Karena sebuah ciuman Gibran jadi terobsesi dengan Diandra.
Sebuah ciuman yang membuat Gibran ingin memiliki Dirandra seutuhnya dan hanya untuknya.
"You're my baby Diandra"
Obsesi gila yang menuntut Gibran untuk segera menikahi Diandra sebelum orang lain merebut gadis itu darinya.
Dan obsesi gila yang membuat Gibran nekat melakukan apapun untuk membuat Diandra menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wida Dwi Oktafiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sagara dan Amarah
"Kenapa harus sama aku?"
Pertanyaan itu Diandra ajukan ketika Gibran mengajaknya menghadiri suatu acara nanti malam, tidak bukan mengajak, tapi memaksa dia untuk ikut. Kata Gibran itu acara ulang tahun wedding organizer milik temannya yang sudah berjalan selama lima tahun lebih dan Gibran bilang teman-temannya pasti membawa pasangan, jadi dia juga akan mengajak Diandra.
Sebenarnya Diandra malas, tapi dia sangat tau kalau Gibran tidak mungkin membiarkan dia menolak ajakannya. Akhirnya dengan setengah hati Diandra hanya mengangguk saja, sungguh dia malas apalagi dia tidak memiliki baju yang cukup pantas untuk dipakai.
"Ya kamu kan pacar aku." Kata Gibran
Kata pacar selalu Gibran tekankan pada Diandra.
"Acaranya jam berapa?" Tanya Diandra
"Jam delapan malam, nanti aku jemput kamu ya." Kata Gibran
"Yaudah"
"Mau kan?" Tanya Gibran membuat Diandra tersenyum dan mengatakan hal yang membuatnya tertawa
"Memang kalau gak mau boleh?" Tanya Diandra
"Enggak, kalau kamu gak mau aku bakal maksa dan ancam kamu kayak biasanya." Kata Gibran
Diandra berdecak kesal membuat Gibran merasa gemas lalu mencubit pipinya cukup kuat.
Saat ini keduanya berada di apartemen Gibran karena butik sedang tutup atas permintaan Sahara, jadi Gibran langsung mengajak kekasihnya itu ke apartemen. Mereka tidak melakukan apapun hanya duduk dengan layar tv yang menyala serta cemilan di meja lalu pembicaraan tak tentu arah.
Belakangan ini Diandra merasa kalau sikap Gibran menjadi lebih lembut dan pria itu juga tidak lagi mendesak untuk memberi jawaban atas lamarannya.
Apa pria itu sudah lelah?
Entahlah Diandra mulai berfikiran buruk dia takut kalau setelah ini Gibran akan meninggalkannya atau Gibran yang menemukan wanita lainnya. Jujur Diandra tidak mau sampai hal itu terjadi, tapi dia juga belum siap menerima sebuah pernikahan.
Dia belum siap membangun pernikahan.
Dia takut.
Sangat takut.
"Hmm bagaimana kalau kita cari gaun kamu untuk nanti malam?" Kata Gibran
"Aku sudah ada." Kata Diandra
"Tidak mau cari yang baru?" Tanya Gibran yang dijawab dengan gelengan oleh Diandra
"Tidak, aku juga jarang pergi Kak nanti malah sayang bajunya enggak dipake." Kata Diandra
"Oke kalau gitu sekarang kita ngapain?" Tanya Gibran lagi
"Nonton tv kan?" Kata Diandra sambil menatap pria itu sekilas
"Bagaimana kalau bercerita saja?" Usul Gibran
"Cerita apa? Aku tidak punya hal untuk diceritakan." Kata Diandra
"Kalau gitu aku yang cerita." Kata Gibran
"Hmm baiklah aku akan jadi pendengar yang baik." Kata Diandra
Gibran tersenyum dan membawa wanita itu ke dalam dekapannya lalu mengatakan sesuatu yang membuat Diandra diam.
"Aku tidak pernah menunggu seorang wanita, jangankan dua bulan bahkan beberapa jam saja aku enggan,"
Apa ini pertanda kalau Gibran akan menyerah?
