NovelToon NovelToon
Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam

Status: tamat
Genre:CEO / Anak Yatim Piatu / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:486.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kleo

(Novel sedang dalam tahap perbaikan. Akan ada perbaikan kata dan perubahan bab. Maaf untuk Season 2 yang saya hapus)

Demi membalaskan dendam kematian kedua orang tuanya, Hanan Kourosh, Seorang Ceo pemilik perusahaan terkenal ibukota.

Rela menikahi seorang gadis yang tak ia cintai dan tak sesuai standarnya, Zara Altair. Seorang gadis yatim piatu, putri dari pembunuh kedua orang tuanya. Dengan rupanya yang jauh dari kata cantik dan memiliki tompel besar di pipinya.

Pernikahan tanpa cinta pun dijalani, tak terlihat sedikitpun bahwa pernikahan hanya didasari pada balas dendam

Akankah Zara mendapat kebahagiaannya, atau....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kleo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 - Gelang

Mobil Hanan berhenti di sebuah cafe, pria itu keluar dari mobilnya dan datang menghampiri seorang wanita, yang tampaknya telah menunggu kedatangan Hanan.

"Hanan, akhirnya kau datang. Aku sudah lama menunggumu," ucap wanita yang tak lain dan tak bukan Soraya sendiri.

Hanan duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Soraya.

"Maaf membuat menunggu lama. Apa yang membuatmu ingin bertemu denganmu?" tanya Hanan.

Soraya menghela nafas. "Aku tahu kau telah menikah, tapi jujur aku benar-benar tidak bisa melupakanmu."

"Aku sangat merindukanmu, dan aku minta maaf telah menghilang tanpa kabar."

"Lalu?" tanya Hanan.

"Hanan, aku kembali kemari untuk bertemu denganmu, tanpa tahu kau telah menikah."

Mata Soraya mulai berair, menatap nanar pria dihadapannya. "Apa bibi yang menjodohkan? Aku yakin kau tidak mencintai wanita itu kan?"

"Hanan aku bersedia menunggumu bercerai? Atau jika kau ingin menjadikan aku wanita simpananmu juga tidak masalah."

Perkataan Soraya membuat Hanan tertawa, "Aku tidak menyangka pernah menjalin hubungan dengan wanita sepertimu. Apa yang kau pikirkan Soraya?"

"Kau yang lebih dulu meninggalkanku, dan kini meminta untuk kembali. Sejak awal kau berbohong dan menipuku,"

"Sedangkan kau tahu aku benar-benar membenci yang namanya kebohongan."

Balasan Hanan membuat Soraya terdiam.

"Apa kita tidak bisa memperbaiki dan memulai semuanya kembali?" tanya Soraya sambil tangannya bergerak memegang tangan Hanan.

...****************...

Setibanya di rumah, setelah memarkirkan mobilnya di halaman. Pria itu langsung masuk ke rumah bertingkat tiga tersebut.

Saat Hanan datang, ia dapat melihat Zara dan Helen, yang tengah berbincang dengan santai, bahkan keduanya saling tertawa.

Sia-sia aku mengkhawatirkannya. Hanan

Ketika Helen menatap ke arah Taran, senyum wanita tua itu memudar dan matanya kembali menatap tajam keponakannya.

Sedangkan Zara, ia tampak bingung akan kedatangan Taran. "Apa pekerjaanmu sudah selesai, Tuan? Bukankah tuan bilang akan kembali nanti malam?" tanya Zara.

Mendengar pertanyaan Zara, Helen kembali menatap ke arah sang menantu.

"Tuan? Kau memanggil suamimu dengan sebutan Tuan?" tanya Helen.

Ya, ampun kenapa aku harus salah bicara dihadapan bibinya Hanan. Zara.

"Tidak bibi, Zara hanya belum terbiasa memanggil namaku, karna sebelum menikah dia selalu menyebutku dengan panggilan Tuan," jawab Hanan.

Untuk sesaat Helen terdiam sambil memandang keduanya secara bergantian.

“Duduklah Taran, bibi juga ingin bicara denganmu," pinta Helen setelah beberapa saat hening.

