NovelToon NovelToon
The Ghost Agent: Red Revenge

The Ghost Agent: Red Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / CEO
Popularitas:290
Nilai: 5
Nama Author: Ghost_Writer

"Mati adalah akhir yang terlalu mudah bagi seorang pengkhianat. Aku akan memastikan kalian memohon kematian sebelum napas terakhir kalian kuhentikan."

Elikai Wijaya adalah agen elit legendaris berkode nama "Shadow" di organisasi intelijen Phantom. Tapi, kesetiaannya dibayar darah. Demi kekuasaan, paman kandungnya sendiri. seorang gembong mafia bernama Gaizka Wijaya bekerja sama dengan mentor Elikai, Jenderal Jendra, untuk membantai seluruh keluarga Elikai dan menembaknya hingga sekarat.

Dikira telah tewas, Elikai bangkit dari neraka berkat bantuan Belladona, sang hacker jenius. Dengan wajah baru hasil operasi rekonstruksi, ia menyamar menjadi Liam Jeren, seorang CEO muda yang kaya raya dan arogan.

Misi balas dendam pun dimulai. Liam sengaja mendekati Bellatrix, sepupu kandungnya sendiri yang polos, untuk dijadikan pion penghancur dinasti kriminal pamannya. Dari balik meja kerja CEO dan senapan runduknya, sang Agen Bayangan siap memburu para pengkhianat satu per satu tanpa ampun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghost_Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Undangan ke Rumah Musuh

Asap cerutu Kuba mengepul lambat di dalam ruang kerja pribadi Gaizka Wijaya. Ruangan itu luas, dilapisi dinding kayu mahoni dan dipenuhi pajangan barang antik yang mahal. Di sudut ruangan, tepat di atas meja pajangan marmer, vas naga biru Dinasti Ming yang baru dibeli Gaizka melalui jalur belakang setelah kekalahannya di lelang amal kemarin berdiri tegak. Akan tetapi, kehadiran vas itu sama sekali tidak mengurangi kerutan dalam di dahi pria paruh baya bertubuh tambun tersebut.

Gaizka mengetukkan jemarinya yang gemuk ke atas meja kaca, menatap tumpukan berkas tipis yang disodorkan oleh kepala detektif swastanya.

"Hanya ini?" suara Gaizka berat, sarat akan ketidakpuasan.

"Hanya itu yang bisa kami temukan dalam waktu dua puluh empat jam, Tuan Gaizka," pria bersetelan jas hitam di depannya menunduk hormat. "Liam Jeren. Anak tunggal mendiang taipan media di Eropa. Dia menutup diri dari pers setelah orang tuanya tiup usia, lalu melikuidasi seluruh aset keluarganya untuk mendirikan Jeren Corporation di Panama. Rekam jejak investasinya di Cayman dan Swiss bersih tanpa celah. Dia adalah hiu baru yang sah."

Gaizka mendengus, mengembuskan asap cerutunya ke langit-langit. Kekalahan tiga puluh lima miliar di lelang kemarin masih menyisakan rasa perih di harga dirinya. Akan tetapi, sebagai seorang gembong mafia yang merangkak naik lewat darah, Baron juga seorang oportunis. Uang tunai likuid dalam jumlah masif yang dimiliki Jeren Corp adalah persis apa yang ia butuhkan saat ini. Proyek reklamasi teluk miliknya sedang tersendat karena beberapa pejabat kementerian meminta uang pelicin tambahan yang nilainya sangat fantastis.

Tok, tok, tok.

Pintu kayu ek ruang kerja itu terbuka perlahan. Bellatrix melangkah masuk dengan gaun rumah rajut berwarna krem. Wajahnya tidak lagi sepucat semalam, tetapi matanya yang bulat masih menyiratkan sisa-sisa trauma dari kejadian penyergapan di jalanan sepi itu.

"Papa," panggil Bellatrix pelan, berjalan mendekati meja kerja ayahnya.

Ekspresi dingin dan kejam di wajah Gaizka seketika meleleh. Pria tua itu mematikan cerutunya di asbak kristal, lalu melebarkan kedua lengannya dengan senyum hangat seorang ayah yang sangat protektif. "Bella, Sayang. Bagaimana keadaanmu? Papa sudah memerintahkan anak buah untuk melacak bajingan-bajingan yang berani menyentuhmu semalam. Papa akan pastikan mereka membusuk di selokan sebelum matahari terbenam."

Bellatrix duduk di lengan kursi kebesaran ayahnya, menggeleng pelan. "Sudahlah, Pa. Yang penting Bella tidak apa-apa. Itu semua karena Tuan Liam."

Mendengar nama itu disebut, alis Gaizka bertaut tajam. "Liam? Pria yang mengantarkanmu pulang semalam?"

"Iya, Pa," pipi Bellatrix mendadak bersemu merah muda, sebuah reaksi spontan yang tidak luput dari pandangan tajam ayahnya. Bellatrix menunduk, memainkan jemarinya sendiri sambil tersenyum tipis. "Dia... dia sangat hebat. Papa tahu, kan, semalam jalanan sepi sekali dan sinyal handphone-ku mati total? Tiga orang itu menarik tanganku kasar sekali. Tapi Tuan Liam datang seperti pahlawan. Dia turun dari mobilnya, terud hanya dengan satu dua gerakan, preman-preman itu langsung lari ketakutan."