"Tapi, untuk kamu aku rela menunggu lebih lama lagi dan cuman kamu yang bisa buat aku begini Diandra." Kata Gibran
Diandra hanya diam tidak memberikan tanggapan apapun hatinya menghangat, tapi rasa bersalah mulai menghampirinya.
Apa dia egois?
"Aku tidak tau apa yang membuat kamu begitu takut akan pernikahan atau sebuah hubungan, tapi Diandra jangan terjebak dengan masa lalu seburuk apapun itu,"
Melepaskan dekapannya Gibran menangkup wajah Diandra dan mencium bibirnya sekilas sebelum melanjutkan perkataannya.
"Hubungan tidak pernah salah, tapi mereka yang menjalaninya yang salah dan Diandra tidak semua kisah cinta berakhir menyedihkan." Kata Gibran
Diandra menundukkan wajahnya dia merasa sesak dan ingin menangis, tapi sebisa mungkin menahannya.
Gibran benar seharusnya dia tidak terjebak pada masa lalu, tapi begitu sulit untuk keluar dari sana.
Tanpa Diandra tau Gibran mengetahui semuanya, tentang masa lalu menyakitkannya.
"Aku tidak akan mendesak kamu untuk memberikan jawaban dan aku akan membiarkan waktu yang menjawabnya, setidaknya untuk saat ini aku hanya akan menunjukkan bahwa aku tulus." Kata Gibran
Mendongak dan menatap wajah Gibran untuk sesaat Diandra merasa terbuai apalagi tatapan lembutnya serta senyuman penuh ketulusan. Entah keberanian dari mana Diandra mengusap pipi itu dengan lembut hingga membuat Gibran memejamkan matanya dan tanpa sadar dia menarik wajah Gibran untuk mendekat lalu menciumnya.
Gibran terkejut, tapi juga senang apalagi ketika Diandra melingkarkan tangan mungil itu dilehernya. Wanita itu memejamkan matanya dan dengan amatir bergerak lembut di atas bibirnya.
Tidak terlalu lama karena Diandra langsung menjauhkan wajahnya dengan pipi memerah membuat Gibran jadi gemas melihatnya.
"Aku... emm... maaf..."
"Kenapa minta maaf? Aku suka, kamu boleh melakukannya lagi." Kata Gibran membuat wajah Diandra memerah hingga ke kupingnya
"Kakk"
"Maaf, sini peluk." Kata Gibran
Diandra tersenyum lalu memeluk Gibran yang entah kenapa selalu berhasil membuatnya nyaman.
"Aku akan memberikan jawaban secepatnya." Kata Diandra
"Tau kan pilihannya?" Tanya Gibran membuat Diandra tertawa
"Hmm yes or yes"
Tersenyum manis Gibran mengusap puncak kepala Diandra dengan sayang lalu menciumnya.
"I love you baby"
Diandra hanya tersenyum dan mengeratkan pelukannya.
Dia juga mencintai Gibran.
¤¤¤
Pukul delapan malam mobil Gibran terparkir di area gedung dia terlihat begitu menawan dengan balutan jas serta dasi bahkan Diandra sampai terpesona melihatnya. Sedangkan Diandra malam ini memakai gaun berwarna biru muda dengan rambut tergerai serta make up tipis yang membuat Gibran jadi malas untuk masuk ke dalam.
Takut ada banyak pria yang memperhatikan wanitanya.
Tentu saja Gibran tidak rela kalau harus berbagi dia bahkan tidak suka kalau ada mata yang melihat Diandra. Wanita itu cantik dan memiliki pesona tersendiri yang mampu memikat banyak pasang mata.
Terlalu posesif Gibran melingkarkan tangannya di pinggang Diandra dan memasang tatapan tajam kepada pria yang berani melirik wanitanya.
"Gibran"
Panggilan dari seorang wanita membuat keduanya menoleh Diandra tidak mengenalinya, tapi yang jelas dia cantik. Tadinya dia fikir Gibran akan melepaskan tangannya lalu memeluk serta menciun wanita itu seperti biasanya.
