Arum memutuskan berhijrah, hidup dengan syari'at agamanya. Namun bukan hijrah namanya bila tanpa rintangan, suami yang dicintainya pergi untuk selamanya, berjuang keras menghidupi anaknya. Dan suatu ketika dia dikhitbah untuk menjadi madu. Bagaimakah ceritanya? Sanggupkah Arum menjadi madu?
Ini hanya fiksi ya, tidak ada kaitannya dengan cerita hidup siapapun. Happy reading 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shakeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PDKT setelah menikah
Arum dan anak-anaknya naik ke lantai atas, anak-anak bermain Lego di kamar Rayhan dan Salman. Sementara Arum menjemur pakaian yang dicucinya tadi pagi. Arum tersenyum bahagia rumahnya kini ramai, Rayhan tidak kesepian lagi. Meskipun pekerjaannya tambah banyak, seperti cucian yang banyak juga setrikaan yang banyak, ia menganggap sebagai ladang pahala untuknya.
" Kids.... Makan dulu yuk! " Seru Arum pada ketiga anaknya.
" Iya Umma, dah laper banget nih." Salman menjawab.
" Tapi diberesin dulu ya mainannya." Kata Arum.
" Siap Maa!!" Ketiganya mengiyakan sambil merapikan mainan mereka. Setelah selesai merapikan mainan, mereka turun menuju meja makan, Arum segera mengambilkan nasi untuk ketiga buah hatinya. Hari ini Arum memasak sayur labu siam yang tidak pedas, telor balado dan ikan patin goreng.
" Kak Salman makan sama apa? Telor balado mau? Pedes sedikit Nak." Arum menawari Salman.
" Boleh Ma, Salman suka pedas" Jawab Salman.
" Waah Maa syaa Allah sudah besar ya, suka pedas Kak Salman."
" Rayhan gak mau yang pedes Ma." Ucap Rayhan.
" Iya sayang, lain kali kita belajar makan pedes ya." Jawab Arum.
" Kalau adik Hanna mau yang pedes?" Tanya Arum pada gadis kecilnya.
Hanna menggeleng, " Nggak Ma, pakai sayur sama ikan aja."
" Baiklah tuan putri." Arum mengiyakan dan Hanna pun tersenyum dipanggil tuan putri.
Mendengar anak-anak berceloteh di meja makan, Ammar pun terbangun. Dilihatnya jam dinding menunjukkan pukul 11.45, dia tidur baru 45 menit. Dia pun keluar kamar menuju meja makan bergabung bersama Arum dan anak-anak. Melihat Ammar keluar kamar Arum langsung menyapa suami yang baru menikahinya itu.
" Mas kok sudah bangun? Kita berisik ya?" Arum bertanya.
" Gak papa, udah lumayan ilang capeknya. Mas ikut makan ya, laper." Kata Ammar sambil memegang perutnya. Ammar menarik kursi di sebelah Rayhan dan duduk di sana. Arum segera melayani makan suaminya.
" Mas, maaf aku cuma masak ini tadi, yang ada di kulkas aja, aku gak tau Mas suka makan apa." Kata Arum sedih.
" Gak papa Dik, aku makan semua masakanmu. Ayo cepat ambilkan, aku dah laper." Ammar tak sabar .
" Iya Mas," Arum segera mengambil nasi, sayur dan lauknya untuk Ammar dan meletakkannya di depan Ammar.
" Anak-anak, enak gak masakan Umma?" tanya Ammar memastikan.
" Enaaaak Bi," jawab ketiganya.
" Iyakah?" Ammar seakan tak percaya, padahal dia tahu kalau Arum juga punya katering makanan. Dan diapun mulai menyendok makanan itu.
" Hmmm, Maa syaa Allah enak banget, gak salah pilih aku dik." Ammar memuji, Arum hanya tersenyum dan pipinya memerah tersipu.
" Kamu makan juga Dik, sini duduk sebelahku." perintah Ammar
" Iya Mas. " Arum menuruti. Ia duduk dan mengambil makanan.
" Umma..." Hanna memanggil Arum.
" Kenapa sayang?" Tanya Arum.
" Kenapa tadi, Umma manggil kak Salman Kak, kak Rayhan Mas, dan aku adik?" Hanna bertanya selalu ingin tahu.
" Hmm, karena Kak Salman saudara yang paling tua, kalau gak salah lebih tua 3 bulan ya lahirnya dari mas Rayhan. Trus Mas Rayhan itu lebih tua juga dari Hanna. Jadi kalau manggil enak, kalau Kak, artinya kakak Salman, kalau manggil mas itu artinya mas Rayhan. Kalau Hanna sendiri dipanggil Adik karena yang paling muda. " Arum menjelaskan.
