Zalika Azzalea adalah gadis cantik yang berusia dua puluh dua tahun, dirinya memutuskan untuk menikah dengan sang kekasih Arga Pramana diusia muda dengan harapan sebuah kebahagiaan
Pil pahit harus ia telan, karena pernikahan tak berjalan seperti yang dirinya impikan. mimpi sederhana untuk biduk rumah tangga yang sempurna nyatanya harus ia kubur dalam-dalam
Pernikahan yang hanya berlangsung tiga hari itu berakhir dengan menyisakan trauma mendalam, mengubah gadis ceria menjadi seorang yang takut akan cinta
Akankah ada pria yang dikirim tuhan untuk menyembuhkan lukanya? lalu Cinta yang akan memberinya kebahagiaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trauma
Pintu terbuka, seorang gadis remaja berwajah cantik masuk dengan membawa sebuah paperbag
"Diandra? Masuk sayang!" Titah Sabrina pada putrinya. Dari pernikahannya bersama Bastian, melahirkan seorang gadis cantik bernama Diandra Salsabilla
Wajah bulat serta bola mata yang sedikit kebiruan mengikuti Bastian yang merupakan keturunan Belanda
"Diandra bawa makanan! Bunda sama Mama makan dulu ya!" Ucapnya dengan lembut
"Terima kasih sayang! Ayo mbak, ini sudah sore. Sebaiknya mbak Tari makan dulu!" Ajak Sabrina namun wanita disampingnya menolak
"Terima kasih ya Diandra, tapi mama masih kenyang!" Ujar Tari
"Mama makan dulu walau sedikit, kalau mama sakit, siapa yang akan jagain kak Zalika nanti!" Kata Diandra
"Baiklah!" Sabrina tersenyum, dengan cepat wanita itu menata makanan yang telah dibawa oleh putrinya diatas meja lalu keduanya duduk disebuah sofa panjang diruangan tersebut
"Ayo mbak!" Tari berusaha menelan makanan tersebut walau terasa hambar, rasanya ia tak ingin makan apapun saat ini
Diandra duduk dikursi samping ranjang pasien, tempat dimana tadi Betari duduk
***
Akbar serta Bastian menunggu dengan cemas, lalu seorang petugas polisi membawa Zayyan kehadapan mereka
"Ayah?" Pria tampan itu mendekat, lalu memeluk sang ayah
"Kalian kesini?" Ketiganya kini duduk dengan saling berhadapan
"Ada apa sebenarnya, Yah? Kenapa ayah bisa disini?" Tanya Akbar
"Ayah cuma nggak bisa terima dengan apa yang telah Arga lakukan!" Jawab Zayyan
"Arga sekarang dirawat di rumah sakit"
"Harusnya dia mati" Ucapnya dengan santainya. Jangan lupa jika Zayyan bisa melakukan apapun untuk orang-orang yang ia sayangi termasuk menjadi pembunuh
"Tuan jangan gegabah, lalu sekarang bagaimana? Siapa yang akan menemani nyonya Tari serta nona Zalika jika tuan berada di sini!" Kata Bastian
Untuk sesaat pria itu terdiam, mungkin tengah merenungi apa yang dikatakan oleh asisten pribadinya itu
"Kamu benar, Bastian. Tari pasti cemas saat ini!" Jika tadi terlihat tengah marah maka saat ini raut kecemasan terlihat jelas dari wajahnya
"Lakukan sesuatu, Akbar! Ayah tidak ingin berada disini!"
"Aku akan berikan jaminan, kalian tunggulah disini!" Akbar lalu meninggalkan kedua pria setengah abad itu di sana. Sebagai pengacara ia tahu apa yang harus dilakukan
Setelah menunggu hampir satu jam dan menandatangani beberapa berkas, barulah Zayyan diizinkan untuk pulang
"Oh iya Bastian, apa kamu masih ingat dengan Baskara Adijaya?" Tanya Zayyan, kini mobil miliknya dikendarai oleh Bastian sementara Akbar pergi dengan mobilnya
"Baskara Adijaya? Seorang penipu itu?" Tanya Bastian memastikan
"Iya!"
"Bukannya dia tewas dalam sebuah kebakaran?"
"Apa kamu tau tentang keluarganya? Putranya mungkin?" Tanya Zayyan pada asisten pribadinya itu
Untuk pekerjaan kantor, Bastian memang lebih banyak tau
"Saya tidak tahu pasti, tuan. Setelah ini saya akan selidiki kembali" ucap Bastian, pria setengah bule itu meyakinkan atasannya
"Arga adalah putranya, dia melakukan ini sebagai bentuk balas dendam" ucap Zayyan yang membuat asisten pribadinya itu terkejut
"Arga menikahi Zalika untuk balas dendam atas kematian Baskara?" Tanya Bastian memastikan
Zayyan mengangguk "Kita tidak membunuh Baskara, aku yakin penipu itu pasti memiliki banyak musuh!"
