“Aku tidak pernah tertarik dengan gaya kampungan mu itu, aku menikahi mu karena perusahan kakek. Siapa pun yang menikahi dirimu maka pria itu berhak menjadi penerus perusahan Wina Graha.” ucap Brian seraya memandang rendah wanita di balik daster biru tua itu.
Wulan bangkit dari lantai menatap ke arah Brian sambil mengepal kedua telapak tangannya.
“Aku berjanji akan menjatuhkan dirimu serendah rendahnya hingga kamu sendiri tidak bisa bangkit dari tempat kamu jatuh. Ini adalah sumpahku,” batin Wulan.
Ia akhirnya berlalu dari hadapan Brian dan Raya wanita selingkuhan suaminya itu.
Pernikahan membuat hidup Wulandari seperti dalam neraka, namun pernikahan itu pula yang membawa Wulandari pada seorang pria bernama Arkan Rafali. Sepupu suaminya yang mampu membuat hatinya merasakan manisnya cinta.
Di balik penderitaan Wulandari, ditengah rencana nya balas dendam, kisah cinta manisnya tumbuh bersama Arkan.
Penasaran dengan akhir kisah nya mereka. Yuk tongkrongin terus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NCY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-Rencana-
Saat Wulan membantu bi Narsih menyajikan makanan ke atas meja, Arkan asik menemani kakek Hendy ngobrol. Mereka terlihat begitu akrab, tak ada batasan yang tercipta karena Arkan sangat tau bagaiman membuat kakek tertawa.
Diam diam Brian memperhatikan tingkah Arkan dan kakek Hendy. Ia sedikit curiga dengan sifat Arkan yang biasanya pendiam berubah menjadi cerewet. Banyolan banyolan garing yang keluar dari mulutnya berhasil membuat sang kakek tertawa. Bahkan Wulan ikut tertawa ceria mendengarnya.
“Sejak kapan mereka jadi seakrab itu, rencana apa lagi yang sedang di jalankan Arkan dan ibunya.” Batin Brian.
Tanpa ragu Brian melangkah menuju meja dan duduk di kursi paling ujung sebagai kepala keluarga.
“Tumben kamu masih disini. Melihat mu seperti ini jangan jangan!” Brian tak melanjutkan kata katanya. Ia terus menatap Arkan seolah sedang memikirkan sesuatu dalam benak nya.
Suasana yang tadinya riuh hiruk dengan tawa berubah menjadi tegang.
“Istriku, tamu kita nggak di ajak makan?” tanya Brian dengan senyuman yang sengaja di buatnya.
“Baiklah,” sahut Wulan kemudian menuju kamar Brian untuk mengajak Raya makan bersama mereka.
Sesaat kemudian Wulan kembali bersama Raya.
“Silahkan duduk.”
Raya langsung mengambil kursi persis di samping Brian. Tanpa berkata apa pun, wajahnya terlihat cuek, ia tak peduli dengan keadaan di sekitarnya.
Kakek Hendy terus menatap Raya. Bahkan Wulan tidak duduk begitu dekat dengan Brian.
Makan malam yang sunyi tanpa ada yang bicara. Semua nya sibuk menikmati makanan.
Usai makan, Arkan langsung menuntun kakek Hendy ke ruangan nya.
“Gimana kek? Besok Arkan jemput ya?” tanya Arkan sekali lagi.
“Ya sudah, jika kamu memaksa. Tapi kita harus ijin dengan Wulan dulu,” ucap kakek Hendy.
“Wulan pasti setuju. Arkan akan minta ijin dengan nya,” ucap Arkan lagi.
Tanpa sadar Brian sudah berdiri di balik pintu yang memang tidak terkunci, ia menguping pembicaraan Arkan dan kakek Hendy.
“Apa rencana Arkan? Dia ingin membawa kakek bersama nya.” batin Brian.
“Coba saja. Jika kalian berani punya niat jahat dengan ku, kalian akan lihat sendiri hasilnya!” gumam Brian kemudian berlalu dari tempatnya menguping.
