NovelToon NovelToon
Beauty & Berondong

Beauty & Berondong

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:835.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bundew

Ayunda Zhia Wijaya yang baru saja kehilangan calon suaminya, sedang mencoba untuk bangkit dari keterpurukan.

Kehilangan demi kehilangan yang dialami oleh Ayunda meninggalkan bekas trauma yang mendalam di diri gadis itu, hingga Ayunda selalu dilanda keraguan untuk menjalin sebuah hubungan.

Namun takdir malah mempertemukan Ayunda dengan Bennedic Rainer, seorang pemuda tanggung yang jiwa mudanya begitu berkobar.

Ben yang merupakan sepupu dari boss Ayunda di kantor, kerap menggoda Ayunda dan selalu kepo dengan hidup Ayunda.

Sekuat apapun Ayunda menghindari Ben, pemuda itu malah semakin mengejar Ayunda dengan gila.

Mampukah Ben yang juga masih labil menyembuhkan rasa trauma yang dialami oleh Ayunda dan memberikan kebahagiaan yang sesungguhnya untuk wanita yang usianya lebih tua dari Ben tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BEAUTY

Ben baru saja akan melanjutkan pertanyaannya pada Opa Ronny, saat ponsel pria itu tiba-tiba berdering nyaring.

"Maaf, Opa! Ben angkat telepon dulu," izin Brn pada Paman Ronny seraya metogoh ponseknya di dalam saku.

Opa Ronny hanya tersenyum sekaligus mengangguk. Segera Ben sedikit menjauh untuk bicara di telepon.

Tak berselang lama, Ben sudah sekesai menerima telepin dan kembali menghampiri Opa Ronny.

"Ben mendadak ada keperluan, Opa! Ben pamit pulang dulu," Ben meraih tangan Opa dari Ayunda tersebut dan menciumnya.

"Oh, iya, Ben. Hati-hati! Terima kasih sudah main-main kesini," jawab Opa Ronny yang langsung bangkit berdiri dan mengantar Ben ke halaman.

Setelah sedikit berbasa-basi, motor Ben akhirnya melaju meninggalkan panti asuhan.

Ayunda keluar ke teras, sesaat setelah motor Ben tak terlihat lagi. Gadis itu segera membereskan cangkir bekas teh serta toples kue kering yang lupa ditutup oleh Ben

Ck!

Dasar bocah!

Ambil kue lupa tidak ditutup.

"Nanti mau ada acara kemana, Ay?" Tanya Opa Ronny seraya meraih formulir yang tadi diisi oleh Ben.

"Acara ulang tahun perusahaan, Pa!" Jawab Ayunda yang sudah kembali duduk di drkat sang Opa.

"Ini benar umurnya masih 22 tahun?" Opa Ronny menunjuk tak percaya pada formulir Ben.

"Iya, kan Ay sudah bilang kalau Ben tiang listrik itu masih bocah! Baru lulus kuliah kayaknya," jelas Ayunda menerka-nerka.

"Tapi sepertinya dia tertarik padamu," pendapat Opa Ronny sedikit memancing Ayunda.

Ayunda menghela nafas kasar.

"Ay belum berniat menjalin hubungan lagi, Pa! Apalagi sama bocah begitu."

"Tapi kau tetap harus menikah, Ay! Opa tidak akan menemanimu elamanya di dunia ini," sergah Opa Ronny yang langsung membuat raut wajah Ayunda menjadi sedih. Buru-buru gadis itu mendekat pada sang Opa dan menggamit lengan pria tua tersebut. Satu-satunya keluarga yang masih Ayunda milik.

"Opa jangan bilang begitu! Ay sayang Opa. Kalau Opa pergi, nanti Ay sama siapa?" Cicit Ayunda dengan suara dan raut wajah melas.

"Cobalah untuk mulai membuka hati, Ay! Pasti ada pria baik di luar sana yang akan bisa menjagamu, jika nanti Opa berpulang," nasehat Opa Ronny yang malah membuat Ayunda menjadi sedih. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Ay tidak mau menjalin hubungan apapun dengan pria manapun, Pa! Semua orang yang Ay cintai dan sayangi pasti selau pergi meninggalkan Ay," ucap Ayunda dengan airmata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.