Ternyata Diandra salah Gibran hanya memberikan senyuman dan mengajak Diandra menghampirinya.
"Hai Ka"
"Pacar baru ya?" Goda Anika membuat Gibran tertawa mendengarnya
"Ra kenalin ini Anika dia yang punya wedding organizer." Kata Gibran
Diandra tersenyum dan mengulurkan tangannya sambil menyapa dengan ramah.
"Diandra"
"Anika, senang bertemu dengan kamu." Kata Anika
"Hm aku juga, sukses terus untuk usaha kamu." Kata Diandra
"Thanks, well Gibran dia beda dari cewek yang sering lo deketin." Kata Anika
Gibran hanya tersenyum, dia mengerti maksudnya dulu dia selalu mendekati wanita dengan paras dewasa.
"She's cute." Kata Anika
"Hmm i know." Kata Gibran
"Cepat menikah kalian berdua aku akan berikan diskon besar nanti." Kata Anika
Diandra hanya tersenyum menanggapinya.
Wanita itu ramah tidak seperti Anetta.
"Aku pamit dulu, terima kasih karena sudah datang." Kata Anika
Mereka berdua hanya mengangguk lalu Anika pergi untuk menyapa tamu tang lainnya. Dalam diam Diandra mengamati ruangan ini benar-benar mewah.
Begini ya orang kaya.
"Mau minum?" Tanya Gibran
"Emm boleh"
Gibran membawa Diandra ke sudut ruangan lalu mengambil minum yang ada disana, tapi sebelumnya dia mencium gelas itu dan meletakkannya lagi. Setelah dua kali melakukan hal yang sama Gibran mengambil minuman lain dan memberikannya pada Diandra.
"Kenapa?" Tanya Diandra penasaran
"Takut ada minuman beralkohol." Kata Gibran
Diandra mengangguk faham dan meminum minuman yang Gibran bawakan.
"Kita tidak akan sampai malam." Kata Gibran
"Memang biasanya sampai malam?" Tanya Diandra
"Hmm bisa diatas jam sebelas." Kata Gibran
Diandra mengangguk faham, apa yang akan dia lakukan di gedung ini kalau sampai jam segitu?
Astaga Diandra orangnya mudah bosan dan lagi dia tidak mengenal siapapun disini. Bagus deh kalau mereka akan pulang lebih dulu berarti dia tidak akan kebosanan disini.
Setelah menghabiskan minumannya Diandra mendongak untuk menatap Gibran yang tersenyum padanya dan dia tersentak ketika tangan Gibran mengusap sudut bibirnya.
"Diandra"
Sapaan itu membuat Diandra sedikit terkejut karena tidak yakin ada orang yang mengenalnya, tapi ketika melihat seorang pria dengan balutan jas yang tersenyum sambil berjalan ke arahnya mata Diandra membulat dengan sempurna. Sejenak Diandra menatap Gibran yang terlihat tidak suka lalu menatapnya dengan penuh tanda tanya.
Belum sempat bicara pria itu mendekat dan memeluk Diandra tanpa permisi, hanya sejenak, tapi berhasil membuat Gibran panas.
"Aku gak nyangka bisa ketemu kamu disini." Katanya
Diandra hanya tersenyum menanggapinya dan tubuhnya menegang kala Gibran kembali melingkarkan tangan dipinggangnya lalu menarik mendekat.
Pria itu menatap keduanya bergantian, tapi tetap tersenyum dan mengabaikan kehadiran Gibran.
"Hai"
Diandra hanya menyapa sambil tersenyum tipis.
"Kamu masih sama ya?" Kata pria itu
Baru akan bicara pria itu mengatakan hal yang membuat rahang Gibran mengeras.
"Masih cantik"
Sialan! Siapa pria ini?!
Gibran baru ingin bicara, tapi temannya datang dan meminta dia untuk menemui yang lainnya. Dalam hati Gibran mengumpat lalu menatap Diandra dan mencium keningnya sambil berbisik.