Sesaat kemudian Wulan tiba di kamar kakek dengan gelas di tangan nya. Ia mengambil kotak obat kakek kemudian menyiapkan dua butir pil untuk di berikan kepada kakek Hendy.
“Apa yang di lakukan mas Brian di sini?” tanya Wulan.
“Brian? dia tidak ke sini,” ujar Arkan.
“Tapi aku melihat nya dari arah sini. Jadi dia tidak ke sini?” tanya Wulan.
“Kakek minum obatnya dulu ya,” lanjut Wulan seraya menyodorkan obat dan gelas ke tangan kakek.
“Wulan, apa kamu akan mengejar kakek dengan obat obatan seperti ini setiap hari?” tanya kakek Hendy seraya berpaling ke arah Arkan. “Ayo bawa kakek ke rumah mu, kakek ingin istirahat sejenak dari pengawasan cucu kakek yang sangat cerewet ini.”
“Haha, jangan kakek kira setelah di tempat mas Arkan kakek bisa bebas. Mas Arkan akan membawa obat obatan kakek, dia harus bertanggung jawab atas hal ini. Atau wulan tidak akan mengijinkan kakek ke sana,” ucap Wulan dengan mimik sarkastis.
Arkan memperhatikan bagaimana Wulan begitu sangat perhatian dengan kakeknya itu, sambil terkesima ia tersenyum mendengar percakapan kedua orang di hadapannya.
“Ya sudah kakek sekarang istirahat. Arkan pulang dulu, besok Arkan jemput kakek jam empat sore ya?” ucap Arkan.
“Baiklah,” sahut kakek Hendy dengan senyuman.
“Hati hati dijalan mas,” ucap Wulan.
Arkan pun berlalu dari ruangan itu.
——
Hari pertama Wulan bekerja di pabrik ia di sambut hangat oleh Jenny Susanto. Direktur wanita yang sukses menangani pabrik keluarga itu langsung menggandeng lengan Wulan begitu tiba di ruangan nya.
“Masuk sayang,” ucap nya begitu antusias menyambut Wulan.
“Pagi Bu,” ucap Wulan dengan hormat.
“Aduh, panggil tante aja. Nggak ada siapa2 disini,” ucap Jenny ramah seraya membawa Wulan menuju sebuah sofa diruangan itu.
“Bi biar Wulan panggil ibu aja, kita lagi di kantor biar lebih etis,” ujar Wulan ramah.
“Sudah lah, nggak banyak peraturan yang tante terapkan di pabrik ini. Kamu bisa santai dan nggak usah terlalu formal sayang. Tante malah nggak terbiasa jika di panggil ibu. Lagian kakek mu juga punya saham disini, pabrik ini juga adalah milik keluaga kalian,” ucap jenny panjang lebar namun tetap bersahaja.
“Jika Wulan panggil tante kesannya agak nepotisme aja,”
“Haha, biarin aja dibilang nepotisme. Nggak usah pikirin apa kata orang, tante lebih senang jika kamu betah dan happy di sini,” potong Jenny panjang lebar.
“Ah gimana jika tante bawa kamu ke ruangan kamu?” lanjut Jenny.
“Baiklah,” sahut Wulan.
Kedua wanita itu akhirnya berjalan keluar dari ruangan itu menuju pintu lainnya di bangunan itu.
“Ruangan kamu di sini,” ujar jenny sambil membuka gagang pintu tak jauh dari ruangan nya berada. “Dahulunya ini ruangan Arkan, tapi dia sekarang sudah pindah ke kantor pusat, jado sekarang tante serahkan ruangan ini ke kamu,” lanjut Jenny.
“Tapi tan, kalau Arkan kembali?” sela Wulan.
“Hmmm, jika dia kembali mungkin dia sudah akan menggunakan ruangan tante yang sekarang,” jawabnya.
“Trus tante?” tanya wulan polos.
“Aduh sayang, masa iya seumur hidup tante harus mengolah pabrik ini. Sekarang sudah waktunya kalian yang mengambil alih tugas keluarga ini. Tante ingin istirahat,” jelas Jenny.
