Namanya Bunga, gadis remaja yang hidup bergelimang harta dengan apa yang dia dapatkan. Jika kalian mengira Bunga salah satu anak dari orang kaya raya atau pesohor di tanah air, maka itu salah besar. Bunga gadis cantik yang masih duduk di bangku SMA dengan segudang cerita malamnya.
Cantik dan sexy itu yang tersemat jika kalian melihat seorang Bunga. Gadis yang selalu menjadi incaran teman-teman sekolahnya. Namun tidak satupun yang bisa dekat dengannya, Bunga teralalu cuek dan penutup. Sampai pada akhirnya Bian datang dan membawa sejuta cerita untuknya, merubah Bunga secara perlahan, namun ditengah-tengah hubungan mereka masalah cukup serius datang dan membuat keduanya sama-sama saling membenci namun masih menyimpan rasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Klub Malam
Malam ini adalah malam dimana kakaknya Jian akan mengadakan konser. Sebenarnya Kaka Jian ini bukanlah band besar di tanah air. Tetapi karena orang tua mereka yang memang berada gampang hanya untuk mengadakan konser demi kesenangan anak.
Bian datang bersama dengan teman-temannya. Jian yang melihat kedatangan Bian langsung menghampirinya dengan senyum sumringah. Dia senang Bian akhirnya mau ikut tampil di acara konser kakaknya.
"Hei Bi," sapa Jian manis.
"Hai Jian cantik," itu bukan suara Bian, tetapo Oki yang menjawab sapaan Bian.
Sementara Bian sendiri sedang melihat-lihat ke sekeliling, di tempat itu sudah mulai rame.
"Makasih lho Bi udah mau dateng," ucap Jian yang hanya diangguki oleh Bian.
"Gue ke sini nyalurin bakat gue doang Ji, lo ataupun bokap lo nggak harus bayar," jelas Bian dan diangguki oleh Jian.
"Gue tahu kok Bi, lo anak siapa," balas Jian paham.
Semua orang di sekolah juga tahu jika Bian itu anak orang kaya. Hanya saja kekayaan yang dipunyai keluarganya tidak membuat kedua orang tua Bian bisa harmonis. Mereka tetap cerai dengan jalan hidup mereka masing-masing.
"Lo tampil 2 kali ya Bi?" pinta Jian.
Bian menatap Jian sekilas. Lalu mengangguk sebagai tanda setuju. Kedua teman-teman Jian tampak senang, mereka bisa melihat performa Bian yang tidak kalah dengan penyanyi solo di tanah air. Bahkan sosok Bian jauh lebih menjual dibanding penyanyi yang ada.
Sementara di lain tempat. Bunga sedang menjalankan pekerjaannya. Sore ini Om Praja hanya mengabarinya lewat pesan, beliau sedang sibuk dengan pekerjaannya di luar kota. Tadinya beliau ingin mengajak Bunga sekalian memb*king kepada atasan Bunga atau Mimi, tapi Om Praja cukup tahu diri jika Bunga harus sekolah.
"Ini beby, makasih malam ini Om sangat puas," ucap salah satu Om yang baru saja memakai jasa Bunga untuk memuaskannya.
"Ini apa Om?" tanya Bunga bingung, pasalnya bayaran yang sudah Bunga lakukan akan langsung masuk ke rekeningnya.
"Ini tips dari Om, isi berapapun yang kamu mau b**eby, malam ini kamu sangat hot," jelas Om tersebut seraya meremas dua gund*kan milik Bunga. Sebelum benar-benar pergi dari tempat itu.
Bunga melihat amplop coklat yang berisi cek kosong, seketika bibir Bunga tertarik ke atas. "Makasih lho Om, beby tunggu Om pulang," timpal Bunga dengan nada sexy dan manja.
Om tersebut tadi sempat pamit dengan Bunga, beliau akan pergi ke luar negeri beberapa waktu. Dan berjanji pulang dengan membawa oleh-oleh untuk gadis malamnya itu.
Bunga kembali memakai pakaiannya. Diliriknya arloji di tangannya, masih pukul setengah 1 malam. Ini masih sangat awal untuk Bunga pulang. Tetapi dengan cek yang dia dapatkan, Bunga yakin Mimi akan memperbolehkan Bunga untuk pulang lebih awal malam ini.
"Sayang," sapa Mimi melihat kedatangan Bunga.
"Mimi malam ini aku pulang awal ya?" pamit Bunga seraya menyerahkan cek yang tadi Om itu berikan.
Mimi itu menatap cek tersebut. Lalu tersenyum dan mengangguk. "Istirahatlah sayang, love you," balas Mimi yang dijawab Bunga dengan ciuman jarak jauh.
Bukannya langsung pulang ke apartemennya. Bunga lebih memilih untuk datang ke klub malam. Dia akan menikmati waktu kesendiriannya. Beberapa minuman yang sudah Bunga pesan Bunga teguk hingga tandas, gadis itu bisa minum, tetapi jika kebanyakan akan mabuk juga.
"Nenek...bunga cepek," ucapnya seraya meremat gelas kecil yang sedang digenggamnya.
"Beby sendirian?" tanya bartender melihat Bunga seorang diri.
Bunga mendongak, lalu mengangguk. "Temen-temen gue sibuk sama mesin uangnya," jawab Bunga tertawa hambar.
