NovelToon NovelToon
Rahasia Si Gadis Cupu

Rahasia Si Gadis Cupu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Idola sekolah / Diam-Diam Cinta
Popularitas:970
Nilai: 5
Nama Author: Rosemary Mary

Cery Vanesa Chaseiro, gadis mungil berusia delapan belas tahun, saat ini ia baru menduduki bangku kelas sebelas SMA, namun tingkah nya masih seperti anak kecil, begitu juga dengan penampilan nya.

Bagi yang tidak tau bagaimana cerita hidup Cery yang sebenarnya, mereka mengatakan kalau Cery adalah gadis paling ceria. Itu karena Cery sangat baik dengan semua orang dan selalu membantu mereka yang kesulitan. Meskipun kenyataannya dia tidak punya teman dan sering di cemooh anak-anak di sekolah nya.

Kenapa ia di cemooh? Ya karena penampilan nya yang kusut dan terlihat sangat miskin, bukan hanya itu banyak yang mengatakan kalau Cery tidak tahu diri?

Kenapa begitu? Ya karena meskipun Cery seperti anak-anak dia tetap lah gadis remaja yang punya perasaan seperti gadis remaja pada umumnya, dia naskir dengan laki-laki tertampan di sekolah Mawar Mekar. Linus Caesar Pratama, kakak kelas sekaligus ketua tim basket di sekolah Cery, ya sekaligus anak seorang CEO kaya. Seperti raja di sekolah, Linus

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemary Mary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

"pa, ngapain? Kan bisa kalau mau ngasih sesuatu di titip ke papa," jawab Clara sambil memanyunkan bibirnya.

"Dia kan pengen ketemu kamu," sang papa mengeleg kepala sambil meneguk teh hijau nya.

Clara tau dia tidak akan bisa menolak keinginan sang papa, mau tidak mau dia harus mengikutinya."yaudah Clara sekolah dulu ya,"

"Hati-hati sayang, jangan melawan dengan Raja ya," goda papa Tian sambil mengedipkan mata nya.

Hal ini membuat Clara melotot, rasanya dia ingin sekali menerkam sang papa karena selalu membahas soal Raja di hadapan nya, di tambah lagi papa Tian juga selalu mengatakan, sebentar lagi Clara akan selalu di awasi oleh Raja sang kakak tiri.

Hal ini tentu membuat Clara jengkel, papa nya mulai berencana menyerahkan pengawasan Clara kepada Raja, hanya karena mereka satu sekolah dan Raja calon kakak nya Clara.

Pagi itu Clara berangkat sekolah dengan perasaan yang sangat kesal, ia mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi.

Tidak butuh waktu lama,ia pun segera tiba di sekolah, sesampainya di kelas, Clara hanya melihat beberapa murid teladan yang sedang belajar lalu mengerjakan PR.

"Malas banget," celetuk Clara yang kemudian kembali keluar dari kelas tersebut lalu berjalan menyusuri koridor.

Namun saat sedang asik menikmati suasana sepi sekolah di pagi hari, Clara tiba-tiba di tarik seseorang masuk ke dalam kelas yang masih kosong.

"Ngapain Lo!?" bentak Clara yang kini menatap wajah orang yang membuat jantung nya hampir copot.

"Gue punya urusan sama Lo," ujar nya sambil memegang pergelangan tangan Clara menahan Clara agar tidak pergi.

"Lo lagi? Apaan sih, lepasin gue, gue mau ke toilet!" ucap Clara memberontak.

"Sekarang jujur sama gue, Lo ada hubungan apa sama Cery, Lo mirip banget sama dia, gak mungkin kebetulan!" ujar Linus setengah berteriak di hadapan Clara.

Clara terlihat takut,ia bahkan tidak berani menatap wajah Linus, suara keras Linus membuat nya gemetar.

Linus yang menyadari itu merasa sedikit bersalah, ia terlalu kasar memeprlakukan Clara.

"Dari awal Lo ketemu sama gue yang Lo bahas cuma Cery, Cery dan Cery, gue gak tau siapa dia, jangan mentang-mentang Lo Kaka kelas gue Lo seenaknya teriak-teriak di wajah gue," Clara melawan tanpa menatap wajah lawan bicaranya.

Linus semakin geram karena jawaban Clara tak sesuai yang dia inginkan, ia mengambil ponselnya dan kemudian memegang dagu Clara.

