"Tak pernah kusangka, mencintaimu adalah sebenar-benarnya bencana, dan tak pernah kuduga, pria setampan dan sebaik dirimu bisa membuat luka yang sempurna." Aretha.
"Aku tidak mencintainya, lalu mengapa cemburu itu ada?" Reyhan.
"Kau mengatakan jika kau tidak mencintaiku, tapi reaksi tubuhmu begitu mudah jatuh dalam sentuhanku, Aretha." Fabrizio O'clan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Min Ziy. Minfiatin FauZiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terpikat
..."Jangan pernah berubah untuk mencintaiku, karena aku pun selalu mencintaimu." Rena....
***
Aku sangat senang saat mas Reyhan mengatakan akan menemuiku setelah aku menelponnya tadi, sehari saja tidak bertemu dengannya aku sudah merasa begitu buruk, banyak pikiran negatif yang memenuhi isi kepalaku, takut jika mas Reyhan berpaling hati dan tak lagi mencintaiku, tapi, mendengar suaranya dan cara bicaranya tadi, aku merasa begitu lega, ia masih sama, ia milikku, seperti dulu, suaranya yang halus dan memanjakanku, masih begitu jelas dapat kudengar.
***
"Kenapa bisa telat sih makannya? Kalau asam lambungnya sudah naik gini kan malah kamunya yang sakit, sayang," mas Reyhan sedikit ngedumel saat ia menyuapiku makan malam, kami makan bersama dengan mbak Erna dan Mas Pras.
"Dia itu nangis terus Rey, nggak mau makan kalau nggak sama kamu, udah kayak anak kecil saja," celoteh mbak Erna yang sebenarnya bernada sayang.
Aku hanya bisa nyengir kuda menampakkan deretan gigiku yang rapi, dan mas Reyhan geleng kepala atas tingkah kekanakanku.
"Tapi itu wajar, karena kalian baru saja membatalkan pernikahan kalian, pasti Rena kepikiran!" ketus mbak Erna kemudian.
"Tidak dibatalkan, mbak, cuma ditunda," ralatku membetulkan kalimat mbak Erna yang Kunilai salah.
"Jangan gini lagi, ya? Aku nggak mau kamu kenapa-napa, harus selalu menjaga kesehatan, hem?"
Aku mengangguk sambil tersenyum manis sebagai jawaban penuturan mas Reyhan.
Biarlah untuk saat ini aku harus kembali bersabar, menunggu mas Reyhan menyelesaikan masalahnya dengan perempuan itu. Aku yakin, mas Reyhan akan menyelesaikan semuanya dengan baik dan dia akan tetap memilihku, dia pasti akan kembali padaku, lihatlah perlakuannya ini padaku, menunjukkan bahwa aku adalah satu-satunya wanita yang ia manjakan, satu-satunya wanita yang ia sayangi dan ia cintai, dia mas Reyhanku, hanya milikku.
Tentang kekhilafannya kemarin? Aku sangat yakin jika dia hanya terpaksa, mungkin saja Aretha yang menggodanya, memancing hawa nafsunya, hingga terjadilah hubungan di antara mereka yang menghasilkan masalah yang terjadi saat ini.
***
..."Bukan tentang siapa yang pertama, namun tentang siapa yang bertahan hingga akhir dan tetap bersama." Reyhan....
***
Aku lupa membawa kunci duplikat saat keluar dari rumah ibu tadi karena buru-buru untuk menemui Rena, membuatku tak bisa masuk ke rumah ibu kecuali memanggil Aretha dari luar, tapi itu akan membangunkan tidurnya, sedangkan Aretha tidak ingin tidurnya terganggu.
Aku mengusap rambut kasar ke depan lalu ke belakang, ingin rasanya pulang saja ke rumahku sendiri, toh jaraknya juga hanya beberapa meter saja, tapi aku menjadi tidak tega.
Tidak, aku tidak bisa meninggalkan Aretha, selain aku yang sudah berjanji pada ibu, aku juga mengkhawatirkannya, takut jika apa-apa terjadi padanya dan tak seorangpun mengetahuinya.