Bellatrix mendongak, matanya berbinar penuh kekaguman yang jujur. "Dia sangat tampan, Pa. Wajahnya bersih seperti pualam, tapi tatapan matanya begitu dingin dan berwibawa. Dia memakai jas yang sangat rapi, bahkan dia tidak peduli saat celananya harus kotor karena membantuku berdiri di atas aspal yang basah. Dia bersikap sangat sopan. Pria seperti dia... jarang sekali ada di zaman sekarang."

Gaizka Wijaya mendengarkan penuturan putrinya dengan mata yang menyipit. Sebagai seorang serigala tua, ia langsung mencium sesuatu yang tidak biasa. Tapu, ketika detektif pribadinya mengangguk pelan, mengonfirmasi nama yang sama dengan pria dari lelang amal kemarin, otak bisnis Gaizka langsung berputar cepat.

Liam Jeren. Pria yang merampas vas naga di lelang, dan pria yang menyelamatkan putrinya di malam yang sama.

"Jeren Corp..." gumam Gaizka, membelai dagunya yang berlapis. Keberadaan pemuda kaya raya itu di Jakarta mendadak terasa seperti berkah yang dikirimkan langsung ke pangkuannya. Jika pria itu tertarik pada putrinya, maka memanfaatkan modal raksasa Jeren Corp untuk proyek reklamasinya akan menjadi jauh lebih mudah. Gaizka tidak peduli tentang konsep takdir atau kebetulan, ia hanya melihat peluang emas untuk memperluas dinasti kriminalnya.

"Bella," Gaizka menepuk tangan putrinya lembut. "Pria yang menyelamatkanmu itu... Papa mengenalnya. Kami sempat bertemu di acara lelang kemarin. Dia memang pemuda yang sangat ambisius."

Bellatrix terkejut, matanya melebar. "Papa kenal Tuan Liam?"

"Hanya sekadar tahu," Gaizka tersenyum penuh arti, sebuah senyuman manipulatif yang biasa ia gunakan untuk menjebak sekutu bisnisnya. "Bagaimana kalau kita mengundangnya makan malam ke rumah ini besok malam? Sebagai ungkapan terima kasih resmi dari keluarga Wijaya karena telah menyelamatkan putri kesayangan Papa. Kamu setuju?"

Wajah Bellatrix seketika cerah. Senyum lebar terukir di bibirnya saat ia mengangguk cepat. "Iya, Pa! Bella setuju. Bella juga ingin mengucapkan terima kasih dengan benar."

Setelah Bellatrix keluar dari ruangan dengan langkah kaki yang riang, senyuman di wajah Gaizka instan menguap. Ia kembali menyalakan cerutunya, menatap tajam ke arah detektif pribadinya.

"Kirimkan undangan resmi berstempel Wijaya Group ke hotel tempat Liam Jeren menginap," perintah Gaizka, suaranya kembali dingin dan penuh perhitungan. "Siapkan jamuan makan malam terbaik besok. Aku ingin melihat sendiri seberapa besar nyali tuan muda dari Eropa ini, dan seberapa dalam kantong yang ia miliki untuk bisnis kita."

__________________

Sementara itu, di sebuah suite mewah lantai teratas Hotel Fairmont Jakarta, Liam Jeren berdiri di dekat jendela kaca raksasa yang menampilkan pemandangan kerlip lampu malam metropolitan. Kacamata titaniumnya diletakkan di atas meja marmer, memperlihatkan sepasang mata elang yang menatap kosong ke arah kegelapan langit.

Di atas meja, sebuah kartu undangan fisik berbahan kertas tebal berwarna hitam dengan ukiran emas berlogo Wijaya Group baru saja diletakkan oleh pelayan hotel beberapa menit yang lalu.

Suara Belladona terdengar dari speaker laptop yang terbuka di sofa. "Umpanmu langsung disambar tanpa perlawanan, Liam. Gaizka baru saja memesan katering privat kelas satu untuk besok malam di kediaman utamanya. Kompleks Menteng blok C nomor 12."

Liam melangkah mendekati meja, jemarinya yang panjang mengambil kartu undangan itu. Ia menatap nama Gaizka Wijaya yang tertulis dengan tinta emas di sana. Garis rahang barunya yang tajam mengeras, dan sebuah senyuman tipis yang sangat dingin tersungging di bibirnya.

Rumah itu. Kediaman utama yang dibangun Gaizka di atas tanah bekas reruntuhan rumah masa kecil Elikai Wijaya yang dibakar habis empat bulan lalu. Gaizka membangun istana mewahnya di atas darah dan air mata keluarganya sendiri.

"Dia mengundangku ke rumahnya," ucap Liam, suaranya rendah, beresonansi dengan aura haus darah yang begitu pekat di dalam ruangan sunyi itu. "Dia pikir dia sedang mengundang seekor domba kaya raya yang bisa ia peras modalnya untuk bisnis kotornya."

Liam membalikkan kartu undangan itu, lalu menjatuhkannya ke dalam asbak, membiarkan sudut kertasnya menyentuh korek api yang menyala hingga api perlahan melahap nama pamannya di atas kertas.

"Dia tidak tahu," bisik Liam, menatap abu yang beterbangan dari balik jendela. "Bahwa besok malam, dia sedang membuka pintu rumahnya sendiri untuk iblis yang akan menyeretnya ke neraka."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!