"Lihat ini, Lo lihat!" Linus memaksa Clara untuk menatap foto yang ada di layar ponsel nya.

Clara melihat foto tersebut, yang ternyata adalah foto seorang perempuan mengunakan kacamata, foto itu seperti di ambil dari lapor sekolah tidak terlalu jelas.

"Dia Cery," ujar Linus dengan suara yang mulai rendah.

"Hahah, hahah!" Clara tiba-tiba mendorong Linus sedikit jauh darinya, ia juga tertawa renyah setelah melihat foto tersebut.

"Ternyata mata Lo pada bermasalah ya, bukan cuma Lo di sekolah ini yang bilang gue mirip Cery, tapi banyak, gue pikir dia secantik gue atau selucu gue? Tapi ternyata cuma cewe culun! Kenapa Lo gak periksa mata aja ke dokter? Sama sekali gak mirip tau gak sih!" giliran Clara yang bicara dengan suara keras kepada Linus.

Linus mengelengkan kepala nya, firasat yang dia rasakan terlalu kuat, sehingga ia tidak percaya dan mengangap saat ini Clara sedang bersandiwara.

"Lepasin gue sekarang, gue kebelet," lirih Clara lagi.

Perlahan Linus melepaskan tangan Clara, ia menuduk dan memikirkan perkataan Clara tadi, meskipun ia tidak percaya namun apa yang di katakan Clara masuk akal setelah di ingat kalau Cery adalah seorang gadis culun tak bisa di bandingkan dengan Clara.

Clara melangkah cepat masuk ke dalam toilet dan mengunci dirinya di sana, entah apa yang ia lakukan, namun beberapa kali ia terus mencuci tangan nya serta mengosok hingga kulit tangan nya berubah menjadi sangat merah seperti udang rebus.

Hal ini sama seperti yang di lakukan Cery ketika ia sedang panik atau sedang berusaha menurunkan rasa gugup dan takut nya.

Sementara itu di kelas Linus ...

"Linus Lo kenapa? Lo gak apa-apa kan? Clara emang beda dia bener-bener keterlaluan," entah dari mana datangnya Rena ia tiba-tiba menghampiri Linus yang tengah bergelut dalam masalah yang ada di otak nya.

"Rena, ngapain Lo di sini?" tanya Linus menatap tajam Rena.

"Maaf gue gak sengaja dengerin Lo sama Clara ngobrol di luar. Linus, gue tau semua orang yang pernah dekat sama Cery mikir kalau Clara adalah Cery yang muncul dalam penampilan lain, tapi itu gak bener, gue udah coba deketin dan dia itu beda jauh sama Cery dia kasar banget dia ngelawan dan ngebentak gue," ungkap Rena menceritakan semua yang terjadi Minggu lalu kepada Linus.

"Siapa yang nyuruh Lo deketin dia? Salah Lo sendiri," balas Linus lagi.

"Menurut Lo, Cery beneran meningal gak sih? Gue sampai sekarang masih gak yakin," sambung Linus.

Meskipun Della mengatakan kepada Linus kalau Rena itu tidak baik dan kejadian malam itu di sebabkan Rena, Linus sama sekali tidak menangapi nya dengan serius.

karena Rena saat ia menanyakan hal itu kepada Rena, Rena mengatakan kalau mama nya Linus lah yang meminta untuk berbuat demikian.

Linus pun percaya dan memilih untuk memaafkan Rena sebab ia juga tau watak mama nya seperti apa. Ia juga meminta Rena agar tidak mendengarkan permintaan aneh dari mama Maya lagi setelah ini.

"Gue datang pas pemakaman Cery, mana mungkin itu palsu Cery beneran udah meningal dan Clara adalah Clara, dia cewek sombong yang angkuh banget menurut gue, gak mungkin dia itu Cery yang kembali dengan penampilan berubah," tutur Rena berusaha keras meyakinkan Linus kalau pikiran Linus salah.

Linus yang mendengar itu masih tidak percaya dan tidak merasa puas, ia memilih untuk meninggalkan Rena di dalam kelas sendirian.

"Gue gak bisa diem gini, gue harus lebih gercep dari yang lain gue harus tau siapa Clara yang sebenernya," Rena sendiri tidak percaya sepenuhnya dengan Clara namun ia tidak ingin Linus sampai cari tau duluan ia khawatir Clara akan mengambil Linus dari nya, apalagi kecantikan nya mulai tidak di pandang setelah datangnya Clara di sekolah Mawar Mekar.

