Ellen disuruh menikah dengan pria yang terkenal dingin dan kejam oleh pamannya sendiri namun ellen baru menyadari bahwa pria yang diluarnya dingin didalamnya sangat hangat apalagi perilakunya kepada dirinya membuatnya semakin penasaran siapa sebernarnya pria ini?
Arkana, tuan muda yang tidak pernah berdekatan dengan wanita manapun tiba tiba menikah dengan seorang gadis yang menjadi korban dari utang pria paruh baya yang tidak tau diri itu. Namun siapa sangka bahwa yang akan menjadi istrinya di masa depan adalah gadis yang selama ini ia cari, yaitu cinta pertamanya.
Bagaimana kisah pernikahan mereka disaat ellen tau bahwa suaminya adalah teman sekaligus cinta pertamanya selain mantannya? Dan Arkan tau bahwa istrinya adalah gadis yang ia tunggu selama ini? Bagaimana kisahnya, silahkan ikuti lanjut.
Season2 Kisah Cerita anak anaknya yaa.. Lanjut kok, ditunggu aja..
Beri jejak untuk ceritaku ya.. Terima Kasih..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
|Chapter 07 Belanja|
❤️Happy Reading❤️
Menjelang pagi. Suasana dapur dikediaman Kennedrik sudah terdengar sangat sibuk, disana sudah ada seorang wanita cantik dengan apron hitam yang melekat pas ditubuhnya. Surai hitamnya ia gelung tinggi tinggi, menyisakkan beberapa helai rambut yang jatuh ditekuknya membuat penampilan itu terlihat natural dan manis.
Wanita ini sedang menyiapkan sarapan untuk suaminya. Tak lama suaminya datang dengan muka bantal dan memeluknya dari belakang secara tiba tiba namun wanita itu tidak terkejut sama sekali hanya tersenyum tipis saat merasakan tangan kokoh memeluk perutnya dengan erat.
"Pagi, suamiku." ujarnya dengan nada lembut membuat suaminya semakin mengeratkan pelukkannya, "pagi juga, istriku." balasnya dengan suara serak.
"Tidur nyenyak?"
"Sangat nyenyak, kamu bikin apa?"
"Nasi goreng sosis. Nanti aku mau belanja, kamu sibuk gak?" tanya Ellen kepada Arkan yang sedang asik menyium tulang leher istrinya itu. "Gak terlalu sibuk, aku temani nanti." Ellen senyum lalu Arkan membalasnya dengan kecupan ringan di bibir ranumnya, "morning kiss."
Ellen mengulum senyuman, "udah gih, kamu cuci muka dulu sana. Aku tunggu diruang makan." Suruh Ellen kepada suaminya yang langsung menuruti perkataannya, Ellen menyendokkan nasi goreng keatas piring makan dan ia juga menyiapkan segelas air putih untuk suaminya, sedang kan dirinya hanya membuat coklat panas dan roti untuknya.
Ellen sudah duduk manis di ruang makan, kemudian Arkan datang dengan wajah yang sudah segar. Lalu ia mengernyit melihat isi piring istrinya berbeda dengannya, "kamu gak makan nasi?" Ellen menggeleng.
"Aku gak bisa makan nasi dipagi hari, udah kebiasaan makan roti kalau sekali makan nasi langsung muntah." balas Ellen yang langsung diangguki oleh pria itu, Arkan langsung menyuapi sarapan pertama yang sudah dibuat oleh istrinya dengan penuh cinta.
Arkan terdiam, "enak banget." gumamnya lalu melahapnya lagi. Ellen yang melihat itu hanya bisa tersenyum lebar, "makannya pelan pelan, nanti tersedak." Arkan mengangguk saja karena dalam mulutnya sudah penuh dengan nasi.
"Kamu belajar masak dimana? Kok bisa seenak ini?" tanya Arkan setelah selesai suapan terakhirnya, ellen hanya senyum diam lalu mengangkat piring bekas suaminya dan piring rotinya.
Arkan ikut berdiri dan mengekori istrinya yang tidak menjawab pertanyaannya, "kenapa gak jawab?"
