setelah memastikan ibu tertidur, aku meniatkan diriku untuk kembali menemui kakakku. Siapa tau dia masih di depan sana.
Tapi, setelah aku keluar dan mencari keberadaan kak Toni, dia sudah tidak ada di sana. Aku bahkan mencari di tempat lain pun dia tidak ada. Mungkin dia sudah pulang? Aku lupa tadi menanyakan dimana dia tinggal selama ini.
"Ya sudahlah. Mungkin besok aku bisa bertemu lagi dengan kakakku."
Walaupun aku tidak sepenuhnya menjadi adik di usiaku saat ini. Tapi dulu, saat kecil kakakku tetap kakakku.