Sementara itu, Della berjalan masuk ke dalam toilet sekolah, kebetulan sekali berpapasan dengan Clara.

Awalnya ia ingin menyapa, namun melihat ekspresi dingin Clara, membuat nya mengurungkan niat menyapa.

Namun pandangan Della terfokus kepada tangan merah Clara, ia terasa mengingat seseorang saat melihat tangan Clara.

"Cery," lirih Della.

Della tau betul bagaimana Cery yang selalu menguci diri di toilet dan keluar dengan tangan merah, hal ini juga terjadi kepada Clara yang terkenal galak dan cuek.

Della yang awalnya hendak mencuci tangan mengurungkan niatnya, ia berlari mengejar Clara, namun saat tiba di luar toilet, Della sudah tidak menemukan Clara di sudut manapun.

"Cepat banget dia jalan nya," Della terus berjalan sambil celingak-celinguk.

Karena kurang fokus dengan langkah kaki sendiri, Della tanpa sengaja menarbak Linus yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Della dan berjalan menghampiri nya.

"Astaga setan!" kaget Della.

"Ngapain Lo kayak nyari maling aja, ngendap sana sini?" tanya Linus penasaran dengan tingkah sepupu nya tersebut.

Sebenarnya Della engan bicara tentang Clara dengan Linus, namun Raja juga sudah yakin itu Clara Raja sekarang tidak menangapi cerita Della lagi, mungkin hanya Linus lah yang saat ini bisa jadi tempat curhat nya.

"Tadi gue lihat Clara,keluar dari toilet, tangan nya merah, biasanya gue juga lihat Cery kayak gitu, dia pasti cuci tangan beberapa kali karena sedang merasa gugup atau tertekan." jelas Della sambil memeprhatikan sekeliling nya.

Linus yang mendengar itu mengerutkan kening, hal ini kembali mengoyah kan keyakinan nya.

"Lo tau banyak soal Cery? Sampai tau semua kebiasaan dia,"

Della pun mulai menjelaskan apa saja yang jadi kebiasaan Cery kepada Linus, mereka mulai mengobrol panjang sambil berjalan, tidak mempedulikan siapapun yang ada di sekitar mereka.

Siang pun berganti malam dengan begitu cepat, tak terasa kini jam sudah menujukkan pukul delapan malam.

Saat ini Raja baru saja tiba di butik milik sang mama, ia di paksa untuk datang ke butik oleh sang mama, meskipun ia tidak tau apa yang akan di lakukan sang mama sehingga dirinya harus datang ke tempat itu.

"Boss, tuan Raja sudah tiba," ujar salah satu asisten Tara menghampiri nya di ruang istirahat Tara.

"Apa mas Tian sama Clara belum datang?" Tara berdiri dari duduknya dan melontarkan pertanyaan lain kepada sang asisten.

Asisten tersebut mengelengkan kepala nya.

Tara pun mengangguk dan kemudian berjalan keluar dari ruangan tersebut diikuti asisten nya.

Ia turun ke lantai bawah butik tersebut, dan melihat Raja sudah duduk di kursi sambil memainkan ponselnya.

Bertepatan dengan itu, Clara dan papa nya tiba di depan pintu butik, dua orang karyawan datang menghampiri dan menyambut mereka seperti intruksi dari Tara sebelumnya.

"Raja, udah main handphone nya, itu om Tian sama Clara udah datang, cepetan ikut mama sambut," Tara menarik Raja untuk bangkit dari duduknya.

Mendengar nama Clara, Raja sontak bersemangat dan kemudian menyimpan ponselnya ke dalam saku celana.

Awalnya ia tidak tau kalau sang mama juga mengundang Tian dan Clara datang ke butik mereka.

"Wah gede banget butik nya Tante," ujar Clara sambil melihat sekeliling butik tersebut yang cukup luas.

"Iya dong, kedepanya kamu kalau mau cari baju apapun gratis di sini," ujar Tara sambil tersenyum.

Hal ini membuat Clara kaget sekaligus senang, bukan senang karena baju gratis, namun ia senang dengan calon istri papa nya yang ternyata seorang wanita karir.

Tidak lama kemudian, mereka berempat segera masuk menuju ruang pribadi Tara di butik tersebut, tepatnya di lantai bawah ruang tersebut sengaja di sediakan untuk diskusi penting dengan orang-orang penting.

Bersambung ....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!