Aku pun memilih duduk di lantai depan rumah ibu, bersandar pada pintu yang terkunci, membuka ponsel dan membalas pesan singkat dari Rena yang menanyakanku, waktu sudah menunjukkan pukul 11 makan, cukup larut untuk membangunkan Aretha.
Dan pilihan terbaik adalah tidur di depan pintu rumah ibu hingga aku benar-benar terlelap.
***
..."Ribuan kali aku meyakinkan hati, jika cintanya bukanlah untukku, namun, ribuan kali pula hati tak mau dinasehati, tak mau mendengarkan. Dan ia kembali jatuh cinta pada orang yang sama, yang membuatku patah begitu parah. Hanya karena sikap baik dan manisnya." Aretha....
***
Aku bangun pagi di waktu subuh seperti biasa, setelah meregangkan otot yang terasa kaku, aku melangkah ke kamar mandi, lanjut melaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslim.
Saat aku ke luar kamar, aku mendapati seluruh ruang lampunya masih menyala, sengaja semalam sebelum ke kamar tak kumatikan karena mas Reyhan bilang dia akan pulang, lantas di mana dia sekarang? Kenapa lampu masih menyala?
Kubuka pintu kamar ibu, kosong, lalu ke kamar yang satunya, juga kosong, rumah ibu cukup sederhana hanya dengan 3 kamar saja yang salah satunya kupakai, jadi, itu artinya, mas Reyhan tidak pulang?
Kenapa aku merasa kecewa? Kenapa hatiku nyeri tiba-tiba? Aku sudah bisa menebak hal ini pasti akan terjadi sebelumnya, lantas mengapa aku masih berharap?
"Huufftt,,,, bodoh, tentu dia tidak akan pulang, dasar, kenapa aku berpikir jika mas Reyhan telah berubah dan dia benar-benar akan menemaniku?"
Aku melangkah ke dapur untuk menyiapkan sarapan, sambil menunggu nasi masak, aku memilih membersihkan seisi rumah, menyapu dan mengelap meja serta kaca.
Kubuka pintu depan yang masih terkunci dari dalam, berniat menyirami bunga ibu yang tertata rapi di dalam pot hias, namun, betapa kagetnya aku, ketika kudapati seorang pria yang terbaring meringkuk di lantai depan pintu, dan itu mas Reyhan.
Apa yang sedang dia lakukan di sini? Kenapa dia tidak masuk ke dalam rumah? Apa dia datang sejak semalam dan tidur di luar? Ya Tuhan,,,, itu pasti sangat buruk, tubuhnya pasti kedinginan? Atau, dia baru datang dan karena merasa bersalah dia memilih tidur di sini? Ah, itu terlalu konyol.
"Mas, mas Reyhan,,,, bangun, mas, ini sudah pagi, mas,,,," Aku terus menggoyang tubuh mas Reyhan berharap ia akan segera membuka kedua matanya.
Lamat-lamat mas Reyhan mulai bergeliat, ia membuka mata yang nampaknya begitu berat, pandangannya menyipit memperhatikanku.
"Aretha?" lirihnya dengan suara serak khas bangun tidur, sepertinya tidak mungkin jika mas Reyhan baru datang pagi ini, pasti dia sudah datang sejak semalam dan tidur di luar sini sejak semalam.
"Mas, kenapa mas tidur di sini? Kenapa tidak masuk ke dalam?"
Mas Reyhan bangun, membetulkan posisi duduknya, bersandar pada dinding samping pintu, sepertinya ia terlalu lelah untuk lekas bergerak berdiri dan masuk.