"Kamu lupa aku pemilik restoran?" tanya Ellen yang seketika membuat Arkan terdiam lalu mengangguk lagi, "aku lupa, lupa istriku pengusaha."
Ellen selesai menyuci piring ia menghadap suaminya yang sudah berdiri sangat dekat dibelakangnya tadi. Lalu Ellen memberanikan dirinya dengan merangkul leher suaminya dan mencium bibir tebal milik suaminya itu, Arkan sedikit kaget namun ia membalasnya tanpa ragu. "Mulai berani kamu sekerang." bisik Arkan.
Ellen tersenyum lebar, "siapa dulu gurunya, kan kamu."
"Mandi yuk." ajak Arkan yang langsung diangguki malu oleh Ellen. Arkanpun langsung menggendong depan dan berlari kecil menaiki tangga, tanpa mereka tau ada yang menatap mereka sembunyi sembunyi dengan tawa kecil. Lalu orang itu keluarkan kepalanya saat sudah tidak ada punggung tuannya terlihat. "Manis sekali hubungan tuan dan nona, jadi ingat masa lalu." ujarnya lalu masuk kedalam dapur.
Ellen dan Arkan sudah selesai mandi, saat ini Ellen sedang duduk di kursi meja rias dengan Arkan yang sedang mengeringkan rambutnya berdiri dibelakangnya . "Rambutmu sangat halus, sayang." Lalu Arkan mengecup dan menghirup aroma yang menguar dari rambut itu beberapa kali.
"Jangan pernah mengecatnya jika kamu sempat mempunyai niat itu." ujar Arkan sembari menyisirkan rambut istrinya yang sudah mengering. Ellen mengangguk mengiyakan perkataan suaminya lalu berdiri dan menarik tubuh suaminya untuk duduk di kursi yang ia tempati dihadapan meja rias.
"Sini giliranku mengeringkan rambutmu." ujarnya lalu mengeringkan dengan handuk kering dan sesekali ia mengacak-ngacaknya lalu merapihkannya kembali, "kamu juga memiliki rambut yang sangat bagus."
Arkan tersenyum, "padahal aku sangat jarang mencuci rambut jika sedang kerja lembur." jujurnya membuat Ellen menatap tidak percaya, "tidak mungkin,"
"Mungkin."
"Baiklah, mulai saat ini akan aku rawat rambutmu agar semakin lembut dan halus." ujar Ellen yang bersemangat membuat Arkan tersenyum lebar merasa senang dan bahagia mendapatkan seorang istri seperti Ellen.
"Kita mau belanja jam berapa?" tanya Arkan, Ellen melihat jam dinding diarah kirinya, "mungkin jam 11-an saja, biar pulangnya tidak terlalu berhempit dengan waktu ashar."
"Oke, berarti apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Arkan membuat Ellen berpikir, "bagaimana dengan menyiapkan baju untuk keluar nanti dan setelah itu kita menonton film?" tanya Ellen yang langsung disetujui oleh pria itu. "Ide yang bagus, lebih baik kita memakai baju yang warnanya cerah karena cuaca hari ini sangat bagus mendung tapi tidak hujan."
Seperti ucapan tadi, mereka sudah menyiapkan pakaian yang warnanya samaan kemudian mereka jalan berdua menuju ruang tv Arkan selalu mengeratkan rangkulannya dibahu istrinya agar wanita itu tidak bisa pergi kemana mana.
Arkan mengelus bahu istrinya yang masih asik dengan film kartunnya yang sangat terkenal menjuru dunia, Stand By Me, Doraemon dan Nobita. Arkan penasaran kenapa banyak sekali yang menyukai film tersebut. Apa memang dirinya yang terlalu fokus dengan pekerjaan jadi tidak mengerti dari kisah film itu?
"Udah set 10, kita siap-siap yuk?" ajak Arkan yang langsung diangguki oleh istrinya.
Kedua pasangan itu menggunakan mobil tanpa sopir, karena Arkan yang menginginkannya untuk mempunyai waktu berdua sepuas puasnya sebelum ia masuk kantor dan kembali bekerja.