"Ay seperti gadis pembawa sial untuk semua orang," sambung Ayunda lagi seraya mengusap kasar airmatanya.

"Ay!" Opa Ronny merengkuh kedua pundak Ayunda.

"Itu semua hanya takdir! Tidak ada yang namanya pembawa sial!" Nasehat Opa Ronny sebijak mungkin.

"Tapi kenapa takdir Ay harus sepahit itu, Pa! Kenapa Ay selalu kehilangan orang-orang yang Ay sayangi?" Cecar Ayunda ssolah minta penjelasan oada sang Opa.

"Karena Tuhan sedang merencanakan sebuah hadiah terbaik untukmu. Sekarang kamu mungkin masih sedih setelah kepergian Mama Flo, Papa Ken, Opa Daffi, Oma Nuna, dan juga Gabrian."

"Tapi yakinlah! Kalau Tuhan pasti punya rencana indah untukmu, Ay!" Nasehat Opa Ronny yang masih merengkuh kedua pundak Ayunda.

Ayunda menatap pada wajah tua tersebut. Opa Ronny sendiri juga menyimpan kesedihan atas kepergian kedua orang tua Ayunda, namun pria tua ini sepertinya lebih bisa menyembunyikan kesedihannya agar selau terlihat tegar di depan Ayunda.

Meskipun Ayunda tahu, kalau Opa Ronny masih kerap berkaca-kaca saat sedang sendirian di kamar dan menatap foto kenangan Mama, Papa, serta foto Oma yang selalu Opa peluk setiap malam.

Suasana hening sesaat, hingga tiba-tiba seorang anak panti menghampiri Ayunda dan Opa Ronny, memberitahukan tentang perkelahian anak panti di dalam kamar.

Buru-buru Ayunda menghapus airmatanya, dan bergeas masuk ke dalam kamar anak-anak untuk melerai anak-anak asuhnya yang sedang baku hantam.

Setelah sedikit ceramah dan memberikan nasehat-nasehat untuk anak-anak asuhnya, Ayunda segera mengaja mereka semua ke halaman depan untuk bermain sekaligus berolahraga sore.

****

[Aku akan menjemputmu malam ini. Jangan naik taksi apalagi naik ojek. Ben]

Ayunda mengerutkan kedua alisnya setelah membaca sebuah pesan dari nomor asing dan menyebutkan namanya sebagai Ben.

Darimana Ben tahu nomor ponsel Ayunda?

Liam memberitahunya?

Atau....

Netra Ayunda tertumbuk pada formulir yang masih tergeletak di atas meja. Ayunda membacanya sekilas dan langsung menemukan kontak dirinya yang tertera dengan jelas di bagian bawah formulir. Ayunda hanya bisa meringis, dan lanjut bersiap-siap untuk pergi ke acara.

****

Ayunda baru selesai memakai sepatu highheels-nya, saat suara klakson dari sebuah mobil sport warna putih terdengar dari halaman depan.

Ben turun dari dalam mobil mahal tersebut dan tersenyum ke arah Ayunda yang masih duduk di kursi teras.

"Sudah siap?" Tanya Ben berbasa-basi pada Ayunda.

"Ya! Tinggal pamitan ke Opa," jawab Ayunda seraya bangkit dari duduknya.

Ayunda segera masuk ke dalam untuk berpamitan pada Opa Ronny. Tak berselang lama, Ayunda sudah keluar lagi menghampiri Ben yang duduk di teras.

Ben memindai penampilan Ayunda dari ujung kaki hingga ujung kepala. Gadis itu terlihat anggun malam ini mengenakan gaun warna hitam dengan potongan leher berbentuk V rendah dan lengan puff yang menutup hingga atas siku. Bagian bawah gaun yang menutup hingga mata kaki membuat penampilan Ayunda semakin terlihat sempurna.

"Ben!" Tegur Ayunda yang langsung menyentak lamunan Ben. Buru-buru pria itu bangkit berdiri dan setengah berlari menuju ke mobilnya, lalu membukakan pintu untuk Ayunda.