"Lagi!" suruh Bunga kepada bartender tersebut.
"Stop beby, nanti kamu mabuk," peringatnya, bartender tersebut cukup mengenali Bunga. Biasanya Bunga akan mabuk berat jika minum banyak, dan saat ini gadis itu mabuk tanpa kedua sahabatnya.
"Ha..ha..gue nggak bakal mabuk! gue mau senang-senang malam ini," jawab Bunga turun dari tempat duduknya.
Gadis itu malah pergi ke tengah untuk brjoget. Meluapkan rasa lelah saat ini.
Sementara Bian bersama dengan teman-temannya berdiri di depan sebuah klub malam yang akan mereka kunjungi. Itu ide dari Andre setelah kesuksesan konser Bian tadi. Ya..meskipun bisa dibilang Bian hanya sebagai penyumbang lagu saja.
"Lo yakin mau ke tempat beginian?" tanya Oki tampak tidak yakin.
Masalahnya Oki belum pernah menginjakan kaki di tempat haram tersebut.
"Elah..kita udah gede man, sekali-kali lah mainnya ke tempat ginian, jangan timez*ne mulu!" cibir Andre.
"Lo pernah ke sini ndre?" tanya Roni.
Andre tampak menggaruk tengkuknya, lalu menggeleng sebagai jawaban.
"Elah..songong banget lu!" cibir Oki membuat Andre tertawa. "Abang gue udah, katanya surga dunia banget, makanya gue penasaran," jelas Andre membuat Roni menyentil keningnya.
"Abang lo itu bukan lo bege!" sungut Roni kesal.
"Ya...udah jadi masuk ke dalam apa enggak ini?" tanya Oki meminta pendapat dari teman-temannya.
"Gue sih yes!" jawab Andre semangat.
"Gue udah pernah masuk," ucap Bian membuat ketiga temannya beralih menatapnya terkejut.
"Ian, sumpah demi apa lo?" tanya Roni tampak tidak percaya.
Bian menatap ketiga temannya secara bergantian. "Yang punya klub malam sepupu gue," jawab Bian melangkah lebih dulu.
Ketiga temannya masih saling menatap tidak percaya. "Seorang Bian guys, masuk ke tempat haram tanpa kita," ucap Oki segera mengejar Bian yang sudah lebih dulu masuk.
"Nunggu apa lo bengong di sini? buruan ogeb!" sungut Andre menepuk pipi Roni cukup keras.
"Andre! bangs*t anj*ng lo!" sumpah serapah Roni berikan untuk Andre yang sudah berani menggampar pipinya secara tidak langsung.
Niatnya tadi memang untuk menepuk pipi Roni saja. Tetapi melihat wajah Roni yang tadi masih seperti orang kurang otak membuat Andre jahil untuk tidak menamparnya dengan cukup keras. Alhasil kemurkaan dari Roni yang Andre dapatkan. Teman seperjuangannya itu sudah menyumpahi Andre dengan berbagai umpatan yang dikeluarkan.
Dentuman musik keras yang DJ mainkan memekik indra telinga remaja sholeh yang mencoba mencari suasana baru. Baru berapa langkah masuk saja Roni sudah mengelus dadanya terus menerus. Berbeda dengan Andre yang tampak mengangguk-anggukan kepalanya. Andre menikmati musik yang DJ mainkan.
"Woilah..hati gue berdebar banget ini!" keluh Roni membuat Oki dan Andre tertawa.
"Katanya badboy main ke tempat beginian aja udah uring-uringan lo!" cibir Oki.
Sementata Bian duduk santai dengan minuman di depannya. Bian diam-diam paling jago soal minum di antara mereka. Terbukti sekarang jika Bian masih santai meski sudah menghabiskan beberapa gelas wine.
"Ian, lo kesurupan apa sih? berani banget nih anak minum ginian!" celetuk Roni lagi-lagi yang membuat tawa Andre dan Oki meledak.
Pikiran Roni memang nakal seperti Andre, tetapi masuk ke tempat malam membuat iman Roni semakin kuat.
"Lo belum pernah minum Ron?" tanya Oki sekaligus meledek.
"Udah...pas di tempat tongkrongan," jawab Roni tampak kesal.
"Beraninya di kandang lo!" cibir Andre.
"Kalau gue minum di sini terus mabuk, bahaya nanti ciwi-ciwi lo kan tahu gimana buasnya gue," jawab Roni tidak mau kalah.
Gelak tawa kembali terdengar dari Andre dan Oki. Sementara Bian masih tenang menikmati minum dan alunan musik yang disuguhkan.
Sampai pada akhirnya mata Bian tanpa sengaja melihat pemandangan yang sangat menarik perhatiannya. Pemandangan yang membuat hatinya berdegup dengan kencang, entah karena tarian yang dibawakan oleh gadis yang sedang dia amati begitu erotis atau karena memang seroang Bunga.
Iya, dia adalah Bunga gadis yang sedang berjoget dengan begitu indahnya, seperti tanpa beban dan sangat bebas. Dan yang membuat Bian kian panas ialah baju yang melekat pada gadis itu, bukan sekadar sexy melainkan kurang bahan sama sekali.
Bian mengepalkan tangannya kuat, dia tidak suka melihat Bunga seperti ini.