Sesampai parkiran BigMarket, Arkan mencari tempat parkir yang sangat tumben bahwa market ini sangat penuh dengan pengunjung. Setelah dapat, Arkan menahan lengan Ellen dan menggelengkan kepala, "jangan keluar dulu." setelah mengatakan itu Arkan keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk istrinya, Ellen yang tadi bingung langsung tersenyum malu.
"Padahal gak perlu repot repot kamu sampai muter."
"Buat tuan putri aku terima kok." ujar Arkan lalu mengunci mobilnya dan merangkul istrinya seperti permen karet. Nempel banget, lengan Ellen gak boleh kena orang satu pun didalam sana.
Mereka berjalan kearah tempat peralatan makan, Ellen melihat ada dua gelas yang sama gambarnya dan ia tersenyum lalu mengambil gelas berwarna pink sedangkan Arkan mengikuti ambil gelas dengan gambar yang sama berwarna biru. "Kita beli gelasnya gimana?"
Ellen mengangguk, "ayo, sekalian kita beli yang lainnya."
"Tentu."
Ellen berkeliling sendiri setelah Arkan melepaskan rangkulannya, Ellen mencari bahan bahan makanan setelah melihat peralatan pasangan dengan Arkan. Lalu ia ingin mengambil sebuah kotak sereal yang ditaruh diatas rak, ia memaksakan mengambilnya sampai ada tangan kokoh yang membantunya membuatnya sedikit terkejut dan membalikkan tubuhnya saat mendapati suaminya menatapnya.
"Kalau perlu bantuan, panggil aku atau cari aku. Jangan sendiri, bahaya tau." tutur Arkan yang diangguki oleh Ellen, "iya maaf. Kamu habis dari mana?"
"Aku habis ambil minyak goreng sama susu. Mau beli apa lagi kamu?" Ellen mengeluarkan kertas catatan belanjanya yang perlu dibeli, "tinggal beli daging, ikan, sama ayam." Arkan mengangguk lalu mendorong Troli belanjaan yang tadi dibawa oleh istrinya saat mereka terpisah.
Saat ditempat daging, Ellen menyadari bahwa banyak sekali yang menatap suaminya dengan tatapan lapar. Padahal suaminya memakai masker yang menutup hidung dan mulutnya, namun ternyata itu yang membuat suaminya semakin tampan. Ellen cemberut dengan kesal, Arkan melihatnya bingung lalu membisik mendekat telinga istrinya.
"Kamu kenapa cemberut?"
"Aku kesal."
"Kesal kenapa? Aku salah apa?" Ellen menggeleng, "bukan kamu yang salah tapi mata mereka salah, kenapa sih ngeliatin suami orang sampai segitunya." gerutu Ellen dengan suara yang lumayan keras, membuat orang orang yang melihat Arkan memerah malu karena ketahuan menatap pria itu.
Arkan tersenyum dibalik masker tersebut, "lucunya istriku yang sedang cemburu." Cup! Arkan mengecup pipi istrinya dengan singkat setelah ia menurunkan maskernya lalu ia menaikkannya lagi. Ellen yang dikecup pipinya langsung memerah.
Arkan menggoda istrinya dengan menusuk nusuk pipi tembam istrinya dengan jari telunjuk, "eh kenapa ini? Kenapa pipinya jadi merah gini? Kok sama dengan tomat ini?" ujarnya sembari mengambil satu buah tomat ditangan kanannya membuat Ellen menyubit pinggang suaminya. "Nyebelin."
Ellen tertawa kecil, "nah gitu dong tertawa. Kamu makin cantik kalau tertawa dari pada cemberut seperti tadi. Kamu tenang saja, aku gak akan berpaling dari kamu."
Ellen mengangguk lalu memeluk pinggang suaminya dengan erat, Arkan pun membalasnya walaupun dengan satu tangan saja karena tangan yang lain sedang sibuk mendorong troli kearah kasir.
❤️Bersambung...❤️
padahal itu mulesnya udah kurang dari 5 menit sekali .... uuuhhhggg rasanya udah ga bisa mikirin lapar.... yang ada pinggang panas perut mules keringet banjir tak tertahankan