Hanan mengangguk, pria itu duduk di samping sang istri, dan menggenggam erat tangan Zara.

Tindakan Hanan tentu membuat Zara gugup, ia masih belum terbiasa berada di dekat suaminya.

"Hanan, apa yang membuatmu tiba-tiba menikah tanpa memberi kabar pada bibi?"

"Maaf, bibi. Aku takut jika bibi tidak merestui hubungan kami, sedangkan aku sangat mencintai Zara," balas Hanan.

"Bibi bisa menilai sendiri alasanku memilih

Zara."

Perkataan Hanan membuat Helen tertawa kecil. "Setahuku kau tidak mudah jatuh cinta apalagi memilih wanita acak sebagai istrimu."

"Ya, aku sudah berbicara dengan Zara. Aku mengerti kenapa kau bisa mencintainya dan bahkan dalam waktu singkat memutuskan untuk menikah."

Ada perasaan lega dalam diri Zara, saat melihat reaksi sang bibi.

"Bibi menyukai pilihanmu, Hanan.”

"Sekarang bibi ingin pulang," Ucapnya, sembari beranjak dari sofa.

“Bibi, tidak bisakah kau tinggal di rumah ini bersama kami," pinta Hanan yang ikut berdiri bersama Zara.

Helen tersenyum “Kau sudah menikah, Hanan. Tidak baik jika bibi ikut campur dalam rumah tangga kalian."

Keduanya yang mengerti maksud sang bibi hanya diam dan tak dapat membalas.

Helen lalu berjalan mendekati Zara, ia melepaskan sebuah gelang dari tangan kanannya dan memasangkannya di tangan sang menantu.

“Ini untukmu. Sebagai hadiah pernikahan dari bibi dan mendiang ibu mertuamu."

"Dari ibu? bagaimana bisa?" tanya Hanan lagi.

"Ya, Hanan. Sebelum ibumu meninggal, ia pernah memberi tahuku ingin memberikan gelang ini untuk menantunya di masa depan."

"Jika ibumu masih hidup, dia pasti akan senang melihat seperti apa menantunya," lanjut Helen sembari menatap lekat Zara.

Apa bibi tidak salah menilai? Senang dengan diriku yang seperti ini? Zara.

Bahkan jika dibandingkan dengan Soraya, aku masih kalah jauh. Zara

“Mulai sekarang, kau juga jangan memanggilku dengan sebutan Nyonya. Panggil aku bibi Helen."

“I, iya, Nyo. Eh, maksudku bibi Helen.” jawab Zara terbata.

Helen kembali tersenyum. "Baiklah, Hanan, Zara. Bibi pulang, sekali-kali berkunjunglah ke kediaman bibi."

Mendengar jawaban sang Bibi, Hanan dan Zara mengangguk secara bersamaan.

Hanan memutuskan naik ke lantai atas setelah kepergian sang bibi, sementara Zara ia tetap berada di lantai bawah untuk membereskan cangkir dan camilan di atas meja.

Sang suami terhenti di salah satu anak tangga kala aktivitas Zara. "Kau bisa menyuruh mereka, kenapa repot-repot membereskannya sendiri?"

Zara mendongak ke tempat Hanan berhenti.

"Tidak masalah Tuan, aku sudah terbiasa melakukan hal seperti ini sendiri."

Hanan menghela nafas dan melanjutkan langkahnya. Sedangkan Zara kembali ke dapur mencuci cangkir teh dan piring bekas camilan.

...****************...

Saat kembali ke kamar, ia dapat melihat Hanan yang duduk di tepi ranjang, sambil memegangi kepalanya.

“Tuan, apa kau sakit?” Tanya Zara memecah keheningan.

Hanan menggeleng, "Pekerjaan membuatku sedikit pusing."

Tanpa ragu Zara mendekati Taran.

“Apa Tuan ingin kuambil kan obat?"

"Tidak perlu, aku hanya kurang berisitirahat dan berlebihan dalam bekerja," balasnya yang kemudian berdiri

Ya, itu sangat wajar terjadi, apalagi beban yang ia tanggung cukup banyak sebagai pemilik perusahaan. Zara.

