Aku adalah seorang gadis yang pantang menyerah sebelum berperang. Bahkan, saat berperang sebelum pun aku tidak akan mundur sebelum aku benar-benar kalah.
Ini kisahku, aku berusaha mengejar cinta seorang rektor muda yang sangat pintar. Jalan yang aku tempun untuk mendapatkan hati pak rektor tidak lah mudah. Penuh tantangan dan penuh jurang yang sulit untuk aku lewati.
Bisakah aku mendapatkan hati rektor tampan yang aku kejar. Apakah aku berhasil menjadi kekasih rektor tampan atau aku malah kalah dalam perjuanganku kali ini. Ayo ikuti kisahku, agar kalian tahu bagaimana jalan yang aku tempuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Telat
Malam itu, papa dan mama malah sibuk membicarakan lelaki yang ingin mereka jodohkan dengan ku. Aku hanya mendengarkan saja apa yang kedua orang tuaku bicarakan.
Sebenarnya, aku sangat kesal saat mereka memuji-muji lelaki yang mereka rencanakan menjadi jodohku itu. Bagaimana aku tidak kesal, mereka terlalu menyanjung tinggi lelaki itu. Usianya masih mudalah, anaknya pintarlah, orangnya berkharismalah, tampan dan banyak lagi pujian yang mereka lontarkan buat lelaki yang tidak aku kenali itu. Semua pujian itu membuat kupingku rasanya sangat sakit.
Aku yang awalnya duduk disofa ruang keluarga sambil membaca novel itu pun merasa tidak kuat lagi.
"Emm ... mama, papa, Nia masuk kamar dulu yah," kataku sambil bangun dari dudukku.
"Lho, kok tumben banget kamu mau kekamar jam segini Nia," kata papaku.
"Iya, gak biasanya kamu masuk kamar jam segini Nia. Sekarangkan baru jam tujuh lewat lho, kamu biasanya tidur jam setengah sembilan," kata mama ikut bicara.
"Nia banyak tugas mah, gak sempat ngerjain tadi sore. Makanya malam ini Nia mau kerjain semua tugas Nia."
"Oh, yaudah kalo gitu. Belajar yang benar ya nak," kata mama.
Aku pun hanya senyum saja, apa yang mau aku katakan. Aku telah bohong sama mama ku, dengan mengatakan aku banyak tugas hanya untuk menghindari obrolan kedua orang tuaku.
Aku pun naik keatas, meninggalkan mama dan papaku yang masih saja membicarakan tentang anak teman papa itu.
...
Aku bangun agak kesiangan, tanpa sarapan aku langsung saja berangkat kekampus. Setelah pamit sama mama, aku pun bergegas masuk kedalam mobilku. Lalu melajukan mobil meninggalkan rumah kami.
Ini pertama kalinya aku telat kekampus. Biasanya aku datang tiga puluh menit sebelum jam pelajaran dimulai. Tapu hari ini, aku datang malah tiga puluh menit setelah jam kampus dimulai. Ini semua karna aku tidur kemalaman, jadinya aku malah bangun kesiangan deh.
Aku tidak perduli lagi dengan pangilan yang masuk lewat ponselku. Kedua temanku sibuk menanyakan dimana aku, juga tidak sempat aku balas. Yang aku pikirkan sekarang adalah, bagaimana aku bisa sampai secepat mungkin kekampus dan selamat dari omelan dosen killer yang sedang memgajar dikelasku saat ini.
...
Setelah beberapa saat kemudian, aku akhirnya sampai juga dikampus. Aku parkirkan mobilku di tempat biasa dan segera berlari menuju kampus.
Malangnya, karna aku sangat buru-buru dan tidak memperhatikan jalanku. Aku malah menabrak seorang lelaki.
"Aduh ...."
Aku terjatuh terduduk dilantai, pantatku rasanya sangat perih. Mungkin tergores atau memar kali ya.
"Kamu gak papa?" kata lelaki itu sambil mengulurkan tangannya ingin membantu aku berdiri.
"Gak papa bagaimana sih, aku jatuh ini. Sakit banget dah rasanya," kataku sambil menyambut uluran tangannya.
"Makanya, jalan itu harus lihat-lihat dan hati-hati yang paling penting," kata lelaki itu sambil senyum manis.
"Bagaimana aku mau hati-hati, sedangkan aku aja udah telah sekarang."
"Telat ...."
Mataku melotot karna kaget, aku baru ingat kalau aku telat. Aku harus buru-buru kembali berlari agar aku selamat sampai kelas, walaupun aku sudah telat lebih dari setengah jam.
"Maaf ya, aku harus pergi sekarang karna aku sangat telat," kataku sambil berusaha berjalan cepat, walaupun sakit dipantatku terasa semakin kuat.
"Hey, tunggu ...."
Teriakan dari lelaki itu tidak aku hiraukan, aku terus berjalan cepat menuju kelasku. Meninggalkan lelaki itu masih diam ditempatnya. Aku hanya melihat ia sekilas, lalu aku lanjutkan jalan ku agar aku tidak kehilangan satu jam pelajaran yang sangat berharga bagi ku.
coba pameran nya orang blasteran belanda indonesia
jd cewek kalem napa,jngn terlalu agresif