"Itu pasti!" Bastian setuju atas ucapan sang bos "Tapi kejadian itu sudah bertahun-tahun lamanya, dan Arga pasti masih sangat kecil saat itu untuk mengerti apa yang terjadi. Dan bagaimana dia berpikir jika tuan terlibat dalam kematian Baskara!"
"Aku juga berpikir hal yang sama, Bastian. Pasti ada orang lain dibalik ini semua"
Kendaraan roda empat itu kini berhenti disebuah gedung rumah sakit, Zayyan melangkah dengan tergesa menuju ruang perawatan putrinya
Saat pintu kaca itu dibuka, Zayyan dapat melihat jika putri kesayangannya tengah duduk bersandar lalu Tari dihadapannya seolah berusaha membuatnya tenang
"Sayang" Mendengar suara sang ayah membuat Zalika menoleh
"Ayah" lirihnya, dengan cepat Zayyan menghampiri sang putri lalu memeluknya, Zalika yang semula diam kini mulai menumpahkan tangisnya dalam dekapan sang ayah. Memeluk tubuh kekar itu dengan sebelah tangannya mengingat sebelah tangannya yang tengah menggunakan Arm Sling
"Zalika takut ayah, kenapa ayah nggak datang? Kenapa ayah nggak jemput Zalika dari sana. Zalika berusaha kabur tapi Arga tau dan Zalika dipukul" Zayyan kian mempererat pelukannya, sesak rasanya mendengar penuturan sang putri tentang apa yang telah ia alami
"Zalika teriak. Zalika panggil ayah, tapi ayah nggak dateng, Zalika takut!"
"Maafin ayah sayang, ayah yang salah. Sekarang kamu tidak perlu takut lagi! Ayah akan selalu ada disini untuk kamu!" Zayyan menangkup kedua pipi putri kesayangannya lalu memberi kecupan lembut di keningnya
Zalika merasa lebih baik, ucapan sang ayah seolah memberinya sedikit keberanian. Dirinya hanya merasa aman jika bersama sang ayah untuk saat ini
Setelah memastikan kondisi Zalika lebih baik, Zayyan dan Tari mengunjungi ruang dokter wanita yang menangani putri mereka
"Jadi bagaimana kondisi putri kamu dokter?" Tanya Zayyan
"Kekerasan yang dialami nona Zalika kini menimbulkan trauma yang mendalam, nona Zalika mengalami PTSD atau Post Traumatic Stress Disorder atau biasa kita kenal sebagai gangguan stres pasca trauma. Hal ini akan membuat nona Zalika merasakan ketakutan serta kecemasan yang berlebihan setiap saat" jelas dokter berparas cantik tersebut
"Jadi bagaimana agar putri kami bisa kembali sembuh?" Kini Tari yang bertanya
"Saya akan merekomendasikan psikolog terbaik di rumah sakit ini untuk mendampingi putri tuan dan nyonya hingga trauma yang dialaminya bisa hilang sepenuhnya!" Ucap Dokter wanita tersebut
"Terima kasih banyak dokter.. Arsinta!" Tari melirik papan nama yang terletak di jas putih yang dokter wanita itu kenakan dimana tertulis dr Arsinta Nirmala
"Mala, tuan dan nyonya bisa panggil Mala!" Ucapnya dengan ramah
"Baiklah! Terima kasih banyak dokter Mala!" Ucap Zayyan dengan tulus
"Sudah tanggung jawab saya tuan!"
Sepasang suami istri itu keluar dari ruangan tersebut, ketakutan terlihat jelas di wajah keduanya
"Setelah ini bagaimana mas?"
"Semua pasti baik-baik aja, kamu harus tenang! Aku akan lakukan apapun untuk membuat Zalika sembuh!" Zayyan memeluk sang istri, saling memberi kekuatan adalah hal yang paling baik untuk keduanya saat ini
***
"Ayolah sayang, kamu harus makan! Apa kamu tidak ingin pulang?" Tari terus membujuk sang putri agar mau makan, ditangannya tengah memegang mangkuk berisi bubur
"Zalika nggak mau pulang, Zalika takut dirumah" tatapan mata gadis cantik itu tersirat ketakutan
Zayyan mendekat, mengambil alih mangkuk bubur dari tangan istrinya. Keduanya berganti posisi duduk, dan kini Zayyan yang ada dihadapan putri kesayangannya itu
"Zalika akan pulang kerumah kita, ayah janji akan selalu jagain Zalika setelah ini!" Ucapnya dengan penuh kelembutan
"Zalika takut!"
"Ada ayah di sini, sayang. Ayah janji nggak akan pernah ninggalin kamu lagi" Zayyan masih berusaha keras agar sang putri mau makan