Setelah mengeluh sakit kepala, Hanan pergi ke kamar mandi. Sedangkan Zara ia duduk di sofa sembari memainkan ponselnya.

Tak beberapa lama Hanan keluar, setelan jasnya telah berganti dengan baju tidur berwarna hitam.

Hanan menghampiri Zara dan duduk didekatnya.

"Apa saja yang tadi kau ceritakan pada bibi?" tanyanya membuka pembicaraan.

Zara menoleh ke samping, sebelum menjawab ia terlebih dahulu mematikan ponselnya.

“Ya, aku sedikit mengarang cerita tentang kita , Tuan."

"Aku berkata bahwa kita berdua menikah karna saling jatuh cinta saat pertama kali bertemu di perusahaan pamanku."

Hanan mengangguk, " Jawabanmu cukup baik."

"Awalnya aku kira bibi tidak akan percaya apa yang kukatakan, tapi syukurlah dia pada akhirnya percaya."

"Tuan, bisakah aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Zara.

"Apa yang ingin kau tanyakan."

"Kenapa Tuan mau menikah dengaku? Kenapa Tuan tidak menikah dengan Nona Soraya yang jauh lebih cantik dan sempurna?"

"Aku yakin jika Tuan menikah diam-diam dengan nona Soraya, bibi Helen secara perlahan pasti akan menerima."

"Suatu saat kau pasti akan tahu alasannya, dan Soraya? Dialah yang lebih dulu meninggalkanku."

"Tanpa kabar dan begitu saja menghilang," lanjut Hanan.

"Tapi Tuan masih mencintainya kan?" tanya Zara lagi.

"Jika aku masih mencintainya, aku tidak mungkin menikah denganmu."

Zara terdiam, dan untuk kedua kalinya ia dan Hanan saling tatap. Zara rasakan atmosfer di sekitarnya mulai berubah.

Buru-buru Zara membuka ponselnya kembali, dan berasalan harus mengirim pesan pada pedagang sayur dan daging untuk restorannya besok.

Sementara Hanan, ia juga mengambil laptopnya dan kembali mengurus pekerjaan kantor.

Karna terlalu fokus pada pekerjaannya, Hanan tak sadar bahwa wanita yang duduk di sampingnya itu telah tertidur pulas.

Hanan menutup laptopnya, dan menggendong sang istri ke tempat tidur

.

.

.

.

1
Erny Kadu
Luar biasa
❤ Nadia Sari ❤
Cerita yg menggantung dan bikin penasaran padahal ceritanya bagus ... bgmn keadaan Zara ?🙄
Syahilla Naazifa
Luar biasa
Anonim
Gak lanjut thot
Kusriyati Kusriyati
lanjut Thor. ko ngantung
El Andante 369
lanjut lagi thor, kisahnya Zara, buat tu si Hanan bener" menyesal, buat juga Zara ogah balik lagi sama si Hanan, meski belum ada perceraian diantara mereka
Lina Uni
maaf hanan laki2 atau perempuan?biasanya untuk org indo dan arab digunakan untuk perempuan
Lina Uni
ntah lah thor aq sulit membedakan mana perempuan mana laki,,jahan ,kazar,latzia yrs siapa lagi ,,trs huta...aneh rasaku nama2 ini di indonesia
Lina Uni
maaf author yg baik atau oengarang novel ini yg baik,,sebelumnya saya minta maaf ,,mau nanya ,dapat ide nama dari mana kok nama2 tokohnya sangat anah?bacanya bikin l8dah kesleo ...???
Rini Haryati
lanjut thor
keren ceritanya
semangat
UM Rah
lanjut
玫瑰
up
玫瑰
mahu thor..
玫瑰
Alahai..gantung cerita nya..huhu
玫瑰
sesak..sebak..marah..kecewa... berbaur menjadi 1
玫瑰
nah.. mencari pula dia...
玫瑰
mengugut saja kerja nya..huh
玫瑰
Sedih cerita nya
玫瑰
Sebak
玫瑰
mengalir air mata ku membaca nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!