" Iya, aku juga sempat kepikiran gimana mereka saling memanggil. Tapi it's okay, boleh juga itu." Ammar menyetujui.
" Aku pengen punya adik biar bisa dipanggil Mbak sama adikku." Celoteh Hanna sambil manyun.
" Uhuckk." Arum tersedak, buru-buru Ammar mengambilkan segelas air untuk Arum, dan Arum segera meminumnya hingga habis.
" Iya nanti dibikinin adik baru." Ammar menggoda. Arum bertambah merah pipinya. Mereka sudah selesai makan, Arum membereskan meja makan dan Ammar mencuci piring dan peralatan makan lainnya. Anak-anak bersiap sholat dhuhur.
" Mas, biar aku aja yang cuci piring Mas." Kata Arum merasa tak enak melihat suaminya bekerja di dapur.
" Gak papa, aku dah biasa." Jawab Ammar. Arum hanya bisa berdiri di samping Ammar.
"Eh iya nanti tolong siapkan baju renang dan baju ganti anak-anak dan baju kita, tapi kamu gak usah renang ya, tempatnya terlalu terbuka." pinta Ammar.
" Baik Mas. Ada lagi?" Arum menanyakan.
" Bawa baju ganti ekstra karena kita akan menginap, kopernya dipisah ya, koper kita dan koper anak-anak." Pesan Ammar lagi.
" Iya Mas." Arum mengiyakan dan Deelangsung bersiap sholat dhuhur juga. Ammar dan dua anak laki-lakinya sholat berjamaah di mushola, sedangkan Arum dan Hanna berjamaah di rumah.
Selesai Arum dan Hanna sholat, Arum langsung menyiapkan apa yang dipesan Ammar tadi dibantu Hanna.
" Assalamualaikum." Ammar dan duo jagoan datang dari musholla.
" Waalaikumusalam warahmatullahi wabarokatuh." Jawab Arum dan Hanna.
" Sudah selesai Dik siapin bajunya?" Tanya Ammar.
" Sebentar lagi Mas." Arum menjawab dan menutup resleting kopernya.
" Dah selesai." Serunya.
" Ayok sini duduk sebelah Mas." Panggil Ammar sambil memukul dudukan sofa di sebelahnya. Anak-anak duduk di karpet melihat TV.
" Ada apa mas? Sepertinya ada yang mau disampaikan." Arum penasaran.
" Iya sih, pengen nanya-nanya aja, kan selama ta'aruf kita gak pernah komunikasi sama sekali, kecuali lewat perantara kita." Ammar menjelaskan.
" Iya sih, ehm... Mas jam kerjanya seperti apa?" Arum malah yang pertama bertanya.
" Aku bekerja hari Senin-Jumat, Jam 07.30-15.30, kecuali hari Jumat jam 07.30-14.30. Sabtu, Ahad, dan hari besar libur." Ammar menjelaskan jam kerjanya.
" Oooh... ada jam istirahatnya?" Tanya Arum lagi.
" Ada waktu sholat dhuhur dan setelah itu makan siang sebentar." Ammar menambahkan.
" Ohhh, mau aku bawakan bekal buat makan siang?" Arum menawarkan diri, walaupun sebenarnya belum ada cinta diantara mereka, tapi keduanya ingin sama-sama menjalankan ibadah terlama yaitu menikah, dengan sebaik-baiknya, karena Allah.
" Boleh." Jawab Ammar. " Kamu apa kesibukannya di rumah?" Ammar balik bertanya.
" Aku nitip kue di sekolah Rayhan, kalau ada yang pesen baju atau gamis, sprei dan gorden, aku jahit sendiri. Kalau ada yang pesan nasi box, atau Snack box, aku bikin. Apapun aku lakukan untuk bertahan hidup bersama Rayhan." Jawab Arum sambil berkaca-kaca matanya, karena dia ingat beratnya perjuangan menjadi ibu tunggal.
" Baiklah, sekarang ada aku, ini ATM khusus buat belanja bulanan dan uang sekolah anak-anak, dan yang ini ATM nafkah aku buat kamu. Kamu boleh tetap menjahit dan memasak untuk kateringmu, atau apapun yang kamu suka. Tapi utamakan anak-anak dan pekerjaan rumah dulu. Kembali sesuai fitrah kita yang wajib mencari uang aku, tugasmu mengasuh dan mendidik anak-anak, menjadikan mereka anak sholih dan sholiha berakhlak mulia." kata Ammar sambil menyerahkan dua ATM pada Arum.
" Alhamdulillah, iya Mas." Ucap Arum sambil menerimanya.
jangan lupa mampir ya ukh di karyaku juga ya, dan beri dukungan. sekalian boleh minta folback nya agar bisa berteman/Smile/
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu
bisa berbagi....
sukses
semangat
mksh
mantap