"Mas lupa membawa kunci duplikat, dan mas tidak mau mengganggu tidurmu, jadi mas memilih tidur di sini, setidaknya mas masih bisa menemanimu dan menjagamu dari luar sini,"
Maasha Allah,,,, jawaban apa yang mas Reyhan berikan ini? Lagi, ia sempurna membuat hatiku melompat di dalam sana andai tak kutahan sekuat tenaga dengan mengingat satu nama wanita, Rena, yang juga menjadi alasannya semalam pergi meninggalkanku. Mungkin ini mas Reyhan lakukan hanya sebagai tanggung jawabnya saja, tidak lebih, bukan karena cinta, hah,,,, aku tersenyum miris, tentu saja tidak, dia tidak mencintaiku, dia hanya mencintai Rena, hanya Rena.
"Masuk, mas, bersihkan dirimu, kamu juga pasti belum shalat subuh, kan?"
Mas Reyhan mengulurkan tangan padaku, dengan ragu aku menerima uluran tangannya, membantu mas Reyhan berdiri.
"Aku ke kamar dulu, ya? Badanku pegal semua serasa mau remuk, aku juga sangat kedinginan semalam, mau istirahat dulu sebelum berangkat kerja,"
Kami masuk ke dalam rumah beriringan, tentu pegangan tangannya sudah kulepaskan.
"Terserah mas Reyhan," jawabku pelan.
"Oh ya, apa kamu semalam baik-baik saja? Apa kamu tidak menginginkan sesuatu semalam? Kubaca di internet katanya ibu hamil seringkali ngidam makan sesuatu di malam hari,"
Aku tertawa kecil mendengar penuturan mas Reyhan, dia memang tidak mencintaiku, tapi dia mempedulikan anak ini, setidaknya, aku merasa senang karena dia memang bertanggung jawab terhadap anaknya.
"Tidak, mas, aku tidak pernah merasa ngidam, kalau malam paling susah tidur saja, tapi tidak kepingin makan yang aneh-aneh, kalau laper tinggal ke dapur,"
Mas Reyhan mengangguk menanggapi, tanda ia mengerti.
"Mas, tadi katanya mau istirahat?" Aku bertanya karena mas Reyhan hanya diam sambil menatapku dalam, ia tersentak seolah baru saja tersadar dari lamunan.
"Oh, iya." mas Reyhan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Mas mau mandi saja, sudah jam 6, mas harus berangkat kerja, hari ini pabrik mau kirim material ke Papua, jadi mas mau segera pergi ke kantor saja, mau input data."
Aku mengangguk, mas Reyhan memberikan sebuah senyuman yang ringan.
"Aku tunggu di meja makan, mas, sarapan sudah siap," ucapku terjeda.
"Itu juga kalau cocok dengan lidahnya mas Reyhan, kalau tidak ya sudah, mas Reyhan sarapan saja di luar, di tempat biasa mas Reyhan makan." Sindiran? Tidak, aku tak berniat melakukan itu, sungguh, aku hanya mengantisipasi sesuatu yang mungkin saja terjadi. Namun nampaknya itu berarti berbeda di telinga mas Reyhan.
"Kau masih saja menyindirku dengan kejadian lalu, Aretha, tidak bisakah kau melupakannya?"
'DEG.'
Lemas rasanya mendengarkan kalimat mas Reyhan barusan, apa yang dia katakan? Melupakannya? Setelah perlakuannya yang begitu buruk atas setiap hasil masakanku? Tidak, sepertinya aku tidak bisa, itu terlalu melekat dalam ingatan, dan membekas dalam hati yang terdalam.
Tak ingin adu mulut, aku pun melangkah menuju dapur meninggalkan mas Reyhan. Mungkin ia tak begitu senang akan sikapku ini padanya, tapi sungguh, aku tak ingin bersikap begitu nurut dan pasrah seperti Aretha 6 bulan yang lalu, aku kini ingin menjadi Aretha yang lebih berprinsip dan tegar, biar saja dikata apa, aku hanya ingin melindungi perasaanku sendiri agar tak semakin terluka.
***
..."Kau berubah, tak lagi sehangat dulu, namun daya tarikmu semakin memikatku, apa yang terjadi padaku? Kenapa acuhmu terasa menyakitkan bagiku?" Reyhan....
***
Bersambung.