"Silahkan, Beauty!" Ucap Ben mempersilahkan Ayunda masuk ke dalam mobil. Dan lagi-lagi Ben memasang senyuman aneh itu pada Ayunda.

Tak tahu maksudnya apa.

"Kamu The Beast-nya, ya?" Gumam Ayunda sedikit menahan tawa.

Sudah seperti anak kecil saja yang suka cerita dongeng.

"Aku The Best! Bukan The Beast!" Sahut Ben yang ternyata mendengar gumaman Ayunda.

"The Best buat kamu!" Sambung Ben lagi yang malah menggombali Ayunda, sebelum pria itu menutup pintu mobil dengan hati-hati.

Ben menyusul masuk ke dalam mobil dan tak butuh waktu lama, mobil warna putih tersebut sudah meluncur meninggalkan panti asuhan.

Mobil Ben terus meluncur membelah jalanan kota. Namun di dalam mobil, Ayunda hanya diam dan sesekali menjawab singkat pertanyaan demi pertanyaan tidak penting yang terus saja dilontarkan oleh Ben.

Ayunda tidak tahu kenapa Ben cerewet sekali.

Atau mungkin pria ini memahg cerewet dan selalu kepo dengan hidup orang lain?

Ah, entahlah!

Rainer's Resto sudah terlihat dan Ben segera membelokkan mobilnya masuk ke dalam kawasan resto tersebut.

Namun Ben tidak memarkirkan mobilnya di area parkir depan restorant dan malah masuk ke bagian samping restorant yang Ayunda sendiri juga tidak tahu ini tempat apa.

"Garasi pribadi!" Pamer Ben pada Ayunda yang hanya memutar bola matanya.

"Ayo turun, Beauty!" Ucap Ben seraya membuka pintu mobil.

Ayunda baru saja akan ikut membuka pintu mobil, saat Ben mencegahnya dengan cepat.

"Biar aku bukain dari luar!" Ucap Ben yang langsung berlari memutari mobil dan membukakan pintu untuk Ayunda. Ben bahkan mengulurkan tangannya agar digenggam oleh Ayunda, namun gadis itu menolaknya dan langsung keluar dari mobil begitu saja.

Ck!

Usahamu gagal, Ben!

Silahkan coba lagi nanti!

Ayunda sudah melangkah keluar dari garasi pribadi Ben dan Ben hanya bisa mengekori gadis tersebut tanpa berucap sepatah katapun.

.

.

.

Terima kasih yang sudah mampir.

Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.

1
Janah Husna Ugy
inget suami Sasha siapa ya lupa Ando apa Aldo ya🤭🤭🤭egois
Si Memeh
menghibur banget cerita nya thor
Nurul Laila Zulaikah
Luar biasa
Desi Nur
lalu dimana si kayla tante ya ayunda adek dari kenzo
Maya Ratnasari
pluto udah bukan planet lagi
Maya Ratnasari
surprise
Maya Ratnasari
waduh kalo AC suhunya dikecilkan bakalan tambah dingin thor.
biar agak hangat, suhu AC dinaikkan.
Maya Ratnasari
kayanya sebelumnya namanya oma nuna, bukan oma salsa. oh mungkin namanya nuna salsa ya
Maya Ratnasari: asiyaapp. makasiii thor.
total 2 replies
Rossy Susilawati
lucu
Ran Aulia
terimakasih author 😍😍😍😍👍👍👍👍
dream
Duh berondong kuat bener baru udahan dah naik lagi🤣🤣🤣
dream
yaelah... ben.... nyusu mulu, kaya bayi gede
dream
Hadeh.... pake acara ngegeledak.... 🤣🤣🤣
dream
Alamak..... gini nih kl sama brondong, kuat.... 😝😝🤣🤣🤣
dream
yeay..... udah gak gelisah lagi, udah tembus beneran ya ben😂😂😂😂
dream
Hahaha..... mana tahan.... 🤣🤣🤣🤣
dream
udah senyum2 ndiri bacanya, gak ku.... ku..... 😂😂
dream
Hahaha..... liat ular kadut depan mata🤭😂
dream
itu mah modus bang Ben🤭🤧
susi 2020
😂😂🤫
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!