“Selama dikelola tante, pabrik ini sudah memberikan keuntungan besar. Bahkan pembangunan kantor pusat yang megah itu sebagian besar diambil dari dana pabrik,” tukas Wulan.
Wajah jenny tiba tiba berubah datar.
“Sejak perusahan beralih ke bagian konstruksi dan properti Johan memang mulai mengabaikan beberapa pabrik. Sebagian besar investasi beralih, Ya walau pun perusahan ayah semakin maju ditangan Johan, tapi dia lupa pabrik pabrik ini lah yang membesarkan nama keluarga kita,” ucap jenny terhenti. Ia kemudian menatap wajah Wulan. “Tante berharap kamu dan Arkan tetap mempertahankan peninggalan ayah ku ini, dan bagaimana pun kakek kamu juga berperan penting mendirikan perusahan ini,” tukas Jenny penuh harap.
“Tante tenang saja, Wulan akan berusaha. Wulan tidak akan membuat usaha kakek Hendy dan kakek Alan terabaikan,” sahut Wulan.
“Oh syukurlah Wulan, sekarang tante merasa sedikit tenang,” ujar Jenny lega.
Seketika Jenny langsung beranjak mengambil gagang telpon dari atas meja kerjanya.
“Asti, ke ruangan ku sekarang,” ucap Jenny.
Beberapa saat seorang wanita berparas cantik masuk ke ruangan itu.
“Asti perkenalkan, ini Wulan. Wulan adalah istri dari keponakan saya. Jadi dia juga berarti adalah keponakan saya,” ujar Jenny ramah.
Rasti langsung menunduk memberi hormat. “Hallo ibu Wulan, senang bertemu anda,” ucapnya
. . . . .
Sudah lima hari sejak Wulan bekerja di pabrik, dan sudah lima hari juga ia tidak bertemu sang kakek. Sore itu Wulan berencana mengunjungi kakek di rumah Arkan.
“Aku belum mengecek laporan dari bagian keuangan, padahal besok harus tutup buku. Sebaiknya aku membawa berkas berkas ini pulang,” *batin Wulan. Kedua tangan nya sibuk membawa beberapa berkas dan laptop, kemudian berjalan keluar dari ruangan kantornya.
“Tiinnnn tiiiiiiinn,” suara klakson sebuah mobil tiba tiba terdengar.
Mobil Porsche hitam yang telah terparkir persis di hadapan Wulan.
Dengan perlahan kaca jendela mobil bergerak turun.
“Istriku, masuklah,” suara dari dalam mobil yang tak lain adalah Brian.
Dengan wajah bingung Wulan sedikit menundukkan kepalanya. Merasa tak percaya pria yang berada di hadapannya itu adalah Brian, pria yang sudah sebulan terakhir menyiksa dirinya.
“Ayo masuk lah sayang,” ucap Brian ramah.
“Tuan ngapain disini?” ucap Wulan.
“Haha tentu saja aku ke sini ingin menjemput mu pulang,” sahut Brian dari dalam mobil.
“Aku bisa pulang sendiri tuan,” sahut Wulan kemudian meluruskan badannnya.
Saat itu juga Brian langsung beranjak keluar dari mobilnya kemudian membukakan pintu agar Wulan bisa segera masuk ke dalam mobilnya.
“Ayolah, kamu ingin dilihat semua orang bahwa kamu dimanjakan oleh suami mu?” bisik Brian mesra namun menyiratkan sebuah ancaman.
“Tuan, saya berniat mengunjungi kakek, saya belum bisa pulang sekarang,” tolak Wulan.
“Okay, aku akan mengantarmu ke tempat kakek mu,” ucap nya seraya menarik wajah Wulan. “Jangan buat aku mengulangi ucapan ku. Masuklah, aku akan membawa mu ke tempat kakek mu,” lanjut Brian dengan bisikan.
Wulan tertegun sejenak.
“Kamu akan mengantarku?” Gumamnya kemudian.
“Ya tentu saja.”
Brian sedikit memaksa tubuh Wulan agar masuk ke dalam mobil. Dalam diam dan rasa heran, Wulan hanya bisa menerima perlakuan aneh Brian sore itu.
.
.
.
TBC…