"Jangan berani kamu dekat-dekat dengan dia!"
Diandra hanya mengangguk dan memperhatikan Gibran yang berjalan menjauh bersama dengan temannya.
Sekarang hanya mereka berdua yang saling diam dengan pria itu yang terus menatap Diandra serta Diandra yang hanya diam.
Dia tidak berani menatapnya.
"Kamu tidak lupa denganku kan?" Tanyanya ketika melihat Diandra yang hanya diam
Diandra menggelengkan kepalanya pelan.
"Enggak, masih ingat Sagara Kakak kelasku ketika SMA." Kata Diandra
Sagara tersenyum senang, dia mencari Diandra setelah hari kelulusan, tapi ternyata gadis itu telah pindah rumah.
"Kamu kesini sama pria tadi?" Tanya Sagara
"Heem Anika itu temannya Kak Gibran." Kata Diandra
Sagara mengangguk faham dan tak lama setelah mereka berbincang aluman musik mulai terdengar serta lampu yang padam, hanya ada satu lampu yang menyala. Dengan sedikit cemas Diandra memundurkan langkahnya, dia takut.
Beberapa orang mulai berdansa dan Sagara tersenyum lalu mengajak Diandra yang menggelengkan kepalanya pelan.
"Enggak aku...."
Sedikit paksaan Sagara meraih tangan Diandra dan membawanya ke tengah lantai dansa. Tangan Sagara melingkar di pinggangnya dan dia membawa tangan Diandra untuk melakukan hal yang sama.
Tangan mereka yang satunya menyatu saling menggenggam.
Diandra takut kalau Gibran sampai melihat dan dia merasa tidak nyaman apalagi beberapa mata menatap ke arah mereka.
"Aku mencari kamu, tapi kamu pergi"
Tak memberikan tanggapan apapun Diandra hanya menunduk dan menatap kaki mereka yang bergerak sesuai dengan alunan musik.
"Aku masih mencintai kamu"
Kali ini Diandra mendongak dan menggelengkan kepalanya pelan, dia mencintai Gibran.
"Aku merindukan kamu"
Mata Diandra membulat ketika kedua tangan pria itu berada di lehernya dan mulai mendekatkan wajahnya. Jantung Diandra berdetak dengan sangat cepat, takut kalau Gibran akan marah.
Hidung mereka bersentuhan, tapi tak sampai berciuman karena Diandra merasakan tubuh Sagara ditarik dengan paksa lalu suara umpatan terdengar.
"Brengsek!"
Nafas Gibran tak beraturan dia menatap Diandra dengan mata memerah serta tangan terkepal.
Pria itu marah.
¤¤¤
Nextt tidak nihhh??
ini konflik klasik
*jika pemeran utama wanita (istri) buat salah, kalian akan tutupi dengan pemeran utama pria (suami) dibuat emosi dan buat kesalahan jadi jatuh nya ujung2 sang suami lah yang minta maaf
*jika sang suami yang membuat salah, suami yang berjuang untuk minta maaf dan memiliki memperbaiki kesalahan
ini saran sikit
*jika suami buat salah pasti akan dibuat menyesal, dapat balasan, minta maaf, berjuang dapat kesempatan, dan memperbaiki kesalahan
*yang harus adil juga jika pemeran utama wanita buat salah harus juga dia dibuat, menyesal, minta maaf dan berjuang ini baru novel yang adil
ini dia konflik yang kurang adil menurut aku
*diandra diam saat mau dicium sagara tapi kesalahan diandra ini kalian tutupi dengan kalian buat gibran berbuat salah yang ujung2nya gibran yang merasa bersalah, menyesal, dan minta maaf
*diandra memaksa ingin menemui pria lain, ini kesalahan sadar tidak diandra sudah tidak peka dan melukai perasaan suaminya tapi novel ini malah anggap ini lucu2an dan bukan masalah
siapa coba wanita yg g marah,kecewa,dan salah paham kalau suaminya berbohong brpelukan sm mantan di depan istrinya pula
kesel gw,mana ada nyidam ky gitu🤦♀️